Oleh: da2ngkusnandar | Juni 26, 2009

Negara Gagal

Oleh Dadang Kusnandar

MEMBACA peta berjudul Political Trouble Spots of The Modern World dan Environmental Trouble Spots of The Modern World dalam buku Collapse karya Jared Diamond yang diartikan Peta Negara-negara yang bakal lenyap/ hilang ternyata cukup mengagetkan. Peta yang  disadur dari Jeffrey L Ward 2004 dalam buku tersebut di atas (Vicking, 2005).

Bagaimana tidak mengganggu jika peta di atas mencantumkan negara-negara: Haiti, Iraq, Somalia, Rwanda, Burundi, Madagaskar, Afghanistan, Pakistan, Nepal, Bangladesh, Mongolia, Kepulauan Solomon, Philifina, dan terakhir Indonesia – sebagai negara yang bakal lenyap dari percaturan dunia. Sebut saja, ke-14 negara-negara tersebut selalu terperangkap pada kekacauan politik dan kerusakan lingkupan hidup, sehingga secara sistematis akan lenyap.

Kiranya buku Collapse tersebut mesti dikaji lebih dalam detil kemungkinannya. Asumsinya pertama, untuk membahas kegagalan sebuah negara (baca: Indonesia) tidak serta merta tuntas dengan perubahan bentuk negara kesatuan menuju atau menjadi negara federal. Kedua, belum ada sebuah penelitian yang teruji untuk memformulasikan bahwa negara federal merupakan bentuk final Republik Indonesia karena tergolong sebagai negara kepulauan (terbesar) di dunia. Ketiga, lima faktor negara gagal ternyata juga terjadi/ melanda Amerika Serikat, negara federal yang sering dirujuk sebagai model negara demokratis “paling baik”.

Tiga alasan dimaksud di atas berangkat dari ketergangguan mengenai  pengukuhan premis negara-negara yang bakal lenyap sebagaimana diisyaratkan Jared Diamond. Ketiga alasan itu pun terinspirasi dari Slamet Muljana (Menuju Puncak Kemegahan, 2005), bahwa puncak feodalisme Hindu Jawa yakni Kerajaan Majapahit hanya bertahan selama 233 tahun, dan akhirnya lenyap. Tetapi biarpun secara fisik Kerajaan Majapahit lenyap, namun pergantian nama menjadi Indonesia di tempat yang sama merupakan esensi ajaran Majapahit, terutama mengutip Kitab Negakartagama karya Mpu Prapanca.

Jika kontradiksi itu dilatari oleh opsi yang tidak bisa terelak: feodal atau federal, mungkin sedikit ada benarnya. Kenapa? Sebut saja Ameika Serikat yang “mencontohkan” bentuk negara federal (dan memaksakan federasi itu kepada 14 negara-negara tersebut di peta) wilayah geografisnya dominan berupa daratan. Kecuali Kepulauan Hawaii di Samudra Pasifik yang jadi negara bagian AS, mungkin karena direbut atau ditaklukkan. Pembentukan negara federal AS pun ditilik dari sejarahnya, barangkali wajar. Pertanyaannya, mungkinkah AS memilih bentuk negara kesatuan sementara negara itu sendiri dibangun oleh beragam budaya yang hidup dalam satu harmoni (melting plot) sebagai citra Amerika?

Hector St. John Crevecoeur (1735-1813) bangsawan Perancis dalam bukunya Letter from an American Farmer (1782) menulis: Apa sesungguhnya Amerika, pria baru ini? Ia bukan orang Eropa atau keturunan Eropa, lihatlah campuran darahnya yang unik yang takkan kau temukan di negara lain. Aku bisa menunjukkan padamu sebuah keluarga yang kakeknya orang Inggris, anaknya menikah dengan perempuan Perancis, dan keempat anaknya yang lain beristrikan orang dari empat negara berbeda. Di sini, orang-orang dari segala penjuru campur jadi satu ras manusia baru, yang anak cucunya kelak akan mengubah dunia.

Dari khasanah perfilman pun, Tom Cruise dan Nicole Kiddman (film Far and Away, awal tahun 1990-an) menggambarkan benua Amerika yang dinamakan The Glory Land, dibanjiri ratusan ribu –bahkan jutaan– imigran asal Eropa. Mereka berduyun-duyun menuju tanah harapan dan impian, lantaran kehidupan di negaranya tidak menjanjikan perubahan yang signifikan bagi anak cucu. Di film lama itu, Tom Cruisse bahkan terpaksa jadi petarung (tukang kelahi) untuk memperoleh sekeping uang bagi kebutuhan hidup sehari-hari. Judi, jadi mata pencaharian di benua  baru itu termasuk di antaranya pertandingan balap kereta kuda untuk memperoleh sebidang tanah pertanian.

Meminjam Mahbud Djunaedi, Kolom Demi Kolom, imigran Eropa ke benua Amerika boleh jadi berprofesi sebagai penjudi, perampok, copet, teroris, di negara mereka masing-masing. Bukan seluruhnya orang baik-baik dan beradab. Imigran asal Irlandia (seperti Tom Cruisse dan Nicole Kiddman di film Far and Away) cukup dominan. Belum lagi para mafia asal Pulau Sicilia Itali yang migran ke Amerika.

Negara yang dibangun dengan heterogenitas bangsa-bangsa Eropa, tentu akan sulit bila berbentuk kesatuan. Eropa punya pengalaman buruk dan panjang soal bentuk negara kerajaan. Mereka merebut tanah bangsa Indian dan melakukan “genocyde” untuk mencapai federasi AS. Dengan kata lain bentuk negara federal menyisipkan ruang kekerasan, kerakusan, dan kekuasaan.

Di sisi lain Negara Kesatuan Republik Indonesia, memang senantiasa jadi target empuk kepentingan kapitalisme Barat yang bersembunyi di balik topeng globalisasi dan HAM.  MoU RI – GAM di Helsinki 15/8/05 lalu merupakan tengara munculnya federalisme di Indonesia. Pertanyaannya kemudian, apakah bentuk negara federal yang dibangun dengan senjata dan genocyde merupakan satu-satunya pilihan tepat bagi Indonesia hanya lantaran sebuah peta mengenai political trouble spots dan environmental trouble spot?

Ketika postmodernis yang menghargai nilai-nilai lama dan menisbikan nilai-nilai baru (dan sempat jadi perbincangan menarik di Indonesia awal 1990-an), apakah ini membenarkan Samuel Huntington dengan “buku hebohnya”, The Class of Civilization? Negara federal sebagai opsi atas negara gagal (Indonesia) terilhami oleh benturan peradaban. Bukankah setiap peradaban pasti selalu dibenturkan oleh peradaban lain? Saya setuju pernyataan WS Rendra: Jangan tangisi kebudayaan yang hilang. Namun dalam konteks keindonesiaan yang terdiri ribuan pulau hingga disebut Nusantara, bentuk negara kesatuan masih kredibel dan patut dipertahankan.

Sebaiknya negara kesatuan berbasis demokrasi dan kesejahteraan harus segera diwujudkan sembari mengelimir 5 (lima) faktor negara gagal yang digambar Jared Diamond. Langkah eliminasi itu antara lain bisa dilakukan secara, pertama, mengurangi/ menghentikan kerusakan lingkungan. Kedua, rumuskan kembali Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) untuk menghindari merebaknya pemanasan global. Ketiga, perbaiki hubungan bilateral dan multilateral dengan negara-negara tetangga, terlebih bagi sesama anggota ASEAN. Keempat, kencangkan kembali dukungan kelompok masyarakat yang sudah menjalin hubungan baik melalui perdagangan tanpa intervensi kapitalistik. Kelima, kuatkan dan bangun lembaga politik, ekonomi, sosial dan budaya sehingga mampu menjawab persoalan bangsa.

Agaknya kita sepakat, kerusakan lingkungan hidup di Indonesia berlangsung bukan hanya akibat tangan manusia Indonesia. Perburuan kekayaan alam Papua dan Kalimantan –sebagai contoh– sesungguhnya berawal dari tawaran tumpukan mata uang asing (Dolar AS) yang kelak disimpan dalam rekening berkode rahasia di bank-bank Swiss oleh sedikit pengusaha dan penguasa Indonesia. Andil mereka yang dominan itulah awal mula bencana lingkungan Indonesia.

Seandainya mereka tidak mengimingi orang Indonesia berbisnis di lahan basah ini, sangat boleh jadi Tanjung Puting tidak akan kerontang. Demikian pula Papua Tengah (Timika) dan sepanjang pegunungan Jayawijaya tidak akan diharu biru oleh keganasan mesin-mesin berat produk kapitalis AS yang federal itu. Begitu juga di tempat-tempat lain yang mengalami kerusakan lingkungan sebagaimana dilakukan PT Newmont International di Teluk Buyat, dan seterusnya.

Negara federal AS dan Eropa telah kehilangan keasrian lingkungannya. Hutan-hutan mereka yang dibabat sendiri atas nama kepentingan negara, tampaknya berharap dari keasrian hutan Indonesia supaya bisa menahan pemanasan global serta mengurangi efek kerusakan lapisan ozon untuk kepentingan transportasi udara mereka.

Kembali ke perbincangan negara kesatuan. Indonesia sebagai bagian sangat penting dari bumi manusia, dengan pemberdayaan demokrasi dan kesejahteraan rakyat harus tetap berpijak pada konsep negara kesatuan. Federasi yang coba dibangun  (lebih kurang) oleh kekalahan lobi politik internasional di Helsinki menyoal status Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam, semoga tidak melebar ke propinsi lain. Jika saja paham federasi terus diwacanakan, umur NKRI yang baru 60 tahun ini tidak akan sepanjang Kerajaan Majapahit. Apalagi kalau dibandingkan dengan zaman keemasan Kerajaan Islam dari abad ke-8 sampai dengan abad ke-15.

Dengan demikian menjaga utuhnya negara kesatuan harus berlandaskan pada kesigapan serta kepiawaian para pengawal RI dalam merealisasikan gagasan ke dalam realitas empiris. Saya yakin gerakan kesejahteraan rakyat yang  terus dibangun berbagai kalangan di Indonesia bermuara pada satu soal, yakni terpenuhinya hajat hidup orang banyak tanpa intervensi aparatur negara yang berlebihan terhadap rakyatnya sendiri. Gerakan-gerakan tersebut pada gilirannya kelak akan saling bersimbiosa membentuk jalinan kekuatan negara kesatuan.

Risikonya akan pahit jikalau bentuk federal menggeser bentuk negara kesatuan. Kebangkitan primordialisme plus penguatan etnosentrisme pada sekian etnisitas di Indonesia, cukuplah ditampakkan melalui kebijakan desentralisasi kekuasaan. Bentuk federal semakin riskan bagi penataan kembali konsep negara kesatuan karena ia berpotensi menumbuhkan negara dalam negara. Inilah yang harus dihindari.

Kegagalan Republik Indonesia Serikat (RIS) telah terjadi di tahun 1949 sehingga Bung Karno mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 untuk kembali ke NKRI. Fakta sejarah itu setidaknya sebuah cerminan kegagalan bentuk negara federasi, meskipun AS, Belanda, dan Belgia yang tergabung dalam Komisi Tiga Negara (KTN) terlibat. Sejarah negara kesatuan, berpijak dari penolakan RIS oleh bangsa Indonesia, mengingatkan kita tentang adanya ujian serta batu sandung bagi keutuhan NKRI.

Kini kembali kepada kita. Bangsa yang tengah jadi target operasional globalisasi dan pemaksaan kehendak pemilik modal untuk segera mendewaskan diri secara penyelenggaraan negara yang berpihak pada kepentingan publik.  [@]


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: