Oleh: da2ngkusnandar | Agustus 19, 2009

Cirebon, Tautan yang Terserak

Catatan Dadang Kusnandar

Anggota Lingkaran Dialog Kebudayaan, Cirebon

 

MEMBICARAKAN sejarah tentu tak ada habisnya. Setiap orang punya versi sejarah sendiri-sendiri dan pasti berbeda dengan yang lain. Setiap penulis sejarah pun memiliki versi sendiri menyoal sejarah. Maka berlangsung terus pengetahuan dan pemahaman yang beragam terhadap satu peristiwa sejarah. Sejarawan yang menulis buku pun saling berbeda versi sehingga menimbulkan pemahaman yang selalu tidak bersentuhan, terutama menyangkut hal-hal yang krusial. Ketika sejarawan itu mengajarkan versi sejarahnya kepada mahasiswa dan murid sekolah, kesalahpahaman sejarah tidak terhindarkan. Dan begitulah berlangsung terus sepanjang masa, sehingga sejarah tidak pernah lurus, sehingga sejarah seakan hanya mampu bicara angka tahun, periodesasi kekuasaan, saling tikam dan bunuh demi mempertahankan kekuasaan, nama-nama besar yang menindas (kendati kerap ditulis masa keemasan sejarah).

Membicarakan sejarah Cirebon, ingatan kita akan menerawang kepada nama-nama Susuhan Jati atau Sunan Gunungjati atau Syekh Syarif Hidayatullah atau Walisanga ke-9 yang menyebarkan agama islam di jawa barat pada 600 tahun ke belakang. Juga Mbah Kuwu Cirebon atau Pangeran Cakrabumi atau Pangeran Cakrabuana, Prabu Siliwangi dari Pajajaran yang ditautkan sebagai leluhur Sunan Gunungjati karena menurunkan Walangsungsang. Begitu pula Nyi Mas Rarasantang, Nyi Mas Gandasari, Syekh Magelung yang punya kisah monumental dengan rambut gondrongnya, Panembahan Girilaya, Pangeran Sutajaya atau Pangeran Losari dan sebagainya. Demikian pula Ong Tien Nio yang ditautkan dengan pelawatan Sunan Gunungjati ke Cina. Tak lepas pula sejumlah keraton yang hingga kini masih tegak berdiri di Cirebon.

Demikian juga akan menyeret nama Ki Bagus Rangin, Ki Bagus Serit, Ki Bagus Arsitem dengan peristiwa heroik Pemberontakan Cirebon 1818 yang sudah ditulis Van der Kemp, tentara Belanda yang ikut menumpas pemberontakan santri pertama di Indonesia dari desa Kedondong kabupaten Cirebon. Belanda yang merugi ribuan gulden dan sejumlah kapal perangnya hangus terbakar itu bagai terlupakan dari catatan sejarah nasional, mungkin kalah keren dengan Perang Jawa atau Perang Diponegoro 1825-1830 karena sumbu pemberontakan bermula dari keraton Mataram, sedangkan Ki Bagus Rangis cs hanya seorang ustad dengan ratusan santrinya.

Namun ketika di tahun 2002 saya berbincang dengan budayawan Kuningan, nampak jelas ada penolakan hegemoni budaya Cirebon terhadap kuningan, karena menurutnya sejarah kuningan bukan berawal dari perjalanan Putri Ong Tien Nio dari Luragung ke Cirebon, melainkan dari Kerajaan Seuweu Karma yang berdiri sebelum ada kerajaan Cirebon.

Tidak keliru jikalau kolumnis Mahbub Djunaidi menulis di Asal Usul, munculnya satu penulisan sejarah akan menambah jumlah versi sejarah yang baru. Tak keliru pula jikalau sejarawan Asvi Warman Adam begitu ngotot berupaya meluruskan pemahaman sejarah yang bengkok itu. Dan begitu pula yang dilakukan sejarawan kampus dan sejarawan kampong manakala mencoba menceritakan sejarah pada berbagai kesempatan publik.

Membicarakan sejarah Cirebon sebagaimana digagas akan munculnya buku sejarah Cirebon yang ditulis keroyokan oleh sejarawan Sobana, Mumuh Mz (keduanya dari F Sejarah Unpad), Prapto dari jurusan sejarah kontemporer UI, Zaenal dari STAIN Cirebon, serta dosen lain yang dihadirkan sebagai nara sumber pada seminar draft penulisan sejarah Cirebon di Cirebon 12-13 Agustus lalu; menyegerakan sejumlah peserta yang diundang dari Cirebon, indramayu, kuningan dan majalengka untuk saling mengungkap pemahaman sejarah yang selama ini mendekam di benaknya.

Sejarah tak pernah lurus, itu kata-kata saya dalam seminar di atas lantaran setiap orang punya versi sendiri. Ini pun melanda sejarah Cirebon yang kerap merujuk buku babad Purwaka Caruban Nagari (PCN) yang ditulis Pangeran Ariacarbon pada 1720 berdasarkan ingatan pada dialog Wangsakerta. Menurut hemat saya, ingatan manusia memiliki keterbatasan apalagi dituliskan ratusan tahun setelah dialog. Maka saya menyebut sejarah Cirebon ditulis berdasar ingatan yang lupa. Akibatnya, banyak hal-hal yang luput sebagai substansi sejarah itu sendiri lantaran lupa juga yang membentuk bangun sejarah Indonesia.

Imagined community yang dirilis Ben Anderson menjelaskan bangsa yang ada jika ada yang membayangkannya merupakan penanda betapa lemahnya ingatan manusia, dan unsur lupa adalah sangat manusiawi. Maka ketika Prapto sejarawan UI mengatakan bahwa babad merupakan sastra yang dilegitimasi seakan-akan bernama sejarah, bagi saya jadi menarik. Simpel saja, pertama, PCN lebih mirip cerita yang ditautkan dengan merangkai Cirebon ke masa lalu semisal hubungan budaya dengan Cina, Campa (sekitar Kamboja),  India, dan Arab lantas meluncurlah cerita lisan dalam babad yang selalu dirujuk sejarawan yang menggulati sejarah jawa barat. Dengan cara merangkaikan peristiwa demi peristiwa yang berlatar pantai utara jawa barat yang bernama Karesidenan Tjirebon dan diberi status Kotapradja oleh Belanda, wilayah ini menorehkan catatan sejarah yang antara lain ditulis berdasar sifat lupa.

Kedua, saya curiga PCN ditulis bukan pada tahun 1720 tetapi paska kemerdekaan karena meminjam ujaran Mumuh Mz, catatan sejarah Cirebon pada masa pendudukan jepang amat minim. Bagaimana mungkin sejarah 1942-1945 di Cirebon tidak ada yang menuliskan sementara di tahun 1720 sudah ada yang menuliskan babad menjadi buku “babon” sejarah Cirebon? Pada seminar itu saya menyampaikan jangan-jangan penulisan tahun PCN dibuat muncur agar Nampak tua dan bersejarah. Ketiga, membicarakan sejarah Cirebon sepertinya pekerjaan berat karena dituntut untuk mempertautkan catatan-catatan yang terserak terutama ketika VOC bangkrut pada 1799 dan semua imperiumnya di Indonesia dibeli Belanda. Sayang sekali, saat itu raja-raja di Cirebon tidak melakukan perlawanan bersenjata kepada Belanda. Setelah itu kerajaan Cirebon menjadi milik belanda termasuk pengangkatan sultan pun atas restu dan penunjukkan belanda. Sebelumnya ada peran Sultan Agung Mataram yang mempunyai wewenang mengangkat raja Cirebon, mengeksekusi Pangeran Dipati Ukur dan menentukan batas wilayah kerajaan Cirebon sebagai bagian pemekaran kerajaan Mataram.

Keempat, penulisan sejarah akan lebih mengena bila mendatangkan saksi sejarah yang dalam kata-kata Nurdin M Noer, budayawan Cirebon, “Saksi sejarah adalah nara sumber dalam penelitian. Itu pun terbatas pada peristiwa kekinian. Lebih dari 100 tahun sejarah sering berawal dari katanya”. Begitulah maka dalang Askadi Sastrasuganda pun menyatakan sejarah identik sejare-jare (katanya). Kelima, penulisan sejarah Cirebon akan mengundang multi tafsir tatkala masuk ke fase islam dan masa penjajahan. Keenam, bagaimana mungkin sejarah Cirebon ditulis dari masa prasejarah hingga 1950 seandainya referensi dan rujukannya sangat minim. Sekali lagi saya mengingatkan agar penulisan sejarah Cirebon dibatasi per peristiwa, misalnya menyoal kekejaman kemanusiaaan pada 1965, catatan tentang Darul Islam di Cirebon karena masih banyak pensiunan tentara yang masih hidup dan baik ingatannya pada peristiwa Pagar Betis menumpas gerakan Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo pada 1963.

Sampai sekarang saya tidak tahu apakah di Cirebon ada artefak tua berupa punden berundak atau waruga, dolmen sehingga tertorehkan catatan pemerintahan dan raja-raja pada masa pra sejarah Cirebon. Bukankah pada masa itu sejarah atau peraturan raja dan sebagainya ditulis di sebongkah batu atau di di permukaan daun lontar? Jika tidak ada artefak atau situs tua, mungkin aka nada catatan pra sejarah Cirebon?

Kembali ke masalah awal. Penulisan sejarah Cirebon sebaiknya dilakukan berdasarkan peristiwa heroic. Di Jakarta, Hermawan Sulistyo dari LIPI sempat berujar, jarang sekali buku sejarah yang mengungkap peristiwa getir 1965 bahkan hingga wafatnya Marsekal Udara Omardhani Juli 2009 ybll realitas 1965 dan tahun-tahun sekitarnya tetap buram. Ah, sulit ditaut dan dibayangkan sebuah buku induk sejarah Cirebon yang konon ditulis sejak masa pra sejarah hingga 1950, didanai dari APBD Propinsi Jabar tahun anggaran 2010 dan digerakkan oleh tim yang disusun berdasarkan seminar di cirebon 12-13 Agustus 2009 yang diadakan oleh dinas pariwisata dan budaya jawa barat.

Sebagai anak bangsa, sudah seharusnya kita paham sejarah. Kita pahami dia untuk menarik pertautan masa lalu dan masa kini sehingga kendati tidak ada pengulangan sejarah yang sama persis, namun setidaknya kita dapat mengambil hikmah dari tautan itu. Akan tetapi penulisan sejarah tetap harus bermula dari kesungguhan tim dalam mengumpulkan dan mengolah data, termasuk diantaranya mendatangkan saksi sejarah yang memahami item sejarah Cirebon. Jika tidak, terus terang saya khawatir penulisan buku sejarah Cirebon yang kelak akan dianggap sebagai buku babon itu pun akan tersungkur menjadi proyek yang tergesa-gesa.***

Oleh: da2ngkusnandar | Agustus 5, 2009

Sejarah Tak Pernah Lurus

Oleh Dadang Kusnandar
Anggota Lingkaran Dialog Kebudayaan Cirebon

Resensi Buku

Judul                    : Pelurusan Sejarah Indonesia
Penulis                 : Asvi Warman Adam
Penyunting            : M. Nursam
Tata Letak            : Aep S
Sampul                : Dian Qamajaya
Pracetak              : Dian Andika Winda
Penerbit               : Ombak, Yogyakarta
Isi                        : xxxviii + 265
Cetakan, tahun     : I, 2009

TERLALU sering orang bicara meluruskan sejarah. Mengingat pentingnya sejarah yang tidak membohongi publik, tidak diputarbalik, tidak memihak kepada kepentingan siapa pun dan seterusnya menyebabkan sejarah tidak pernah selesai ditulis, digali, dan dijelaskan sebagai representasi sebuah kepentingan. Inilah sebabnya versi sejarah sangat beragam serta tak urung menimbulkan pertanyaan yang tak pernah selesai.

Sebagaimana diketahui bersama, setiap komunitas pasti memiliki ceritanya sendiri, begitu pun setiap komunitas mempunyai kepentingan terhadap cerita atau kisah atau perjalanan sejarahnya masing-masing. Dan apabila kisah atau sejarah sebuah komunitas ditulis oleh orang lain di luar komunitasnya, tidak urung menimbulkan keraguan atas buku sejarah yang ditulis itu. Begitulah terus menerus terjadi beragam versi sejarah yang menyesaki perjalanan kita sebagai bangsa.

Asvi Warman Adam, sejarawan muda, tergolong seorang yang ulet dan intens menggulati perkembangan sejarah Indonesia. Buku-bukunya serta tulisan-tulisannya di media cetak tak lepas dari pemahamannya tentang sejarah. Menarik memang ketika sejarah disusuri lantas diluruskan (kendati tak pernah lurus) dengan maksud menyajikan sesuatu yang lain ke hadapan publik, setidaknya agar sejarah tidak dipahami secara sepihak. Pentingnya pelurusan sejarah sempat mengundang keinginan mendiknas Malik Fajar di tahun 2004 yang hendak mengupas peristiwa kelam 1965 di Indonesia.

Mendiknas saat itu menunjuk sejarawan Taufik Abdullah. Hal ini berbeda dengan Prancis yang di tahun 1980-an menunjuk langsung ahli informatika untuk meneliti dampak komputerisasi, penunjukkan bahkan dilakukan oleh Presiden Miterand. Di Indonesia saat itu Presiden Megawati Soekarnoputri ingin agar permasalahan 1965 dapat diselesaikan, maka ditugaskanlah mendiknas untuk menulis sejarah 1965 di Indonesia dengan biaya pemerintah.

Soalnya kemudian setelah Megawati diganti maka bisa jadi buku tentang 1965 yang ditulis pada saat kepemimpinannya akan menebar keraguan serta ketidakpercayaan penguasa berikutnya. Begitulah maka pelurusan sejarah, dalam pandangan saya tidak pernah akan terjadi. Mengingat setiap rezim pasti mematok aturan-aturannya sendiri yang tidak ingin disamakan dengan aturan rezim lain. Namun demikian bukan berarti upaya pelurusan sejarah sebagaimana dilakukan Asvi menjadi tidak penting. Ia tetap penting, selain untuk menambah panjang versi sejarah (pinjam ujaran Mahbub Djunaidi), juga penting untuk mempertajam suasana dinamis pada iklim intelektual kita.

Mengapa sejarah perlu diluruskan? Mengapa sejarah banyak versi dan sarat kepentingan? Buku di tangan Anda ini mengantarkan kita pada pemahaman sejarah dengan titik tekan pada dua hal, yakni Pengembangan Historiografi Indonesia dan Rekonstruksi Sejarah. Keduanya penting karena selain bermuatan teoritis sejarah juga pemaparan peristiwa sejarah yang patut direkonstruksi. Rekonstruksi sejarah sekali lagi menjadi penting agar publik dapat mengetahui kajian sejarah yang merujuk kepada (setidaknya) objektifitas dan akurasi data.

Sejarah perlu diluruskan supaya kita tidak percaya begitu saja kepada sejarah yang telah ada. Meski bisa saja kita tidak sepaham dengan penulisan sejarah yang telah dibakukan sebagai kitab induk. Ini biasanya menyangkut soal peristiwa sejarah yang dahsyat dan menelan banyak korban, peristiwa 1965 misalnya. Terbanyak dan sering dirujuk adalah sejarah 1965 versi TNI AD, meskipun kini telah banyak buku yang mengkonter sejarah 1965 versi TNI AD itu. Namun apakah lantas masyarakat percaya tanpa reserve kepada kitab sejarah 1965 yang ditulis oleh bukan TNI?

Dengan demikian penulisan sejarah tidak pernah bisa lepas dari kepentingan penguasa saat itu. Dan berdasar itulah kritikus sastra HB Jassin menilai bahwa ciri sastra salah satunya adalah keberpihakan kepada penguasa (keraton sentis). Pada  masanya, raja tidak boleh disalahkan, ucapannya adalah titah, trahnya adalah dewa; sehingga penulisan biografi pun harus yang baik-baik saja, minimum yang menyenangkan raja. Tak peduli bagaimana dampak buku itu bagi keturunannya kelak. Begitulah terus bergulir  pemahaman sejarah yang beragam, yang di dalamnya terdiri muatan kepentingan masing-masing komunitas.

Namun Asvi mengulas Denys Lambard, guru besar Ecole Francaise d`Extreme Orient, Paris yang juga pendiri Archipel, jurnal ilmiah yang  mengkaji Indonesia  bersama Leiden dan Cornell. Tahun 1997 di Jakarta Lambard meluncurkan bukunya Nusa Jawa sebagai ensklopedi sejarah sosio budaya Jawa dalam konteks Asia dan dunia. Nusa Jawa dapat ditempatkan dalam deretan studi mendasar sepanjang hampir dua abad mengenai Pulau Jawa dan penduduknya. Buku ini setara dengan History of Java karya Thomas Raffles, Negara Kertagama karya Pigeaud, The Relligion of Java karya Clifford Geertz dan The Javanance Culture karya Kuntjaraningrat.

Jika orang Prancis saja demikian bagus menulis tentang Indonesia, kenapa sejarawan Indonesia tak tergerak melakukan hal yang sama sebagaimana dilakukan Asvi, meluruskan sejarah yang tak pernah lurus itu. Bersepakat dengan itu, buku di tangan Anda ini menjadi penting tidak sekadar untuk menambah hasanah kesejarahan kita, namun terlebih penting adalah untuk memahami dan mendudukan sejarah secara proporsional tanpa ditunggangi kepentingan apa pun.

Buku bagus sebagai edisi revisi dari cetakan tahun 2004 ini pun memuat beberapa tokoh sejarah yang tiada henti mengisi ruang berpikir kita. Sebut saja Bung Karno, Soeharto, Subchan ZE, Sudisman, Anak Agung Gde Agung, Karl Marx, Soemitro Djojohadikusumo, Prof George Mc T Kahin, dan sebagainya. Nama-nama ini saya yakin cukup lekat di keseharian kita karena kiprahnya yang menorehkan catatan sejarah.

Buku ini penting mengingat upaya serius Asvi meluruskan sejarah dengan membongkar puluhan referensi dalam dan luar negeri, agar pembaca dapat lebih memahami sejarah dengan pendekatan yang lebih objektif. Namun kelemahannya ialah buku ini terlalu banyak mengupas sekian peristiwa sejarah, padahal alangkah lebih baik jikalau Asvi menulis satu peristiwa sejarah yang heroik, menelan banyak korban, mengharubiru keindonesiaan kita — umpamanya peristiwa 1965.

Akan tetapi begitulah sejarah itu menarik karena penuh intrik, sebagaimana dikatakan Paul Veyne.***BUKU

Oleh: da2ngkusnandar | Juli 21, 2009

Borderland

Catatan Dadang Kusnandar

Anggota Lingkaran Dialog Kebudayaan, Cirebon


PERBATASAN, penghubung dua wilayah geografis mengingatkan pada beberapa wilayah indonesia yang sampai sekarang mengundang dan mengandung potensi konflik, bahkan konflik antarnegara. Tetapi, perbatasan (borderland) juga dapat dilekatkan pada Cirebon. Perbatasan secara geografis yang berada di propinsi jawa barat berbatasan dengan propinsi jawa tengah. Meski terletak di propinsi jawa barat, bahasa daerah yang masih dianut masyarakatnya bukan bahasa Sunda, melainkan bahasa cerbon yang juga berbeda dengan bahasa jawa tengah dan jawa timur. Teman saya berkata, cirebon (border) ternyata berbeda dengan borderland  jawa tengah dan jawa timur. Boleh jadi, menurut saya kuatnya pengaruh Mataram (yogyakarta) masih sanggup mempertautkan borderland di dua propinsi itu. Maka wajar jika secara bahasa dan kultur borderland di jawa tengah dan jawa timur hampir memiliki banyak kesamaan.

Berbeda dengan Cirebon. Secara bahasa berbeda dengan jawa barat dan jawa tengah, meski terletak di antara kedua propinsi tersebut. Sepertinya peninggalan Mbah Kuwu Cirebon, Pangeran Cakrabuana, 600 tahun lebih itu, memang memiliki ciri sendiri yang “lepas” dari jawa barat dan jawa tengah.  Tetapi bahasa Sunda (jawa barat) juga ada di cirebon walaupun tidak sehalus wilayah priangan dan cianjur, begitu pula bahasa jawa (jawa tengah/ timur) juga ada meskipun tidak sehalus di kedua propinsi itu. Konon pengaruh kerajaan Sunda Kalapa dan Pajajaran menjadi satu alasan mengenai bahasa sunda di cirebon, misalnya Kuningan dan Majalengka selatan. Kabarnya bahasa sunda yang dianut Sunda Kalapa, Galuh, Pajajaran dan Pakuan berimbas ke cirebon.

Namun ketika Sultan Agung dari Kerajaan Mataram menyerbu Batavia 1528 dan 1529, pengaruh bahasa Jawa mulai masuk. Pasukan yang diutus melalui jalur darat melewati cirebon, bahkan pasukan Yogyakarta yang tidak memenangkan dua kali peperangan itu pun banyak yang akhirnya menetap di cirebon kemudian beranak pinak. Tak heran jikalau kesenian cirebon ada yang substansinya peperangan, misalnya tari jalasutra (panah), dan tari jala sena (pasukan katak, penyelam) dan tari kulun-kulun (pasukan badak dengan pedang dan perisainya). Begitu pula Ronggeng Bugis, ketika pemain kesenian ini memerankan diri sebagai perempuan (bencong) menari seadanya dan berpakaian perempuan (berkebaya) tetapi diam-diam bertugas sebagai telik sandi alias penggali informasi dari musuh. Dinamakan ronggeng bugis lantaran pasukan Makasar (Bugis) yang tidak mau tunduk kepada VOC lari ke Mataram dan bergabung menjadi pasukan kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Demikianlah bahasa sunda dan bahasa jawa masuk berkembang dan membentuk fase yang baru, yang mungkin saja menjadi bahasa cirebon. Bisa juga bahasa cirebon memang ada sebelum penyerbuan Sultan Agung ke Batavia. Usia kota cirebon yang menunjuk ke angka 600 tahun lebih dibanding 1528-1529 yang berjarak 480 tahun, sudah cukup menjelaskan usia bahasa cirebon. Maka jikalau kini masih terkesan ada perseteruan bahasa sunda dan bahasa cirebon, bagi saya itu jadi fenomena tersendiri. Betapa tidak! Jawa Barat yang sunda masih memaksakan diri agar bahasa sunda dikenal dan “menguasai” jawa barat, termasuk cirebon. Caranya ialah masuknya pelajaran bahasa sunda ke dalam kurikulum sekolah dasar dan sekolah menengah pertama.

Kawan saya yang lain menyebut Cirebon sebagai melting plot atau yang menganut budaya serapan. Dua budaya besar, Jawa dan Sunda, merembes dan berkembang membentuk budaya baru. Itulah Cirebon, katanya menganalogikan dengan Amerika Serikat (AS) . Saya tentu saja tidak begitu sepakat jika dikatakan melting plot lantaran AS memang dibentuk berbagai budaya besar dari Eropa. Jika merujuk film Far and Away yang dibintangi Tom Cruisse dan Nicolle Kidman, tampak bagaimana masa awal penataan benua amerika yang dikatakan sebagai glory land atau tanah impian. Film bagus yang saya tonton lebih sepuluh tahun lalu itu menceritakan sulitnya warga baru AS mendapatkan uang dan sepetak tanah pertanian.Tom Cruisse harus jadi pegulat bebas di arena judi, begitu pula harus ikut lomba balapan kereta kuda untuk memperebutkan sekavlling tanah pertanian. Adegan ini divisualkan dramatis karena setiap peserta lomba boleh saling mencelakakan rivalnya.

Saya menolak jika cirebon dianalogikan sebagai melting plot , karena bertemunya dua budaya besar (jawa dan sunda) justru pada gilirannya kelak menimbulkan efek konflik bahasa. Berbeda dengan AS yang didatangi kaum imigran dari Eropa yang telah menganut budaya khas masing-masing. Irlandia, Portugis, Spanyol, Inggris, Prancis dan semua bangsa lain yang masuk ke glory land AS di tahun 1776 atau beberapa tahun ke belakang, menandai adanya perbedaan budaya masing-masing sehingga sangat sulit mencari idealisasi nasionalisme Amerika Serikat.

Budayawan gaek,  Kartani, menyebut cirebon sebagai sarumban atau campuran, kata ini dikutip dari kitab tua Carita Purwaka Caruban Nagari karya lisan yang ditulis Pangeran Arya Carbon tahun 1720. Agak unik memang, kitab ini ditulis ratusan tahun berdasar ingatan massal dari cerita lisan yang turun temurun (leluri) antara pencatat dengan Pangeran Wangsakerta. Saya sempat bertanya, sekuat apakah ingat komunal ini direkam?   Sarumban berarti  cirebon memiliki tipikal kultur campuran Jawa dan Sunda, namun membentuk modifikasi baru sehingga berbeda dengan keduanya. Ironinya jikalau cirebon tidak diterima oleh sunda dan jawa. Maka jadilah ia sebagai alienasi, sebuah komunitas dengan ciri keterbukaan seperti diperlihatkan masyarakat pantura (Cirebon dan Indramyu) hingga dikenal istilah blakasuta atau blak-blakan.

Komunitas perbatasan biasanya memiliki ragam profesi, kendati untuk konteks cirebon karena letaknya di tepi laut jawa, maka saat itu profesi terbanyak didominasi nelayan. Kendati jika melaut tidak sejauh pelaut Bugis, namun menyisir tepi laut jawa dari cirebon ke pamanukan, karawang, tanjung priok dan banten sudah terbiasa dilakukan nelayan saat mencari ikan dan otomatis tidak pulang berhari-hari. Dengan perahu motor dan bekal yang sudah disiapkan para nelayan menyusur tepian laut jawa dan singgah di banyak Tempat Penjualan Ikan (TPI) untuk bertransaksi langsung dengan konsumen, walaupun ada juga yang membiarkan ikan tangkapannya diborong tengkulak.

Profesi lain yang banyak dipilih adalah sektor perdagangan. Sejak dulu pelabuhan Muara Jati (lantas berubah jadi Tanjung Mas dan kembali menjadi Muara Jati setelah nama Tanjung Mas ditempelkan untuk pelabuhan Semarang) menjadi tempat singgah saudagar. Bahkan perkembangan agama islam pun sebagaimana dipaparkan sejarawan banyak dilakukan sambil transaksi niaga di pelabuhan. Dari sinilah lantas muncul pabean (pajak) yang mengelola uang rakyat, termasuk juga perlayaran rakyat –sebuah perusahaan yang dikelola pedagang dan nelayan di pelabuhan Muara Jati Cirebon.

Setelah perkembangan dan kemajuan dunia tak dapat ditolak, ragam profesi menyesaki kawasan borderland. Dari sektor jasa [misalnya penjaga gudang, pengangkut barang yang dikenal sebagai TKBM (tenaga kerja bongkar muat),  pengamanan,  pedagang makanan minuman dan seterusnya. Demikianlah borderland yang bernama cirebon itu kendati pada  mulanya dikategorikan sebagai wilayah kerajaanPajajaran di Jawa baratatau kerajaan Mataram di Jawa tengah, terbukti menemukan ciri khasnya sendiri yang berbeda dengan dua kerajaan besar yang mengapitnya.

Agaknya persetruan Mataram dengan Portugis di Batavia, campur tangan Mataram (Sultan Agung) memutuskan eksekusi mati bagi Dipati Ukur, mencampuri urusan dalam kerajaan Cirebon setelah wafatnya Susuhunan Jati, memberikan nuansa terciptanya Cirebon yang tetap dengan ciri khas borderland. Tidak ke Pajajaran, juga tidak ke Mataram.

Dengan demikian bahasa yang tumbuh dan berkembang di borderland ini pun merupakan adpatasi dua bahasa, jawa dan sunda. Relatif komunitas yang mukim di borderland paham dua bahasa. Soal bahasa mana yang lebih intens dipraktekkan tergantung di lingkungan mana mereka tinggal. Artinya yang dekat ke Pajajaran relatif berbahasa Sunda, dan yang terletak di pantura (cukup jauh dari Pajajaran) menggunakan bahasa Cerbon.

Borderland dengan kata lain adalah komunitas unik, yang jika ditilik dari sejarahnya sudah merupakan sarumban (campuran) antara Arab, India, dan Cina. Lihat saja kereta kencana Paksi Nagaliman yang merupakan gabungan tiga ekor binatang dari arab, india dan cina. Ilustrasi fiktif dan makna filosofis kereta kencana ini  sunguh luar biasa!***

Oleh: da2ngkusnandar | Juli 21, 2009

Pak Bei

Catatan Dadang Kusnandar

anggota Lingkaran Dialog Kebudayaan, Cirebon


KETIKA orang takut angka 666, Pak Bei punya cerita angka 9999. Tiba-tiba Pak Bei mengadakan syukuran di rumahnya padahal Nanang belum naik kelas dan Pak Bei tidak naik pangkat, tetapi syukuran diadakan karena tanggal 9 bulan 9 tahun 99 tidak terjadi apa-apa (halaman 44). Cerita karikatur ini mengejek sekaligus dakwah: Jangan takut tanggal (almanak). Buku komik Pak Bei karya Pak Masdi yang dicetak Penerbit Sileng Semarang berdasar beberapa karikatur Pak Bei di harian Suara Merdeka Semarang. Cerita kedua yang menurut saya asik, sebagai berikut: Dan jika kelak hidupmu enak, jangan lupa sama Pak Bei. Tentu tidak Pak Bei, aku akan senantiasa ingat nasehat Pak Bei, sebab…….akibat nasehat Pak Bei yang panjang lebar tadi, saya ditinggal kereta (halaman 48). Dialog ini sarat makna, juga ada unsur humor di dalamnya.

Dua cerita Pak Bei yang saya kirim kepada anaknya di Jakarta dan kepada teman di Cirebon memperlihatkan kesungguhan Pak Bei (tokoh utama karikatur karya Pak Masdi) melihat fenomena yang terjadi di masyarakat. Betapa sebuah ketakutan massa kepada angka 666 yang konon disandarkan betapa kuatnya hasrat setan dan potensi menguasai manusia, seperti juga angka 13 yang kabarnya menakutkan. Pak Bei kemudian memplesetkan angka 9999, tanggal 9 September 2009 (entah apa yang terjadi di Semarang saat itu) sebagai tanggal syukuran yang digelar di rumahnya di Semarang. Mengundang tetangga, hingga tetangga bertanya ada apa. Namun dengan enteng Pak Bei menjawab tanggal 9 bulan 9 tahun 99 tidak terjadi apa-apa.

Waktu itu, ada isu yang beredar di Semarang dan kota2 lain di Jawa Tengah lainnya (dan kalau tidak salah di seluruh dunia waktu itu, buktinya ada film The Sixth Day yg dibintangi Arnold Schwarzenegger), bahwa tepat pada tgl 9-9-99 dunia ini akan kiamat. Orang-orang, terutama orang desa, sudah pada heboh mempersiapkan terjadinya kiamat itu. Nah, begitu semua itu ternyata isapan jempol belaka, muncullah komik Pak Bei itu untuk mengolok-olok sekaligus mengingatkan kita agar tidak mudah termakan isu dan mempercayai hal-hal yg tidak ilmiah semacam numerologi almanak.

Cerita kedua adalah nasehat Pak Bei kepada seorang pemuda yang akan berangkat memenuhi panggilan kerja di kota besar. Nasihat diberikan di stasiun kereta api menjelang berangkat. Lantaran nasihat Pak Bei yang panjang lebar itu, pemuda tadi tertinggal kereta yang sudah melaju beberapa saat saja di depan matanya. Masalahnya bukan karena tidak tepatnya waktu pemberian nasihat melainkan masih banyak orang tua dengan kebiasaan menasihati anak muda panjang lebar, kendati bisa saja pemuda tidak mengindahkan nasihatnya. Di depan manggut-manggut, di belakang orang tua (Pak Bei), abaikan saja nasihat itu.

Seminggu lalu saya mendapat kiriman buku komik tipis berjudul Pak Bei dan telah dibaca anak saya hingga ia tersenyum dan tertawa menyimak isinya. Buku itu pada mulanya akan menjadi materi perpustakaan komik yang hingga sekarang masih terngiang dalam mimpi saya terwujudnya Museum Komik Indonesia di Ubud kabupaten Gianyar Bali. Soal buku Pak Bei pun sudah saya sampaikan kepada teman-teman di Bali.

Demikianlah dialog by phone dengan teman-teman di Bali terus berlanjut hingga berdirinya museum komik sebagai kekayaan bangsa Indonesia . Berbagai alasan yang ada antara lain agar anak-anak kita mau membaca, memahami dan menghayati tokoh hero lokal asal Indonesia. Barangkali jika cerita heroisme itulah ditulis dalam bentuk komik akan lebih mudahkan pemahaman dan disukai anak-anak. Benarkah?

Maksum Mukhtar di ruang kerjanya di STAIN Cirebon mengatakan, justru angkatan kitalah yang menyebabkan anak-anak kita seperti sekarang. Anak-anak seharusnya tidak dalam pemikiran (cara berpikir) kita, biarkan mereka mencari alternatif sendiri, ketika tokoh komik lokal telah tergeser oleh Sincan dan sebagainya. Saya tentu saja menolak, justru ketika kita masuk era global maka yang ada adalah kita kalah bersaing (dan tak sanggup memenangkan kompetisi dagang) dengan luar negeri, yang ada ialah kita terseok-seok di arena AFTA, kita jadi penadah utang kelompok G 7, kita jadi sasaran produk impor negara maju, bahkan kondom bekas pun satu kontainer pernah dikirim ke Indonesia dari Eropa.

Namun Pak Maksum tetap bersikukuh yen anak-anak kita sebenarnya tengah mencari alternatif dan berusaha masuk ke dunia yang disukainya. Jadi biarkan saja mereka begitu karena anak-anak melihat rusaknya Indonesia adalah karena ulah kita sendiri. Aha, tanpa menguutip Gibran menyoal anak, Pak Maksum sebenarnya mengajak kita memposisikan diri sebagai pembimbing bukan pengatur anak-anak.

Kendati saya tidak setuju pandangan dosen STAIN Cirebon itu, tetap saja di tangan saya kumpulan karikatur Pak Bei seperti mengingatkan: Pak Bei, ini karyawan baru, masih magang, beri dia pekerjaan, beri petunjuk dan pengarahan. “Baik Pak”, jawab Pak Bei. Jika ada yang penting hubungi aku atau bapak pemimpin kantor tadi; kata Pak Bei kepada karyawan baru. “Ya, pak”. Sementara kau kutugasi tunggu telepon di sini. Syaratnya kau harus sigap dan ramah tamah. “Ya, pak”. Ada telepon penting? Yang barusan tadi dari mana? Karyawan baru itu gelagapan menjawab, “Nggak ada pak…..cuma…….”Hallo, met siang….ya….oya…ya, makasih, met siang”. Seseorang bilang di kantor ini baru saja dipasangi bom. Cuma itu….. “Apa?!!”, kata Pak Bei ketakutan.

Cerita ini saya nukil dari halaman 57 buku Pak Bei karena ternyata anak muda sering tak nyambung dengan orang tua. Pendapat Pak Maksum menyoal pembiaran anak-anak pada dunia pilihannya saat ini, boleh jadi analog atas guyon yang disampaikan karyawan baru yang masih magang itu. Alhasill, kita dan anak-anak, Pak Bei dengan karyawan baru, atau mungkin saya dengan Pak Maksum — ternyata tidak atau nyambung menyoal sebuah wacana.

Jikalau wacana saja belum atau tidak match, apalagi untuk sebuah tindakan. Celakanya cerita di atas menjadi bagian paling akrab dengan keseharian kita. Diam-diam kita memelihara perbedaan dengan yang lain sehingga untuk menyatu membuat (dan atau) menciptakan sebuah pekerjaan bersama, kita sering kelimpungan. Tidak bisa selaras, tidak bisa melaksanakan pekerjaan bersama-sama. Kita sering berbeda dan memelihara perbedaan agar kita jalan masing-masing. Biarlah, setiap orang punya pilihan sendiri; lebih kurang begitu.

Demi dan atas nama perbedaan yang kata sahibul hikayat adalah hikmah, dalam hemat saya sebaliknya: sering kali perbedaan itu menjadi laknat, bukan berkah tetapi musibah. Perbedaan yang bisa disandingkan dalam heterogenitas sebuah wacana, seharusnya tidak melebar jadi perbedaan ketika dua orang yang berbeda pandang ada pada satu pekerjaan bersama. Kendati sulit mencari titik temu, sekali lagi saya ingat Pak Bei……….

Buu!!! Kabar gembira bu! Aku diminta pulang ke desa oleh pakde, untuk menerima warisan rumah pusaka. Apa? Rumah pusaka itu besar, Pak Bei? Pinggir jalan ya? (Tanya ibu dalam perjalanan ke desa dengan Pak Bei naik bus). Ya, mbuh aku juga belum tahu. Sampai di rumah pusaka, pak de berkata, “Terimalah! Siapa tahu tiba-tiba kau punya pusaka, bisa kau rumahkan di sini”. Pak Bei tertegun. Pak Bei jika pensiun kelak kita berhari tua di desa saja ya. Tentu! Rumah kita dijual buat modal, kan di sana kita sudah punya rumah! “Bei, di sini dulu pusaka-pusaka kita itu disimpan. Ada keris, pedang dan mata tombak. Sayang semuanya itu sudah laku terjual ketika parah-parahnya krismon…..” kata pakde. Lho kok merengut? tanya ibu. Pak Bei menjawab singkat, “Mbuh!”.

Saya tidak akan berkata mbuh (tidak tahu) kepada siapa pun jika saya tahu, tetapi saya harus berkata mbuh kalau saya tidak tahu. Ceplas ceplos, celetukan, dan guyon ala Pak Bei sepertinya merangkai saya kepada sosok sederhana yang kini telah tiada. Membaca Pak Bei sepertinya membaca kisah sejumlah orang dengan dramturginya masing-masing. Namun sayang sekali komik Pak Bei sampai sekarang belum dibukukan. Adapun yang kini di tangan saya, dicetak sendiri maka lupa menulskan sebagian biografinya.****

Oleh: da2ngkusnandar | Juli 18, 2009

Bom

Catatan Dadang Kusnandar

Anggota Lingkaran Dialog Kebudayaan, tinggal di Cirebon

GETAR ledakan terasa di kantor saya. Sejarak 100-an meter dari Hotel JW Marriot, ia juga mendengar helikopter meraung di udara, jerit ambulance di jalanan, orang-orang panik, takut, tak tahu harus bagaimana memilih cara menghindar dari efek ledakan. Jakarta pagi itu bukan hanya diguncang 3 buah bom yang tiba-tiba meledak. Jakarta 17 Juli 2009 juga diguncang perasaan ratusan orang (mungkin ribuan) yang melintas atau mukim di dekat lokasi peledakan. Tiga tahun lalu di lokasi yang sama, hotel bertaraf internasional itu meledak. Perasaan terguncang sekaligus mempertanyakan lemahnya aspek pengamanan warga masyarakat, agaknya menyembulkan pertanyaan; seberapa baguskah pengamanan warga sipil yang diberikan aparat keamanan? Tidak bisakah deteksi keberadaan bom aktif diketahui sebelum meledak? Mungkinkah bom selalu menghantui indonesia tatkala sebagian kita menganggap betapa pesta politik kerap jadi alasan keengganan warga?

Seingat saya, pasukan gegana pasukan brimob dibekali pendidikan dan pelatihan melacak keberadaan bom dan atau alat peledak lain yang membahayakan masyarakat. Pasukan itu pula dapat memastikan letak persisnya sehingga peledakan tidak terjadi. Berbekal kepintaran mencium keberadaan bom, seharusnya peledakan bom di tempat yang sama lebih dari satu kali tidak boleh terjadi. Demikian juga kesiapan atas pengamanan lokasi strategis dengan tidak berkesan menakuti warga sipil perlu dipertimbangkan. Biasanya warga sipil jengah melihat wara-wiri tentara atau brimob dengan senapan laras panjang, berbaris, kondisi siaga mengintip dan berjaga-jaga di keramaian. Biasanya juga warga sipil merasa terganggu privasinya melihat kehadiran sepasukan militer di sekitarnya.

Bayangan seperti itu wajar adanya, karena militer seharusnya memberi pengamanan tanpa diam-diam menyisipkan rasa takut kepada warga sipil. Dan wajar pula sipil merasa terganggu lantaran kehadiran militer di tempat yang sama sering mengurangi ruang gerak orang sipil. Beberapa ruas jalan yang dikosongkan adalah penanda berkurangnya ruang terbuka itu. Sipil menghargai militer, demikian juga sebaliknya. Akan tetapi komunikasi ini belum terbangun lantaran beberapa perbedaan cara pandang sipil dan militer terhadap sebuah masalah. Sebut saja meledaknya dua bom di Marriot dan sebuah di Restoran Erlangga Ritz Carlton.

Militer dan kepolisian memandang peledakan ini sebagai ancaman serius yang mengganggu keamanan wilayah negara. Peledakan itu pun relevan dengan lemahnya pengawasan terhadap lalu lalang kustomer di hotel berbintang berkelas internasional. Pihak kepolisian paska peledakan baru mematok aturan agar petugas hotel memeriksa tas kustomer yang menginap.

Berbagai acara yang sudah dipersiapkan panitia menyambut Manchester United pun akhirnya berantakan. Kon kerugian ditaksir mencapai miliar rupiah. Akan tetapi yang paling penting adalah bagaimana kita menyediakan seperangkat pengamanan kepada masyarakat, terlebih lagi kepada tamu asing. Bayangkan jika seketika tersiar kabar menyoal lemahnya faktor keamanan di indonesia sehingga tidak layak disinggahi. Kenyataan ini tidak saja mengurangi jumlah kedatangan turis mancanegara ke indonesia melainkan juga terpatrinya stigma tentang bom yang masih bisa diledakkan di berbagai tempat ini. Lihat saja catatan peledakan bom sejak tahun 2000 yang mengoyak dan merobek republik tercinta ini. Berikut catatan itu :

1). 1 Agustus 2000 Bom meledak di Kedubes Filipina, Menteng, 2 orang tewas 21 luka-luka.
2). 13 September 2000 Bom meledak di lantai parkir Bursa Efek Jakarta.
3). 24 Desember 2000 Serangkaian bom meledak pada malam Natal di Jakarta, Bekasi, Sukabumi, Mataram, Pematangsiantar, Medan, Batam dn Pekanbaru.
4). 22 Juli 2001 Bom di Gereja Santa Anna dan Gereja Santa Huria Natak Protestan (HKBP) di Kalimalang Jakarta Timur, 5 orang tewas.
5). 31 Juli 2001 Bom meledak di Gereja Bethel Tabernakel Kristus Alfa Omega di Jalan Gajahmada Semarang.
6). 23 September 2001 Bom meledak di Plaza Atrium Senen Jakarta Pusat, merusak beberapa mobil di parkir dua gedung tersebut.
7). 6 Nopember 2001 Bom rakitan meledak di halaman Australian International School, Pejaten Jakarta Selatan.
8). 12 Oktober 2002 Paddy`s Pub dan Sari Club di Legian Kuta Bali diguncang bom. Dua bom meledak jam 23.05 WITA. Lebih dari 200 orang tewas, 200 orang lebih luka-luka. Pukul 23.15 WITA bom meledak di Renon dekat kantor Konsulat Amerika Serikat, tidak ada korban jiwa.
9). 3 Februari 2003 Bom meledak di bandara Soekarno Hatta, 2 orang luka berat.
10). 27 April 2003 Bom meledak di Hotel JW Marriott Mega Kuningan, 14 orang tewas.
11). 10 Januari 2004 Ledakan dahsyat terjadi di Kedubes Australia Jl HR Rasuna Said Kuningan Jakarta Selatan, gedung-gedung di dekatnya hancur, 6 orang tewas.
12). 12 Desember 2004 Bom meledak di Gereja Immanuel, Palu Sulawesi Tengah.
13). 28 Mei 2005 Bom meledak di Temena Poso Sulawesi Tengah, 22 orang tewas.
14). 8 Juni 2005 Bom meledak di halaman rumah Ahli Dewan Pemutus Kebijakan Majelis Mujahidin Indonesia, Abu Jibril di Pamulang Barat Bekasi.
15). 1 Oktober 2005 Bom meledak di Kuta Bali, 22 orang tewas.
16). 31 Desember 2005 Bom meledak di pasar Palu Sulawesi Tengah.
17). 10 Maret 2006 Bom meledak di rumah penjaga Kompleks Pura Agung Setana Narayana di Desa Toini Poso.
18). 22 Maret 2006 Bom meledk di pos kamling Dusun Landangan Desa Toini Kecamatan Poso Pesisir jam 19.00 WITA.
19). 1 Juli 2006 Bom meledak di Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) Eklesia jalan Pulau Seram Poso pukul 22.15 WITA, tidak ada korban jiwa.
20). 3 Agustus 2006 Bom meledak di Stadion Kasintuwu di samping RSU Poso Sulawesi Tengah.
21). 18 Agustus 2006 Bom meledak di Poso.
22). 6 September 2006 Bom meledak di Tangkura Kecamatan Pesisir Selatan, Poso.
23). 17092009 Bom meledak di Hotel JW Marriott dan Rirtz Carlton, 9 orang tewas.

Dua puluh tiga peristiwa ledakan bom di Indonesia sejak tahun 2000, sejak memasuki era reformasi yang bebas mengekspresikan diri, mungkin termasuk di dalamnya bebas meledakkan bom berkuatan tinggi hingga menewaskan orang yang tidak bersalah, orang yang bukan jadi target ledakan bom.

Dua puluh tiga kali bom meledak dan berlangsung di rumah ibadah, merenggut nyawa, melepas kaki tangan kepala tubuh ke tempat yang bukan sebenarnya. 23 kali peledakan bom setelah indonesia menyatakan diri memasuki ambang kebebasan dan menghirup udara segar demokrasi. 23 kali bom meluluhlantakkan keramahan orang indonesia, Jum`at pagi 17 Juli 2009 terjadi lagi di Jakarta, di ibu kota negara yang seharusnya amat terjaga dari segala ancaman. Ah, kita ingin menuduh siapa pun kecuali ada upaya serius mengetahui deteksi awal keberadaan bom yang bakal meledak sehingga tidak ada lagi korban sia-sia. Semoga.***

Oleh: da2ngkusnandar | Juli 15, 2009

Wamil dan Politik

Catatan Dadang Kusnandar

Anggota Lingkaran Dialog Kebudayaan, tinggal di Cirebon


SELASA 14 Juli 2009 ketika menelpon teman, saya dikejutkan dengan jawabannya bahwa ia sedang mengikuti pembahasan Rencana Undang-Undang (RUU) Wajib Militer yang mulai dibahas di tingkat kota/ kabupaten. Kabarnya sejumlah ormas, organisasi pemuda, tokoh masyarakat bersama eksekutip tengah asik membahas RUU tersebut. Tentu saja mengejutkan lantaran belum lama pilpres 2009, minggu ini digelar pembahasan RUU secara betingkat di kota/ kabupaten untuk seterusnya drfat itu diserahkan ke pusat kemudian diantarkan ke DPR RI.

Ingat wamil, ingat masa kuliah. Ingat wamil seperti mempertautkan lagi Resimen Mahasiswa yang di kampus saya dulu dinamakan (maaf) Hansip Kampus. Ingat wamil ingat rekrutmen mahasiswa dan pemuda Amerika menyongsong Perang Korea dan Perang Vietnam. Ingat wamil, tentu saja ingat sekian film perang Hollywood yang menggambarkan AS tak pernah kalah di film yang sengaja dipublish untuk membalik image masyarakat dunia. Karena sesungguhnya AS ditendang Korea dan kalah di Vietman. Sejumlah mahasiswa dan pemuda yang psikisnya terganggu, fisiknya cacat dan berlobangnya kerugian kas negara; mencerinkan kesia-siaan perang. Nama Oliver Stone saat itu begitu akrab bagi penikmat film perang Vietnam Vs Amerika, maupun Amerika Vs Kamboja dan sebagainya.

Ingat wamil (wajib militer) mengingatkan kembali betapa kaum sipil ditarik masuk ke kancah militer, dilatih perang, dipersiapkan untuk membunuh serta tidak gentar untuk terbunuh. Barangkali dokrin militer yang abadi itu: Membunuh atau Dibunuh, sangat lekat di benak para pemuda dan mahasiswa yang direkrut pada program wajib bela negara, yang bernama wajib militer.

Dan ketika saya dikejutkan dengan adanya pembahasan awal RUU Wamil di Indonesia, terbesit bayangan sebuah pulau yang mengapung di wilayah Kepulauan Riau yang bernama Ambalat. Juga kembali tertaut pada dua pulau yang belum lama pindah alamat ke Malaysia, yakni Sipadan serta Ligitan. Kejutan itu bukan saja membuat saya giris dan merinding, namun saya ditohok kawan-kawan menyoal tidak perlunya RUU itu ada. Kawan-kawan menolak dengan berbagai alasan. Pertama penolakan terjadi karena harus disadari bahwa membela negara bukan hanya angkat senjata dan membunuh musuh. Katanya, petani yang menanam mengurus memberi pupuk terus memanen padi juga melakukan bela negara. Demikian juga penyair yang menulis syair (puisi) menolak dan menyerang korupsi adalah bela negara. Bahkan ada yang mengatakan seperti akan perang saja maka harus ada wamil segala.

Saya sangat tidak setuju kebijakan itu. Bela negara memang kewajiban kita sebagai warga negara yang baik. Memiliterkan sipil, saya tidak setuju. Akademisi yang setuju berarti pelacur akademik. Bela negara tidak bisa dipahami dalam perspekif wamil. Kita telah dikacaukan antara bela negara dan bela pejabat, begitu juga kita dikacaukan antara negara yang kacau dengan kekacauan negara. Ujaran teman saya di Indramayu yang dikenal lurus berpikir dan bertindak itu pun selaras dengan pikiran penyair bahwa semua aktivitas ditentukan berdasarkan profesionalitas. Artinya wamil yang secepat kilat tidak bakal mampu mengusir kapal perang Malaysia yang siap-siap mengambil alih Ambalat. Seorang guru SMP menyatakan tidak setuju karena wamil hanya membuang duit negara, padahal masih banyak pos lain yang perlu dana.

Secara guyon ada yang berkata, “Kalau dapat senjata dan bebas menggunakannya, boleh juga tuh wamil. Nanti senjatanya buat nembak yang membuat UU nya”. Wow, serem juga ya konflik terpendam hubungan sipil militer pada pandangan guyon kawan itu. Ada yang menolak RUU Wamil lantaran perbedaan ideologi sipil militer, malah akan menjadi bisnis idealisasi di departemen pertahanan dan keamanan. Katanya, ada politisasi berarti ada bisnis.

Namun beberapa menyatakan setuju adanya UU Wamil yang ditasbihkan bagi seluruh warga negara berusia maksimal 45 tahun. Alasannya lantaran lemahnya disiplin di kalangan pemuda, setuju dengan merujuk Cina dan Korea yang menerapkan wamil. “Jika sewaktu-waktu negara mengklaim darurat perang maka mayoritas sdm kita sudah siap untuk pertahanan. Apalagi melihat situasi sekarang”, paparnya. Ada yang sepakat karena bela negara sebagian dari iman, meski demikian para anggota dewan yang terhormat dan para pejabat harus memberi teladan terlebih dahulu. Ada yang setuju pada kondisi tertentu dan wamil dihentikan setelah kondisi aman karena tugas pengamanan negara adalah tugas TNI. Juga setuju dengan merujuk sishankamrata, sistem pertahananan keamanan rakyat semesta serta menurunnya semangat bela negara.

Setiap warga negara jika diperlukan harus mau dan siap membela negara. Wamil pun seharusnya tanpa diskriminasi dan harus selektif strategis. Saya kaget mendengar penuturan ini: Setuju agar demonstrasi yang digelar mahasiswa dan massa yang sudah dibekali pelatihan wamil tambah seru. Apik itu. Mahasiswa bisa duel dengan militer dengan strategi dan taktik yang sama. Habis, mahasiswa tawuran terus! Ada yang sepakat lantaran kaum sipil tidak lagi arogan memakai baju ala militer. Ormas harus melepas kostum ala militer. Wamil sesuai pasal 30 UUD 45 tentang bela negaradan UU No 20 tahun 1980. Ada yang beralasan untuk membela negara, apa sih yang tidak setuju? Juga ada yang masuk dari pemikiran pentingnya menjaga kedaulatan NKRI apapun caranya agar berdaulat dan disegani.

“Secara jujur saya sering merasa khawatir pada jiwa ksatria kita. Banyak kasus seperti Amalat misalnya tidak mendapat reaksi yang gagah perwira. Seolah ada rasa tidak peduli pada bela negara, atau bahkan rasa takut menghadapi bangsa lain. Di sisi lain keberingasan dan amuk masih menjadi penyakit sosial kita”, katanya mengajukan tanda setuju pada UU Wamil. Tapi intinya saya cemas pada pembangunan karakter bangsa yang nyata dari segi jiwa kesatriaannya (disiplin, terorganisir, berani, kuat dan mental harga diri) sebagai jatidiri bangsa, tambahnya. Ada yang setuju untuk memaksimalkan energi generasi muda daripada menghabiskan waktu untuk dugem.

Ada yang berkata, “Setuju, karena sampai sekarang nilai kedisiplinan dan managemen tentara masih yang terbaik. Nilai ini banyak diadopsi oleh perusahaan-perusahaan besar. Tanpa kedisiplinan tidak ada kesuksesan”. Tanda setuju juga terucap untuk menumbuhkan nasionalisme. Namun ada yang berseloroh, “Setuju daripada nganggur, kan dapat pengalaman militer dan mempersenyawakan sipil militer”. Serta ada pula yang menyatakan sepakat pada RUU Wamil unuk mengurangi jumlah pengangguran sarjana, tetapi bukan untuk menambah perasaan takut kepada rakyat. Akan tetapi ada yang mengutip pendapat filosof Motse (468 – 401 SM) : dari ketiga unsur negara, rakyat adalah bagian paling penting dan penguasa adalah bagian paling akhir kepentingannya. Maka gunakan atau ikuti wamil atau tidak sama sekali.

Sebagai warga negara saya terus terang menolak RUU tersebut. Bukan lantaran tak siap memanggul senjata ke kancah perempuran. Juga bukan karena tak siap diberondong mortir dan peluru musuh di garis batas impian dan harapan (meminjam baris puisi Chairil Anwar: Karawang Bekasi), juga bukan lantaran tak ingin kami mati muda, tapi kami adalah kepunyaanmu, sambung Chairil Anwar. Termasuk bukan karena membiarkan Ambalat berpindah alamat ke Malaysia. Namun penolakan ini berangkat dari pemkiran semula bahwa wamil banyak yang tersia-sia karena mereka belum/ tidak profesional memasuki arena perang. “Mama, kapan papa pulang? Mama sebab apa perang?”, sindir Iwan Falls dalam sebuah lagunya.

Dengan kata lain Ambalat yang tidak dirawat negara, tidak dipersiapkan struktur dan infastrukturnya, tidak dibangun sebagaimana pulau lain yang produktif di Indonesia jauh lebih penting daripada melatih pemuda usia produktif dalam program wajib militer yang agaknya akan diundangkan.

Wamil juga bersinggungan dengan politik paska pemilu legislatif dan pilpres yang baru lalu. Jasa tentara kelihatannya dibalas pemerintah melalui pengajuan draft RUU Wajib Militer. Begitukah iklm politik kita yang masih suka berkutat dengan julukan politik dagang sapi?***

Oleh: da2ngkusnandar | Juli 15, 2009

Hegemoni Bahasa

Catatan Dadang Kusnandar

ALASAN teman-teman menyoal kurangnya penghargaan masyarakat Jawa Barat (yang berbahasa Sunda) terhadap masyarakat Cirebon dan Indramayu yang menggunakan bahasa berbeda, sampai sekarang masih tampak nyata. Berbagai event yang digelar pemerintah Propinsi Jawa Barat sering tidak mengindahkan Bahasa Cerbon, komunitas pantai Utara Jawa Barat dengan karakter dan asuhan budaya berbeda dengan Jawa Barat (Sunda, Priangan).

Masuknya Bahasa Sunda bagi anak-anak Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama di wilayah Propinsi Jawa Barat –termasuk Cirebon dan Indramayu– menunjukkan semacam pemaksaan mengenal dan memahami bahasa sunda. Tak peduli apakah anak-anak SD di Cirebon dan Indaramayu itu suka atau tidak. Kebijakan Dinas Pendidikan Nasional Jawa Barat yang mengharuskan masuknya bahasa sunda sebagai mata pelajaran yang harus diikuti seluruh siswa SD dan SMP tetap menimbulkan masalah. Bukan cuma ketakpahaman atau ketaktertarikan atas bahasa sunda dengan segala undak usuknya atau paramasastra dan sebagainya, melaikan siswa SD dan SMP tidak bisa berbuat banyak selain mengikuti aturan baku itu. Pelajaran bahasa sunda yang sulit itu pun diujikan secara reguler per semester menjelang pembagian catatan prestasi siswa (raport).

Dapat dibayangkan sulitnya siswa SD SMP di Cirebon dan Indramayu yang tidak memiliki pertautan dengan bahasa sunda. Bila ada pekerjaan rumah, banyak siswa dan orang tua dibuat pusing lantaran ketidakmengertian bahasa sunda. Begitu pula siswa yang akhirnya berpikir simpel, yang penting nilainya enam di raport. Ada pun nyontek saat ulangan sumatif (semester) bukan masalah karena untuk memperoleh nilai enam itu. Maka ketika pemerintah Kota Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Indramayu memasukkan mata pelajaran Bahasa Cerbon bagi siswa SD dan SMP, boleh jadi pada mulanya adalah upaya pelestarian bahasa ibu di lokus budayanya sendiri. Jadi tidak salah, bahkan benar dari sudut pandang kebudayaan. Mengingat kian sedikitnya penggunaan bahasa ibu (bahasa daerah) di rumah-rumah, terutama bagi keluarga muda yang lebih suka menggunakan bahasa indonesia dan mencangkok vocabulary bahasa inggris, bahasa daerah terus memperdalam masa surutnya.

Anak-anak di cirebon kini semakin asing dengan kata-kata semisal: dingklik (kursi kecil di dapur), wadasan (tempat wudlu dari gerabah), gudel (anak sapi), sawiya (anak cicak), dan masih banyak kosa kata lain yang hilang ; bisa jadi karena bahasa ibu tidak dibiasakan di rumah. Sementara di sekolah mata pelajaran bahasa daerah tidak segarang Matematika dan IPA. Akibatnya, anak semakin asing dari bahasa lokal dan dengan demikian bahasa lokal semakin terasing. Tulisan ini tidak berpretensi menyalahkan pihak mana pun menyangkkut lemahnya perhatian dan kesungguhan terhadap bahasa daerah. Tulisan berawal dari sebuah kegiatan yang dilaksanakan oleh Badan Pengembangan Bahasa Daerah Kantor Dinas Pendidikan Nasional Propinsi Jawa Barat di Cirebon 13 – 15 Juli 2009.

Berbagai lomba kategori wilayah III Cirebon digelar dan diikuti Kota/ Kabupaten Cirebon, Kuningan, Majalengka, dan Indramayu. Lomba tersebut meliputi: baca puisi (bahasa sunda dan bahasa cerbon), pidato, dan menulis. Sebanyak 30 juri dihadirkan (lima diantaranya mewakili bahasa cerbon), peserta yang antusias mengikuti lomba bahkan berlatih sebelumnya, guru dan aparat dinas pendidikan yang mengantar kontingen, pejabat yang membuka acara — tak cuma jadi keramaian tersendiri. Di balik itu menuai protes budayawan Nurdin M Noer dari Lembaga Basa dan Sastra Cirebon, serta Ahmad Syubbanuddin Alwy dari Dewan Kesenian Cirebon.

Acara bertajuk Pasanggiri dan Apresiasi Bahasa, Sastra dan Seni Daerah itu menampakkan diskriminasi dan pengingkaran keberadaan bahasa cerbon. Bahkan dinas pendidikan Kota Cirebon tidak mengirim utusan untuk berlomba menggunakan bahasa cerbon! Diskriminasi pun berlangsung tatkala “juri yang dituakan” menyatakan tidak ada pemenang bagi lomba maca berita padahal sebelumnya juri telah menandatangani dan menetapkan pemenangnya. Unik memang peserta lomba hanya seorang dari Kabupaten Indramayu. Ketika mc membacakan lomba itu tidak ada pemenangnya, kawan saya yang juga juri lomba (Supali Kasim dari Indramayu) langsung menanyakan soal ini. Agak berang katanya saat ia mengatakan, “Bukan masalah piala, piagam dan hadiah. Piala bisa dibeli di toko. Tapi tak adanya penghargaan kepada anak yang sebelum lomba sudah berlatih”. Sambil mengutip kebiasaan dalam lomba olah raga, adanya pemenang dengan istilah memenangkan pertandingan secara bye, kawan saya yang santun itu menyalahkan tidak adanya peserta lain sebagai rival bukan kesalahan peserta yang tampil tetapi kesalahan panitia yang lemah mempublikasi kegiatan

Malam itu ketika piagam penghargaan, piala dan hadiah diserahkan kepada pemenang lomba berbahasa sunda, kontingen Indramayu dan Cirebon hanya terdiam, tepuk tangan pun lesu. Lagi-lagi pemenangnya dari utusan Majalengka dan Kuningan. Peserta asal Indramayu dan yang mengikuti lomba basa cerbon menunggu ada kemenangan yang diraih, bukan sekadar penampilan tanpa memperoleh hasil. Tetapi apa nyana, panitia sepertinya abai dan tidak merasa bersalah meminggirkan basa cerbon pada kegiatan yang kelak akan diperlombakan di tingkat propinsi itu. Begitulah kami membahas masalah ini sampai larut malam namun tidak mengubah kepuusan juri yang dituakan yang (maaaf) anonim itu.

Hegemoni

Sejak lama sering berlangsung kurangnya penghargaan atas eksistensi bahasa cirebon di jawa barat. Hampir seluruh kantor bupati/ walikota di jawa barat riuh dengan percakapan bahasa sunda pada pegawainya. Bahasa Cirebon (plus indramayu) termarginalkan serta kurang terdengar, bahkan di kantor-kantor pemerintahan kota dan kabupaten cirebon. Diskriminasi berdasar ikatan primordialisme ini kabarnya juga berlangsung hingga ke tingkat lebih tinggi: Kurangnya apresiasi pemerintah Propinsi Jawa Barat terhadap prestasi yang diraih orang Cirebon.

Jangan heran jikalau orang cirebon yang tidak berbasis bahasa sunda hanya sehitungan jari yang menduduki jabatan strategis di gedung sate. Dan jangan heran jika jabatan tertinggi yang pernah ditempati orang cirebon di kantor gubernur masih di bawah jabatan wakil gubernur, paling tinggi hanya kepala bagian dan pembantu gubernur. Kecemburuan ini beberapa tahun lalu sempat menggelitik rasa primordialisme orang cirebon. Cirebon dan Sunda seakan tidak bisa bertaut serta selalu bersaing pada kompetisi tidak sehat yang berangkat dari perbedaan budaya.

Ironinya, Sunda merasa sebelum kehadiran Mbah Kuwu Cirebon (Pangeran Cakrabuana), Sunan Gunungjati, dan Kerajaan Cirebon berdiri — di tatar Sunda telah ada Bumi Siliwangi, Kerajaan Pajajaran, Kerajaan Galuh, Kerajaan Panjalu, Kerajaan Pakuan yang semuanya berbudaya Sunda. Otomatis bahasa sunda telah ada sebelum bahasa cirebon ada. Terlebih ada manuskrip yang menerangkan orang tua Sunan Gunungjati (Syekh Syarif Hidayatullah, satu dari wali sanga yang menyemaikan dan menyebarkan agama Islam di Jawa) bergaris keturunan Pajajaran.

Hegeomoni budaya yang meniadakan budaya lain sepertinya berangkat dari keinginan tak adanya peran orang (komunitas) lain yang berbeda. Konon Sunda Kalapa yang sempat menguasai Jawa Barat pun menggunakan bahasa sunda, sementara bahasa cerbon hanya ada di surau dan pesantren. Kitab kuning bertuliskan huruf hijaiyah (Arab) namun berbahasa cerbon sampai kini masih banyak dijupai di pesantren-pesantren. Artinya, basa sunda menempati singgasana politik dan kekuasaan sedangkan basa cerbon cukup menyibukkan diri dengan urusan ukhrawi. Adanya pemisahan negara dengan agama ternyata bukan diawali sekularisme ala Eropa.

Sejarah yang berlari ratusan tahun itu menampakkan pemisahan pengunaan bahasa lokal (Sunda dan Cirebon) pada posisi yang amat berbeda. Cukuplah basa cerbon terkunci rapat di surau dan pesantren, dan biarlah basa sunda berdiri ajeg di pusat-pusat kekuasaan. Sampai kapan? Tidak ada yang tahu. Tidak ada yang bisa memprediksi kapan perseteruan berdasar primordialisme ini berakhir.

Kita, sebagai anak bangsa sepatutnya kembali menempatkan keragaman budaya dalam persatuan. Dalam keindonesiaan yang padu. Bukan terus memperuncing kisah hegemoni sebuah bahasa lokal terhadap bahasa lokal lain (bahkan di propinsi yang sama) dengan alasan yang kurang dapat diterima. Begitulah heterogenitas pasti tidak terelakkan di belahan bumi mana pun. Akan tetapi perlakuan diskriminatif, kehendak menguasai (hegemoni) berdasar sentimen kedaerahan semestinya disudahi saja.***

Oleh: da2ngkusnandar | Juli 12, 2009

Kembali ke Ruh

JessicaCatatan Dadang Kusnandar

penulis lepas, tinggal di Cirebon Jawa Barat

TAK ada habisnya bicara sastra. Hingga kapan pun sastra tetap asik dikreasikan dengan musik atau dikolaborasikan dengan teater dan film. Sastra menjadi pergulatan kemanusiaan karena di dalamnya terkandung nilai estetika, kesungguhan bertasbih dan memuji yang mahakuasa, persentuhan dengan nilai kemanusiaan yang subtil, serta keterpaduan dengan pergulatan sosial. Tanpa henti sastra dikaji. Tanpa lelah sastra ditelisik, didalami maknanya, diapresiasikan di hadapan publik, dan ditularkan agar manusia dapat saling menghargai (bukan saling meniadakan).

Barangkali itulah yang dilakukan Jessica Kenney dan suaminya Eyvind Kang. Warga negara Amerika Serikat yang getol menekuni sastra klasik Persia berdasar puisi-puisi sufistik Iran. Nama-nama seperti Jalaluddin Rumi, puluhan (mungkin ratusan) darwish di Kurdistan dan beberapa kota di Persia.

(Berikut ini kutipan dari google menyoal kaum sufi di Iran, Azerbaijan, dan Kurdistan) :

Just another guy hung muda di mystic puisi.Aku pergi ke provinsi Kurdi Barat Iran sedang mencari-cari Sufis. Sufis yang merupakan pesanan mistik Islam yang sekali telah ditemukan di seluruh dunia Muslim. Mereka ada yg dikurangi dengan cepat dalam usia yang modern, bagaimanapun, dan itu hanya di daerah-daerah yang lebih jauh praktek-praktek mereka masih hidup.

Tetapi sedangkan Sufism I’d dihadapi melalui puisi yang lama tuan sekitar tengah ecstatic ketaatan kepada Allah, yang nampaknya lebih Kurdi Sufis set pada ajaib trik sirkus.

“Seperti yang saya lihat jelas Anda, Tom, saya melihat ada satu orang memotong kepalanya dengan pedang dan diganti dengan tidak membahayakan selesai!” J profesor di Esfahan kepada saya.

Bahkan di perjalanan ada bis, driver telah ditunjukkan dengan bangga saya parut dari mana ia akan memiliki pedang didorong melalui pinggang dalam upacara tahun sebelumnya.

Keluarga saya tinggal dengan saya dengan memberikan panduan kota dalam bentuk mereka keponakan, Fahrzad. Saya membuat dia dan kami jalan di kota bersama-sama dengan taksi. Kendaraan ini mengikuti satu set rute melalui jalan-jalan, tetapi tidak benar-benar melakukan upaya untuk memberitahu siapa saja yang tahu cara mereka pergi.

Akibatnya satu orang untuk berjalan di The Edge dari lalu lintas teriakan pertanyaan melalui driver ‘jendela dan pemerasan di kemudian cepat sebelum orang lain bisa mendapatkan ada terlebih dahulu. Bagian depan tempat duduk untuk perempuan itu supaya mereka naik tetapi mereka tetap menjaga kesederhanaan. Di pusat kota terdapat sebuah patung yang taat mukmin dengan senjata aloft dibangkitkan dalam kegairahan cinta bagi Allah. It mengatur mood untuk Sufi upacara kami karena yang hadir malam.

Kami tiba di salah satu lingkungan tertua di kota dan memasuki maze dari jalan-jalan dan gang sempit di shrouded mist. Kami weaved kami melalui jalan malam ke rumah nenek dari Fahrzad dan saya berhati-hati agar tidak kehilangan penglihatan saya panduan.

Beliau adalah seorang nenek darwis dan diakui kata dari cerita Sufi I’d dibaca. Biasanya disebut satu lanjutan dalam studi dan praktik Sufism. Tetapi Fahrzad berkata bahwa hal itu juga berarti ‘orang yang tidak memiliki’, yaitu orang yang hidup yang bersih dan hidup sederhana tidak valuing kecuali keberadaan Tuhan. Mungkin dua hal yang tidak begitu berbeda.

Kami berjalan hingga bangunan tempat upacara telah dilaksanakan. Meliputi lantai karpet dan bendera hijau dari Islam hung di sudut yang akan mencium oleh semua orang yang dimasukkan. Pengkhotbah di mata saya dengan rasa ingin tahu sebagai dimasukkan i tetapi dia terus wacana tentang keajaiban kehamilan untuk sekelompok kecil orang. Beberapa dari mereka sudah lama, yang mengalir rambut mereka kerukut di topi seperti Rastafarian.

Setelah putaran pertama teh telah melayani orang tua dijemput sebuah cincin kayu terikat dengan kulit disebut daf. Nya bertulang jari tapped out irama saat dia mulai bernyanyi sutras dari Alquran. Nya suara parau seperti itu yang jadi kambing namun penuh semangat. Setiap kali dia menyebutkan nama Mohammed semua hadir murmured, ‘Mei peace be upon him’.

Yang lama itu segera diikuti oleh dua orang mahasiswa dan mereka mulai memukul yang kuat yang setiap kepala di tempat ayunan. Kemudian pada ketinggian di setiap pertunjukan mengempas daf nya ke udara dan menangkap dengan bergemuruh bertepuk tangan yang nampaknya guncangkan dinding bangunan.

Setelah upacara saya bisa menemukan beberapa kata untuk mengekspresikan apa yang saya akan dilihat dan dirasakan. Lagu masih dalam resonated saya dan saya tidak perlu tahu apa kata-kata dimaksudkan untuk menghargai mereka kecantikan. Fahrzad berkata ia membuat dia merasa gembira untuk menangis.

Berikutnya pagi kita naik atas gunung saat itu masih gelap sehingga kita dapat melihat matahari bangkit. Ia Jumat, hari doa dan sebagainya semua orang adalah pada hari libur. Kaum muda yang merupakan swiftest dari kaki dan sebagainya telah mengumpulkan ada terlebih dahulu oleh air kecil. Ia merupakan satu dari sedikit kesempatan mereka untuk melepaskan diri dari waspada mata tua-tua mereka dan mereka reveled dalam merasakan kebebasan. Hell, bahkan ada anak laki-laki berbicara kepada perempuan.

Saya pertama asing banyak tetapi pernah bertemu dengan beberapa hari janggut di pipi Iran cukup aku melihat bahwa saya tidak menerima terlalu banyak perhatian. Tidak diharapkan untuk melihat orang asing di bagian baik sehingga i was answering disimpan dari dua puluh pertanyaan yang mengarahkan setiap jangka panjang traveller gila.

Fahrzad saya diberitahu bahwa Sufi upacara dengan pedang yang akan mendengar tentang hanya terjadi pada musim dingin. Tetapi dia bisa mencapai sebuah video amatir dari satu sesi yang terjadi tahun sebelumnya.

Kamera rolls. Ada dafs sedang diputar untuk mendorong pembukaan semangat dan laki-laki di kalangan roll kepala dan memuji Allah. Setelah semua orang mabuk adalah cukup dengan keberadaan Allah, ritual dimulai. Pedang yang digerakkan melalui waists, melalui jarum pipi dan satu laki-laki bahkan telah menjadi sepatu berduri hammered kepalanya. Semua darah yang tidak jelas dan tidak ada rasa sakit pada muka orang-orang biasa ini.

Okay, ada penyanyi di Barat yang juga dapat makan dan menerobos lampu bulbs bagian tubuh mereka tetapi protagonists disini yang sederhana bus driver, guru dan petani. None of them had any pengalaman semacam ini dan tidak ada satu hal yang mendapatkan dibayar untuk melakukannya.

Meski demikian, saya tidak benar-benar melihat sudut ini. Mungkin hal ini merupakan demonstrasi yang kuat kuasa Allah untuk memperkuat kepercayaan. Tapi itu semua nampaknya sedikit ekstrim kepada saya dan saya sangat tidak dipindahkan untuk menguji iman dengan pedang di pinggang.

Aku terjebak dengan cerita dan puisi.

Tom telah melakukan perjalanan non-stop sejak usia 18 tahun dan turut mendirikan Jalan bermutu rendah pada tahun 2004. Mengikuti Dia tomglaister @

He’s pengarang Tangan ke Mouth ke India, account dari hitchhiking dari Inggris ke Indonesia tanpa uang dan yang akan segera rereleased oleh Road Buku bermutu rendah.

Jalan cerita yang bermutu rendah dengan cerita orang-orang yang melanggar dari penjara di Jakarta, menjual Rolexes palsu di Jepang dan petualangan lainnya di Israel dan Brasil akan keluar nanti tahun ini.

Dia juga menulis fiksi bagi orang yang tidak pernah benar-benar tumbuh dan terbaru novel yang Bozo dan pendongeng – download audio buku gratis atau bahkan membeli salinan …

Jessica mempelajari puisi klasik dari kekayaan Persia lama yang tak lepas dari Byzantium. Kekayaan sastra pada masanya tidak saja mencengangkan kaum muslim akan tetapi jauh menembus batas keyakinan yang lain, keyakinan orang yang bukan beragama islam namun menyelami spiritualitas islam melalui syair dan puisi.

“Puisi Tak Terkuburkan”, kata Garin Nugroho sepertinya terinspirasi oleh kekuatan puisi menembus batas keyakinan dan melintasi waktu. Puisi tak pernah mati karena ia tak cuma kekayaan yang tak ada habisnya namun puisi juga merekatkan persaudaraan di tengah kemanusiaan yang tercabik. Dengan demikian puisi selalu mewartakan dirinya pada zaman apa pun lantaran selalu ada penggiat puisi yang menekuni sastra klasik.

Jessica Kenney (33) mungkin tergerak menghadirkan puisi-puisi klasik Persia dalam tembang yang ia lantunkan sambil mematut-matut agar mencapai ekstase. Diiringi petikan dawai shetar (alat musik tradisi Iran yang sering dimainkan ketika para sufi menembangkan syair/ puisi keagungan ilahi) yang dimainkan Eyvind Kang.

Malam itu, Kamis 9 Juli 2009 pukul 22.08 hingga 23.18 wib Jessica Kenney melantunkan puisi klasik Persia di teras Gedung Kesenian Nyi Mas Rarasantang Cirebon. Lagu bertitel Perahu yang menggambarkan sulitnya cinta berlabuh karena dua insan yang saling mencinta berada pada perahu berbeda kendati berlayar di sungai yang sama. Lembut, kadang melengking, Jessica larut dalam imaji tentang sejumlah darwish yang asik menyanyikan syair (puisi) pujian kepada tuhan. Jessica meski lelah namun tetap berupaya agar tampil prima.

Denting dawai shetar Eyvind di jeda puisi yang dilagukan Jessica menambah malam semakin larut dalam kehadiran cinta yang menggairahkan agar sisi kehidupan bersimbah kasih sayang, bukan saling meniadakan dan saling membunuh. Cinta dalam puisi klasik Iran yang dilantunkan Jessica sepertinya menerjang sisi penting yang mungkin kerap terabaikan dari keseharian kita. Sisi itu adalah kebersahajaan mencintai kehidupan.

Tak pelak ketika menembangkan puisi Sakitnya Rahasia, Jessica menerangkan dengan antusias tentang beratnya menjaga rahasia hingga merasa sakit lantaran beban menjaga rahasia. Kendati penonton tidak memahami bahasa Persia yang ditembangkan Jessica dalam puisi malam itu, namun hening penonton serta hanyutnya perasaan bagai mendentingkan dawai-dawai jiwa yang kadang kering.

Di tengah puisi yang dibawakan Jessica, ia menerangkan maknanya dalam bahasa indonesia yang patah-patah sehingga tampak lebih fasih menjelaskannya dalam bahasa inggris. Beruntung ada kang Maman yang menerjemahkan ujaran Jessica. Lantas lagu puisi Persia klasik  kembali melantun dari bibir Jessica di tengah desau angin di dedaunan. Meminjam Imam Al-Ghazali, seseorang yang hatinya tidak tergetar oleh indahnya desau angin di dedaunan, rembulan yang retak, semilir angin; maka ia mengidap penyakit jiwa.

Inilah pentingnya apresiasi sastra, wabil khusus puisi; ujar Ahmad Syubbanuddin Alwy Ketua Dewan Kesenian Cirebon. Melepas dari kepenatan politik, menghalau jauh-jauh  rasa benci yang mungkin sempat mengendap.

Kembali ke Ruh, kata kang Maman (sebutan KH Maman Imanulhaq Faqih) pengasuh pesantren Al-Mizan Majalengka, dalam epilog diskusi yang dipandunya mengandung arti kita harus kembali ke ruh (jiwa) menyoal cinta dan kasih sayang pada kehidupan. Jika tidak, kita akan tetap keruh.***

Oleh: da2ngkusnandar | Juli 10, 2009

Kembali ke Ruh

Oleh: da2ngkusnandar | Juli 9, 2009

PSB Titipan

Oleh Dadang Kusnandar

PENERIMAAN Siswa Baru (PSB) sering menuai kontroversi. Orang tua menitipkan anaknya agar diterima di sekolah favorit. Berbagai upaya dilakukan, misalnya mendatangi panitia PSB, menitipkan kepada partai politik, LSM, ormas, bahkan kepada calo PSB. Ada ketidakyakinan anaknya gagal di sekolah tujuan sehingga orang tua repot wara-wiri mengurus anaknya. Sekolah negeri jadi tujuan, mungkin lantaran fasilitas penunjang pendidikan yang memadai dan memungkinkan pengembangan kreativitas anak. Sekolah negeri juga dilirik karena dianggap murah alias tidak banyak keluar biaya. Mungkin juga karena sekolah negeri relatif punya peluang lebih besar menciptakan anak didik berkualitas sehingga mampu mengembangkan faktor kecerdasan intelektual dan mengambil porsi dalam kehidupan sosial di tengah masyarakat. Boleh jadi karena orang tua merasa naik prestisenya karena anak-anaknya mengais ilmu di sekolah unggulan di kotanya dengan harapan ke depan lebih baik lagi. Tetapi ada kalanya sekolah favorit sekadar ingin memaksakan kehendak orang tua kepada anak.

“Kamu harus sekolah di sana. Ibu malu kalau anak ibu tidak di sekolah favorit. Turun nanti gengsi keluarga kita”. Anak  bisa saja terancam atas ulah tidak produktif ini. Anak tertekan lantaran sekolah pun diatur orang tua. Hampir tak ada kebebasan menentukan pilihan sendiri. Anak meski sudah akil balig, memasuki usia 17 tahun, masih dianggap anak-anak. Orang tua yang seharusnya mengarahkan ternyata memaksakan kehendak kepada anak, tanpa mempertimbangkan kemauan anak. Yang penting anak mengikuti kemauan orang tua, karena selalu berdalih lebih tahu, lebih tua, dan lebih mengerti mana sekolah yang bagus.

Dalam konteks ini, tidak ada proses pendewasaan anak, tidak ada proses kreatif yang dibukakan ruangnya oleh orang tua. Namun sebenarnya, anak jadi objek orang tua, jadi “mainan” orang tua manakala di hadapannya muncul persaingan massal: PSB. Apa boleh buat. Beginilah wajah dunia pendidikan indonesia. Masih belum bertemunya kesadaran penilaian akan pendidikan yang pas bagi anak berhadapan dengan keinginan orang tua yang selalu dipaksakan. Di sisi lain, anak tidak punya keberanian bersikap mewujudkan keinginan sendiri (dalam hal ini, memutuskan sekolah pilihan) karena kekuasaan orang tua. Anak hanya wajib mengikuti kehendak orang tua.

Kalau tidak mengikuti kehendak orang tua, siapa yang akan membiayai sekolahnya. Posisi dilematis ini menjadikan anak ada di pihak tersudut. Perihal bagaimana kelak apakah anak mampu menyerap pengetahuan di sekolah favorit pilihan orang tua, terserah anak, atau mungkin bisa diatur dengan kekuatan finansial. (Wallahu `alam).

Sudah menjadi rahasia umum sekolah tetap mengutip sejumlah uang kepada orang tua siswa. Atas nama sumbangan ala kadarnya tetapi ditentukan besarnya minimumnya. Ada yang bernama uang praktek komputer, pembangunan musholla, dan lain-lain. Kendati dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) diterima sekolah, tetap saja orang tua merogoh isi kocek. Pendidikan gratis hingga SMP belum terbukti. Sekolah juga terbiasa menyediakan/ menjual seragam sekolah, baju batik yang dikenakan pada hari tertentu, seragam pramuka, kaos olah raga dan celana training, termasuk buku pelajaran. Telah berbergeserkah fungsi sekolah di zaman kini? Telah sedemikian sistematiskah sekolah di negeri kita? Dan dengan begitu bila ada siswa yang tak mengenakan pakaian pramuka pada hari Sabtu maka ia dianggap telah melanggar peraturan sekolah. Bila ada siswa yang belum melunasi cicilan uang gedung (padahal gedung sekolah masih layak guna) sesuai keputusan Rapat Komite Sekolah, maka ia tersendat mengikuti test sumatif (ujian semester)?

Kembali ke pembicaraan awal. Pemilihan sekolah lanjutan di berbagai kota minggu ini tak pelak mengundang dilema yang unik dan khas. Namun dilema ini terus berulang setiap tahun ajaran baru. Dilema yang akhirnya berubah menjadi fenomena ini mestinya menyadarkan orang tua menyoal pendidikan anak. Menyoal pemilihan sekolah yang diminati anak tanpa harus memaksakan kehendak orang tua. Orang tua seharusnya hanya mengarahkan bukan memaksakan. Orang tua seharusnya lebih paham kondisi psikis anak yang memang agak terguncang ketika titipan orang tua ke sekolah negeri tujuan ternyata tidak berhasil.  Orang tua pun lantas “menyalahkan” kerja orang yang dititipi anaknya ke sekolah dimaksud. Jelas, psikis anak terguncang sejenak. Pertama, ia malu kepada teman-temannya karena tidak diterima di sekolah negeri yang telah diketahui teman-temannya. Kedua, ia merasa salah lantaran tidak berhasil mengerjakan test PSB meski Nilai Ebtanas Murni (NEM) dari sekolah sebelumnya menunjuk ke angka yang bagus. Ketiga, ia dikejar waktu karena awal tahun ajaran 2009 – 2010 hanya bersisa 3 hari lagi.

Pengumuman penerimaan siswa baru di Kota Cirebon berlangsung hari ini, Kamis 9 Juli 2009. Puluhan (mungkin lebih) orang tua siswa gelisah karena anaknya tidak diterima di sekolah negeri yang diinginkan. Pada keadaan ini, orang tua menyiapkan peluru yang lain, yakni sejumlah uang kepada aparat PSB dan atau jajaran Diknas yang ditengarai mampu menyelesaikan masalah pribadinya. Sementara petugas terkait jadi serba salah lantaran orang tua mendesakkan agar anaknya diterima di sekolah negeri relatif dikenal cukup baik atau ada link tertentu yang menghubungkannya.

Persoalannya kemudian, mengapa tidak daftar ke sekolah swasta saja? Adakah yang salah jika menyekolahkan anak  ke SMP atau SMA atau SMK swata? Adakah yang salah jika kelak terbukti sekolah negeri mengutip biaya cukup besar (bahkan sebelum anaknya resmi diterima di sekolah negeri)? Bukankah kita mahfum, sekarang biaya sekolah negeri sama dengan biaya sekolah swasta. Sekolah swasta pun telah memprogram sistem pendidikannya secara optimal sehingga siap bersaing dengan sekolah negeri. Tengoklah sekolah swasta unggulan, semisal Perguruan Muhammadiyah, Balai Pendidikan Penabur, Santa Maria, boarding school, sekolah alam terbuka dan masih banyak yang lain.

Seandainya orang tua menyerahkan pilihan sekolah kepada anaknya, karena memang sang anak yang akan sekolah (bukan orang tuanya); tidak mustahil sekolah swasta akan dilirik anak. Sekolah di mana saja sama. Yang penting di sekolah lanjutan itu anak mampu menyerap pengetahuan dan pengembangan diri sebagai bekal hidup di tengah pergaulan sosial yang heterogen itu. Kabarnya sekolah swasta di kota besar, seperti Jakarta dengan Jakarta International School dan Tarakanita, atau The Brito College di Yogyakarta, Islamic Boarding School di Tangerang, Regina Pacis di Bogor, maupun yang berada di Bandung — menyediakan sistem pendidikan yang siap berkompetisi dengan sekolah negeri. Ini akan terbukti di perguruan tinggi, kualitas dan kuantitas alumninya yang diterima kuliah di PTN tidak kalah dengan alumni SMA negeri dari kota mana pun.

Untuk menghindari penitipan anak agar bersekolah di negeri, sebaiknya orang tua siswa melandasinya dengan niat awal bahwa pendidikan tidak untuk dipaksakan kepada anak. Lantas jika kita tahu bahwa anak kita itu emas, maka di mana pun ia berada tetaplah emas. Ia akan menyinarkan kilau keemasannya di sekolah tempatnya mengais ilmu dan pengembangan kepribadian serta kepercayaan diri. Sebaliknya, bayangkan keruwetan orang tua siswa yang kebetulan anaknya gagal, tidak diterima di sekolah negeri meskipun telah titip kepada orang yang punya link kepada panitia PSB dan sebagainya. Orang tua itu pasti resah, terlebih dikejar deadline 3 kali 24 jam.

Tulisan Sebelumnya »

Kategori