Oleh: da2ngkusnandar | Juni 25, 2009

Genjer-genjeR Begitulah jika atas nama …

Genjer-genjeR

Oleh Dadang Kusnandar

Anggota Lingkaran Dialog Kebudayaan Cirebon


BEGITULAH atas nama kekuasaan, segala sesuatu yang berbau “trade mark” partai politik tertentu jadi terlarang, meski tidak paham benar makna Genjer-Genjer dalam kehidupan rakyat kecil. Boleh jadi mars (lagu) yang mengiringi acara pembuka hajat suatu parpol sekarang terilhami Lagu Genjer-genjer yang merakyat itu.

Tanaman Genjer sendiri juga pernah saya dapatkan tumbuh subur di lahan hijau sebuah kompleks perumahan polri yang berbatasan dengan stasiun KA Prujakan Cirebon. Kami menyebutnya Kebon Kangkung, karena tanaman kangkung yang dominan di lahan itu; genjer dan bunga teratai hanya sedikit. Waktu kecil bersama teman sepermainan kami suka memetik Genjer, bukan untuk dimakan lantaran tidak mengerti — bahkan yang terekam cuma satu: Itulah tanaman yang “dilembagakan PKI”.

Meski kami tidak paham pergulatan 1965 di Indonesia, namun cerita tetangga tentang mudahnya tentara menyeret seseorang tanpa proses hukum hanya karena ia sempat berhubungan dengan orang PKI; masih terngiang di telinga. Sampai sekarang……………..! Betapa tangis istri yang tiada berarti ketika suami yang dicap PKI itu dinaikkan ke mobil pick up tentara, seterusnya ada yang ditembak dan ada yang menghuni sel penjara hingga puluhan tahun.

Tetangga saya, mantan aktivis BTI pernah melihat orang yang “di-PKI-kan” ditembak di kebun kosong di suatu tempat di Kecamatan Arjawinangun. Ia berujar, “Saya tidak kuat melihat bagaimana orang PKI ditembak, karena tidak seketika mati seperti biasa ditayangkan film-film dan televisi. Bung tahu ayam yang disembelih, ya kira-kira seperti itu. Bergerak-gerak kesakitan saat meregang nyawa”.

Lain lagi cerita kawan mantan tahanan politik yang “di-PKI-kan”. Selain siksaan fisik yang diterimanya sepanjang masa tahanan di Rumah Tahanan Militer Kotapradja Tjirebon, istrinya yang cantik sering diperlakukan tidak senonoh oleh petugas penjaga rumah tahanan militer. Pelecehan seks, bahkan adanya negosiasi (semacam barter) mengurangi hitungan masa tahanan sang suami dengan tubuh molek istrinya. Katanya, hampir semua penjaga mencicipi tubuh istrinya di rumah tahanan milter itu.

Ketika kami bertemu seusai shalat Zhuhur di mesjid agung Kasepuhan Cirebon, ia menuturkan kisah pilu nan tragis ini dengan berurai air mata. Ia yang kini memasuki usia 60-an rajin beribadah, memasrahkan diri kepada ilahi serta merasa jengah ketika harus berhadapan dengan tetangga yang diam-diam masih menyebutnya Orang PKI. Walau tak terucap, dia tahu dari sorot mata orang yang memandangnya dengan setengah hati dan tatapan agak sinis.

“Dadang, kau harus tahu”, ujar mantan tahanan politik pada sebuah sore di rumahnya. “Jangan pandang orang dari penampilan luar. Jangan tertegun karena seseorang rajin shalat berjama`ah di mesjid, lantas kamu katakan dia orang soleh. Ini, abah, 16 tahun meringkuk di rumah tahanan militer karena dicap PKI oleh orang yang rajin shalat berjama`ah di mesjid di kampung (RW) ini”, katanya sambil mengenang.

Begitulah, abah yang kini tiada, sejak 1966 s/d 1982 berstatus tahanan. Abah sebelum ditahan bekerja sebagai staf administrasi Bupati Cirebon, Harun. Mungkin lantaran Bupati Harun mengkoordinir dan memobilisasi massa bagi pergerakan PKI di Cirebon, maka semua staf di lingkungan kerjanya di PKI kan oleh penguasa saat itu. Pada mulanya, sebuah coretan tanda silang di tembok belakang rumah abah, lantas orang yang satu RW melaporkan abah kepada dua tentara. Dalam waktu sesaat, abah diangkut ke mobil tentara terus digiring ke rumah tahanan militer tanpa proses hukum.

Saya ingat sewaktu SD saya suka mengantarkan nasi dan lauk pauk untuk abah ke sel tahanannya. Biasanya kalau disuruh ibu atau disuruh istri abah. Bertemu abah di sel tahanan dengan kostum spesial warna birunya, ketika itu saya tidak paham kenapa abah ditahan. Rumah abah yang berjarak dalam hitungan langkah kaki dari rumah saya menjadi sebab dekatnya pertautan kami. Abah pula yang kerap memberi nasihat hidup kepada saya. Tapi kini rumah abah sudah dijual karena istri abah mau pergi haji ke Mekkah.

Duh Gusti, jangan sampai terulang kisah buram seperti itu lagi di negeri yang katanya dihuni orang-orang yang cinta damai dan menghargai sesama.

Dicabutnya PP 25 Tahun 1966 oleh Gus Dur tentu saja menggembirakan banyak orang. Betapa diskriminasi yang terus dilakukan negara kepada ex tapol PKI berakhir di tahun 2000. Penantian panjang hanya untuk mengembalikan stempel kewarganegaraan di Kartu Tanda Penduduk (KTP). Tetapi selsaikan persoalan ex tapol PKI sampai di situ?

Genjer-genjer, lagu berbahasa Jawa yang sempat dipopulerkan Lilis Suryani ciptaan Ki Narto Sabdo itu kini mengalun lagi. Sejumlah mempertanyakan pelarangan lagu itu serta stigma PKI di dalamnya. Padahal genjer adalah makanan alternatif bagi masyarakat miskin ketika Jawa didera kemiskinan panjang, ketika rakyat harus makan bulgur, ketika antrian untuk memperoleh segantang minyak tanah jadi pemandangan keseharian.

Kreativitas masyarakat miskin menemukan jenis makanan pada masa pailit seharusnya mendapat respon positif bukan malah dikait-kaitkan dengan politik. Kebersamaan masyarakat miskin mengkonsumsi genjer wajar jika kemudian menginspirasi seniman mencipta sebuah lagu. Lagu kerakyatan yang di dalamnya termuat keberanian dan tekad menghadapi tantangan hidup, betapa pun kerasnya. Betapa pun harus makan bulgur dan sayur genjer.

Ciri khas komunitas tertindas (mustadh`afin) antara lain adalah rasa kebersamaan yang mengikat untuk mengubah nasib, untuk secara bersama-sama keluar dari tekanan hidup. Tak pelak, tanaman genjer sebagai alternatif pengganti lauk pauk diminati kaum tertindas. Mereka sesunguhnya kreatif, tidak menyulitkan pemerintah, tidak menuntut segera disediakan makanan instan dan sebagainya; tetapi berusaha sendiri keluar dari kesulitan. Meski pun yang dikonsumsi adalah jenis makanan yang tidak layak, namun sebagai upaya pertahanan hidup, itulah kiranya yang patut dihargai.

Dengan demikian tidak ada alasan mempertentangkan genjer-genjer dengan PKI. Tidak ada alasan pula melarang memperdengarkan lagu Genjer-genjer di tengah masyarakat. Sebaliknya, lagu yang menafasi ribuan kaum miskin itu seharusnya dilembagakan sebagai etos kerja, olah kreatif dan kondisi faktual masyarakat miskin Jawa yang hendak terus bertahan hidup.****


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: