Oleh: da2ngkusnandar | Juni 26, 2009

Parpol dan Pasar

Oleh Dadang Kusnandar

PERJUANGAN mengusir penjajah dari bumi Indonesia sebagaimana tertulis dalam sejarah, ternyata juga dilakukan melalui jalur diplomasi politik. Kekuatan senjata musuh tidak menyurutkan peperangan sporadis walau hanya dengan menggunakan senjata seadanya. Namun demikian pembentukan opini internasional, terutama sejak Barat memandang perlu merealisasikan perlakukan manusia secara sama di hadapan hukum dan kebebasan, merupakan langkah strategis bagi perolehan dukungan masyarakat internasional terhadap bangsa terjajah.

Sejak Soetardjo melakukan petisi di tubuh dewan rakyat bentukan Belanda (Volksraad) pada tahun 1926, kesadaran akan pentingnya diplomasi semakin menguat. Sebelumnya, pembentukan Sarikat Dagang Islam (SDI) di Surakarta 1905 untuk proteksi kelangsungan hidup pedagang batik, lantaran pedagang-pedagang Cina telah merambah ke industri rakyat, setara dengan upaya politik. Haji Semaun, KH Masykur dan diteruskan oleh HOS Tjokroaminoto berhasil merekrut 11 juta anggota yang dominan berusaha di sektor industri rakyat (batik).

Gerakan rakyat ini merisaukan Belanda. Pertemuan-pertemuan membahas perdagangan batik dan manajemen di sekitarnya, ternyata dimanfaatkan guna membahas situasi politik nasional. Gerakan rakyat dengan asumsi awal meredefinisi industri rakyat, berujung pada proses penyadaran nasionalisme. Perasaan yang sama sebagai bangsa terjajah pun terusik dan akhirnya muncul persamaan sikap untuk secepatnya bebas dari bebas dari belenggu penindasan, karena kolonialisme di mana pun hanya menyengsarakan (Lembaran Sejarah II, Soedjito Sastrodihardjo).

Begitulah seterusnya sejarah mencatat peralihan nama SDI menjadi Sarikat Islam (SI) dengan lebih fokus kepada perjuangan politik. Kelahiran organisasi ini kemudian diikuti organisasi-organisasi lain (hampir di seluruh pelosok Nusantara) dengan tujuan sama, yakni mengusir penjajahan. Yang spektakuler adalah tulisan-tulisan Bung Karno menyoal penindasan dan kolonialisme Belanda di Indonesia. Tulisan-tulisan yang kemudian dibukukan dengan nama Indonesia Menggugat (1931) itu memperoleh perhatian dunia internasional. Belanda kebakaran jenggot.

Dalam konteks ini, pertemuan organisasi massa membahas politik mencerminkan sebuah kekuatan lain mengusir penjajah dan penjajahan. Tanah Hindia Belanda yang lama dikuasai kolonialis akhirnya memang harus kembali kepada “pemiliknya”.  Berbagai perjuangan fisik maupun senjata yang diarahkan bagi pembebasan Tanah Hindia Belanda itu, terbukti juga harus diimbangi dengan gerakan politik. Demikian sejarah nasional mencatat banyak sekali gerakan politik yang bertujuan meyelesaikan penjajahan. Bahkan di hampir seluruh negeri jajahan, gerakan politik saling sinergi dengan gerakan fisik (senjata) tatkala mengusir penjajah. Parpol dalam pengertian ini memainkan fungsi strategisnya : Merebut Kemerdekaan.

Kembali ke konteks Indonesia, pada masa kemerdekaan hingga “pulihnya” demokratisasi, peran partai politik tampak sangat dominan mewarnai arah awal perjalanan bangsa. Berkali pergantian kabinet semasa kepemimpinan Bung Karno menunjukkan hal itu. Jatuh bangun kekuasaan (kepemimpinan seorang Perdana Menteri) menandakan betapa kuatnya peran parpol bagi bangsa yang baru merdeka itu. Hingar bingar politik yang meronai langit Indonesia berindikasi pada satu soal : Mempertahankan Kemerdekaan.

Parpol dengan kekuatannya mampu mempengaruhi pasar. Pengendalian pasar oleh partai politik pada masa awal kemerdekaan Indonesia, dapat ditilik sebagai format “dominasi” parpol tatkala kekuatan massa dan pengorganisasian massa yang baik ternyata sangat berpengaruh bagi pasar. Gonjang-ganjing kekuasaan saat itu merupakan bukti nyata keterpengaruhan pasar oleh kekuatan parpol.

Persoalannya, apakah parpol harus bisa mengalahkan pasar lantas kekuatannya mengakibatkan pasar cepat berubah dan tidak memiliki kepastian (uncertainity)? Jika parpol memang harus mengarahkan serta mendominasi pasar, apakah idiom lama: Politik Sebagai Panglima, merupakan target politisi?  Kekuatan parpol dengan segala “centang perenang” di dalamnya, mungkinkah satu-satunya pencitraan demokratisasi?

Ketika parpol seakan sebuah referensi tunggal dari kehidupan demokrasi serta fase menuju perbaikan tingkat kesejahteraan rakyat, apakah ia mampu memerankan dirinya tanpa pretensi dan kecenderungan dominasi kelompok (baca: parpol) sehingga rakyat dibuat bingung? Ataukah kekuatan parpol yang demikian itu malah mendewasakan wawasan politik rakyat?

Parpol, Pasar, dan Kekuatannya akhirnya (barangkali) jadi bias. Terutama pada saat tafsir ekonomi merambah ke segala sisi kehidupan. Parpol dan Pasar saling bersinggungan, saling “bersenggama” untuk memperoleh “ejakulasinya” sendiri. Alhasil “kekuatan” parpol dan pasar bersimbiosa, tergantung manfaat ekonomi yang bakal diraih. Ketika parpol butuh pasar, maka partai politik mengikuti selera dan keinginan pasar. Sebaliknya pada saat pasar butuh parpol, maka pasar yang mengikuti parpol.

Dualisme inilah yang sebenarnya mengganggu. Di satu sisi, parpol dengan AD/ART dan basis massanya berkehendak agar mampu menghiasi  (bukan mendominasi) pasar, namun di sisi lain, pasar dengan kekuatan modal dan demand yang diciptakannya ingin agar bisa “mengendalikan” parpol. Dualisme seperti ini mungkin terjadi akibat  dominasi, hegemoni, kekuatan, dan monopoli; tampaknya cukup sulit dilakukan. Parpol dan Pasar terjebak dalam permainan serta iramanya sendiri. Mirip sebuah pertunjukkan teater. Pemain tonil bisa semakin energik dan asik di tengah panggung manakala efek lighting dan musik membantu gerak teatrikalnya.

Sebut saja parpol sebagai pemain teater sementara lighting dan musik sebagai pasar. Mana yang paling kuat? Tidak jelas sebab ketika pemain kedodoran di panggung, lighting dan musik menggantikan serta membantu agar pemain tidak begitu jeblok di hadapan penonton. Begitu juga ketika lighting atau musik terkesan monoton, tugas pemainlah untuk melakukan monolog/ dialog dengan bagus.

Kenaikan harga BBM yang belum lama diumumkan pemerintah (30/9/05)  merupakan ketidakjelasan kekuatan manakah yang berdiri di belakangnya. Jika pasar yang dominan, sangat mungkin parpol berperan sebagai stempel pasar. Jika parpol yang kuat, pasar hanya cukup melakukan gerak fluktuatif harga. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) atau kurs Rupiah terhadap Dolar AS misalnya; memperlihatkan betapa sinkronnya persahabatan parpol dengan pasar. Risikonya berimbas langsung kepada rakyat. Rakyat yang dalam kaitan ini dikategorikan sebagai massa mengambang, hanya mengikuti kebijakan yang dituangkan pemerintah (parpol) atau mengikuti kehendak pasar dunia yang hegemonik itu.

Kabarnya saat ini kita termakan kekuatan kapitalisme  yang begitu cantik mempermainkan harga minyak dunia. Hegemoni ekonomi yang kerap  dituduhkan kepada (antara lain) George Soros sangat berperan dalam proses panjang kenaikan harga BBM di Indonesia khususnya. Distribusi pemasaran minyak oleh Petronas Malaysia, konon terjadi karena saham perusahaan petro dolar itu dikuasai George Soros.

Parpol, pasar, dan kekuatannya nampak terus bersinergi membentuk habitat barunya, berupa peluang dan kesempatan memperoleh keuntungan sebesar-besarnya dengan modal sedikit. Prinsip ekonomi klasik yang dituangkan dari pikiran Adam Smith itu belum tersingkir dari mekanisme perekonomian dunia. Parpol dan pasar jadi nisbi, sementara kekuatan/ hegemoni dan lain-lain,  kembali berada pada kekuatan modal. Kekuatan yang sangat dahsyat  mereposisi partai politik dan pasar (dunia).

Lalu bagaimana peran kita di tengah ambiguitas seperti itu? Akankah kita terus menerus dipermainkan kepentingan kaum kapitalis yang kadang berperilaku humanis itu? Atau kita harus “mengalahkan” persekongkolan ini dengan cara Swadesi, sebagaimana pernah dilakukan Mahatma Gandhi di India?

Jakarta, 30 September 2005


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: