Oleh: da2ngkusnandar | Juni 26, 2009

Ketahanan Pangan

Oleh Dadang Kusnandar
Penulis lepas tinggal di Cirebon Jawa Barat

KETAHANAN pangan nasional hingga kini masih sebatas wacana. Pembahasan berlarut-larut dengan anggaran besar belum menghasilkan jawaban yang kredibel. Berbagai argumen yang dilontarkan pakar pertanian, agro bisnis, agro industri, eksekutif dan legislatif belum benar-benar mencerminkan kebijakan publik yang representatif. Dari hulu ke hilir, dan sebaliknya, sistem ekonomi pasar agaknya lebih dikedepankan. Iming-iming bahwa penguasaan pasar sama dan sebangun dengan penguasaan ekonomi, menegaskan adanya disorientasi kebijakan publik.

Dalam beberapa hal, ketahanan pangan nasional selayaknya jadi rujukan utama dan pertama dengan titik tekan kemudahan distribusi (plus perolehannya), juga harga yang terjangkau masyarakat. Dua hal tersebut di atas diharapkan mampu terwujud, sehingga swasembada pangan menjadi stereotif Indonesia yang agraris ini. Mudah dan murah, dua kata sederhana akan tetapi sering sulit pada tahapan aplikasinya.

Berbekal niat mempermudah perolehan pangan bagi seluruh rakyat dengan harga murah, kita tidak ingin menyaksikan rakyat Indonesia menyantap nasi bekas yang dikeringkan (sega aking) sebagaimana dialami warga Kabupaten Cirebon akhir 2007 lalu. Kita tidak ingin lagi menyaksikan rakyat Indonesia yang kelaparan sembari mengais makanan sisa (sampah) sebuah restoran. Begitu pula kita tidak hendak lagi melihat dan mendengar jerit petani yang terbelit tengkulak.

Jika kemudian muncul kelaparan lantaran salahnya distribusi pangan dan mahalnya harga pangan, semestinya menjadi prioritas utama dalam hal antisipasi kelaparan. Menurut Topix Forum Malaysia, paling sedikit ada 23,63 juta penduduk Indonesia yang terancam kelaparan saat ini, diantaranya 4,35 juta tinggal di Jawa Barat. Ancaman kelaparan ini akan semakin berat, dan jumlahnya akan bertambah banyak. Seiring dengan mereka yang terancam kelaparan adalah penduduk yang pengeluaran per kapita sebulannya di bawah Rp 30.000,00.

Di antara orang-orang yang terancam kelaparan, sebanyak 272.198 penduduk Indonesia, berada dalam keadaan paling mengkhawatirkan. Dari jumlah itu, sebanyak 50.333 berasal dari Jawa Barat, diantaranya 10.430 tinggal di Kabupaten Bandung dan 15.334 orang tinggal di Kabupaten Garut. Mereka yang digolongkan terancam kelaparan dengan keadaan paling mengkhawatirkan adalah penduduk dengan pengeluaran per kapita di bawah Rp 15.000,00 per bulan sebanyak 14.108.

Meskipun (boleh jadi) data di atas tampak mengada-ada, namun setidaknya ada kegetiran yang terus meradang di masyarakat kita. Masyarakat yang seharusnya diberikan (dan memperoleh) pelayanan publik yang memadai dalam soal sandang, pangan, dan papan. Seminor apa pun penilaian pihak lain tentang kondisi pangan dan kelaparan di Indonesia, selayaknya penilaian tersebut membuat kita lebih bijak ketika menetapkan kebijakan publik di sektor pangan. Kabarnya, menurut The Hunger Project PBB, Program Pangan Sedunia PBB, FAO, OXFAM, UNICEF dan lembaga berkompeten lainnya; kelaparan dan kekurangan pangan (malnutrisi) berakibat fatal pada kerusakan indra penglihatan, kurang semangat, kelambanan pertumbuhan badan dan meningkatnya kerawanan terhadap penyakit. Penderita malnutrisi berat tidak berdaya untuk melakukan kegiatan ringan sehari-hari.

Kendala
Banyak faktor penyebab lemahnya ketahanan pangan nasional yang berakhir pada ironi bangsa. Bayangkan, negeri dengan SDA memadai serta luas lahan pertanian sebesar 107 juta hektar dari total luas daratan Indonesia sekitar 192 juta hektar, ternyata masih menyimpan cerita-cerita pilu. Berdasarkan data Biro Pusat Statistik (2002), tidak termasuk Maluku dan Papua, sekitar 43,19 juta hektar telah digunakan untuk lahan sawah, perkebunan, pekarangan, tambak dan lading; lebih kurang 2,4 juta hektar untuk padang rumput, sedangkan 8,9 juta hektar untuk tanaman kayu-kayuan; dan lahan yang tidak diusahakan seluas 10,3 juta hektar (Republika, 16/6/2006).

Faktor tersebut antara lain tidak berimbangnya produksi pangan dengan populasi penduduk. Aksioma Robert Malthus tentang deret ukur dan deret hitung agaknya dapat dirujuk di sini. Kendati tidak berlaku pada seluruh negara, tapi bagi negara berkembang yang sering dilanda kasus pangan, Malthus mendekati benar. Konon 10% anak-anak di negara berkembang meninggal sebelum mereka berusia lima tahun. Kebanyakan dari kematian karena lapar disebabkan oleh malnutrisi yang kronis akibat penderita tidak mendapatkan makanan yang cukup. Sering kali hal ini terjadi karena kemiskinan yang parah.

Faktor kedua, ini yang krusial, belum ditemukannya format kebijakan publik yang representatif dalam hal ketahanan pangan nasional. Impor beras dari Vietnam yang mengundang polemik, bahkan menyeret pelakunya ke pengadilan, kisah lumbung padi yang kini menghilang, kelaparan di daerah subur, kelangkaan pupuk berikut harga pupuk yang terus naik, heboh kenaikan harga kedelai dan minyak goreng akhir 2007 lalu, bahkan petani yang berubah status menjadi buruh di tanah sendiri.

Ketiga, fluktuasi harga pangan yang tidak pernah stabil. Menurut Suara Pembaruan (3/3/08), meski kenaikan harga bahan baku pangan diprediksi akan naik kuartal kedua tahun 2008, namun sejumlah harga bahan baku pangan di pasaran terus melonjak. Tepung terigu tercatat kenaikannya sangat mencolok.

Antisipasi
Negara bagian Iowa di Amerika Serikat tak sekadar dikenal sebagai lumbung pertanian Negara, melainkan penghasil devisa yang cukup besar bagi negara adidaya itu. Ada baiknya kita mengadopsi mekanisme, teknis, dan distribusi hasil pertanian Iowa itu di Indonesia. Ketersediaan alat-alat pertanian modern yang memadai dan dimenej pemerintah, petugas penyuluh pertanian yang mesti diperbanyak, agaknya mampu mengembalikan negeri agraris ke proporsinya.

Mau tidak mau, jika ingin tercipta ketahanan pangan nasional, harus ada political will pemerintah dengan dukungan segala pranatanya. Ketahanan pangan nasional menunjukkan kemampuan negara menyediakan sarana dasar kehidupan warganya. Demikianlah.**)


Responses

  1. tulisan ini dipublikasikan di jurnal departemen komunikasi dan informasi jakarta

  2. Bro Dadang Kusnandar disana, saya mohon perhatiannya.
    Saya orangnya tidak terbiasa putar sana sini dulu, jadi langsung saja yach.
    Mohon di lain waktu, bila membuat artikel jangan mengambil bahannya dari Topix, forum Malaysia.
    .
    Disana terlalu banyak pengadu domba antar netter antar para anggota forum. Mereka bicara asal dan mengubah kalimat sesuka hati.
    Menurut saya pribadi, tulisan-tulisan mereka disana tidak dapat dijadikan referensi untuk sebuah artikel yang layak untuk konsumsi umum.
    .
    Ya, saya tahu kebebasan ada ditangan anda, tapi mohon pertimbangannya bila hendak mengambil bahan dari Topix, Forum Malaysia.
    .
    Terima kasih atas waktu dan kesempatannya.

  3. TERIMAKASIH ATAS INFORMASI DAN TULISANNYA, CUKUP BERMANFAAT BUAT BACAAN/REFRENSI UNTUK REGENERASI. KUNJUNGI JUGA SEMUA TENTANG PAKPAK DAN UPDATE BERITA-BERITA DARI KABUPATEN PAKPAK BHARAT DI GETA_PAKPAK.COM http://boeangsaoet.wordpress.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: