Oleh: da2ngkusnandar | Juni 25, 2009

Argasunya Mirip Afrika? HARUS ada keput…

Argasunya Mirip Afrika?

HARUS ada keputusan politik yang tegas bagi penataan ruang di Kelurahan Argasunya Kecamatan Harjamukti Kota Cirebon jika pemerintah ingin membenahi wilayah tertinggal ini. Puluhan tahun daerah ini kurang disentuh pembangunan. Jangankan pemberdayaan masyarakat, air bersih pun masih jadi masalah. Demikian pula layanan kesehatan, pendidikan lanjutan, dan penerangan jalan umum.

Dalam kunjungan kerja perorangan Suryana anggota DPR RI 2004 – 2009 akhir November 2007, saya mendapatkan keluhan warga menyoal ketertinggalan Argasunya dari 21 kelurahan lain di Kota Cirebon. Kekayaan pasirnya terus digali bagi kepentingan pembangunan yang berdampak kerusakan lingkungan dalam jangka panjang. Menurut sejumlah warga di sana, biaya relokasi akibat Galian C tidak cukup dalam hitungan Rp 5 miliar per tahun anggaran APBD Kota.

Warga miskin di sana kerap jadi komoditas politik menjelang pemilu legislatif. Dijanjikan ini itu lalu dilupakan dari file. “Keluarkan saja uangnya bagi relokasi Argasunya. Itu bukan uang bapak. Itu uang rakyat”, kalimat yang sering disampaikan Suryana kepada walikota sejak Cirebon dipimpin Lasmana Suriaatmadja. Artinya, dana yang dikumpulkan pemerintah Kota Cirebon harus kembali kepada rakyat dalam bentuk pembangunan bagi berlangsungnya kesinambungan dan dinamika masyarakat.

Sejak 1999 teman-teman menjejakkan kaki sebagai anggota DPRD Kota Cirebon, saya cukup sering mengingatkan perlunya membangun Argsunya. Jika kita lihat peta Kota Cirebon, Jalan By-Pass Brigjen Darsono dan By-Pass Ahmad Yani boleh disebut pembagi wilayah utara dan selatan. Dengan bentuk mirip benua Afrika, jalan By-Pass menjadi pembelah utara dan selatan. Bagian utara padat penduduk, padat sarana umum, padat transaksi dan prioritas pembenahan tata kota.

Padahal jalan di bagian utara sudah mengular dan berjalur pendek, kecuali Jalan Wahidin dan Jalan Dokter Cipto MK. Akan tetapi karena dekat dengan pusat pemerintahan seperti balaikota, DPRD, perbankan, stasiun kereta api, super market — jalan-jalan yang pendek dan sempit kerap ditata ulang.

Pergantian warna cat trotoar dari merah jadi abu-abu, setahun kemudian dibongkar berganti warna, dilengkapi pot bunga. Setahun kemudian diganti jadi merah dengan asesori lingkaran kecil, lantas dibongkar lagi sambil menanam sebatang pohon tak berbuah serta menancapkan reklame sebuah produk bisnis.Belum lagi pengaspalan jalan yang selalu ada dalam drfat APBD tiap tahun. Di tempat tinggal saya, RW 07 Warnasari Kesambi, pada tahun anggaran 2006 mengalami tiga kali pengerasan. Pertama menggunakan semen, kedua dengan aspel asal poles, dan ketiga menggunakan aspal agak tebal.

Jika dana pengaspalan kedua dan ketiga di lingkungan RW saya dialihkan bagi relokasi Argasunya, sangat bisa. Pembangunan, bagaimana pun pasti mengundang konsekuensi pemerataan. Janganlah wilayah yang dianggap cukup mapan kondisi ekonomi warganya dan terletak di belahan utara Cirebon, terus menerus dibenahi, sementara daerah yang perlu malah diabaikan. Di sinilah letak masalahnya: alokasi objek pembangunan kota yang keliru. Pemerataan pembangunan kota, kalimat indah yang pasti mengandung konsekuensi pendanaan serta ketegasan keputusan politik. Pada akhirnya alokasi dana APBD untuk penataan kembali Argasunya harus dikalkulasi secara cermat, profesional, dan proporsional. Langkah yang ditempuh pertama kali adalah kunjungan pejabat pemda terkait ke lokasi tertinggal.

RW 11 dan RW 08 Balongsasak Kelurahan Argasunya tatkala dikunjungi Suryana, terdapat gambaran tentang tandusnya struktur tanah, terlebih saat itu hujan belum mengguyur. Keluhan warga menyoal sulitnya perolehan air bersih bagi kebutuhan sehari-hari (bandingkan dengan warga Kesambi yang mencuci mobil hampir tiap hari di rumahnya dengan air bersih dari PDAM), juga sarana jalan yang ala kadarnya –berdebu saat kemarau, becek dan berlumpur saat musim hujan; juga lemahnya tingkat survive warga meningkatkan taraf hidup dan lain-lain. Tidak ada kata tidak, mesti ada terobosan berupa pengalihan profesi warga setempat ke profesi lain yang lebih baik dan menjanjikan. Dari pemungut batu, pemecah batu, pengangkat batu dan pasir kepada profesi lain yang tidak melulu mengandalkan kekuatan otot.

Ketua RT 05 RW 11 Balongsalak yang memiliki 20 batang pohon mangga yang berbuah dua kali setahun tetapi kecil nilai jual buahnya. Buruknya sarana jalan ke kota membuat Pak RT menjual mangga ke Pasar Mundu Kabupaten Cirebon, dengan biaya transportasi yang mahal. Keuntungan mangga satu pohon hanya sebesar Rp 20.000, padahal di daerah lain di Kota Cirebon pemiilk pohon mangga tak perlu menjualnya ke pasar karena didatangi pembeli (pengulak) untuk dijual lagi ke konsumen. Pemilik pohon mangga dapat mengajukan harga dan saling menawar dengan pembeli yang umumnya bersepeda kumbang itu.

Dengan kata lain sarana jalan yang baik dan mudah terbukti memudahkan terbukanya akses ekonomi. Transaksi dapat dilakukan kapan saja dan menguntungkan. Adakah kemudahan seperti itu diperoleh warga Argasunya dalam waktu dekat?

Sebagai perbandingan, ketika silaturahmi ke Lurah Pulasaren dan 11 Ketua RW se kelurahan Pulasaren, seorang RW mencontohkan program PKK yang kurang memberi hasil karena terkesan hanya membuang uang karena bertitel proyek. Ia mencontohkan proyek pelatihan pembuatan batik sampai pemasaran yang hanya berlangsung tiga hari. “Apa yang didapat peserta selain sertifikat dan uang transport? Dan bisakah peserta memuat batik dalam waktu sesingkat itu?”.

Belum lagi pemberian bantuan bagi sanggar kesenian sebesar Rp 5 juta. Apalagi realisasinya cuma 40% dari jumlah itu, terlebih ada oknum PNS dari dinas terkait yang seketika membuat sanggar seni agar bantuan uang sampai ke tangannya. Cara-cara manipulatif ini mudah diatasi jika pihak pemberi bantuan mendeteksi langsung keberadaan sanggar-sanggar tersebut, bukan terpatok pada surat keterangan kelurahan dan kecamatan.

Ironi seperti itu seharusnya tidak terjadi. Salahnya alokasi dana pembangunan di Kota Cirebon, ternyata masih berlanjut sampai sekarang.***


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: