Oleh: da2ngkusnandar | November 1, 2012

Kalianda: Cermin Buram Ksatria SBY


Dadang Kusnandar* – BeningPost

Sahabat dari Bandarlampung berkirim pesan pendek. Pedih membacanya. Ia kehilangan temannya yang tewas lantaran tawuran antarkampung. Kedekatan yang terjalin cukup lama itu akhirnya dipisahkan oleh peristiwa yang berawal dari masalah sederhana. Ia tidak menceritakan makna sederhana di pesan pendeknya. Ia menulis pendek sekali pada pesan keduanya: Sahabat saya sekarang mengungsi dan menginap di Mapolres. Desa Banuliraga Kecamatan Way Panji masih mencekam. Tewasnya 12 (dua belas) warga desa, pembakaran puluhan rumah, wajah-wajah beringas bersenjata, dan rasa takut yang mencekam warga desa adalah harga yang harus dibayar akibat kerusuhan massa itu. Belum lagi kesibukan warga dan aparat untuk mengakhiri tawuran ini. Masalah pun kian kompleks, penyelesaian damai belum juga terwujud.

Bentrok itu terjadi antar warga Desa Agom, Kecamatan Kalianda dengan warga Desa Balinuraga, Kecamatan Way Panji, Lampung Selatan. Peristiwa itu berawal dua remaja putri asal Desa Agom yang sedang mengendarai sepeda motor terjatuh setelah sebelumnya sempat cegat oleh pemuda asal Desa Balinuraga di Desa Waringin Harjo. Akibatnya kedua remaja putri asal Desa Agom terjatuh dari sepeda motornya dan mengalami luka-luka. Isu pun menyebar: pemuda asal Desa Balinuraga sempat melakukan tindak pelecehan saat melakukan pertolongan kepada kedua remaja putri asal Desa Agom yang terjatuh dari motor sehingga emosi massa pun tersulut. Menurut berita yang dilansir sejumlah media massa, sebelum terjadi bentrokan, antarkepala desa sudah mengadakan perjanjian damai. Namun, keluarga kedua gadis itu tak terima. Mereka mendatangi Desa Balinuraga untuk menemui pemuda yang mengganggu itu. Namun, saat tiba di Desa Balinuraga mereka langsung diserang dengan senjata api. Akibatnya satu orang tewas tertembak. Bentrokan lalu kembali terjadi, Minggu 28 Oktober 2012 pukul 10.00 WIB. yang menyebabkan tiga orang tewas. Hingga kini, suasana di perbatasan dan pintu masuk dua desa masih mencekam. Ribuan warga berjaga-jaga di perempatan pasar Patok yang merupakan jalur masuk ke Desa Balinuraga.

Sampai kapan kerusuhan antardesa berakhir? Apakah harus menunggu jatuh korban lagi? Tentu saja tidak. Kita tidak ingin kekerasan massa/vandalisme ini terus berlangsung. Desa sebagai bagian paling penting dari Indonesia harus memperlihatkan keteduhan, bukan keberingasan dan wajah sangar yang membakar. Desa merupakan prototipe yang mesti memberi nuasa sejuk dan pikiran bening dengan ciri kebersamaan/gotong royong. Ciri spesifik inilah yang kudu dipertahankan serta dikembangkan lebih baik lagi. Bukan vandalisme hingga menelan korban tewas, luka parah dan membakar desa.

Ketika kerusuhan Kalianda belum terselesaikan, Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono berkunjung ke Istana Buckingham London. Naik kereta kencana berlapis emas bareng Ratu Elizabeth II dengan iringan pasukan berkuda. Kamis, 1 November 2012 Presiden SBY dan Ibu Negara Ani Yudhoyono, serta kedua putra Presiden, Mayor Agus Harimurti Yudhoyono dan Edy Baskoro serta rombongan lainya, diterima Ratu Elizabeth II di lapangan Horse Guard, atau markas pasukan berkuda, tidak jauh dari Istana Buckingham, tempat tinggal ratu. SBY mendapatkan penghargaan dengan gelar ’Knight Grand Cross in the Order of the Bath’. Dengan kata lain, SBY adalah ksatria.

“Ada tiga kelas dari Order Bath dan Bapak Presiden yang tertinggi,” kata Staf Khusus Presiden Bidang Hubungan Internasional Teuku Faizasyah, seperti dikutip kantor berita Antara.

Bagi SBY kunjungan ke London lebih penting daripada Kalianda. Jabatan presiden yang tersisa dua tahun agaknya lebih asyik digunakan untuk melakukan politik mercusuar ketimbang upaya penyelesaian damai di Kalianda. Selasa 30 Oktober yang lalu, gabungan personel anggota 2.150 dari Polda Lampung dari Banten dan Jawa Tengah, menurut Kepala Biro Pelayanan Masyarakat (Karo Penmas) Mabes Polri Brigjen Boy Rafli Amar di Mabes Polri dikerahkan ke Kalianda. Kesibukan TNI Polri di daerah konflik tidak mengusik keasikan SBY dan rombongan menikmati Sungai Thames yang jernih airnya, atau sekadar berfoto di bawah Big Ben, meski memperpanjang frekuensi demonstrasi pada kunjungan luar negerinya. Kerjasama bilateral untuk peningkatan nilai perdagangan kedua negara menjadi dua kali lipat pada tahun 2015 dijadikan alasan kunjungan ini. Sebelum kunjungan SBY ke London, Menteri Perdagangan kedua negara telah melakukan annual trade talk. Pertemuan tersebut membahas upaya-upaya untuk merealisasikan target melipatgandakan volume perdagangan kedua negara. Rencananya pada tahun 2013, Inggris akan mengirimkan 6 misi dagang ke Indonesia untuk merealisasikan komitmen tersebut.

Pertanyaannya, mana yang lebih penting: Kalianda atau London? Bukankah perjanjian perdagangan serta rencana kerjasama apa pun dengan Inggris dapat dilakukan kapan saja? Bukankah warga Kalianda ingin segera kembali beraktivitas sebagaimana biasa, sebelum kerusuhan terjadi? Artinya jika SBY datang ke Kalianda, memberi saran kepada warga, ia bagaikan Resi yang baru turun gunung dari pertapaannya. Ucapannya sakti dan dapat memberi kesejukan warga, terutama anak-anak dan perempuan yang mengungsi ke Mapolres. Ketakutan warga desa atas kemungkinan serangan balik sedikitnya dapat dieliminir seandainya “Resi” SBY memberi wejangan hidup damai di Indonesia yang dibangun oleh perbedaan dan keberbagaian.

Pepatah “Resi” SBY besar kemungkinan akan diturut, meski bisa saja ada demonstrasi mahasiswa menyelip pada kunjungan ke Kalianda itu. Sayang sekali London lebih mempesona, lebih memikat daripada harus menyaksikan wajah-wajah tegang di sebuah desa yang dianggap penting pada saat dua kali pencalonan presidennya yang lalu. London lebih memberi harapan meski belum pernah ada perjanjian kerjasama perdagangan antara Indonesia dengan negara mana pun yang menguntungkan Indonesia. Kita sebagai bangsa selalu menjadi subordinasi negara lain saat meratifikasi perjanjian bilateral. Belum ada satu pun kontrak karya Indonesia dengan negara lain di bidang energi dan sumber daya mineral yang menguntungkan Indonesia. Dengan kata lain, Kalianda lebih penting daripada London. Kalianda merupakan cermin betapa nasionalisme kerap terkoyak oleh sesuatu yang tak terduga. Emosi warga gampang tersulut manakala hak privasinya merasa dilanggar.

Pada kesempatan lain, Obama memfokuskan Badai Sandy ketimbang Pemilu 4 November mendatang. Presiden Amerika Serikat Barack Obama menunda jadwal kampanyenya. Obama memilih untuk mengunjungi wilayah yang terkena dampak badai Sandy di New Jersey. Obama memerintahkan pimpinan agen Federal pengelolaan bencana, Craig Furgate, untuk mengirimkan bantuan bagi warga korban bencana. Ditemani Gubernur New Jersey Chris Christie, Obama naik helikopter menuju lokasi yang terkena bencana. Mereka lalu mengunjungi pusat komunitas “Brigantine” yang dipenuhi oleh para pengungsi badai Sandy.

Begitulah seharusnya pemimpin. Lebih mementingkan berbuat untuk rakyat yang sengsara ketimbang bertarung berebut jabatan. Jabatan yang disandang dimaksimalkan dulu untuk kiprah sosial kepada rakyat.

Oleh: da2ngkusnandar | Oktober 13, 2012

Kapak Yang Mengayun

Oleh Dadang Kusnandar

DARI  Anas bin Malik ra dikisahkan,  seorang laki-laki tengah baya (belum mencapai usia 50 tahun)  dari kaum Anshar yang mendatangi Rasulullah Muhammad saw. Lelaki itu meminta sedekah agar keluarganya bisa makan hari itu. Dengan tersenyum lembut Rasulullah Muhammad saw bertanya, “Apakah engkau tidak memiliki sesuatu pun di rumahmu?”  Peminta-minta  itu menjawab, “Di rumah kami masih mempunyai selembar kain yang dipakai sebagian dan sebagian yang lain kami jadikan alas, serta gelas besar tempat kami minum darinya.”  Kemudian Rasulullah meminta lelaki itu utk mengambil kedua barang itu.

Lalu kedua barang itu diperlihatkan kepada Rasulullah dan beliau melelangnya kepada para sahabat  yang sedang duduk mengitarinya hingga laku terjual senilai 2 dirham. Beliau berkata lagi, “Belilah dengan dirham pertama ini makanan untuk kamu berikan kepada keluargamu dan dirham lainnya belilah kapak agar kau bs mencari nafkah dan bawa kepadaku.”  Rasulullah meneruskan perkataannya, ”Pergilah dan carilah kayu bakar, lalu juallah dan setelah 15 hari, kau kemari lagi.”

Laki-laki  itu pun segera berlalu. Dengan kapak yang dibeli dirham para sahabat nabi suci, ia mencari kayu dan menjual hasilnya ke pasar. Setelah 15 hari, ia mendatangi Rasulullah sambil membawa 15 dirham dari pendapatannya bekerja dengan menggunakan kapak.

Rasulullah saw dalam kisah ini, telah memberikan contoh bahwa membantu kaum dhuafa tidaklah cukup dengan memberikan makanan, tapi  berilah jalan agar mereka bisa mencari nafkah. Rasulullah melarang sahabat dan umatnya untuk meminta-minta. Manusia hidup harus berusaha sendiri,mencari bukan berleha-leha menunggu belas kasihan orang lain. Dengan berusaha, tawakkal dan bersyukur, maka rezeki akan datang dengan cara yang tidak pernah terduga.

Kisah yang mengusik, bukan pemberian itu yang mendewasakan dan memandirikan seseorang, tetapi usaha dan kesungguhan melaksanakan peran khalifatullah fil `ardl jauh lebih penting. Manusia sebagai wakil Tuhan di muka bumi pasti memiliki kemampuan berusaha, kemampuan untuk kemandirian dan lepas dari ketergantungan. Tragis pula bila ketergantungan itu berupa pemberian cuma-cuma, tanpa proses kerja, tanpa usaha keras.

Bapak membanting tulang, kalimat indah yang diajarkan semasa sekolah dasar dulu sesungguhnya memberi kejelasan tugas pokok dan fungsi seorang bapak, seorang suami untuk memberdayakan keluarganya. Kepintaran, fisik yang sehat dan tidak catat, keahlian pada bidang tertentu adalah karunia ilahi yang mesti didayagunakan. Jika tidak maka semua pemberian ilahi itu tidak bermakna apa-apa kecuali sifat malas untuk berubah. Malas menyiapkan diri menyambut matahari pagi dengan setumpuk kerja. Malas memposisikan diri di tengah pergaulan sosial. Kemalasan itulah, ibarat seekor kucing bila perut kenyang ia tertidur.

Kapak pada masa Rasulullah saw mampu mengubah nasib. Kapak saat ini memang tak semudah masa lampau. Ketika hukum perundangan tentang penguasaan hutan belum tertulis. Ketika penebangan pohon di jalan dan gang kecil pun mengacu ke peraturan daerah. Kapak pada masa Rasulullah saw ialah kapak yang bisa menebang pohon tanpa butuh selembar surat ijin dari pemerintah. Berbekal kapak satu keluarga keluar dari kemiskinan. Kisah kejayaan kapak yang sudah berakhir itu pada masa kini bernama kecerdasan, keilmuan, jejaring sosial, mungkin juga modal berupa uang dan barang. Kapak masa kini adalah kapak yang terayun dengan peraturan. Jika tidak diatur kapak itu bernama Kapak Maut Naga Geni 212 milik pendekar sakti Wiro Sableng, atau Kapak Merah yang sekira 10 tahun lalu menciptakan teror di jalanan Jakarta.

Kapak dalam teks sekarang ada pada diri kita. Kapak itu tinggal kita asah lalu ayunkan ke objek/ kayu yang akan dibelah. Lihatlah film-film country/ cow boys kerap menayangkan sang jagoam atau pemeran utama membelah kayu dengan kapak berlaras panjang. Penandaan pada fim itu, apa lagi namanya jika bukan kerja keras. Membangun keluarga, membangun rumah, membangun kesejahteraan, atau membangun diri sendiri. Bukankah semua berpusat pada diri sendiri?

Bukan Kapak yang Keliru

Berbagai bantuan yang dibagikan pemerintah atas nama beras miskin, pengobartan miskin, jaminan sosial orang miskin dan sebagainya berbuah keanehan manakala sang penerima bantuan (dari APBN atau APBD) itu memiliki dua buah telepon genggam ( hp), motor, bahkan rumah.  Mereka tidak merasa malu menerima berbagai lebel “miskin” sepanjang mendatangkan surplus baginya. Pihak pembagi, dalam hal ini pemerintah setempat pun menerima getahnya, niat politik membantu si miskin ternyata disalahartikan ~selain memang oknum pemerintah pun (biasanya tingkat kelurahan dan kecamatan) mengalokasikan lebel “miskin” itu secara tidak tepat sasaran. Celakanya lagi apabila bantuan atas nama orang miskin dikorup petugas.

Kapak dalam teks ini tidak kita dapatkan. Yang diperoleh adalah kayu yang langsung dapat digunakan tanpa bersusah payah menjualnya ke hutan. Kayu itu sudah bernama beras dan jaminan sosial kesehatan dan pendidikan. Fakta ini seharusnya bisa dihindari apabila pemerintah bersungguh-sungguh melaksanakan tugas menyejahterakan rakyat. Tugas itu antara lain mengembalikan fungsi “kapak” dengan berbagai metoda dan teori sederhana yang mudah dipahami. Jika pun harus mengeluarkan bantuan berupa uang, maka jangan tinggalkan begitu saja. Harus ada bimbingan managemen agar karya yang diayunkan “kapak” itu memperoleh pasar dan laku dijual. Dengan demikian terbina mutualisma antara yang dibantu dengan pihak yang membantu.

Jikalau saja peran “kapak” kembali sebagaimana dulu, kita berarti surut ke belakang. Kapak masa kini sebagaimana ditulis di atas adalah kemuliaan yang telah Allah swt berikan. Kita tak pandai mensyukuri kemuliaan itu. Dan pada ketidakpandaian itulah kecenderungan menerima (uang) seakan menjadi “primadona”. Tak perlu bersusah payah, datangi orang kaya lalu mintalah uang, selesai. Tidak. Islam tidak mengajarkan demikian. Islam mengajarkan tangan yang di atas (yang memberi) lebih mulia daripada tangan yang di bawah (yang meminta). Hadist ini secara gamblang mengingatkan sekaligus menampar, bahwa peran pemberi lebih utama dibanding penerima. Sebaliknya peran penerima adalah subordinasi dari kemiskinan, yang mungkin saja diam-diam berlangsung karena kita lebih senang menerima tanpa berbuat.

Yang patut diingat dari kisah kapak dan relasi antara pemberi dan penerima ialah : Jangan takut harta Anda berkurang apabila sering memberi (beramal)***

Oleh: da2ngkusnandar | Juni 10, 2012

Desentralisasi dan Kuasa Presiden

Oleh Dadang Kusnandar
BeningPost

PRESIDEN bukan Raja. Tetapi perlakuan terhadap presiden dan perilaku presiden kadang melebihi seorang raja. Bepergian dikawal ketat, pasukan pengaman bergerak lincah mengamankan area plus jalan yang akan dilalui hingga bertingkat dengan nama ring satu-dua-3 dan seterusnya. Semua dipersiapkan sempurna dan harus steril dari tangan-tangan usil. Kursi yang akan diduduki presiden pada sebuah kunjungan, makan minum, gelas piring serta seluruh perangkat yang digunakan benar-benar harus fixed and saving. Semua pihak terkait dibuat sibuk supaya presiden aman dan nyaman. Melewati jalan tol pada jam macet pun, iring-iringan kendaraan presiden mesti didahulukan dan semua kendaraan harus minggir memberi ruang ~padahal tidak membayar tarif tol. Perlakuan terhadap presiden di negara republik kadang melebihi perlakuan hulu balang kerajaan kepada rajanya. Presiden sebagai simbol negara memang harus dihormati, presiden yang naik atas pilihan rakyat secara langsung itu sama dan sebangun dengan kepercayaan rakyat di negaranya. Maka ia layak dihormati.

Pertanyaan yang mengemuka, seperti itukah penghormatan kepada presiden? Kedua, bukankah dengan penghormatan berlebihan dan protokoler serumit itu dapat dikatakan overprotective? Ketiga, kenapa jika bepergian harus menyertakan menteri/ kabinet terkait kunjungan kerjanya saat itu? Tulisan ini mencoba menyajikan kondisi sebaliknya. Bagaimana jika kepergian seorang presiden ke daerah tidak disertai menteri-menterinya, tidak perlu membuat sibuk sekian aparatus negara hanya untuk kunjungan berdurasi satu dua jam saja.

Sebagai negara kepulauan, Indonesia seharusnya mampu memetakan atau menempatkan kantor kementerian sesuai dengan potensi daerah atau ikon daerah. Penempatan kantor Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di Bali, menurut saya harusnya sejak lama dilakukan. Bali yang dicitrakan sebagai objek kunjungan wisata mancanegara serta menghasilkan devisa cukup besar tentu akan lebih berbenah diri sehingga mampu menarik wisatawan. Hal yang sama juga dapat dilakukan dengan penempatan kantor kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Yogyakarta, lantaran kota itu dinamai Kota Pelajar, kota kelahiran Ki Hadjar Dewantoro sebagai Bapak Pendidikan Indonesia dengan Taman Siswa-nya. Kantor Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral sebaiknya ditempatkan di Timika Papua karena lokasi itu menyimpan kekayaan dalam takaran melebihi APBN. Timika jika dikelola dengan kekuatan posisi tawar yang kuat, prosentase keuntungan eksplorasi yang lebih besar untuk pemilik kekayaan alam ~sangat mungkin untuk melunasi utang negara dan pada gilirannya menjadi founding negara lain.

Kantor Menteri Kehutanan lebih tepat di Kalimantan Tengah. Selain untuk menjaga kawasan hutan lindung Tanjung Puting dan hutan ulayat di sekitarnya, juga berperan sebagai poros perdagangan hasil hutan ke seluruh wilayah Indonesia dan luar negeri. Kantor Menteri Pertanian ditempatkan di lahan paling subur yang paling mungkin memproduski hasil pertanian, misalnya di Sumatra. Luas lahan pertanian Indonesia dinilai yang terbesar di dunia, dan di era 1990-an Indonesia mampu mengekspor kedelai dan sapi. Tapi entah kenapa, saat ini malah doyan impor pangan. Direktur Institute for Development of Economics and Finance Indonesia (INDEF) Enny Sri Hartati mengatakan, setidaknya ada enam alasan kenapa produksi pangan di Indonesia menurun. “Lahan pertanian Indonesia itu terbesar. Di 1990-an, Indonesia sempat melakukan ekspor sapi, namun kondisi sekarang malah terbalik. Di 2011 Indonesia bakal diprediksi impor pangan,” tutur Enny (kutipan detiknews.com). Kantor Menteri Pekerjaan Umum ditempatkan di pulau yang masih buruk hubungan transportasi daratnya, dan seterusnya.

Tak Perlu Dikawal

Seandainya kantor menteri tersebar di seluruh propinsi sesuai dengan kemampuan dan potensi daerah untuk mendongkrak pendapatan negara, seandainya kantor menteri dipilah berdasar kepentingan memajukan kesejahteraan umum berdasar ketersediaan dan kesiapan daerah: Jakarta tidak akan macet dari pagi hingga sore. Demikian pula tidak akan ada kecemburuan bahwa kekayaan daerah diangkut ke Jakarta untuk membesarkan Jakarta dan melupakan daerah. Jika kantor menteri tersebar di seluruh propinsi, kunjungan kerja presiden tidak akan dan tidak perlu dikawal menteri terkait. Pengawalan berlebihan malah berakibat betapa tidak nyamannya jabatan presiden.

Ketika presiden berkunjung sebaiknya tidak perlu ditemani sejumlah menteri. Ini terkait inefisiensi anggaran, dan menteri yang mengawal hanya membenarkan pidato presiden tanpa keberanian mengungkap gagasan briliannya karena khawatir lebih hebat dari pidato atasannya. Presiden yang baik tentu saja bukan dan tidak berperilaku sebagai seorang raja di negara republik. Bung Karno sesekali menyamar menjadi orang biasa, makan semangkok bubur di pinggir jalan tanpa pengawalan pasukan pengaman lalu berbincang dengan pedagang dan orang yang ditemui. Bukan bentuk teatrikal seorang Soekarno yang mencintai kesenian melainkan untuk menyaksikan langsung realitas kehidupan masyarakatnya. Bahkan sejarah Islam mencatat Khalifah Umar ibn Khatab yang terbiasa menyusur dan menyisir kondisi ekonomi masyarakatnya, sendiri dan terpana manakala menjumpai kemiskinan di depan matanya.

Presiden seharusnya tidak berada di menara gading dan tidak bersentuhan langsung dengan masyarakatnya. Kemiskinan bukan dijawab dengan Bantuan Tunai Langsung (BLT) dan bukan pula dengan kenaikan gaji Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan pensiunan, Gaji ke-13, sertifikasi guru dan sebagainya. Saya pikir itu hanya akal-akalan untuk perolehan suara pemilihan umum legislatif dan pemilihan presiden.

Penolakan kedatangan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Mataram Nusa Tenggara Barat, Jum`at 25 Mei 2012, menunjukkan kegagalan kepemimpinan SBY. Rencana kedatangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Solo, Jawa Tengah disambut dengan berbagai aksi turun kejalan. Bahkan aksi yang dilakukan di bundaran Gladak digelar secara maraton. Petugas kepolisian juga terlihat disiagakan untuk mengamankan jalannya aksi menolak kedatangan SBY ini. Sebelum Mataram, SBY juga didemo di Yogyakarta, Jakarta, Jambi, Hongkong, dan daerah lain. Demo menolak presiden merupakan hal biasa dalam sebuah kepemimpinan negara sepanjang tidak anarkis dan tidak berniat makar terhadap kekuasaannya.

Deklarasi penetapan Umar ibn Khatab sebagai khalifah tercatat dengan tinta emas sejarah dan sangat monumental. Ketika itu tahun 634 Masehi di padang gurun jazirah Arabia, seorang warga interupsi pada pidato pengukuhan kekhalifahan Umar, “Wahai khalifah, jika engkau memimpin kami dan menyimpang atas kepercayaan yang kami berikan, maka pedangku inilah yang akan meluruskanmu”. Umar menangis terharu mendengar keberanian rakyatnya agar ia amanah dalam kepemimpinan. Bayangkan apabila pernyataan serupa diubah begini, “Wahai SBY, jika engkau membangun dinasti keluargamu, jika engkau gagal membawa kesejahteraan, maka pistol inilah yang akan meledakkan isi kepalamu”. ***

Oleh: da2ngkusnandar | Mei 31, 2012

01/06/2012 00:29:09 WIB Suara Merdu dari Lumpur Lapindo

Dadang Kusnandar* – BeningPost

TOUR keliling Aburizal Bakrie ke 33 propinsi dipastikan untuk meraup dukungan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar se-Indonesia sebagai calon presiden. Meskipun Ical membantah, “Saya mengunjungi daerah-daerah untuk melihat kesiapan Dewan Pimpinan Daerah Partai Golkar (DPD) dalam menghadapi pemilukada dan pemilu legislatif dan pemilu presiden 2014,” ujar Ical, panggilan akrab Aburizal,  di Tangerang pertengahan Mei lalu. Agenda yang lain adalah bertemu kelompok masyarakat, seperti petani, nelayan, pengusaha kecil, buruh/pekerja, dan pelajar. Tujuannya untuk mengetahui kebutuhan-kebutuhan masyarakat di tingkat bawah itu.”Dengan begitu saya bisa memerintahkan kader yang berada di legislatif maupun eksekutif untuk membantu memenuhi kebutuhan mereka,” katanya.

Pembaca yang budiman, siapakah yang percaya bila kunjungan Ical ke 33 propinsi berawal dari niat meningkatkan kesejahteraan rakyat? Adakah yang masih percaya terhadap hujan provokasi dan retorika politik di tengah semarak taman indah pemilihan presiden 2014?  Dan begitu burukkah prestasi anggota legislatif dari Fraksi Partai Golkar di seluruh DPRD propinsi sehingga sang ketua umum partai kuning itu harus menjelajah dan melihat dengan mata kepala sendiri kebutuhan masyarakat? Lantas demikian burukkah bupati/ walikota/ gubernur yang diusung Partai Gokar? Saya yakin pembaca bisa merangkai beberapa pertanyaan lain menyoal kunjungan Ical ke daerah. 

Dia mengungkapkan, kunjungan ke sejumlah sekolah menengah, sebagai pribadi, dilakukan untuk memberikan ceramah motivasi tentang kehidupan dan kewirausahaan. Para pelajar merupakan generasi muda yang harus selalu optimistis atas masa depan bangsa dan negara Indonesia. Agar para siswa itu tidak ikut-ikutan bersikap negatif dan pesimistis, demi bangsa Indonesia yang lebih maju.

Seluruh elemen masyarakat, termasuk pelajar sekolah menengah dibidik sebagai objek politik. Pernyataan Ical,  “Agenda yang lain adalah bertemu kelompok masyarakat, seperti petani, nelayan, pengusaha kecil, buruh/pekerja, dan pelajar. Tujuannya untuk mengetahui kebutuhan-kebutuhan masyarakat di tingkat bawah itu,” sangat kontras dengan ungkapannya sendiri saat itu, “Saya mengunjungi daerah-daerah untuk melihat kesiapan Dewan Pimpinan Daerah Partai Golkar dalam menghadapi pemilukada dan pemilu legislatif dan pemilu presiden 2014.”

Membandingkan dua pernyataan itu saja kita dapati fakta tentang pemilu presiden 2014. Keinginan lelaki kelahiran Jakarta 15 November 1946 itu menjadi presiden dapat terbaca secara kasat mata. Kesiapan DPD Partai Golkar menghadapi pemilukada, pemilu legislatif, dan pemilu presiden ~merupakan substansi kunjungan keliling daerah yang dilakukan. Langkah yang dilakukan Ical misalnya mengadakan seminar dan pelatihan bisnis kepada pengusaha, memberi motivasi bisnis layaknya para motivator karena Ical tergolong sukses dalam dunia bisnis. Termasuk pula mendekati pemilih pemula (pelajar sekolah menengah) yang dirancang berkat kerjasama dengan media lokal setempat. Misalnya pelajar sekolah menengah diundang redaksi koran/ televisi lokal untuk sebuah kegiatan jurnalistik. Pada waktu yang sama pihak media pun mengundang Ical dengan berbagai alasan yang ditautkan untuk memotivasi pelajar.

Padahal menurut  Antara News, Tanggul Penahan Lumpur Lapindo semakin kritis menyusul tidak adanya penanganan pengaliran lumpur oleh Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) serta adanya hujan yang turun di kawasan tersebut. Humas BPLS, Akhmad Kusairi, mengatakan, saat ini BPLS hanya mengandalkan kekuatan tanggul di kolam penampungan saja mengingat tidak ada kegiatan yang bisa dilakukan oleh BPLS akibat blokade warga di dalam peta terdampak terhadap kerja BPLS. “Kami berharap, masalah pelunasan terhadap korban lumpur yang ada di dalam peta terdampak bisa segera diselesaikan dan BPLS bisa segera melakukan tugasnya untuk mengalirkan luapan lumpur dari kolam penampungan ke Kali Porong,” katanya. Saat ini elevasi antara luberan lumpur di dalam kolam penampungan dengan bibir tanggul di sisi terluar sekitar 70 sentimeter.

Jarak aman antara bibir tanggul dengan luberan lumpur yang ada di dalam kolam penampungan tersebut minimal satu meter atau bahkan bisa lebih dari satu meter. Kondisi tersebut diperparah lagi dengan adanya hujan yang turun di kawasan kolam penampungan lumpur.  Dalam kondisi normal, saat luberan lumpur menyentuh jarak 200 sentimeter, tim BPLS melakukan peninggian untuk memperkuat struktur tanggul supaya tidak terjadi jebol dan juga beberapa kemungkinan lain yang bisa terjadi. Ada kekhawatiran air yang ada di dalam kolam penampungan tersebut akan merembes masuk ke dalam pori-pori tanggul dan bisa merusak struktur yang ada di dalamnya dan mengakibatkan kekuatan tanggul tidak akan maksimal.

Minggu 27 Mei yang baru lalu ratusan warga memperingati enam tahun semburan lumpur Lapindo, menggelar doa bersama dan tabur bunga di atas tanggul lumpur di Desa Jatirejo Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Doa bersama dilakukan sebagai bentuk keprihatinan para korban yang selama enam tahun kurang mendapat perhatian dari PT Minarak Lapindo Jaya dan pemerintah.Berbeda dengan tahun sebelumnya, pada peringatan kali ini warga tidak turun ke jalan berunjuk rasa. Unjuk rasa turun ke jalan tidak mampu lagi membuka hati petinggi Lapindo dan pemerintah untuk menyelesaikan ganti rugi. Satu-satunya jalan hanya berdoa dan berharap agar PT Minarak Lapindo Jaya segera merealisasikan penyelesaian ganti rugi pada Juni mendatang.

Rincian APBN per tahun sejak 2007 yang sudah dicairkan pemerintah untuk membantu menangani semburan lumpur lapindo Porong Sidoarjo Jawa Timur : APBN tahun 2007 Rp. 600 milyar, APBN 2008 Rp. 1,1 Triliun, APBN 2009 sebesar Rp. 1,15 Triliun, APBN 2010 Rp. 1,2 Triliun, APBN tahun 2011 Rp. 1,3 Triliun, APBN 2012 Rp. 1,53 Triliun, sehingga total uang negara yang “disumbangkan” kepada Aburizal Bakrie sebesar Rp. 6,2 Triliun.

GambarDengan demikian sebaiknya Ical konsentrasi menyelesaikan kerugian rakyat akibat lumpur Lapindo daripada mengadakan tour politik ke seluruh propinsi di Indonesia. Mengganti kerugian materil dan imateril akibat lumpur panas yang mematikan kehidupan di daerah yang terendam. Bukankah pada  2011 lalu Forbes merilis daftar orang terkaya di Indonesia, Ical menduduki peringkat ke-30 dengan total kekayaan US$ 890 juta. Jauh lebih baik memikul tanggung jawab moral dan material akibat semburan lumpur lapindo ketimbang menjadi chief markerting partai politik untuk tujuan pribadi : Menjadi calon yang diusung Partai Golkar pada pemilu presiden 2014.

*Penulis lepas, tinggal di Cirebon

Oleh: da2ngkusnandar | Mei 27, 2012

Nasionalisme Sejak Dini

demo pendukung suryana di kota cirebon

Oleh Dadang Kusnandar
Penulis lepas tinggal di Cirebon

DIANTARA sekian teman dekat, saya tergilik kepada seorang kawan yang sangat perhatian terhadap anak-anak. Bila melihat anak kecil terjatuh dari kursi, dia langsung menolong dan menghentikan aktivitas saat itu. Bila melihat anak berjalan agak ke tengah jalan raya, dia mengingatkan agar ke pinggir. Bertemu dengan anak teman-temannya, dia menyapa dan langsung akrab. Dan jika melihat seorang anak sendiri dalam keadaan sedih, ia mendekat menghiburnya. Ia bukan pengasuh anak profesional. Ia seorang bapak yang mencintai anak-anak. Kadang terucap, “Siapa sih orang tuanya yang membiarkan anak itu sendiri berjalan di tengah tanpa dituntun?” Pemandangan yang sangat kontras dengan keseharian jika melihat performance-nya. Keras dalam bicara, tegas bersikap dan konsisten.

Ketika perjalanan membawanya menjabat ketua sebuah partai politik di Kota Cirebon, ia meraih seorang anak lelaki untuk menjadi petugas sekretariat parpolnya. Meski pembayarannya tidak memenuhi upah minimal regional (UMR) dan tidak dibayar bulanan namun ia suka memberi uang kepada anak lelaki seumur SMP itu. Pertimbangannya, lebih baik ia tinggal di sekretariat dan berinteraksi di ranah politik daripada hidup sebagai anak jalanan.

Sebagai pengagum Bung Karno, tak keliru kalau ia menganut paham nasionalis. Perjalanan hidupnya yang berliku, dari kelas masyarakat awam, anak seorang sopir truk antarkota, ia tegar tak kenal menyerah. Masa mudanya dipenuhi pelbagai pekerjaan informal yang memerlukan kekuatan fisik, meski ia menyukai permainan sepak bola.

Ketika saya tanya mengapa suka kepada anak-anak, ia menjawab, “Mereka itulah calon pemimpin bangsa.” Saya terhenyak. Betapa jauh ia memandang, betapa ia seorang visioner. Atas jawaban itu saya merangkai dan kembali masa lampau. Siapa yang tahu nama ayah dan ibu Ken Arok,? Siapa yang menduga bahwa mantan perampok di tengah hutan dekat Tumapel Jawa Timur akan menjadi Raja Singasari dan menurunkan raja-raja besar di Majapahit? Siapa pula yang tahu jika bayi yang lahir di Blitar pada fajar 1 Juni 1901 akan menjadi proklamator Indonesia? Kusno alias Soekarno dengan segudang idenya untuk membawa bangsa Indonesia menuju kesejahteraan.

Kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok, termasuk nasib anak-anak yang tiap saat ada di depan kita. Kita harus memberi perhatian dan kasih sayang kepada anak-anak karena di tangan mereka gerak laju negara ini tergenggam. Mencintai anak-anak sama dan sebangun dengan mencintai kehidupan, mencintai masa depan bangsa. Berbekal perhatian dan kasih sayang kepada anak maka pengetahuan yang ditransfer kepada anak akan lebih mudah diterima. Dan dengan begitu nation caracter building telah kita manifestasikan.

Seperti kanjeng Rasulullah Muhammad saw yang mencintai anak-anak. Rasul pilihan Tuhan yang mengangkat anak-anak miskin dan telantar menjadi anak asuhnya dan tinggal di dalam kesederhanaan rumah tangganya. Bagai Khalifah Umar bin Khattab yang mencintai anak penggembala domba. Dan bagai Bung Karno yang kerap bernyanyi dengan anak-anak, mengajar baca tulis dan berhitung (calistung) kepada anak-anak.

Kawan dekat saya itu sering bercerita tentang anak lelakinya yang bungsu, sejak ia kecil dan kemampuan sang anak berbincang dengan dia dan ibunya. Kadang kawan berpura-pura tidur mendengar dialog anak bungsu itu dengan ibunya, padahal ia menyimak seksama. Dari obrolan tentang sekolah, iklan televisi yang masuk ke ruang privat, atau perbincangan langsung dengan si bungsu ketika dia berbincang dengan teman-temannya. Cerita yang disampaikan dengan bangga di tengah rapat-rapat politiknya di gedung parlemen DPR RI Senayan.

Anak dan Nasionalisme

Pelajaran nasionalisme yang paling dekat dan pertama kali dilakukan adalah di rumah. Jika selama ini kita terbiasa mengajarkan pendidikan agama sebagai basis kehidupan anak, sebenarnya kita telah mengajarkan nasionalisme secara bersamaan. Misalnya seorang ayah/ ibu mengajarkan baca tulis Al Qur’an kepada anaknya, diam-diam inklud pelajaran nasionalisme. Anak yang belajar baca tulis Al Qur’an sudah pasti diharapkan ayah ibunya agar menjadi anak yang berguna bagi nusa, bangsa, dan agama. Cita-cita mulia dengan ruh nasionalisme.

Saya tergolong anak SMP yang menuliskan cita-cita : menjadi orang yang berguna bagi nusa, bangsa dan agama. Saat itu bila beredar buku kenangan milik teman dan kita bebas menulis apa saja atau menggambar vignet atau puisi, pas ketika menulis biodata di kolom cita-cita banyak yang menulis menjadi orang yang berguna bagi nusa, bangsa dan agama. Berguna bagi nusa, bangsa dan agama. Menjadi insan kamil diam-diam telah disadari sejak kecil. Perjalanan dan waktu yang kelak mengaktifkan proses ke arah itu. Tetapkah ia pada cita-cita kecilnya atau terkendala sesuatu yang tidak terduga. Semua kembali kepada kesungguhan merealisasikan mimpi menjadi nyata.

Cinta kepada nusa, bangsa, dan agama inilah nasionalisme sejak dini. Nasionalisme yang patut ditanamkan dalam bilik rumah kita, dalam kebersahajaan dan dalam kesadaran nation caracter building. Jikalau kita mampu mengajarkan nasionalisme kepada anak sejak dini, besar kemungkinan memasuki masa remaja, anak-anak tidak seketika kehilangan identitas, kehilangan tokoh panutan, dan tidak tahu orientasi, serta kehilangan kemampuannya menempatkan diri. Alvin Tofler yang merumuskan kondisi manusia abad 21 sebagai komunitas yang mengalami dislokasi, disorientasi, dan disprivasi ~ tidak akan melanda seandainya sejak dini kita berhasil menanamkan kecintaan anak terhadap nusa dan bangsa.

Agama dengan demikian menjadi faktor penguat kecintaan pada nusa dan bangsa. Agama sebagai benteng moral sudah pasti mengajarkan konsep cinta kepada nusa dan bangsa. Tanpa mempertanyakan keabsahan dan kedudukan hadis Nabi Muhammad saw: Cinta tanah air sebagian dari iman ~agaknya ada kaidah positif di sini. Bahwa mencintai nusa dan bangsa (tanah air) adalah keharusan warga negara untuk memajukan negaranya. Hubul wathon minal iman, teks hadis tersebut seyogyanya kita ajarkan di rumah. Kepada anak-anak kita sendiri dan kepada siapa pun sejak ia masih kanak-kanak.

Dan kawan saya, pencinta anak-anak itu tidak pernah menyesal peristiwa politik yang menimpanya. Apa pun risikonya. Saya bangga kepada Anda, Bung Suryana!***

Oleh: da2ngkusnandar | Mei 25, 2012

Negara Kerajaan Repulik Indonesia

Oleh Dadang Kusnandar
Penulis lepas, tinggal di Cirebon

ISTILAH yang kerap digunakan untuk sebuah Indonesia yang satu biasanya bernama NKRI alias Negara Kesatuan Republik Indonesia. Istilah ini merupakan harga mati, posisi yang tak bisa ditawar, khususnya bagi PDI Perjuangan. Tetapi perubahan terus terjadi. Puan Maharani binti Taufik Kiemas tengah dipersiapkan PDI Perjuangan sebagai bakal calon presiden partai merah ini. Demikian juga Ani Yudhoyono, istri presiden, first lady yang dnilai sejumlah petinggi Partai Demokrat (PD) dan kaum perempuan PD layak menggantikan kedudukan suaminya di kursi presiden. Fenomena ini melahirkan akronim baru tentang NKRI, yakni Negara Kerajaan Republik Indonesia.

Membangun dinasti keluarga bagi kesejahteraan keluarga dan kroni kembali menggejala. Warisan Orde Baru yang sangat disukai para petinggi partai politik, pejabat eksekutif dan para pemilik modal/ kapitalis. Gubernur Propinsi Banten adalah contoh nyata “NKRI” model ini. Tak ketinggalan Iriyanto alias Yance mantan Bupati Indramayu yang saat ini menjabat Ketua DPD Partai Golkar Propinsi Jawa Barat dengan sukses menempatkan istrinya Anna Sofiana sebagai bupati pengganti paska dua kali kepemimpinannya. Gubernur Kalimantan Barat yang menempatkan putrinya Karolin Margaret Natasa di parlemen Senayan, dan masih banyak contoh lainnya. Maka dirikanlah dinasti keluarga bagi kekuasaan, dan kembangkan itu untuk prestise keluarga. Jangan bicara prestasi.

Secara kebetulan saya bertemu Dewy Yull di kereta Api Argo Jati dalam perjalanan pulang ke Cirebon. Waktu itu, sekira akhir tahun 2007 Kota Cirebon tengah bersiap melaksanakan pemilihan kepala daerah langsung. Dari sejumlah nama yang dibicarakan, kabarnya Partai Golkar Kota Cirebon akan menggandeng artis dan penyanyi Dewy Yull untuk menjadi bakal calon wakil walikota. No kursi saya di kereta itu berhadapan dengan Dewy Yull bersama tim suksesnya, seorang pegiat musik di Cirebon. Saya bersama kawan dan sahabat yang berstatus Anggota DPR RI Komisi II dari PDI Perjuangan, Suryana. Politisi asal Cirebon yang membangun PDI Perjuangan sejak partai itu berlogo banteng kurus dalam bingkai segi lima.

Dewi Yull dengan busana muslimnya bercerita tentang teknik kampanye yang dilakukannya kepada konstituen ibu-ibu pengajian di Kota Cirebon. Kerudung, sumbangan berupa sejumlah uang untuk Majelis Taklim, pembagian Surat Yasin dan terjemahnya, orasi di tengah pengajian untuk mengajak ibu-ibu memilihnya pada pilkada. Sementara urusan birokrasi politik diserahkan kepada sepupunya, Yudi Krisnandi yang ketika itu menjabat Anggota DPR RI dari Partai Golkar. Dewy cukup duduk manis tidak memikirkan hiruk pikuk Partai Golkar Kota Cirebon yang kala itu dilanda masalah internal di tingkat pimpinan. Kehadiran Yudi dengan style politik top down-nya merupakan model politik masa Orde Baru. Kabar tersiar saat itu, Dewy akan dipasangkan dengan Ano Sutrisno yang secara formal diajukan Partai Golkar Kota Cirebon untuk pilkada 6 Januari 2008.

Kami pun berbincang. Dan sebagai bakal calon yang hendak bertarung di ajang pilkada, Dewi menuturkan apa yang seharusnya dilakukan menjelang pemilihan kepala daerah, termasuk apa yang akan dilakukannya apabila terpilih menjadi wakil walikota Cirebon. Saya terpana. Bukan karena hebatnya kiat kampanye Dewi dan tim sukses. Sebaliknya, saya melihat betapa ia tidak memiliki konsep yang representatif dalam meyakinkan pulblik Cirebon. Sambil mengepulkan asap rokoknya di bordes kereta api dan di kereta makan, Dewy yakin sekali bahwa ibu-ibu yang didatanginya saat kampanye kelak akan memberikan suara politik mereka untuk Dewy. Dewy Yull yang alumni SMA Negeri I Cirebon, dan ia yang dikenal sebagai Dokter Sartika dalam sebuah sinetron bersambung di TVRI tahun 1980-an lalu. Dewy yang dikenal dengan vokal khasnya ketika duet bareng Broery Pesolima. Dewy yang merasa over confidence bahwa ia bisa menjabat wakil walikota melalui arena pilkada langsung.

Saya mengenal Dewy Yull ketika masa pengenalan orientasi sekolah di SMA I Cirebon. Sebagai panitia Masa Orientasi Sekolah, Dewy saat itu sudah mengeluarkan satu album lagu bertitel Kisah Seorang Gadis. Dewy yang menyanyikan lagu Gugur Bunga pada upacara 10 November di SMA I Cirebon. Dewy yang artis, dan Dewy yang ramah dalam pergaulan dengan adik kelasnya. Maka obrolan di kereta itu pun mengalir tanpa hambatan. Saya mengkritik Dewy dan ia tidak marah. Saya katakan bahwa dunia politik berbeda secara diametral dengan dunia artis. Politik adalah kesiapan membuat kebijakan publik dengan segala persperktifnya, sementara dunia artis sangat individual dan bersikukuh pada karakter sang artis. Artinya ada dua sisi berseberangan, yakni politik sebagai ranah publik dan keartisan sebagai ranah privat.

Ranah publik sudah pasti merupakan ajang terbuka, penuh syak wasangka, intrik, bahkan relativitas kepentingan. Politik yang berada di ranah ini memungkinkan pelakunya untuk berada di dua kaki. Kaki kanan misalnya berada di tengah keramaian di tengah keluarga di tengah partai di tengah parlemen di tengah kerumunan wartawan saat pers realasse, sementara kaki kiri bersiap untuk ada di dalam penjara ketika secara hukum ia terbukti bersalah. Ranah publik bagi politik adalah kemampuan seseorang mereprsentasikan gagasan ke dalam fakta. Merealisasikan ide menjadi nyata, atau katakanlan makes the dreams come true. Meski menurut Plato, sangat sedikit prosentase fakta yang bermula dari gagasan, akan tetapi ranah politik merupakan cermin ideal untuk mengangkat kesejahteraan rakyat. Jabatan politik, baik di legislatif maupun eksekutif (kepala daerah) adalah kemestian pelakunya untuk senantiasa berpihak kepada publik.

Di sisi lain dunia keartisan justru dikenal sebagai dunia hura-hura, dunia glamor, penuh gosip pribadi, dunia yang tak mampu meretas kehidupan malam yang terkadang disibukkan oleh narkotika psikotropika dan zat adiktif lainnya (napza). Tanpa merinci jumlah artis yang terjerat napza lantas menghuni penjara, dunia keartisan (secara umum) belum mampu menghindar penggunaan napza. Artis dengan segala bentuk narsisismenya merupakan harga yang harus dibayar bagi sebuah pilihan. Menjadi artis dengan demikian setara dengan mendahulukan sikap individualnya. Dan ini bersintesa dengan dunia hiburan, show bizz yang giat menayangkan pemberitaan artis. Bayangkan, televisi swasta terbiasa menggunakan artis berparas antik yang tiba-tiba mengenakan busana muslim pada acara jelang buka puasa Ramadhan. Menjadi presenter acara agama Islam. Padahal pemirsa tahu bagaimana perannya di film/ sinetron.

Perbedaan tajam antara politik dengan dunia keartisan itulah yang akhirnya menjadi kendala manakala sang artis lulus dan didapuk menjadi tokoh politik. Anjelina Sondakh yang heboh dengan korupsi wisma atlet Palembang, Dicky Candra yang mundur dari jabatan Wakil Bupati Garut sambil menangis agar keinginannya mundur dari jabatan itu dikabulkan, Nurul Qomar yang tidak bisa berbuat banyak untuk daerah pemilihannya (Dapil Jabar VII) ~Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, dan Kabupaten Indramayu~ karena ia lebih pandai menjadi penceramah dan pelawak, Vena Melinda yang sempat menggulirkan ide senam aerobik di gedung parlemen Senayan, dan belum adanya gebrakan Rano Karno sebagai Wakil Gubernur Banten. Artis yang menggeluti politik hampir semuanya tidak menunjukkan prestasi.

Dedi Gumelar alias Mi`ing pun ketika Februari 2010 memaparkan masalah kebudayaan di aula Keraton Kasepuhan Cirebon, hanya bicara besaran APBN yang belum imbang untuk bidang tersebut. Politisi asal PDIP ini, mantan pelawak Bagito Grup, terbukti tidak memahami budaya lokal. Padahal kebudayaan merupakan bidang kerjanya di Komisi X DPR RI. Diskusi yang agak ramai di tengah anomali cuaca dengan iringan hujan lebat dan petir itu tidak menghasilkan apa-apa, selain fakta bahwa dunia keartisan berbeda tajam dengan dunia politik.

Itu sebabnya, Devie Rahmawati, Pakar komunikasi politik Universitas ketika diwawancarai BeningPost.com, via telepon (11/5) mengatakan perihal kader partai politik (baca: Partai Demokrat) yang menyalahkan opini publik, Devie mengatakan, “Mereka hidup dalam imajinasi politiknya. Ingat bahwa politik merupakan kehidupan realita, sebaiknya partai dalam hal ini, kadernya itu harus mulai terbiasa hidup dalam realita politik. Mereka boleh menciptakan imaji-imaji politik, tapi mereka juga harus sadar bahwa berbicara opini publik harusnya dijadikan warning.”

Partai politik harus melakukan konsolidasi di dalam untuk menentukan sikap partai. Apakah partai berani secara terbuka untuk menyatakan bahwa memang bermasalah, tapi berjanji untuk memperbaiki, atau tetap bersembunyi dan berpura-pura hidup dalam ilusi politik yang semu. “Ini penting karena masyarakat lagi-lagi akan menilai, kalau Partai Demokrat sampai hari ini masih berpura-pura, saya rasa akan menjadi jauh lebih rumit dimasa yang akan datang,” tuturnya.

Pemasalahan internal yang mengemuka di Partai Demokrat saat ini, perolehan suara artis yang tidak signifikan pada pemilu legislatif 2009, menurut Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, Saan Mustopa, partainya sama sekali tidak mengincar artis untuk diusung menjadi anggota legislatif pada pemilu 2014. Hal ini disampaikan di Cibubur Jawa Barat (18/5).

Pernyataan Saan boleh jadi merupakan upaya pengalihan perhatian masalah korupsi dan sebagainya yang melanda Partai Demokrat. Partai yang dilahirkan oleh Presiden Soesilo Bambang Yudhono. Partai yang kini sibuk menggadang-gadang Herawati Kristiani (Ani Yudhoyono) sebagai bakal calon presiden usulan Partai Demokrat. Meskipun SBY mengatakan tidak akan mencalonkan istrinya pada pilpres 2014. Namun karena kuatnya dukungan (yang direncakan itu) maka peluang Ani menjadi capres makin terbuka. Dan ini kecelakaan besar bagi Partai Demokrat.***

Oleh: da2ngkusnandar | Desember 27, 2010

Lawang Sanga Cirebon

Oleh Dadang Kusnandar

Penggerak Klub Kajian Gerbang Informasi, Cirebon

ABDUL  Azis Rahman bertutur, suatu sore 2010 di rumah saya tentang Lawang Sanga. Tentu saja saya terkejut manakala secara gamblang ia melukiskan Lawang Sanga dengan pendekatan filosofis. Katanya, Lawang Sanga yang berupa pintu gerbang masuk ke Keraton Kasepuhan Cirebon dari jalur Kali Krian itu ternyata memiliki makna filosofi yang dalam. Pintu Sembilan merupakan analagi sembilan lubang yang ada di diri kita. Dua mata, hidung, dua telinga, mulut, dubur, dan kelamin. Sembilan lubang ini pasti mengeluarkan sesuatu dan menerima sesuatu. Sembilan lubang itu memainkan peran masing-masing sesuai iradat-Nya. Namun lantaran keterbatasan manusia, mungkin sifat abai yang terus mengiringi langkah keseharian kita ~sembilan lubang itu menerima sesuatu yang kurang (tidak) baik sehingga berdampak pada perilaku.

Adalah Sunan Kalijaga yang memahami makna filosofis beberapa nama seperti : Dukuh Semar, Derajat, Krian, Lawang Sanga, dan Kesunean. Tamu saya, Abdul Azis Rahman lancar sekali menjelaskan nama-nama tersebut dengan pendekatan filosofi. Jika masa kecil kita pernah mengikuti tradisi NGIRAB yang artinya mengeluarkan kotoran, secara berperahu sampan lalu mandi di Kali Krian sepanjang pagi hingga sore: tamu saya itu menaut bebersih/ sesucen/ bersuci HARUS dilakukan pada sembilan lubang yang ada pada tiap manusia.

Tradisi Ngirab di Kali Krian tepatnya di DERAJAT  atau Dukuh Semar hanya dimaknakan sebagai sebuah pesta. Naik perahu, mandi atau jeburan di kali, dan jajan. Setelah itu pulang. Padahal, meminjam ujaran tamu saya, Ngirab tak seharusnya berkahir dengan tumpukan sampah di pinggir kali. Sugai atau Kali Krian sebagai aliran sungai terbesar di dekat Keraton Kasepuhan Cirebon itu mesti terjaga dari pencemaran. Mitos “buaya putih” yang diyakini sebagian masyarakat Cirebon berwujud (malah ada kisah di balik ini) lebih dapat dimaknai: Jangan kotori Kali Krian. Buaya putih akan marah. Singkatnya, sungai yang besih tentu saja sedap dipandang, terlebih sebagai lalu lalang tamu yang akan singgah ke keraton.

Ngirab yang dilaksanakan pada bulan Shafar, epsitemologinya diambil dari Bahasa Arab perjalanan. Perjalanan bersampan sepanjang hari dengan sesucen/ membersihkan diri dan jiwa seharusnyalah membersihkan sembilan lubang yang ada pada tiap kita. Inilah makna lawangsanga.

Akan tetapi pada perjalanan ada saatnya seseorang mencapai DERAJAT tinggi. Saat itu, sangat mungkin ia memperlakukan sembilan lubang serampangan, tak sesuai ajaran ilahi. Derajat dalam bentuk harta, ilmu, atau status sosial memungkinkan munculnya perilaku yang mengotori sembilan lubang tersebut. KRIAN dapat didekati dari kata keriaan atau riang, artinya kegembiraan yang menyebabkan kita abai. Inilah perlunya sesucen atau membersihkan diri. Derajat yang diberikan Tuhan kepada kita, apabila mengikuti titah Pemilik Bahrul Ulum, tidak lain ialah insan kamil. Manusia yang mulia, suci lahir batin dan menjelmakan kesucian itu dalam berbagai teks sosial.

Kali Krian yang bermuara di KESUNEAN itu mengandung makna sunyi/ sepi, sebuah fase setelah bebersih setelah sadar dari kekeliruan mendayagunakan derajat, setiap orang harus menyepi. Sendiri pasrah ke hadirat Ilahi Rabbi, bermunajat agar laku lampah berikutnya bermakna bagi kehidupan. Di sinilah pentingnya penghargaan atas desah npas yang diberikan secara gratis oleh Tuhan. Menghargai hidup berarti menempatkan diri di hadapan ilahi dengan mengedepankan keseucian lahir dan batin.

Rasulullah Muhammad saw menyepi di Gua Hira sebelum akhirnya diutus menjadi pembersih perilaku atau ahlak. Pengikut Nabi Muhammad saw pun diajarkan untuk memanfaatkan sunyi (tengah malam), bila perlu di sebuah tempat tersendiri untuk munajat dan pasrah, memohon ampun atas kesalahan. Nabi Yunus as menyepi di perut ikan lantas sadar beliau harus kembali ke tengah kehidupan manusia. Di dalam perut ikan itu, Nabi Yunus terus berdo`a agar diselematkan serta dapat kembali menjalankan perannya sebagai utusan ilahi.  Sidhrata Gautama pun menyepi di bawah Pohon Bodhisatwa sebelum memperoleh pencerahan? Nama-nama besar lain, bisa dirujjuk dalam teks KESUNEAN ini.

Tamu  yang akan singgah ke Keraton Kasepuhan itu juga simbol kekuasaan dan politik. Boleh jadi, tamu manca negara dari Cina, Campa (Kamboja), Gujarat (India), Thailand singgah ke keraron Kasepuhan melalui Kali Krian setelah melintasi Laut Jawa. Fungsi Lawang Sanga demikian berarti.  Tamu-tamu politik ini bersama sultan keraton merumuskan beberapa nota kesepakatan yang bertalian dengan masalah ekonomi, budaya, pendidikan, dan sebagainya.

Derajat tinggi bagi siapa saja yang menjadi kerabat, teman, tamu, keluarga keraton. Derajat tinggi (mulia) itu kadang menjungkirkan nilai kebersahajaan menjadi timpang. Untuk kembali suci, tiada jalan lagi kecuali membersihkan diri. Tautan antara KRIAN, DERAJAT, LAWANG SANGA, KERATON, KESUNEAN berdasar paparan tamu agung itu, Abdul Azis Rahman, semoga menjadi semacam renungan buat kita.

Menjaga kali agar tetap bersih, menjaga diri supaya tetap bersih, memfungsikan sembilan lubang pada diri kita menurut ketentuan dan kepatutan, menerapkan derajat secara mulia, menepi di kesunean (kesunyian, menjadi penguasa politik dan kekuasaan (keraton, kini pemerintahan di republik) bukan semata bagaikan status untuk meniadakan lawan.

PINTU Sembilan atau lawang sanga, sebuah situs yang terangkai dengan Keraton Kasepuhan. Tertelak di depan menghadap Kali Krian ke arah Timur, pada mulanya adalah pintu masuk dan persinggahan para tamu yang bertandang ke Keraton Kasepuhan. Zaman dahulu kala, ketika manusia tak sebanyak sekarang, lalu lintas kerap menggunakan jalur air. Kali/ sungai, juga laut bermakna pertumbuhan ekonomi, hubungan diplomatik antar kerajaan ~bahkan dengan luar negeri.

Lawang Sanga yang berusia ratusan tahun itu kini tak terawat dan menyesaKkan, cenderung tak sedap dipandang, meski ia menyimpan sejarah panjang. Padanya telah terpatri kisah yang sekarang makin lamat-lamat tak terdengar. Padahal di balik itu semua ada penyatuan dengan Bahrul Hayat (segaraning kauripan, samudra kehidupan) dengan rujukan utama Sang Maha Pemilik Kehidupan.  Allahu Akbar.

Lawang Sanga nan filosofis itu apabila kembali ditata serta dikembalikan ke fungsi semula, tak urung memberi nilai tambah secara ekonomi. Tulisan ini akan coba serba sedikit memaparkan Lawang Sanga dari pendekatan filosofi. Semoga dapat menjadi semacam renungan, minimal masukan bagi penghargaan kita atas kehidupan.***

Oleh: da2ngkusnandar | Mei 31, 2010

Sedikit

Sedikit, Kecil, Lemah

Oleh Dadang Kusnandar

“….betapa banyak kelompok sedikit (kecil, lemah) mengalahkan kelompok yang banyak (besar, kuat) dengan ijin Allah. Dan Allah beserta kaum yang sabar”.

PERJALANAN orang-orang besar yang mengubah jarum jam sejarah, pada mulanya sebuah kelompok kecil, sedikit, dan lemah. Kekuatan dan kesungguhan mengubah sejarah dan kemanusiaan, itulah to inspire till the end. Hingga ajal menjemput, tak terpikir sedikit pun untuk kepentingan diri.

Masyarakat, pengikut, klan yang dibela sepanjang napas jauh lebih utama dibanding kemilau dunia dan keagungan lain. Mereka, para penyeru dan penggagas kebenaran ~bahkan detak jantung pun seakan berkata : aku hanyalah seorang abdi yang diutus guna memanusiakan manusia.

Bisa diingat kembali Temujin/ Jengis Khan yang meradang mendapati pasukan nomadnya membantai anak-anak dan perempuan di daerah yang kelak dijadikannya sebuah imperium. Lelaki pendek bertubuh tambun dan berkumis kucai ini tak ingin pasukan perangnya membunuh mereka yang lemah dan tak berdaya. Di depan bara api unggun dekat kemahnya, lelaki yang … Lihat Selengkapnyadistigma sebagai orang bengis, ternyata mampu menangis. Kesepian dan kesendirian itulah proses kontemplasi tentang kecil, sedikit, dan lemah.

Mungkin bisa ditaut lagi kesendirian Mao Ze Dong saat bicara tentang revolusi kepada lelaki tak dikenal, pendayung sampan di Sungai Hoangho. Dalam rinai gerimis sebelum Revolusi Kebudayaan RRC 1911, masih sedikit orang percaya pada sebuah kata yang menghujat : Revolusi.

Kesendirian dan kesepian di tengah ingar bingar, ternyata asik apabila dalam dada terpatri hasrat kuat untuk mengubah. Hasrat untuk mempertajam kreativitas bagi sebuah kemaslahatan. Untuk siapa? Kelak sejarah pula yang menilai, maslahat atau mudharat tentang apa yang telah diubah itu pada masanya.

Pada teks lain, Sidharta Gautama hanya ditemani pembantunya, Chana, keluar dari istana hendak melihat bentuk lain di luar kemewahan dan kemudahan. Ia kaget melihat pengemis dengan badan penuh borok menadahkan batok di sudut keramaian kampung. Lantas bertanya, “Mahluk apakah itu Chana?”. Sidharta akhirnya memilih dalam kesendirian dan sepi di bawah … Lihat Selengkapnyapohon Bodhisatwa hingga pada Waisak yang agung itu memperoleh pencerahan. Akan tetapi Sidharta Gautama tetap merasa kecil dan sedikit sebelum ajarannya dipelajari orang lain. Fatwa pertama di taman rusa Benares kepada orang renta dan miskin, menandakan ajaran yang kelak mengubah jarum jam sejarah dunia itu tersedia bagi kaum papa dan lemah.

TIGA cerita di atas setidaknya menuturkan proses kreatif pencarian diri di tengah hiruk pikuk zaman. Teks yang saling bertaut itu tak pelak memberi makna dan termaknai. Dan hingga pada saatnya Temujin jadi begitu ditakuti raja2 Tiongkok. Mao Ze Dong jadi ancaman dinasti Qing yang mulai pudar pada 1905. Sidharta Gautama dengan budhisme melanglang jauh menjadi kekuatan peradaban.

Tak perlu risau jikalau kita yang sedikit, lemah, dan kecil masih kurang diperhitungkan yang lain. Seijin kuasa ilahi setelah mendayagunakan segenap kemampuan diri lalu merenungi dalam kesendirian dan senyap ~tak pelak mampu mengalahkan yang besar, banyak, dan kuat. Sejarah yang terlintas dalam ingatan kita bukan sejarah yang kaku serta tak bicara apa-apa. Tapi sejarah bicara tentang metamorfosa kelompok sedikit menjadi banyak, kelompok kecil jadi besar, dan kelompok lemah jadi kuat.

Dalam suasana khawatir bahkan merasa ditinggal oleh Tuhan, rasulullah Muhammad saw gundah, betapa panjang jarak firman pertama (surat Al Alaq) ke surat kedua Al Mudatsir, orang yang berselimut. Tiga tahun paska kenabian tanpa titah ilahi kecuali IQRA cukup membuat nabi gundah gulana. Berdasar manuskrip agama, Rasulullah Muhammad saw suka bertanya dalam diri, apa yang akan dilakukannya setelah bai`at di gua hira. Membaca perilaku masyarakat jahiliyyah sudah dilakukan sejak kecil dan remaja. Kelebihan sebagai orang pilihan Tuhan sudah banyak buktinya.

Dengan kata lain, rasul pun diuji. Ah, apalagi kita yang mungkin masih asik berpeluk dosa . Agaknya perutusan Tuhan kepada Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib ini untuk memperbaiki aklak manusia, jelas sangat tepat. Berdasar inilah perintahQum fa andzir” (bangkit dan berilah peringatan) tak lepas dari pentingnya perubahan perilaku masyarakat di jazirah Arabia.

“….betapa banyak kelompok sedikit (kecil, lemah) mengalahkan kelompok yang banyak (besar, kuat) dengan ijin Allah. Dan Allah beserta kaum yang sabar”. Penggal terakhir ayat Al-Baqarah ini kerap dimaknakan sebuah peperangan yang dilaksanakan bagi perluasan ajaran agama. Namun menurut hemat saya, akan lebih mengena apabila dikaitkan dengan teks kecil, lemah, dan sedikit bisa menjadi sebaliknya : besar, kuat, dan banyak. Tentu saja seijin Allah dan dilandasi kesabaran (usaha yang sungguh-sungguh) untuk mengubah jarum jam sejarah. Sejarah kemanusiaan dengan sendirinya akan mengalami perubahan apabila kelompok kecil, sedikit, dan lemah itu tetap dan senantiasa berusaha dengan segenap ketangguhan untuk melakukan perubahan sejarah kemanusiaan.

Bukankah seperti disinggung di atas, Mao Ze Dong yang bersampan di tengah rinai gerimis pun pada saatnya mampu menjadi besar, kuat, dan banyak sehingga menyulut Revolusi Kebudayaan di Tiongkok. Juga Temujin yang selalu jadi “hantu” kendati ia mengambil posisi Negara tanpa tanah air. Demikian pula penyebaran Budhisme paska Raja Ayodha menyatakan sebagai penganut ajaran Sidharta Gautama hingga ia mendirikan patung singa menghadap ke empat penjuru angin.

Tak pelak, ujian dalam bentuk apa pun pasti hinggap pada perjalanan kita, sebagai mahluk Tuhan yang berperan sebagai Wakil Tuhan di muka bumi (khalifatullah fil `ardli).
.

Oleh: da2ngkusnandar | Mei 31, 2010

Herman Willem Daendels

Tulisan Pendek Dadang Kusnandar
penulis lepas, tinggal di Cirebon

TERINSPIRASI catatan Nina Lubis (Ekspedisi Anjer-Panaroekan, Kompas November 2008 : 14) tulisan pendek ini bermula. Guru Besar ilmu sejarah Unpad itu menulis : Daendels menjalankan pemerintahan yang sentralistik. Semua urusan pemerintahan, baik pusat maupun daerah diatur dari pusat dengan instruksi dari gubernur jendral. Daendels ingin menjalankan pemerintahan secara langsung tanpa perantara sultan atau bupati. Sejalan dengan itu Daendels melakukan birokratisasi di kalangan pemerintahan tradisional. Para sultan dan bupati dijadikan pegawai pemerintah yang menerima gaji, di bawah pengawasan prefek. Sistem pergantian sultan dan bupati secara turun temurun tidak diakui lantas diganti dengan sistem penunjukkan. Kekuasaan mereka pun berangsur-angsur dikurangi. Dalam hal sikapnya yang anti feodal ini terlihat semangat Revolusi Perancisnya, yakni liberte (kebebasan), egalite (persamaan), fraternite (persaudaraan).

Perilaku Daendels yang terlalu keras, otoriter, kejam, yang jelas berlawanan dengan semboyan Revolusi Perancis yang dibanggakannya terdengar juga ke negeri Belanda. Lawan politiknya menilai Daendels -memerintah Jawa Hindia Belanda 1808 – 1811)- terlalu mencari keuntungan sendiri. Terlalu kasar menusukkan pisau ke dalam luka. Ia pun sering bertindak keras dan sangat kejam dalam pelaksanaan rencana pembuatan jalan dan benteng di Jawa (Rees, 1869 : 127).

Tulisan pendek ini tidak akan bertutur mengenai biografi Gubernur Jendral Hindia Belanda ini, melainkan pemaksaan kehendaknya mengganti sultan dan bupati. Mungkin bisa ditinjau dari tiga hal, pertama semangat persamaan alias anti feodal, kedua menjadikan bupati dan sultan sebagai pegawai Hindia Belanda, ketiga upaya merusak kekuatan lokal agar tak berontak kepada kolonial.

Tiga hal di atas setidaknya menunjukkan penjajahan budaya yang dilakukan Belanda di imperiumnya. Kabarnya, penjajahan jenis ini yang lebih mengharubiru dibanding penumpasan seluruh etnisitas (genocyde). Terlebih HW Daendels juga dikenal kejam dan menghabisi nyawa ribuan pekerja rodi pada pembuatan rencana jalan Anjer Panaroekan. Penjajahan budaya ini berdampak terus hingga kini. Pergantian sultan yang ditunjuk berdasar interes dan kepentingan Belanda, atas dasar suka/ tidak suka berakibat pada buramnya sejarah sebuah (eks) kerajaan. Alhasil, sangat mungkin para sultan yang memimpin kerajaan islam masa lalu di tanah Jawa adalah orang-orang pilihan Belanda. Lantas ini berlanjut hingga ke keturunannya. Dari teks ini, mereka yang menolak pengangkatan seorang sultan pada kurun masa tertentu, akhiirnya pergi meninggalkan kerajaan dan membangun perguruan di tempat lain. Penolakan yang logis ini pada mulanya bukan berawal dari keinginan sebuah klan untuk terus menjabat tahta tertinggi di kerajaan. Melainkan penolakan atas seorang sultan yang dipilih Belanda. Ironinya sultan itu pun juga berstatus pegawai pemerintah Hindia Belanda yang berpusat di Batavia.

Namun salahkah apabila dikontraskan dengan semangat anti feodal sebagaimana ramai berlangsung saat itu di kerajaan-kerajaan Eropa? Tentu saja kita tidak membaca dari sisi ini. Memang perbedaan tajam antara sistem kerajaan (monarki) dan republik terletak pada ketiadaan suksesi kepemimpinan. Tetapi penunjukkan seseorang yang dekat dengan penjajah untuk ditempatkan menjadi sultan dan atau bupati oleh Belanda, kemudian ia pun digaji oleh Belanda lantaran statusnya sebagai pegawai pemerintah Hindia Belanda ~ sudah pasti opsi politik dan kepentingan kelangsungan penjajahan lebih menonjol. Tak aneh apabila konsep Daendels ini ditentang di parlemen negeri Belanda sendiri.

Agaknya lebih tepat, penunjukkan orang-orang pilihan Gubernur Jendral Hindia Belanda pada jabatan sultan dan bupati merupakan kiat mujarab untuk meminimalisir pemberontakan rakyat terhadap kolonialisme Belanda. Mereka yang menjauh dari istana (kerajaan, keraton) tak pelak punya pengikut setia selain keluarga dan kerabatnya. Pada saatnya mereka memberontak dengan bantuan orang-orang dalam kerajaan sendiri yang sengaja ditempatkan sebagai mata-mata dan atau pencuri senjata Belanda untuk diberikan kepada mereka yang menolak pengangkatan sultan. Posisi “sultan” menjandi ambigu. Sebagai pegawai Belanda ia harus tetap menjalankan pemerintahannya sesuai keinginan tuannya, maka ada perintah langsung untuk menumpas pemberontakan sporadis itu. Di sisi lain sultan dan bupati itu berhadapan dengan saudara dan “rakyat”nya sendiri.

Inilah awal mula politik pecah belah (devide et impera) yang terkenal mampu menghentikan pemberontakan terhadap kolionialisme Belanda di Indonesia. Inilah strategi jitu yang dilakukan Belanda di Indonesia hingga mampu berkuasa berabad lamanya. Dan berdasar strategi ini pula kemudian dikenal istilah “londo ireng” yakni pasukan kerajaan yang direkrut sultan pilihan Belanda untuk memerangi bangsanya sendiri. Londo ireng itu dilatih menembak bangsa sendiri untuk diterjunkan pada peperangan.

Dapat dihitung berapa kerajaan dan kerajaan mana saja di Jawa yang mengalami pengangkatan sultan oleh Belanda. Demikian pula sejarah mencatat beberapa bupati, wedana, dan camat di Jawa pada masa itu yang “lebih belanda ketimbang orang belanda” dalam bersikap kepada inlander. Jika kembali mengingat jejak pembangunan jalan Anjer-Panaroekan pada masa Daendels itu, semula jalan yang mengiorbankan ribuan rakyat Jawa itu tidak diperkenankan dilewati pedati yang ditarik kerbau/ sapi/ kuda milik inlander. Jalan itu hanya boleh dilewati pasukan kavaleri Belanda, orang Belanda, dan priyayi Jawa. Mengingat sultan dan bupati setempat berpihak kepada Belanda, mereka tidak punya wewenang mempersilakan rakyat terjajah melewati jalan itu. Rakyat (inlander) hanya boleh melintasi jalan di seberang rute Anjer-Panaroekan ala kadarnya untuk gerobak dan pedati. Konon parlemen Belanda akhirnya menurunkan peraturan yang mengijinkan rakyat melintasi jalan Anjer-Panaroekan. Ide persamaan yang gempita di parlemen Eropa itulah penyebabnya.

Kembali ke pokok soal, yakni peredaman pemberontakan rakyat kepada Belanda. Sultan dan bupati pilihan Belanda memang punya sumbangan cukup besar meredam pemerontakan rakyat Jawa. Sultan yang berontak atau mahapatih yang berontak biasanya dipancung lantas potongan tubuhnya dibuang ke laut, dan tentu saja kerajaannya dibumihanguskan. Ini menimpa kerajan Surosowan Banten. Segera setelah itu, Belanda mengangkat/ memilih sultan pengganti yang siap mengabdi pada kepentingan kekuasaan Belanda.

Dalam beberapa hal, sejarah memiliki keterikatan dengan politik dan ekonomi. Jalan Anjer-Panaroekan menjadi urat nadi ekonomi yang mengapungkan kas keuangan kerajaan Belanda setelah Tanam Paksa oleh Van den Bosch diberlakukan di Jawa.***

Oleh: da2ngkusnandar | Mei 26, 2010

Ke Talaga Manggung atau Sindang Kasih

Sesuatu yang disayangkan bila kekayaan masa lalu justru dilupakan dan dikubur dalam-dalam. Bahkan, peranannya terkesan dikecil-kecilkan, dikalahkan oleh setting sejarah yang bersifat politis, sekadar memenuhi pesanan (rekayasa), daripada mengungkap fakta objektif yang sejati.

Begitulah nasib Talaga Manggung. Kerajaan tua di lembah Gunung Ciremai. Pada masanya, Talaga Manggung cukup termasyhur. Orang-orang, dari Thailand, Campa (Kamboja) dan Malaysia, berdatangan.

Yang lebih membanggakan, Talaga Manggung dirintis dari padepokan pendidikan (peguron), bukan representasi politik. Pada masa keemasan, orang berdatangan ke kerajaan Hindu-Buddha ini untuk belajar atau memperdalam ilmu. Tedja Sukmana (72), tokoh Majalengka mantan anggota DPRD 1999-2004, mengemukakan kemasyhuran itu. Talaga Manggung berawal dari padepokan di Banjaran, di Gunung Bitung Talaga oleh Rakaian Sudayasa dengan penerusnya Dewa Niskala. Kitab Siksa Kandang Karsiyan (586 M) menuliskan keberadaan Talaga Manggung. Begitu pula kitab Waruga Jagat (Purwaka Caruban Nagari tahun 1720 M). “Sampai tahun 1692 masih ada kerajaan Titu,” ujar Tedja.

Talaga Manggung diambil dari nama Prabu Talaga Manggung, juga dikenal Mundingsae Ageng dengan penandaan tahun Masehi 1292. Menurut Teja , Prabu Talagamanggung menurunkan Putri Simbar Kencana dan Raden Panglurah. Raden Panglurah tidak berminat pada politik, ia memilih menjadi begawan, sedang Simbar Kencana tertarik pada pemerintahan. Keturunannya kelak Ratu Sunyalarang (Ratu Parung) menikah dengan Raden Ranggamantri dari Pajajaran. Pernikahan dengan mas kawin seperangkat gamelan, baju antipeluru, ukiran, uang blendong, keris dan tombak. Benda-benda itu kini tersimpan di museum yang dikelola keturunannya, Teten Wilman (45).

Hingga sekarang ada makam Rd. Arya Saringsingan di Banjaran, Rd. Ranggamantri di Sanghiang, Ratu Sunyalarang di Cikiray, juga Rd. Sacanata di Desa Argasari, termasuk pula makam Sunan Wanaperih di Kagok.

Sindangkasih

Ibrahim Sumadinata (78), mengemukakan konteks yang melatarbelakangi Majalengka. “Saya dan tim dulu menelusuri Kota Majalengka, bukan Majalengka kabupaten,” tutur dia.

Menurut Ibrahim yang ikut membidani Perda Nomor 5/1982 tentang Harijadi Majalengka yang jatuh pada 7 Juni 1490 masehi, Majalengka dulunya Sindangkasih yang kini menjadi pusat pemerintahan.

Oleh karena itu, penelusuran sejarah Majalengka lebih tepat bila merujuk pada Nyi Rambut Kasih di Sindang Kasih. Kalau Talaga Manggung, konteksnya kabupaten, bukan pusat pemerintahan Majalengka.

Hari Jadi Majalengka menurutnya, berkiblat ke Cirebon tempat pertama kali Sunan Gunung Djati menyebarkan Islam. Ini terkait dengan Pangeran Muhammad, keturunan Pangeran Panjunan, Cirebon yang datang ke Sindangkasih untuk mencari buah Maja dan menyebarkan agama Islam.

“Talaga itu kalah oleh Islam dari Cirebon, sedang Nyi Rambut Kasih tidak,” ujarnya.

Pensiunan Kepala SMEA Negeri Sindanglaut itu yakin pada homonim Sindangkasih dari kata Candrasengkala. Candrasengkala artinya 1412 (10 Muharram) dan bila diubah atau dikonversikan ke tahun Masehi menjadi 1490 (7 Juni). Tanggal 7 Juni tahun 1490 itulah tahun kelahiran Majalengka, ini diperkuat dengan Perda nomor 5/1982. Candrasengkala sendiri merupakah khazanah budaya di Kerajaan Mataram.

“Silakan cek di Mataram Yogyakarta. 1490 merupakan tahun kedatangan Pangeran Muhammad dari Cirebon bersama istrinya Siti Amrillah. Keduanya menyebarkan Islam. Majalengka menganut Islam lebih dulu sebelum Galuh,” tutur Ibrahim yang masuk tim penyusun harijadi pada 7 Juni dengan pancakaki (titi mangsa) 1490 masehi itu.

Sejarah yang kemudian menjadi Hari Jadi Majalengka, kata Ibrahim, sesuai arahan pemerintah, harus memuat unsur heroisme dan patriotisme. Sejarah yang heroik dan patriotis itu menjadi nilai-nilai penentu masa depan. “Dan itu ada pada kisah Pangeran Muhammad,” tutur Ibrahim. (Dakus

Older Posts »

Kategori