Oleh: da2ngkusnandar | Juni 26, 2009

Melodrama Agus Condro


Catatan Dadang Kusnandar

penulis lepas, tinggal di Cirebon Jawa Barat


MENGHANGATNYA kembali kasus Agus Condro Prayitno (ACP) dalam vit and proper test Miranda Goeltom (MG) dengan pencekalan untuk tidak bepergian ke luar negeri kepada 4 (empat) tersangka  Anggota DPR RI periode 2004 – 2009 yang ditetapkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), bagai setitik air di musim kemarau. Betapa tidak. Aktivitas dan hiruk pikuk jelang Pilpres 2009 boleh dibilang menggeser isu lain, termasuk pemberantasan korupsi, yang sebelumnya marak “dikomandoi” KPK.

Ada beberapa hal menarik atas ekspos publik menyangkut isu tersebut. Pertama, ACP tidak merasa memfitnah teman sejawatnya di DPR RI, khususnya Komisi IX yang saat itu menangani masalah keuangan & perbankan. Kedua, sanksi lembaga (DPR dan partai politik) yang terpaksa diterima ACP seyogianya juga harus dialami empat tersangka, sebagaimana ramai dilansir media massa belakangan ini. Ketiga, untuk berbenah tidak saja perlu keberanian melainkan juga butuh kesiapan psikis diperolok teman sejawat, bahkan oleh parpolnya sendiri. Keempat, aliran dana (uang) konsinyering ke DPR bagi berbagai kepentingan individu dan atau lembaga HARUS segera dihentikan. Ini penting jika DPR (legislatif) dan eksekutif hendak jadi teladan dalam membuktikan/ memperlihatkan good governance dan clean governance. Berikutnya, kelima, ternyata sepintar apa pun menyimpan bangkai baunya akan tercium juga ke luar dari tempat penyimpanan bangkai.

Membaca kasus yang diungkap (mungkin dengan malu-malu) oleh ACP, pria kelahiran Batang Jawa Tengah tahun 1961 itu seperti mengingatkan kita betapa mahalnya nilai sebuah kejujuran. ACP Vs MG, ACP Vs Fraksi PDI Perjuangan DPR RI; agaknya membuat kita jengah terhadap maraknya praktek korupsi di lembaga tinggi negara. Membaca kisah ini ternyata ampuh hingga menghentakkan ingatan dan kesadaran kita tentang perlunya bersikap jujur terhadap diri sendiri.

ACP memang salah saat menerima 10 helai travel cheque senilai @ Rp 50 juta yang konon juga diterima oleh semua Anggota Komisi IX DPR RI saat itu. Namun mungkin melalui  kontempelasi yang jujur (ACP berdialog dengan dirinya) ACP menganggap penting membongkar praktek KKN di DPR RI, tidak ada kata terlambat bagi kebenaran. Kebenaran, susuatu yang sunyi di tengah ramainya keinginan manusia atas kepemilikan bendawi serta kemewahan hidup.

Itu sebabnya ACP dianugerahi Nurani Award oleh Fakultas Hukum Universitas Indonesia, padahal belum lama ia dibantai fraksinya sendiri di Lantai 7 Gedung Nusantara I DPR RI. Ironis namun justru memperlihatkan melodrama politik yang membuat penontotn di panggung tonil mengerutkan kening, mengusap dada, atau mungkin menitikkan air mata. Melodrama politik yang masih segar pada ingatan kita antara lain ucapan eksplisit (dan tanpa malu) MG yang secara tegas mengatakan bahwa ia tidak kenal ACP.

Ya, bagaimana mungkin MG kenal ACP karena amplop berisi travel cheque bertuliskan ATP (Agus Tjondro Prayitno) bukan ACP. Dan sangat mungkin bukan MG yang membagikan amplop panas ukuran kabinet guna memperlancar kedudukannya di jajaran bergengsi di tubuh Bank Indonesia. MG juga membagikan milyaran rupiah bukan tanpa pamrih.

31 Mei 2009, teman-teman DPC Pemuda Demokrat Indonesia mengundang ACP jadi nara sumber seminar dalam acara Deklarasi Mega Garuda dan HUT Pemuda Demokrat Indonesia ke 62. Tak pelak ACP juga sedikit menuturkan kasusnya yang berakibat ia harus angkat kaki dari DPR RI dan dipecat dari PDIP. Yang menarik, ACP tidak memperlihatkan wajah letih dan putus asa. Sebaliknya ia menjadi ikon penting pada beberapa diskusi tentang pemerintahan, atau pun tentang korupsi di Indonesia. Katanya, di sebuah universitas di Jawa Timur saat jadi pembicara seminar mendampingi pakar ekonomi, ACP berbicara melampaui pendampingnya. Sang pakar hanya bicara lima menit dan selebihnya adalah waktu ACP. Uniknya seminar yang dipatok tiket seharga @ Rp 30.000,00 (tiga puluh ribu rupiah) itu, jumlah pesertanya membengkak hingga 600 orang. “Panitia pun menyediakan kursi dan televisi layar lebar di luar Gedung Serba Guna kampus”, ujar ACP kepada saya di Cirebon. Maksudnya agar audience yang tidak kebagian tiket dapat menyaksikan ACP bicara tentang korupsi.

ACP tidak terlihat kecewa, apalagi putus asa, kendati kasus yang dibongkarnya tidak memperoleh prioritas penyelesaian. Tubuhnya terlihat tidak segempal dulu sebelum ia mengungkap kasus yang sekaligus menelanjangi dirinya. Tapi sungguh saya cukup terkejut dalam sebuah tayangan televisi swasta, ACP tengah asik belajar agama kembali. Buku tebal edisi luks bertajuk “Ali Syari`ati” tergolek di meja bundar yang kerap dibaca ACP sambil lesehan. “Itu pendopo saya, mas. Singgahlah nang enggonku”, katanya kepada teman-teman Pemuda Demokrat Indonesia Kota Cirebon.

Bagi saya dan teman-teman di Cirebon, ACP merupakan sosok unik, sosok yang berani berkata ya pada kebenaran walaupun ia harus terjungkal dari karier politik yang telah lama dibangunnya di PDI Perjuangan, bahkan lama saat masih berlogo banteng gepeng. ACP seorang yang terbuka dan kini terus berupaya agar partai yang dicintainya jadi bersih, membela wong cilik bukan wong licik.

Selasa, 9 Juni 2009 setelah membaca beberapa berita terkait kasus ACP yang diangkat kembali oleh KPK, saya berkirim sms kepada ACP. “Mas, sebaiknya anda datang kepada orang pintar untuk belajar ilmu kebal senapan (seperti Sugali dalam lagu Iwan Falls) supaya tidak berujung seperti Udin Bernas dan Nasrudin Zulkarnaen”. Tak berapa lama ACP membalas dengan sms : He….he……he…. Percaya Allah saja. Semua sudah ditulis.

Bagaimana ending melodrama politik ini? Apakah ACP sorak sorai bergembira lantaran akan banyak teman sejawatnya yang bernasib sama seperti dirinya : dikeluarkan dari DPR RI dan partai politik, serta mengembalikan uang Rp 500 juta? Bahagiakah ACP manakala KPK mencekal empat tersangka, dan mungkin akan mencekal sejumlah nama lain serta menetapkan mereka sebagai tersangka? Tuluskah ACP membongkar kasus ini? Bukankah teman sejawatnya di Fraksi PDI Perjuangan DPR RI diam-diam menyingkir menjauhi dan tidak mau berkomunikasi dengan ACP. Konon ia membongkar kasus ini lantaran disindir bukan kader pelopor tetapi kader pelapor; sehingga ACP menyebut temannya sebagai radio rusak.

Ah, sungguh kita tidak tahu makna sesungguhnya dalam pikiran dan kebeningan ACP. Tapi setidaknya LSM bertitel Gertak (Gerakan Tangkap Koruptor) di Batang yang dibangun ACP bersama teman-temannya memberi setitik kesejukan di tengah terik mentari. Terik melodrama politik yang tiada henti menyuguhkan joke-joke yang sulit dipahami masyarakat. Mungkin lantaran politik terus menyajikan ketidakpastian (uncertainity) sampai-sampai pemberantasan korupsi pun harus memakan korban pelapor yang kebetulan ia pun pelaku korupsi.

Akan tetapi sebagai anak bangsa, saya tabik dan angkat topi kepada ACP. Bukan apa-apa, jika saya menerima 10 helai travel cheque senilai @ Rp 50 juta, mungkin tidak akan lapor ke KPK. Saya akan memusuhi ACP dan terus berdo`a supaya tidak ditetapkan sebagai tersangka dan tidak dicekal bepergian ke luar negeri. *****


Responses

  1. tulisan ini diterbitkan tabloid politik teman2 di jakarta timur menjelang pilpres 2009


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: