Oleh: da2ngkusnandar | Juni 26, 2009

Gitar Akustik

Panggung pentas tarling Candra Kirana pimpinan Mama Djana Rabu 17 Juni 2009 di alun-alun Kasepuhan Cirebon, meski tidak membawakan lakon utuh — tetap saja menarik perhatian penonton. Tarling yang secara umum terbagi jadi tiga fase : adanya lakon yang ditampilkan, goro-goro (guyon), dan request lagu dari penonton. Secara umum pemilahan fase pentas tarling merupakan kiat seniman tarling melibatkan penonton sehingga tidak jenuh mengikuti / menyimak tarling.

Tarling kerap dimaknai dari sinonim giTAR dan suLING lantaran dua pekerja musik yang dominan pada pentas tarling, meski dalam perkembangannya ditambah dengan pekerja musik lainnya seperti organ, gendang, dan seperangkat gamelan. Namun meminjam obrolan saya dengan budayawan asal Desa Jemaras Kecamatan Klangenan Kabupaten Cirebon, Salana (alm) tahun 2001 — tarling dimaknakan sing melaTAR kudu eLING, artinya yang melatar harus sadar. Kartani dari Desa Singakerta Kecamatan Celancang Kabupaten juga mengatakan begitu, seperti juga Mamae Titin alias Askadi Sastrasuganda, serta Kang Ato atau Sunarto Sastraatmadja. Sing melaTAR kudu eLING menunjukkan pentingnya kesadaran manusia akan kuasa dan kebesaran tuhan, dan bagi mereka yang melatar atau melakukan perjalanan di hamparan bumi maka harus selalu eling.

Dua patah kata yang sarat makna, bukan semacam kirata (kira-kira nyata) melainkan memuat makna kesungguhan manusia untuk tidak saja mendekatkan diri kepada ilahi akan tetapi output pendekatan kepada ilahi itu harus diadaptasikan ke dalam kehidupan nyata. Kehidupan sehari-hari yang heterogen tanpa saling menghujat serta mendendam. Realisasi ajaran (sistem nilai) agama itulah sesungguhnya inti pertunjukkan tarling.

Lantas apa yang kita perbuat setelah tahu makna di balik tarling? Sepenggal kisah perjalanan Mama Djana Maret 2009 justru cukup pilu. Gitar akustik miliknya rusak, tidak dapat digunakan lagi. Mungkin saking tuanya atau katena hal lain, ia tak bisa pentaskan tarling. Kisah pilu dalam sepenggal kehidupan Mang Djana terdengar Suryana (biasa dipanggil Iyus) anggota DPR RI yang kini berusia 48 tahun asal Cirebon yang menyukai seni tradisi. Akhir Maret 2009 Iyus membelikan sebuah gitar akustik lantas mengantarkannya ke rumah Mang Djana di Kanoman Cirebon. Tentu saja Mang Djana kaget, haru campur bahagia, karena masih ada orang yang peduli dan respek pada seni tradisi Cirebon yang pelahan namun pasti tergusur seni “modern”.

Begitulah. Sepenggal kisah gitar akustik untuk Mang Djana akhirnya menyebar ke sejumlah seniman. Tanpa tendensi apa-apa Iyus memberikan gitar akustik agar Mang Djana dapat kembali tampil memainkan tarling. Tidak cuma itu, sebulan kemudian (April 2009) Mang Djana beserta tarlingnya diundang pentas di halaman rumah Iyus di Mandalangan Kasepuhan Cirebon. Bukan acara hajatan, tapi Iyus hanya ingin menghibur masyarakat. Tak pelak Mang Djana dan grup tarling Candra Kirana semakin dekat secara emosional kepada Iyus.

Tulisan pendek ini bukan mengada-ada, apalagi memuji teman saya Iyus. Saya menuliskan ini karena di zaman kini kepedulian atas nasib seni tradisi bagai terjun ke tubir gelap dan sunyi. Ketika ada seseorang (seperti Iyus) melakukan kebaikan atau kesalehan sosial, bagi saya di sinilah makna sing melatar kudu eling, menemukan muaranya. Iyus yang melatar terbukti eling akan pentingnya mempertahankan seni tradisi di tengah gerusan zaman yang berlari. Apakah Mang Djana minta dibelikan gitar akustik sebelumnya kepada Iyus? Tidak!

Sepenggal kisah gitar akustik mengilhami kita tentang perlunya memberikan sesuatu kepada yang perlu bukan dalam bentuk uang. Gitar akustik sebagai “senjata” Mang Djana melatar akhirnya menghidupkan kembali grup tarling Candra Kirana.

Rabu 17 juni 2009, tarling Candra Kirana mentas di panggung alun-alun Kasepuhan pada Pekan Budaya Seni Film yang digelar Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Mang Djana dengan kumis tipisnya malam itu tampil sumringah, bukan karena bakal dapat honor, tapi karena lokasi pentas dekat dengan kediaman Iyus. Demikianlah. Malam itu sinden, kang Sador, dan Mang Djana menyebut nama Iyus berkali-kali meski Iyus tidak ada di lokasi pentas tarling. Iyus saat itu tengah asik main catur di sekretariat DPC Pemuda Demokrat Indonesia Kota Cirebon, sejarak 50 meter dari panggung acara.

Lagu spontan yang ditujukan buat Iyus berbunyi : Aduh Mama Kaji Suryana……….. lantas sinden menyahut : Mama Kaji Suryana sing kasep. Disambut lagi : Kasep priben durung weruh wonge. Artinya : Aduh Bapak Haji Suryana, Bapak Haji Suryana yang ganteng. Ganteng bagaimana belum tahu orangnya. Lagu spontan pun mengalun : Kembang Boled. Lagu pantura yang mengisahkan seorang lelaki mesti kembali pada kesejatiannya, bukan hilang keperwiraannya.

Manakala Iyus disebut berulang kali dari atas panggung, saya mengirim pesan pendek ke ponselnya : malam ini panggung kesenian milik anda. gitar akustik itulah point of view anda bagi grup tarling Candra Kirana.


Responses

  1. ok. sebagai staf ahli, anda layak jadi sosok sahabat setia.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: