Oleh: da2ngkusnandar | Juni 26, 2009

Cemeng di Cirebon

Catatan Dadang Kusnandar

CEMENG teringat kembali ketika akhir 1980 berlangsung kenduri kesenian rakyat itu di Kecamatan Sindanglaut Kabupaten Cirebon. Sukses Cemeng 2005 karya Nano Riantiarno adalah sukses para seniman dan peminat seni tradisi. Kesenian rakyat yang marginal, pilihan dan kecenderungan kepada sesuatu yang baru dengan tetap memperlihatkan nilai lama, agaknya merupakan kesatuan bagi napas kesenian tradisi cirebon. Dengan nama lain cemeng adalah ekspresi kesenian rakyat yang kian tergusur itu. Tapi adakah muatan lain dan kerinduan mengusung seni tradisi sebagai bagian hidup? Kesejatian di sini adalah juga kerja kesenian yang cerdas dan keras itu.

Suatu pagi, akhir Februari 2004 lalu, seorang ibu bertutur tentang cemeng yang dipahaminya dengan nama Mang Cemeng (Mang, panggilan merakyat di Cirebon kepada laki-laki dewasa dengan berbagai profesi: misalnya Mang Becak berarti tukang becak). Ia juga menyebut nama Mang Salim. Rusiti, pedagang kecil yang aktif di pengajian RW yang tinggal di RW 07 Warnasari Kecamatan Kesambi Kota Cirebon bercerita dengan pemahamannya, di tahun 1960-an sepanjang Jalan Kesambi dan Jalan Pulasaren adalah arena pentas kesenian rakyat cirebon. Katanya, cemeng merupakan penggabungan pencak silat, longser (tayuban), sulap Pakistan, Reog Balul (seni rakyat yang mendahulukan bodoran (guyon) untuk menyedot penonton lantas bercerita tentang apa saja melalui dialog antar pemain), dan masih banyak lainnya.

Katanya, sebelum Apotik Azimat berdiri, di situ adalah lapangan yang diapit pom bensin dan garasi mobil milik keluarga Haji Ahmad Mukti — di situlah cemeng ngemprung, memikat dan mengumpulkan ratusan penonton. Di lokasi itu ada pedagang air bersih dengan gerobak dorongnya yang masih bertahan hingga sekarang, sehingga tak jauh dari situ ada nama Gang Ledeng di Jalan Kesambi Cirebon. Kesenian rakyat itu menghibur sejak pukul 4 sore hingga larut malam.

Lokasi lain pentas cemeng ialah lapangan Keraton Kacirebonan. Jalan Kesambi [tepatnya di depanhotel prodeo (LP)] hingga Jalan Pulasaren lebih kurang 500 meter ternyata menyimpan banyak kenangan kesenian rakyat cirebon. Kenangan itu mungkin antara lain karena cantiknya paras Iis, sang primadona cemeng, selain hiburan yang disajikan seniman di ruang terbuka (meski tidak dinamakan Broadway). Nama seniman cemeng yang masih diingat Rusiti adalah Asoi, Mang Salim, dan Kucrit.

Bagi Bung Kardi, tokoh masyarakat dan pemerhati Kota Cirebon, Mayor TNI (Purn) Tatang Suwardi adalah peletak dasar pembangunan kota. Walikota Cirebon 1961 -1966 itulah yang menetapkan arah kebijakan pemda Kotapradja Tjirebon. Katanya yang paling penting adalah menyediakan kebutuhan rakyat dari melek (bangun tidur) sampai melek lagi. Artinya kebutuhan hidup sehari-hari harus tersedia. Maka air bersih bagian vital kehidupan rakyat didahulukan, salah satunya tepat di lokasi pentas kesenian rakyat (Cemeng). Bung Kari meneruskan, pagi sampai sore rakyat kerja keras mencari nafkah; maka sore hingga malam ada hiburan berupa kesenian rakyat.

Rusiti kembali menjelaskan berhadapan dengan lokasi pentas cemeng adalah warung nasi Haji Dulmanan, semula adalah tempat parkir sado dengan kuda sebagai tenaga intinya. Penataan parkir yang bagus itu memberi kontribusi enaknya pakansi (berlibur) bagi warga cirebon.

CEMENG yang terus tergusur zaman mengingatkan kembali pentas kesenian rakyat, tidak mesti bayar jika tak ingin, namun kerelaan penonton untuk sawer uang receh  membantu menghidupkan seniman cemeng, sekecil apapun. Kabarnya aktor/ artis dan nayaga cemeng tinggal mengontrak rumah di Gang Djati, samping rel KA Jalan Lawanggada. Mang Salim (kadang dipanggil Bang Salim) tokoh bodoran Reog Balul tinggal di Gang Djati. Ingat Gang Djati, ingat Kopi Bola Dunia yang harum langganan ibu saya. Kopi home indutry milik keluarga tionghoa itu kini sudah tiada. Dulu saya sering dilayani saat beli kopi Bola Dunia oleh taci (dari kata cici) yang cantik.

Pom bensin, garasi, stanplat oplet luar kota (kini kantor PD Pasar), warung nasi lengko di “gang” buntu samping Apotik Azimat, pedagang air bersih, pasar Kagok, parkir sado (per), Gang Djati, halaman Keraton Kacirebonan — mau tidak mau menguatkan kembali kepedulian pemda Kotapradja Tjirebon terhadap kesenian rakyat. Kebutuhan rakyat (dari melek sampai melek lagi) yang tidak mengganggu uang dapur.

Sulap Pakistan adalah pemain sulap yang dijulujki Pakistan, biasa mentas di Jalan Kesambi. Selain dia, ada wong edan Sami`ah yang juga menggelitik kenangan kecil saya. Sami`ah biasa tidur di bawah pohon Kesambi (sejenis pohon asem yang berbuah bagai pelepah sekira 30 – 40 cm) di depan bui (penjara). Pakistan sukses mengumpulkan penonton tanpa promosi apa pun. Puluhan orang berkerumun, kagum, takjub, dan ada yang membeli produk obat jualnya.

Napas kesenian rakyat cirebon, menurut seorang kawan, kembali kepada orang cirebon sendiri. Napas itu akan ditentukan oleh kreativitas “pemangku” kesenian tersebut.

Sulap Pakistan telah tiada, seperti halnya sebagian besar Cemeng. Panggantinya adalah Oriental Sircus yang kerap manggung di lapangan atau sulap yang tampil di tv. Tayuban (longser), Pencak Silat, Reog Balul, Sulap Pakistan terhenti ketika awal 1970 arena pertunjukkan cemeng dilalap si jago merah, lantas puing-puing cemeng berubah jadi Apotik Azimat sampai sekarang. Seiring dengan apotik, tempat parkir sado berganti jadi warung nasi kaji Dulmanan.

Ada juga yang mengatakan, paska cemeng muncul Tarling Jayana (lihat: blog saya tentang Tarling Nada Budaya). Meminjam Rusiti, Jayana (bahasa Cirebon: Jaya waktu Semana, artinya jaya ketika itu). Model pertunjukkan cemeng yang ngemprung/ bebarang/ ngamen harus berhadapan dengan model pertunjukkan panggung  yang ditanggap oleh pemangku hajat.

Cemeng menurut Dino Sahrudin, Ketua Badan Pengelola Gedung Kesenian Nyi Mas Rarasantang Cirebon, bebarang di stasiun KA, stanplat oplet Jalan Kesambi, latar di perkampungan, serta tokoh Tionghoa yang mengundang pentas cemeng. Sementara Tarling Jayana diundang sebagai hiburan pada hajatan kawinan atau khitanan dan sebagainya. Konon selain tarling, ceramah agama yang tampil saat hajatan ikut berperan menggusur cemeng.
Semula kesenian rakyat yang ngemprung itulah satu-satunya hiburan di acara hajatan.

Ngemprung/ ngamen barangkali dianggap sama selama dimanage secara profesional. Inilah sebabnya upaya menghidupkan kembali kesenian rakyat cirebon harus dilakukan oleh seluruh elemen masyarakat bersama para pemimpinnya.***

(ditulis kembali dari opini saya di Harian Radar Cirebon, Minggu 29 Maret 2004)


Responses

  1. kenapa kesenian tradisi gak lagu ditanggap. Ini penting kita cermati. Kesenian tradisi di Cirebon tak pernah berubah. Kalau rakyat suruh nonton atau nanggap, kesenian yang itu-itu saja, ya lama-lama gak ada yang nonton. Paling yang masih terbilang bisa bertahan adalah kesenian tarling dan masres, yang punya usnur cerita dan lagu yang bisa terus berganti, sehingga rakyat bisa menikmatinya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: