Oleh: da2ngkusnandar | Juni 26, 2009

Djiaw Kie Song

Oleh Dadang Kusnandar

Selasa, 29 Januari 2008, bagi saya adalah hari yang melelahkan lantaran ekspos media massa yang berlebihan mengenai meninggalnya mantan Presiden Soeharto. Memasuki hari ketiga, sepertinya tidak ada yang layak dibincangkan kecuali HMS. Bayangkan : dengan tujuh hari berkabung, perintah pengibaran bendera setengah tiang, HMS sudah dipatok jadi “pahlawan”. Pinjam majalah Tempo– suka atau tidak suka sejak ia masuk RSPP hingga wafat, ia masih seorang master dengan kuasa penuh. Pejabat tinggi keluar masuk membesuknya. Turun naik fungsi jantungnya, menelan berita apa pun yang bekejaran di Indonesia. Mungkin kita saat itu lupa perseteruan Barak Obama vs Hillary Clinton, mungkin juga lupa korban lumpur Lapindo masih meradang; semua seakan milik HMS.
Lelah yang mesti terobati itu, tiba-tiba dikejutkan sms keponakan saya yang berusia 13 tahun dan baru kelas 1 SMP di Tangerang. “Wak, pinjam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”. Tentu saja saya kagum sembari heran, apakah sms itu atas perintah orang tuanya. Namun ketika ditelepon, ia menjawab, “Habis capek wak, beritanya Pak Harto semua. Untuk perbandingan, aa mau kenal Bung Karno”. Luar biasa!
Soal sms keponakan juga saya ceritakan kepada Suryana, teman dan sahabat yang kini menjabat Anggota Komisi II DPR RI. Suryana berkomentar, tua ya pikirane. Lantaran buku tersebut yang saya miliki ketika SMA, kini entah di mana, saya berusaha pinjam. Bukan apa-apa, supaya  Nurhadiyanto  (keponakan)  memahami  sosok Bung Karno bukan kata saya, tetapi Cindy Adams yang berdialog langsung dengan Bung Karno.
Hari melelahkan akibat tak berimbangnya pemberitaan media massa itu pun semakin melelahkan tatkala setelah HMS wafat, penyiar televisi dengan mata sembap semakin bersemangat menyiarkan kebaikan dan kisah sukses. Jam tayang ditambah, rating meningkat mengalahkan sinetron mana pun. Usaha “menggoreng” perasaan rakyat lewat TV bisa dikatakan berhasil.
Bagi saya, HMS bukan pahlawan, bukan pejuang, bukan orang hebat dengan track record bagus. Seorang KNIL alias spionase Belanda. Teringat tragedi 1965 yang terkubur dengan kepergian HMS, teringat betapa  murah harga nyawa manusia, dan sebagainya. Belum lagi tersumbatnya demokratisasi atas nama stabilitas nasional yang digiring melalui senapan.
Dalam keadaan itu, ada sms mampir yang berbunyi: “Tolak hari berkabung nasional. Tolak pengibaran bendera setengah tiang. Soeharto penjahat HAM”. Pengirimnya, dr Ribka Tjiptaning yang “heboh” dengan buku pertamanya, Aku Bangga Jadi Anak PKI.
Beruntung saya masih punya banyak teman yang tidak menokohkan HMS bagai dewa yang untouchable. Bahkan Fadjroelrachman, intelektual dan aktivis yang terus meroket itu dengan enteng menyebut : Indonesia bukan negara halal bihalal. Ungkapan itu katanya sekaligus untuk mengusut kasus korupsi dan kejahatan lainnya yang ditinggalkan HMS bagi negeri tercinta ini.

Rengasdengklok
Untuk mengurai kelelahan di atas itu tadi, rumah penculikan Bung Karno dan Bung Hatta 13 Agustus 1945 yang dilakukan sejumlah pemuda, antara lain Sukarni, jadi alternatif. Rumah itu kini tidak terletak seperti semula, dipindahkan sejarak 100 meter dari pinggir Kali Citarum. Terletak di Kampung Bojong Tugu Desa Rengasdengklok Kecamatan Rengasdengklok Kabupaten Karawang, tepatnya di Jalan Pahlawan.
Berbincang dengan penduduk setempat (saya lupa menanyakan namanya), nenek berusia 80-an yang sudah berangkat haji dan kini menjaga warung kecil dekat kediaman Djiaw Kie Song, berhasil mengurai kelelahan. Katanya, Indonesia tidak akan merdeka tanpa Bung Karno. Waktu penculikan itu, ia tergolong perawan tanggung (katanya, keur memejehna (Bhs Sunda)). Sambil minum kopi dan menghisap sebatang rokok, nenek terus bertutur tentang peristiwa 64 tahun lalu itu. Tentang penjagaan ketat, tentang hiruk pikuk warga Rengasdengklok yang ingin melihat wajah ganteng Bung Karno, juga tentang rumah Kie Song yang bersejarah itu.
Ketemu juga rumah papan itu tak jauh dari situs monumen Kebulatan Tekad Rengasdengklok. Ah, lagi-lagi saya tidak suka istilah yang terus disampaikan Harmoko menjelang pemilihan presiden (HMS). Kata Suryana, harusnya bernama Monumen Ikrar Merdeka.
Memasuki Jalan Pahlawan, ada garupa besi yang menandakan pentingnya jalan kecil itu. Rumah papan dengan halaman luas saat itu tertutup, tapi lantas dibukakan sesaat setelah diberi tahu warga setempat.
Tak ada kesan mewah apalagi berlebihan. Kursi tua di ruang tamu, altar kayu dilengkapi foto-foto Bung Karno, Bung Hatta, Ibu Fatmawati, dan tentu saja foto Djiaw Kie Song dengan kacamata lensa bundarnya. Kamar depan bagian kanan, tutur cucu perempuan Diaw Kie Song, adalah tempat tidur Bung Karno. Dan kamar bagian kiri tempat tidur Bung Hatta. Ranjangnya sudah “diamankan” di Museum Sri Baduga Maharaja di Bandung sebagai bagian penting perjalanan sejarah kemerdekaan RI. Tapi di altar kayu itu ada gambar Megawati Soekarnoputri yang diberi bingkai kaca.
Rumah papan yang sederhana dengan cat tembok putih biru muda itu pun lebih sering sepi dari ingatan sejarah. Terlebih di zaman kini yang diam-diam menggiring manusia untuk melupakan sejarah, mungkin karena masa depan jauh lebih penting daripada masa lalu. Rumah Djiaw Kie Soeng juga luput dari liputan media massa, selain luput dari pemeliharaan situs sejarah Pemda Kabupaten Karawang.
Betapa tidak. Jangankan rumah Kie Song, situs monumen dengan pekik Merdeka yang diabadikan kepalan tinju tangan kiri di tengahnya, terkunci. Mana mungkin naik ke pagar besi, malu ditonton orang lain. Kami hanya melihat relief sepenggal kisah penculikan dari luar pagar. Ada relief diskusi, Bung Karno dan Ibu Fat sambil memangku Guntur Soekarnoputra, relief pesawat terbang, pengibaran bendera merah putih, juga rumah Djiaw Kie Song.
Djiaw Kie Song meninggal dunia tahun 1964. Ada fotonya waktu bersalaman dengan Ibu Fatmawati di istana negara.
Sebelum pamit kepada tuan rumah, di buku tamu saya menulis: Merdeka itu kiri sebagai perlawanan terhadap kapitalisme. Catatan pendek itu tak lupa saya tandatangani, juga oleh Suryana.
Terpikir seketika, seandainya Pemda Kabupaten Karawang serius mengelola situs ini secara profesional. Pertama, sediakan panduan sejarah Rengasdengklok 13 Agustus 1945, bisa berupa buku atau lainnya. Kedua, buat semacam loket pembayaran bagi pengunjung. Ketiga, ada guide yang menuntun keingintahuan pengunjung. Keempat, biasakan pelajar (khususnya di Kabupaten Karawang) mengetahui situs ini dan menuliskannya sebagai laporan. Kelima, buka jalur kendaraan angkutan umum ke dan dari situs. Kami menumpang becak untuk keluar area.
Perawatan barang sejarah tentu saja penting untuk merangkai kembali jalinan masa lalu sebagai bagian integral keindonesiaan. Situs sejarah yang betebaran di Indonesia, mau tidak mau, harus dipelihara dan disemaikan makna di balik situs kepada generasi penerus. Bukan saja untuk diingat, melainkan untuk dipelajari dan dipatrikan semangat nasionalisme.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: