Oleh: da2ngkusnandar | Juni 26, 2009

Serat Candhini

Manuskrip lama yang bertuliskan hanacaraka ini, Serat Candhini, pada mulanya ditujukan sebagai pitutur hidup penulisnya yang menampilkan tokoh sentral Syekh Amongraga. Kitab yang berinti beberapa jumput nasihat seorang bijak ini berbeda dengan Serat Centini yang dinisbatkan sebagai kitab induk kebudayaan Jawa.
Candhini baru diketahui pada 1978 dari Keraton Kasepuhan Cirebon. Monograf itu sendiri bertahun 1628 M karya Pangeran Sutajaya (Pangeran Losari), tokoh keraton anti kooperatif dengan kolonial Belanda yang juga dikenal sebagai arsitek Kereta Singa Barong dan Paksi Nagalima. Maka ketika naskah Candhini sampai ke tangan budayawan TD Sudjana, sudah tidak karuan lagi wujudnya.
Keterasingan masyarakat Cirebon sendiri terhadap Candhini berawal dari sikap keluarga dan kerabat keraton yang menyimpan rapat-rapat kitab ini dalam almari tua yang berdebu. Itu sebabnya tatkala seorang abdi dalem keraton Kasepuhan menyerahkan Candhini kepada TD Sudjana, bukan cuma bentuknya yang tak karuan lantaran lapuk disantap rayap, melainkan ia kian terasing karena semakin sedikit jumlah orang yang memahami aksara Jawa kuno.
Barangkali keluarga keraton di Cirebon pun  tinggal segelintir saja yang memahami aksara Jawa Kuno. Jangankan memahami makna dan isi Candhini, membacanya pun sulit dan keberadaan kitab itu jauh tertinggal dibanding Serat Centini. Ditambah “power” dan “keistimewaan” Keraton Yogyakarta dan Surakarta, Candhini kian tersisih dari hasanah sastra Jawa.
Monograf itu bertutur mengenai perjalanan spiritual dan perjalanan batin seorang pengembaraan spiritual  Syekh Amongraga, penyebar agama Islam dari tanah Cirebon. Candhini terdiri atas 275 bait dan setiap bait mengandung 10 baris, kitab ini menuangkan perjalanan religius Syekh Amongraga hingga menerbitkan persentuhan rasa dengan Sang Maha Transendental, Allah swt. Dan pitutur yang dituangkan dalam rangkaian 275 kuplet yang berupa tembang itu diarahkan (terutama) bagi santri-santrinya yang kelak diharapkan turut menyebarluaskan agama Islam di tanah Jawa dan sekitarnya. Penggunaan dandang gula dan pupuh terasa mendominasi Candhini.
Monograf ini mestinya dijaga supaya tidak luluh lantak di hadapan karya sastra lain. Sebagai seni tradisi yang hanya mengandalkan kekuatan mulut (baca : lagu, tembang nasihat) sudah saatnya dikaji secara lebih intensif. Maksudnya, itu tadi, agar keberadaannya bukan berarti ketiadaan.

Serat Centini
Di sisi lain Serat Centini karya agung Ronggowarsito ditulis pada masa pemerintahan Baginda Yosodipuro II atau yang lebih dikenal dengan nama Pakubuwono IV pada tahun 1714 M. Tokoh utama dalam Centini bernama Syekh Amongrogo. Nasihat yang ditulis dan dibukukan berjilid-jilid ini (dalam gaya dandang gula) merupakan nasihat Sri Susuhunan (Raja) kepada istri dan selir-selirnya.
Yang menarik, 275 alinea pada Candhini mempunyai kemiripan isi dengan Cantini yang berjilid-jilid itu. Substansinya sama, yakni nasihat tentang sangkan paraning dumadi, jer basuki mawo beyo, ajaran nrimo ing pandum dalam pengertian adanya upaya yang sungguh-sungguh untuk mengatasi persoalan kehidupan dan beberapa hikmah ajaran Islam dengan kemasan budaya Jawa.
Kemiripan nama Candhini dengan Centini kabarnya sempat dua kali diseminarkan di Fakultas Sastra jurusan Bahasa Jawa di UGM Yogyakarta. Beberapa pakar sastra Jawa, sastra Sunda dan seorang budayawan Cirebon saat itu menggali beberapa persamaan pada kedua kitab tersebut.
Persoalannya terletak pada: manakah dari keduanya yang terbit lebih dahulu? Ditilik dari angka tahun Candhini lebih awal tapi dilihat dari materi, Centini lebih lengkap. Muncul pertanyaan, apakah Centini merupakan penulisan dengan metode deduktif dari 275 bait Candhini? Asumsinya sederhana, hubungan kedua kerajaan (Cirebon – Pakualaman) memungkinkan berlangsung dialog budaya.
Muncul pertanyaan lain, apakah Candhini ditulis berdasar pengambilan fokus Centini. Soal penanggalan (1628 bagi Candhini atau 86 tahun lebih awal dari Centini) bisa saja ditulis berdasarkan niat (maaf) pengakuan pihak keraton bahwa dirinyalah yang paling hebat dalam segala soal kebudayaan. Ini wajar mengingat sastra lama antara lain berciri keraton sentris (meminjam HB Jassin) atau sangat berpusat pada menuliskan hal-hal yang baik saja dalam kedalaman tembok keraton.
Misalnya, tidak ada sebuah lukisan karya pelukis keraton yang menggambarkan wajah Raja dan ratu dalam paras buruk. Semuanya tampan dan cantik. Demikian pula perseliran — yang sebenarnya merupakan dekonstruksi kedudukan perempuan– ditulis pujangga keraton secara pendekatan yang manusiawi sambil mengangkat derajat atau status sosial wanita biasa. Sifat keraton sentris tidak hanya berlaku di kerajaan-kerajaan Indonesia, tetapi juga di Eropa.
Sifat sastra lama (untuk membedakannya dnegan sastra lain) dikenal pula anonim alias selain tidak mencantumkan nama penulisnya atay sang kreator, tak urung pula tidak mencantumkan penanggalan dan tahun terbit penulisannya. Sikap ini konon dibaktikan hanya kepada Raja, sebab Sri Susuhunan atau Baginda sering dianggap sebagai Titisan Dewata.
Adapun soal tahun 1628 bagi Candhin dan 1714 bagi Centini diketahui penanggalannya berdasarkan penelitian yang dilakukan sejumlah Javanolog. Dengan kata lain penanggalan bagi sastra lama belum dan tidak dapat dijadikan standar baku.
Berangkat dari asumsi itulah, apakah Centini merupakan duplikasi Candhini dan dikembangkan lebih serius atau sebaliknya, Candhini merupakan resensi Centini? Dalam konteks sastra lama adalah sesuatu yang lumrah dan beralasan.
Namun bagaimana pun juga, telaah yang dilakukan sejumlah pakar sastra Jawa dan Javanolog di UGM itu –sayang sekali sepi publikasi, kata TD Sudjana– tentang kedua kitab keraton yang bermuatan kebudayaan dapat disejajarkan bagai upaya penelusuran sejarah peradaban kita. Meski sulit ditarik kesimpulannya, setidaknya Candhini bagi masyarakat Cirebon sangat layak diketengahkan kembali. Di samping sebagai kekayaan sejarah, utamanya sastra konon Candhini kini tengah ditulis ulang dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Saya mencoba menarik asumsi berdasar pada perbincangan bersama budayawan gaek TD Sudjana beberapa waktu lalu dan berkali-kali baik langsung maupun per telepon.
Pertama, Candhini mencoba menekankan pergumulan batin menuju transendensi spiritual dengan Sang Maha Kuasa. Kedua, muatan ajaran Islam pada Candhini lebih terasa mengingat ujaran Syekh Amongraga ditujukan kepada santri-santrinya. Ketiga, hitungan 275 bait menunjukkan bahwa angka 2 (dua) berarti konsep berpasangan dalam agama dan hukum alam, angka 7 (tujuh) menandakan lapisan langit sebagaimana juga diterangkan dalam ayat Al-Qur`an dan angka 5 (lima) adalah shalat lima waktu sehari semalam. Keempat, kalahnya publikasi dan pelestarian ajaran yang terdapat pada Candhini seketika muncul (1978) hanya mengikuti “popularitas” Centini dalam kebudayaan Jawa, maka Candhini dianggap plagiat kecil dari Serat Centini.
Kelima, penulis Candhini dan Centini keduanya adalah tokoh Islam pada jamannya yang memahami ajaran agama dan budaya lokal. Pangeran Losari jelas bukan orang sembarangan dalam pemahaman agama. Begitu pula Ronggowarsito, biografi singkatnya pernah ditulis di jurnal Ulumul Qur`an yang menerangkan tentang keislaman dan sedikit pemberontakan jiwanya atas kemapanan keraton. Keenam, Pangeran Losari dan Ronggowarsito sangat sadar bahwa salah satu cara penyebarluasan agama Islam di tanah Jawa adalah melalui pendekatan kultural, sebagaimana dilaksanakan Wali Sanga.
Enam asumsi sederhana di atas semoga bisa melahrkan perbincangan lagi di sekitar Serat Candhini. Minimal supaya Candhini tidak kian habis dimakan zaman serta kian tenggelam ditelan kehebatan Serat Centini. Bukankah melestarikan budaya bangsa yang bersentuhan agama sejalan dengan menerbitkan etika dan pesan moral?

Goro-goro
Pembacaan sepuluh bait Serat Candhini di Panggung Budaya Caruban di sebuah hotel berbintang  di Cirebon (16/7/97) mengundang gelak tawa penonton dengan tepuk riuh dan tulus. Dalam bahasa kesenian Cirebon episode ini dinamakan “Goro-goro”. Tiga pembaca Candhini, seorang diantaranya Mimi Carini, sinden (vokalis perempuan) bagi seni tarling serta wayang kulit membuat suasana panggung jadi ramai. Terutama ketika seorang bodor atau backing vocal dengan kepolosannya menanggapi guyon pemeran (pembaca) naskah utama. Bahkan ia menyuarakan bunyi khas tembang cerbonan: la li li li wa li gung. Sontak penonton terhibur sekaligus puas.
Sebenarnya goro-goro bukan substansi Candhini. Ia lebih dimaknakan sebagai waktu rehat di tengah pesan moral dan spiritual Serat Candhini. Goro-goro digulirkan dalam sastra Jawa, termasuk Cirebon, sebagai pengusir kantuk dan kelelahan penonton.
Kesenian ini kabarnya bersisa hanya dua grup di Cirebon, kendati masyarakat di desa-desa Indramayu sesekali sempat menikmatinya terutama tatkala memperingati acara-acara tertentu seperti mitoni atau upacara sakral kehamilan tujuh bulan anak pertama, menaikkan atap rumah (wuwungan), khitanan dan pernikahan. Dua grup itu berdomisili di Keraton Kasepuhan Cirebon dan Desa Cangkring kabupaten Cirebon. Kedua grup tadi diketuai seniman tradisi yang sudah beranjak tua, yang saya hormati Bapak Askadi Sastrasuganda, yang ternyata juga piawai menciptakan musik kolaborasi etnik.***

“ditulis kembali dari arsip Dadang Kusnandar yang diterbitkan Harian Umum Mitra Dialog Cirebon, Jum`at 3 Oktober 1997)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: