Oleh: da2ngkusnandar | Juni 26, 2009

Masres, Sandiwara Rakyat

Catatan Dadang Kusnandar

AGAMA sering jadi inspirasi kesenian. Ruh atau semangat agama terasa menjiwai pentas kesenian dari pesisiran Utara Cirebon. Penyebaran Islam di Jawa Barat sekira abad 14 – 15 tampaknya tidak sekadar dicatat sebagai babad (kisah) semata. Cerita yang turun temurun disampaikan dari mulut ke mulut (leluri) kemudian dibakukan dalam seni panggung dengan ruh agama. Maka seni Islam merupakan media hiburan yang relevan dengan dakwah.

Agaknya “islamisasi” pewayangan oleh Sunan Kalijaga bisa dikatakan peletak awal di bidang budaya, khususnya kesenian. Atas persetujuan Sunan Ampel, kisah pewayangan dan peralatannya jadi sarana siar agama ke pelosok Jawa yang telah ratusan tahun berkultur Hindu.

Kecamatan Celancang Kabupaten Cirebon, tepatnya Desa Bedulan sejak awal 1960 telah mengenal seni drama Masres, teater rakyat yang sarat pesan moral. Amad, pendiri masres mengadopsi babad Cirebon sejak Sunan Gunungjati membumikan agama Islam di Cirebon hingga melebar ke bagian lain di Jawa Barat. Cerita turun temurun warisan leluhur mengenai sejarah persemaian agama ini diangkat ke dalam teater rakyat.

Judul-judul favorit Masres biasanya adalah: Babad Alas Muara Tua atau pembukaan hutan Muara Tua (kabarnya Muara Tua adalah nama sebelum Cirebon), Bumi Celancang/ Hikayat Syekh Windujati, dan yang paling populer Ngalangi Grebeg Muludan. Tiga lakon di atas sangat sinkron dengan kisah penyebaran agama islam.

Babad Alas Muara Tua mengungkap kiprah para utusan Syekh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunungjati) ketika membuka hutan sekitar daerah Gunungjati sekarang; mendirikan pesantren, mesjid dan kasunanan yang kala itu masih “berafiliasi” ke kerajaan Demak di Jawa Tengah. Lakon Syekh Windujati bertutur mengenai islamisasi bumi Celancang oleh beliau. Sedangkan Ngalangi Grebeg Muludan mengungkap penghentian upeti kasunanan Cirebon ke kerajaan Galuh dan Pajajaran.

Kemarahan pihak Galuh yang diteruskan dengan penyerbuan ke Cirebon disambut dengan perang tanding. Meminjam Babad Cirebon karya Pangeran Sulendraningrat, kekalahan Galuh pada 1528 merupakan keberhasilan pertama Cirebon yang diteruskan dengan “penaklukan” daerah lain di Jawa Barat. Pangeran Wiralodra dari Indramayu menyerah dan menggabungkan wilayahnya dengan Cirebon di tahun itu juga. Talaga (kabupaten Majalengka) tahun 1529, Kuningan tahun 1529 — setelah sebelumnya Banten secara damai memeluk Islam pada 1526. Penyebaran juga berlanjut ke Sunda Kalapa (Jakarta) pada 1527.

Ngalangi Grebeg Muludan akhirnya begitu populer, sebab upeti rakyat lantas beralih ke keraton Pakungwati (sebelum bernama Kasepuhan, Kanoman, dan Kacirebonan) yang ketika itu dipimpin oleh putra Sunan Gunungjati.

Masres Budi Darma
Sejak didirikan Komara, pensiunan guru SMT Pertanian Cirebon, pada tahun 1976, grup sandiwara ini pentas per tahun rata-rata 34 kali terhitung 1986 – 1995. Padahal tahun 1978 – 1985 mereka pentas 60 kali per tahun. Umumnya manggung pada pasca panen dan bulan Syawal. Dengan aktor/ aktris dan nayaga sebanyak 50 orang, grup ini telah melanglang ke Tanjung Priok, Bekasi, Karawang, dan Lampung. Kesenian rakyat ini menggunakan setting panggung keraton Cirebon, dan berawak pemain muda (21 – 45 tahun).

Peralatan yang mahal, dekorasi tripleks berengsel sebagai prototipe keraton (l14 lukisan latar belakang suasana alam, halaman dalam, halaman belakang, halaman luar, serambi dan lain-lain). Belum lagi alat tetabuhan tradisional yang mesti diangkut sebuah truk saat hendak manggung, memungkinkan mahalnya tarif pertunjukkan : sekitar Rp 1 juta – Rp 2 juta sekali pentas hingga akhir 1995. Nilai Rp 2 juta itu tidak seberapa bila dibagi kepada 50 orang seniman sandiwara masres.

Diselingi lagu-lagu tarling (sesekali lagu dangdut, mungkin supaya tidak kalah dengan organ tunggal), juga lawakan atau Goro-goro yang tampil pada Perang Brubuh, masres memperoleh antusiasme penonton. Bisa jadi, minimnya hiburan rakyat yang gratis, terlebih bertutur sejarah cirebon menggunakan bahasa cirebon — masres dinantikan kehadirannya.

Yang menarik, para seniman masres punya pekerjaan sehari-hari di sektor informal: petani penggarap tanah orang lain, nelayan, buruh, tukang becak, bahkan pembantu rumah tangga. Maka berapa pun pendapatan (uang) paska pentas tidak begitu jadi soal. Ada pemisahan tegas antara seni dan uang.

Komara yang mengenal tari dan main masres pada 1963 itu mengaku merasakan ada kepuasaan batin dan punya penyaluran bakat seni yang diturunkan ayahnya. Katanya, ada wujud nyata mempertahankan kesenian tradisi berupa sejarah tempat tinggalnya, sejarah negerinya, dan lebih jauh lagi ia menyelami kompleksitas kehidupan masyarakat justru melalui sandiwara masres. Nama Budi Darma diambil dari padanan kata kebajikan yang berbudi atau perilaku baik/ terpuji.

Seniman masres tidak tergantung pada naskah atau transkrip skenario. Cerita mengalir tergantung pada kepintaran seniman di panggung. Mereka bebas berimprovisasi sepanjang tidak menyimpang dari ide cerita. Dengan demikian anggota baru wajib magang, yakni mempelajari secara intens kisah-kisah yang diangkat ke panggung pertunjukkan. Barulah setelah dinilai cukup mampu, ia diijinkan main sebagai figuran terlebih dahulu.

Perkelahian dengan senjata tajam seperti keris, golok, pedang, tombak serta obor bambu yang menyala –biasa tampil di panggung masres. Rata-rata pemain bisa bermain silat. Begitulah teater rakyat yang satu ini semakin hidup dengan gerak pergumulan di atas panggung: salto dan jurus-jurus bela diri persilatan. Hanya saja pemain perempuan umumnya bukan penduduk setempat tetapi perempuan muda dan cantik asal Indramayu.

Kendala Kendali
Faktor cuaca sering jadi penghalang pentas masres yang biasa tampil pukul 21.00 WIB – 02.00 WIB ini. Lamanya pertunjukkan tak urung menimbulkan hal-hal yang tak dikehendaki pada sebagian penonton iseng yang suka keributan.
Selain cuaca, perhatian Pemda Kabupaten Cirebon khususnya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, dan keraton Cirebon (kata Komara) boleh dibilang kurang. Terkesan menganaktirikan teater rakyat ini. Pemda Kota Cirebon pun termasuk jarang mengundang grup masres tampil menghibur. Tercatat Budi Darma baru sekali diundang dalam HUT Kota Cirebon dan dua kali diundang tampil oleh keraton Kasepuhan.
Kelangkaan dana, tidak adanya impresario kesenian, terlebih kurangyna upaya konkrit pemerintah menyeret masres pada keadaan: ia harus mandiri di tengah gempita budaya saat ini. Tahun 1990-an kenduri perseorangan lebih menyukai penampilan Layar Tancap dan Video. Padahal Budi Darma berharap kerja sama yang mutualis dengan pihak mana pun, hingga mereka bisa dikenal di kota-kota besar, bila mungkin ke manca negara. Ironinya sejak Budi Darma berdiri (1976) tidak mendokumentasikan aksi panggungnya.
Properti yang digunakan masres cukup mengagumkan: sekitar 14 tripleks berengsel untuk dapat berdiri di atas panggung dengan lukisan naturalisme karya seniman lokal berupa suasana hutan, desa, keraton dan pernik-pernik sekitarnya.
Memang sutradara Nano Riantiartno (April 1995) menampilkan Cemeng 2005 yang didanaio Dewan Film Negara. Cemeng 2005 di alun-alun Sindanglaut Kabupaten Cirebon itu mengangkat kesenian rakyat Cirebon berupa Genjring Dogdog, Lais, Gembyung, Tari Topeng, Burok dan lainnya. Meski secara testkis Nano juga menampilkan panggung dangdut di Cemeng 2005. Katanya ia ingin tahu minat dan apresiasi masyarakat terhadap kesenian tradisional. Dan panggung yang paling diserbu penonton ternyata : Dangdut! ***

(menurut Bapak Komara sudah 10 tahun ini Budi Darma “meninggal dunia”, beberapa properti dan gamelannya masih teronggok makin rapuh dimakan waktu di gudang  rumah orang tuanya di Celancang. Plang Grup Sandiwara Masres Budi Darma yang dekat rumah mertua saya sudah 3 tahun tidak ada lagi)


Responses

  1. tulisan ini dimuat di bandung pos 1996


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: