Oleh: da2ngkusnandar | Juni 26, 2009

BusuK

LIMA karakter huruf ini cukup mengganggu pendengaran kita: Busuk. Entah apa maksudnya. Busuk menurut hemat saya merupakan kosa kata yang secara umum dipahami dengan citra tidak sedap. Busuk sering diartikan negatif. Buah-buahan yang busuk, sudah pasti nilai jualnya murah. Telur busuk, biasanya digunakan untuk melempar petinggi yang sedang bicara di mimbar kampus. Atau demo mahasiswa ke Gedung pemerintah yang dianggap tidak mampu bertugas secara optimal. Daging busuk, relevan dengan issue sapi gila yang mungkin kembali marak pada saatnya nanti. Masih banyak busuk yang lain, dari jenis “komoditi” apapun. Terutama saat busuk ditempelkan kepada sesuatu dan sesuatu itu berhubungan langsung dengan manusia.

Segala yang Busuk (dengan B besar) akhirnya dibuang. Buat apa dipelihara. Bukan hanya menyebarkan bau bahkan kalau dimakan menimbulkan penyakit. Busuk akhirnya cuma berkonotasi negatif. Tidak ada sedikit pun nilai positifnya. Tetapi bagi pelaku industri makanan, busuk malah bermanfaat. Di beberapa tempat home industri makanan, jeruk busuk malah dikeringkan. Hasilnya bisa jadi manisan jeruk. Apel “busuk” dengan nikmat dan (mungkin) bangga dikonsumsi konsumen super market. Sapi Gila menaikan harga jual daging dari jenis hewan yang lain, minimal menurunkan harga jual daging sapi. Telur busuk sendiri justru berharga bagi kelangsungan ekosistem bumi. Kata ilmu hayat (biologi), telur busuk yang dibuang dikonsumsi bakteri (pengurai) di tanah. Saya yakin pembaca yang budiman punya interpretasi majemuk dengan kata Busuk.

Wacana di Sekolah

Sekarang mari kita lihat teks busuk dalam wacana. Menurut ahli bahasa, definisi wacana adalah bacaan. Bacaan dipahami setiap orang akan menimbulkan persepsi yang berbeda. Dalam pelajaran Bahasa Indonesia di SMP, tertera kata wacana untuk bacaan mengenai sesuatu yang diplot kurikulum. Murid sebuah kelas disuruh guru membaca wacana. “Baca dalam hati, jangan berisik, nanti akan diabsen untuk menerangkan wacana itu di depan kelas!”, begitu guru biasa berkata. Semua murid serius membaca wacana. Semuanya susah payah menghapal, supaya nilai pelajaran Bahasa Indonesia di buku laporan prestasi siswa di atas 5 (lima). Kata guru, kalau nilai pelajaran Bahasa Indonesia 5 (lima), murid tidak naik kelas. Siapa yang mau? Guru menghilang. Mungkin ke kantor guru. Entah apa yang dilakukannya di sana. Murid di kelas ribut. Peduli apa, ujar saya saat itu. Bukankah sang guru begitu saja memberi perintah, seenaknya meninggalkan kelas. Membiarkan murid membaca wacana. Tapi sebagai murid yang baik dan pintar (guru Bahasa Indonesia menempatkan saya di peringkat hebat itu), saya mencoba menghapal wacana. Tidak peduli apa yang dilakukan teman sekelas. Pokoknya saya harus bisa. Pokoknya saya harus hapal dan tidak memalukan saat menerangkan wacana di depan kelas. Nomor absen saya sejak SD selalu di bawah 10. Inisial huruf D memungkinkan ada di urutan kecil. Nah sebagai murid yang baik dan pintar (ge-er nih), alhamdulillah, saya tidak mengecewakan guru ketika maju ke depan kelas. Waktu terus berlalu. Wacana yang saya pahami di tingkat SMA juga belum beranjak dari hapalan. Wajar kalau siapapun yang punya daya hapal kuat, untuk pelajaran tertentu di sekolah, disebut pintar.

Pokoknya Saya

Wacana akhirnya berpulang kepada pembacanya. Beragam kemampuan memaknai wacana, berakibat lahirnya perdebatan. Dan perdebatan tidak menghasilkan apa-apa, kecuali panas. Perdebatan pun bisa melebar ke ekspresi publik jika diakomodir dan difasilitasi (sekecil apapun, oleh siapapun). Pada contoh pelajaran Bahasa Indonesia ketika SMP, terlihat betapa beragamnya Wacana Indonesia Tanah Airku. Bagi saya, Indonesia Tanah Airku, cukup dihapal sesuai teks. Bagi teman sekelas lain lagi. Ada yang tidak hapal. Ada yang garuk-garuk kepala di depan kelas. Ada yang menunduk malu karena tidak hapal. Ada yang hapal dan mengulang wacana dengan (maaf) sombong, dan lain-lain. Jumlah murid satu kelas di SMP sebanyak 47. Maka paling sedikit ada 47 makna wacana. Murid Kelas I di tahun 1976, singkatnya kalikan saja 6 (enam) dengan 47, berarti ada 242 murid SMP Negeri III Cirebon. Dengan demikian ada 242 makna tentang Wacana Indonesia Tanah Airku. Tulisan ini tidak berpretensi mengurai siapa yang salah. Tulisan ini juga tidak bermaksud menambah nominal wacana berjudul Indonesia Tanah Airku. Saya tidak tahu kalau kepleset, bisa-bisa menuduh saya yang bukan-bukan. Namun demikian pendekatan tunggal Pokoknya Saya, sangat potensial menambah jumlah pengertian wacana. Untuk memaknai wacana dalam teks kini, tentu merupakan urusan Bidang Pembinaan Bahasa Indonesia di Departemen Pendidikan Nasional. Itupun jika wacana dipahami menurut pengertian pelajaran Bahasa Indonesia. Lebih celaka kalau ada yang berkata, “Pokoknya kata saya Busuk. Titik!”.

Berpangkal dari kalimat di atas, di kancah kompetisi pencarian identitas dan aktualisasi diri di muka bumi, bakal berlangsung suasana panas. Diam-diam ada bara di dalam sekam. Diam-diam ada kekecewaan. Ada frustasi sosial. Ada kegenitan, ada ekspresi vulgar, serta ada gerakan. Di zaman keterbukaan, Busuk dan “Busuk” jadi heboh. Mahasiswa berdemo. Katanya, banyak politisi busuk dan harus kita tolak mereka agar tidak tampil di panggung politik. Kata politisi, ada mahasiswa busuk karena demo kemudian berakhir di meja makan. Kata petinggi negeri, ada politisi dan mahasiswa busuk lantaran inkonsistensi. Kata masyarakat banyak, semua politisi dan petinggi negeri busuk dan mari kita jadi golput. Berbagai wacana busuk menyusup dan memanaskan suasana. Barangkali mirip pekerjaan hacker yang menyebarkan virus ke software PC di rumah serta kantor. Wacana busuk dalam teks politik mengakibatkan kemacetan lalu lintas, selain hingar bingar yang memekakan itu. Ah, saya tidak berani meneruskan wacana busuk versi ini (yang subjektif) dalam teks politik yang tidak tepat. Pembaca yang budiman, manakala kita bersikukuh pada satu pendirian (baca: wacana), dalam hal apapun bisa fatal. Kendati wacana tertentu tentang busuk tengah trendy dan sempat jadi perbincangan khalayak. Alhasil, wacana teks keindonesiaan dipahami sangat banyak. Puluhan juta rakyat Indonesia usia remaja, dan dewasa berhak memaknainya. Puluhan juta anak-anak Indonesia juga mempunyai hak yang sama.

Kata Akhir

Wacana satu kata (misalnya busuk) dengan kata lain butuh kesepakatan definisi, penilaian, aplikasi, dan substansi. Supaya kesepakatan-kesepakatan tadi berjalan mulus, tidak melahirkan wacana baru dan seterusnya. Sebagai anak bangsa Indonesia (yang sudah paham Wacana Indonesia Tanah Airku), kita mesti secara jujur memaknai kata busuk. Pada tingkat ekspresi, supaya busuk tidak terus menerus menggoyang wacana keindonesiaan, agaknya setiap elemen masyarakat harus tampil berani mengedepankan aspek kejujuran berbangsa. Jujur dalam setiap tindakan. Jujur melaksanakan amanat rakyat. Setelah itu barulah kita ratifikasi kesepakatan nasional dengan harapan kondisi negeri tercinta berderak maju. Jika sudah demikian anakku (mengutip puisi kecil Jendral Mc Arthur), Beranilah aku berkata: Tidak sia-sia aku hidup sebagai bapaknya. Benarkah demikian? Wallahu `alam. @


Responses

  1. tulisan pendek ini terilhami ketika ramainya isu politisi busuk menjelang pemilu legislatif 2004


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: