Oleh: da2ngkusnandar | Juni 26, 2009

Rumah Tahanan Militer

“Empat bulan saya dikurung di Rumah Tahanan Militer”, katanya pagi ini. Teman berusia 63 tahun itu sambil terenyuh menuturkan pengalaman pahitnya di tahun 1969. Kotapraja Tjirebon 1969, mungkin tak  beda dengan kota lain di Indonesia dalam hal perlakuan terhadap tahanan. Pemerintah saat itu kerap salah tangkap orang, tanpa proses hukum — apalagi keadilan.

Tidak berselang lama paska G30S PKI 1965, cukup dengan tanda silang di tembok rumah (bahkan di bagian belakang), kepala keluarga di rumah tersebut dicap PKI. Siapa yang bisa mengelak? Pendekar HAM mana yang akan membela ketika stigma makar diterakan kepada PKI?

Tulisan ini tidak membahas tahanan politik secara utuh, tapi bersandar atas cerita teman saya di atas, Dar yang digiring ke Rumah Tahanan Militer (RTM) lantaran dituduh menggasak uang bandar Erek-Erek — jenis perjudian legal masa itu. Dar digelandang pukul 9 pagi dari rumah orang tuanya, Grubugan samping Keraton Kasepuhan Cirebon, tanpa konfirmasi. Katanya, “Saya dituduh memeras bandar Erek-Erek dan dilaporkan mengenakan pakaian dinas angkatan bersenjata”.

Lebih kurang Dar bertutur demikian. Empat bulan di RTM rasanya lama sekali. Pukulan, tendangan merupakan sarapan pagi, makan siang, dan makan malam. Kedua tangan pun tidak merasa sakit saat dipukuli karena telah imun, alias terbiasa menerima siksaan sehingga kebal dari rasa sakit. Bibir tidak bisa dibuka. Kalau makan disuapi tahanan lain yang baik padanya. Saking seringnya menerima siksaan, kedua tangannya tidak bisa digerakkan. Posisi tangannya seperti orang menahan rasa dingin yang akut.

Sambil guyon Dar berkata, “Saya seperti Raja. Baju dipakaikan sesama teman tahanan. Memasukkan anak kancing pun tidak sanggup”. Setelah mengenakan baju, semua tahanan “sarapan” pagi seusai menerima aba-aba APEL. Sarapan pagi dipukuli petugas RTM. Gagang pistol pun dihantamkan ke muka. Mohon maaf tak akan ditulis di sini jenis penyiksaan lainnya.

Ketika Dar menyapu dan ngepel di RTM, teman Dar menengok orang tuanya yanng dituduh PKI di RTM. Pur bertanya, “Ada di sini, Dar?”. Dengan berseloroh Dar menjawab, “Lagi nengok tahanan”. Orang tua Pur seketika menyangkal, “Dar tahanan di sini”. Dar lupa ia ngepel tepat di depan sel tahanan orang tua Pur.

Hari-hari di RTM bukan hanya hari-hari siksaan. Untuk melihat suasana luar RTM pun, Dar mesti berpura-pura ikut kerja bakti. Dengan begitu ia bisa melihat jalan raya. Dar tidak menangis tatkala pukulan dan tendangan singgah ke tubuhnya atau mukanya; namun ia menangis melihat tahanan lain yang dipukuli petugas di depan matanya.

Ibu muda membawa bayi yang baru lahir sebulan ingin memperlihatkan buah hatinya kepada suami yang ditahan di RTM dengan tuduhan PKI. Petugas RTM melarang ibu itu. Ibu muda menangis, suaminya juga menangis. Dar ikut menangis. “Bayangkan, ini sudah di luar batas kemanusiaan!”.

Perempuan cantik calon istri seorang tahanan datang menengok pacarnya. Petugas tertarik pada kemolekannya. Sepulang sang cewek, tahanan itu dinego. Kalau ingin bebas, pacar kamu aku setubuhi. Gila memang. Teman Dar mengijinkan dan pacarnya pun mau lantaran sebentar lagi menikah. Dalam tempo sebulan tahanan telah dibebaskan dari RTM. Tentu saja setelah berulang kali menyetubuhi pacarnya yang molek itu. Mereka pun menikah.

Wajib lapor sekali sepekan ke kantor militer terus dilakukan ex tapol. Saat melapor itulah, petugas RTM berkata, “Bawa sini pacar kamu!”. Lebih mirip perintah daripada pertanyaan. “Kami sudah menikah pak”. “Untung saya sudah titip kuping”, tambah petugas sambil tertawa.

Saudara kandung tidak ada yang mau menengok Dar. Tahanan dengan tuduhan pemerasan agaknya mencoreng nama baik keluarga. Tetapi ibunya, meski Jalan Merdeka banjir hingga sepaha orang dewasa, tetap menengok. Ada peristiwa ganjil sesaat setelah sang ibu bezoek Dar di RTM. “Dar tidak apa-apa”, kata ibunya. Rasa sakit di persendian pingganng Dar seketika sirna. Bibir yang tidak bisa dibuka, mendadak bisa bicara. Tapi begitulah RTM. Sepulang ibunya, Dar “makan siang” bogem mentah. Begitu seterusnya selama empat bulan.

“Saya berlinang air mata ketika dari mesjid terdengar suara orang bertakbir, tahlil, tahmid, dan tasbih. Ah, malam lebaran yang buruk. Pandangan mata hanya berakhir ke tembok RTM. Ingat ibu yang tak lepas mendo`akan, ingat saudara kandung yang tidak menengok, ingat pacar yang kabur”. Dar pun berdo`a, “Ya Tuhan, kalau saya bebas tetapi cacat lebih baik saya mati di sini”.

Kisah ini saya tulis sebagai kenangan pahit, betapa dengan mudah penangkapan warga negara Indonesia tanpa proses hukum. Tahun-tahun pahit  dalam sejarah  awal Orde  Baru. Jika terhadap tahanan yang dituduh pelaku pemerasan saja begitu hebat siksaan yang harus diterima,  terlebih terhadap tapol yang diterakan kata  PKI. Di kampung Anda, teman-teman yang budiman, bisa menggali cerita apa saja jika kita mau mendengar kisah orang lain.

Kisah ini merupakan pelajaran pahit betapa kebencian terhadap satu kelompok tertentu (lantas diterakan sebagai telah melakukan tindakan makar terhadap negara dan hendak mengganti  ideologi Pancasila dengan ideologi lain) menelan banyak korban. Korban yang tidak bersalah dan tidak tahu apa-apa menyangkut kegiatan yang menggegerkan jagat. Korban yang sesungguhnya hanya berpikir sederhana, bahwa saat itu kebetulan ia bekerja di PNKA (Perusahaan Negara Kereta Api) atau menjadi kepercayaan kepala daerah (bupati) namun tidak tahu jikalau atasannya terlibat dalam organisasi (yang dilarang pemerintah).

Kisah ini merupakan cermin betapa mudahnya aparat negara memperlakukan orang sipil tanpa prosedur hukum, hingga korban yang tidak tahu benar organisasi itu (PKI) harus mendekam selama puluhan tahun di tembok penjara, bahkan dideportasi ke Pulau Buru. Jika melihat bagaimana mereka setelah mendapat remisi pemerintah akhirnya menjadi orang yang kikuk dan soliter (menjauh dari kehidupan ramai) serta tidak bersosialisasi, lantaran masih banyak yang mengatakan, “Jangan dekati dia, awas dia orang PKI”. Begitulah, pembaca budiman…..16 tahun dalam status tahanan politik lantas kembali ke masyarkat namun tidak diterima di tengah pergaulan sosial, agaknya jauh lebih perih ketimbang saat ditahan. Barangkali inilah penyebab banyak eks tahanan PKI Pulau Buru yang tidak mau kembali ke Jawa.
Kita tidak ingin kisah seperti itu terulang kembali. Politik sekali lagi jangan dikambing hitamkan, apalagi dibenturkan dengan kekuatan militer. Demikianlah.


Responses

  1. tulisan ini diterbitkan mitra dialog cirebo sabtu 18 juli 2009


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: