Oleh: da2ngkusnandar | Juni 26, 2009

Topeng Cirebon

Catatan Dadang Kusnandar

PASAR Kagok Kota Cirebon tahun awal 1970-an sesekali disuguhi adegan bebarang (ngamen) seniman topeng cirebon. Bukan lantaran para seniman itu sudah tidak layak jual lagi di hadapan publiknya sendiri, melainkan bebarang merupakan satu fase tertentu bagi para penari topeng untuk mengasah kepiawaiannya menari. Di hadapan pedagang, pembeli, bahkan tukang copet pasar — mereka menarikan topeng cirebon, dengan busana khasnya. Pasar-pasar tradisional lain di Cirebon dan sekitarnya juga menjadi ajang bebarang para seniman topeng cirebon. Inilah fase ketika seniman topeng cirebon, tidak malu menerima uang receh di pasar tradisional setelah pertunjukkan usai.

Perbincangan seputar Topeng Cirebon tak lepas dari nama Ibu Sawitri seniman tari berusia 60-an yang berdomisili di Losari Kabupaten Cirebon, selain maestro Mimi Rasinah dan Sujana Ardja. Sepanjang usianya “dibaktikan” untuk menjaga keajegan kesenian ini dari terpaan kesenian modern. Nama lain yang sering memperagakan tari topeng adalah Wangi Indriya dari Indramayu, Baherni dan Baheda dari keraton Kacirebonan, serta Sidin Handoyo dari Plumbon. Wangi Indriya, Handoyo, Baherni dan Baheda dalam pandangan saya terasa lebih menjiwai ketika memerankan Topeng Klana, suatu suguhan topeng cirebon yang mengambil analogi karakter tokoh pewayangan Dasamuka atau Rahwana.

Ciri utama Topeng Klana terletak pada kemampuan penari memainkan gerak keras (menghentak) yang dominan dan sesekali lembut lewat gerak tangan, kaki, dan tubuh yang menampilkan Dasamuka dengan balutan topeng dari bahan kulit. Mimik topeng mempertontonkan watak keras namun dinamis. Gerak lembut pada dasarnya merupakan antitesa terhadap kekauan (sikap kasar) dengan filosofi sederhana : sekasar apa pun seorang tokoh, ia tetap menyimpan kelembutan.

Dalam kerentaannya, Topeng Cirebon disibak kembali dan diangkat ke tengah publik agar terjaga kelestariannya dan tidak punah. Seniman yang layak disebut antara lain Mama Yusuf Dendabrata (Mang Ucup, alm) dari keraton Kacirebonan. Upaya yang dilakukan Mang Ucup berhasil menempatkan Topeng Cirebon pada sebutan “lintas nasional”. Ia membawa topeng cirebon ke Inggris, Amerika Serikat, Jepang dan beberapa negara Eropa sejak 1985. Selain pertunjukkan tari, Mang Ucup juga menjual wujud topeng cirebon sebagai karya seni rupa di negara-negara yang disinggahi. Para pemain tetabuhan atau nayaga tidak semuanya berasal dari kerabat keraton. Seniman egaliter ini merekrut seniman desa. Maka penampilan seniman-seniman desa (terlebih di luar negeri) merupakan prestasi dan prestise.

Kantong-kantong kesenian dan lokus budaya cirebon pada mulanya dibangun untuk menciptakan iklim kondusif bagi keberlangsungan kesenian. Di beberapa tempat kesenian tradisional seakan hanya menjadi milik masa lalu. Tak terkecuali kesenian tradisional Cirebon. Padahal upaya keras mengangkat kembali kesenian tradisional cukup banyak dilakukan. Akan tetapi lantaran ketakakraban masyarakat terhadap seni tradisi, membuatnya terkbur oleh perjalanan dan waktu.

Lihat saja topeng cirebon. Dalam makalah budayawan Endo Suwanda yang dibacakan di Taman Mini Indonesia Indah 1996, dalam perubahan budaya global saat ini topeng cirebon bagai tersuruk mencari identitasnya sendiri. Di masa “kejayaannya” topeng cirebon merupakan modifikasi antara seni tari dan seni drama. Lebih jauh, para dalang wayang kulit biasanya juga memainkan tari topeng, khususnya dalam pertunjukkan wayang wong. Kejayaan topeng cirebon sekarang telah mengalami degradasi, baik secara kualitas atau kuantitas penampilan.

Ketika masyarakat cirebon kurang akrab dengan seni topengnya sendiri, berbagai kalangan menunjukkan keseriusannya secara mengikutsertakan pelajar SD – SLTA dalam pertunjukkan seni tradisi di Panggung Budaya Sunyaragi. Demikian pula beberapa sanggar tari mematok tari topeng sebagai ikon tersendiri. Lantaran topeng cirebon merupakan modifikasi seni tari dan seni drama, maka kedok dalam topeng cirebon mempunyai kesamaan karakter dengan tokoh pewayangan. Tidak mudah menjadi penari topeng cirebon karena selain pandai menari,  ia harus bisa bermain sandiwara sekaligus memainkan tokoh wayang wong.

DILIHAT dari motivasinya topeng cirebon biasanya ada dalam pola tradisi, manggung dalam perayaan upacara perseorangan karena diundang oleh anggota masyarakat. Kedua, pada upacara komunal yang diadakan oleh suatu kelompok masyarakat, nelayan misalnya dengan nama upacara nadran. Dan ketiga barangan yakni dimainkan oleh senimannya sendiri. Tetapi adakalanya topeng cirebon mentas di acara mitoni yaitu upacara memitu atau tujuh bulan kehamilan anak pertama, serta acara kaulan atau janji seseorang tatkala keinginannya terkabul.

Kini jangankan mitoni atau kaulan bahkan dalam hajat menikahkan anak perempuan pun, topeng cirebon jarang diundang sebagai pengisi acara. Agaknya desakan budaya modern terhadap budaya tradisional yang hendak menghapus unsur mistis religius terus berlangsung. Patut dicatat, tokoh utama dalam pagelaran topeng cirebon sering bertingkah memerankan diri sebagai “dukun dadakan” dianggap sudah tidak pantas lagi ditonjolkan di hadapan publik.

Menyaksikan topeng cirebon sesungguhnya kita menonton sekaligus mempelajari beberapa mitologi dari ajaran agama dan ajaran moral. Inilah sebabnya kedok topeng bisa dipakai untuk pentas wayang wong. Dan nama kedok topeng cirebon berbaur dengan nama-nama wayang purwa dengan karakter sama: Topeng Panji dengan Arjuna, Topeng Samba dengan Pamindo, Klana dengan Rahwana.

Topeng Cirebon dengan demikian juga merambah ke bentuk seni drama tari. Cerita pewayangan sering dikutip menjadi materi cerita agar penonton mudah mengikuti alur cerita, disamping mudah mengenali wayang wong dalam topeng cirebon.

Topeng dalam bentuk drama tari biasanya dipentaskan malam hari, sementara di siang hari pertunjukkan berfokus pada seni tari. Bagi kalangan berada tahun 1960 – 1970 an, ketika kenduri topeng biasanya dimainkan siang hari dan pada malam harinya menampilkan wayang kulit. Saya ingat betul, tetangga saya saat dikhitan tahun 1969 di Cirebon mementaskan topeng cirebon di siang hari serta malam harinya menampilkan sandiwara tradisional Masres.

Lumrah terjadi, dalang wayang merangkap tokoh utama topeng cirebon. Sinden (penyanyi perempuan) tak lain anak sang dalang. Karena itu dalam kasus seperti ini, grup topeng dan grup wayang merupakan satu kelompok rombongan kesenian. Sedangkan untuk menjadi nayaga atau penabuh suatu alat gamelan mesti melewati tahap magang beberapa bulan malah bisa setahun lebih. Dalam bahasa cirebon istilahnya bebarang.

Pola penggabungan seniman topeng dan wayang kulit dalam seni tradisional cirebon adalah sebuah kekayaan budaya yang cukup unik. Langkanya modifikasi keterampilan gabungan pada seni tradisi cirebon mengalami pemisahan berdasarkan  spesialisasi. Topeng seakan terpatok pada seni tari dan drama, sedangkan wayang kulit (maaf) sekadar mengulang fiksi dan mitologi pewayangan — tentu saja yang telah diadaptasikan serta dikemas dalam budaya Jawa.

TOPENG Cirebon ternyata masih dianut sebagai suatu pertunjukkan yang tidak semata-mata hiburan, bagi kalangan tertentu topeng cirebon dipercaya mempunyai kekuatan spirital. Dan pertunjukkannya sendiri sering diyakini sebagai upacara ritual. Itulah sebabnya banyak anak yang sakit dibawa orang tuanya mengikuti pertunjukkan topeng cirebon. Anak yang sakit itu dibawa ke panggung untuk “diobati” dalang melalui jampi-jampi (mantera) atau diajak menari bersama. Bahkan bila ada bayi lahir bersamaan dengan adanya pertunjukkan topeng cirebon, maka bayi tersebut dibawa naik ke panggung untuk diberkahi, diberi nama dan diaku anak oleh dalang topeng. Padahal dalam kehidupan sehari-hari, dalang topeng bukan seorang dukun, namun setiap kali manggung ia sering dianggap dianggap memiliki kekuatan spiritual tertentu di atas rata-rata manusia biasa.

Klasifikasi HB Jassin yang menjelaskan ciri sastra lama antara lain mistis religius, terbukti pada topeng cirebon. Bahwa seorang dalang topeng dianggap mempunyai kekuatan spiritual khusus malah menjadi “dukun” dalam pengertiannya yang miniatur. Setidaknya hal ini berlaku dalam pentas wayang kulit, ada fase ruwatan yang diyakini mengandung nilai tuah atau kesaktian tertentu. Kabarnya, siapa saja yang terkena amuk sang dalang melalui lemparan buah-buahan maka si sakit bisa sembuh. Demikian pula dalam pentas sandiwara tradisional cirebon Masres, sering kedapatan penonton atau pemain yang kesurupan, seperti halnya dalam pentas Sintren.

Dengan demikian kekayaan kesenian cirebon yang berangkat dari budaya lama, diduga kuat masih berciri mistis religius.

Topeng Cirebon berhadapan dengan budaya baru seakan dituntut eksis mempertahankan ciri tradisionalnya. Inilah yang membedakan topeng dengan kesenian modern. Pembedaan ini pula yang tak jarang menciptakan kesangsian penonton. Betapa tidak. Dalam the age of reason yang dimulai sejak ilmuwan Galileo Galilei menuangkan gagasan tata surya yang menolak konvensi gereja di awal abad ke-17, manusia mulai bangkit dan meninggalkan mistisisme. Pada akhirnya setiap sesuatu yang bermula dari mitologi dan tidak bersinggungan dengan logika, dengan sendirinya bergeser seiring putaran waktu dan kemampuan kritis manusia. Maka abad berikutnya dinamakan aufklarung atau pencerahan yakni ketika metode ilmiah merambah ke seluruh sisi kehidupan; termasuk kesenian.

Pelahan namun pasti desakan globalisasi menyingkirkan budaya lama yang mistis religius itu. Kondisi ini menyebabkan topeng cirebon sulit dipahami masyarakat tetapi juga semakin sulit ditonton. Tragedi yang melanda topeng cirebon dapat ditepis jika para seniman tidak semata-mata terpukau pada kekuatan supranatural di balik seni tradisi. Di tengah pergulatan zaman ini, seniman tradisional hendaknya segera memodifikasi kesenian tradisi dengan kekuatan logika. Praktisnya, pentas tari topeng cirebon sudah tidak perlu lagi menonjolkan peran sentral dalang. Tetapi cukuplah ia menari dan menghibur penonton sambil sesekali menitipkan pesan moral. Bukan meyakin-yakinkan penonton dengan kekuatan supranatural dari balik kedok topeng. Bukankah karakter kedok topeng cirebon telah menjelaskan karakter pemakainya? Jadi dalang tidak perlu lagi berpura-pura menjadi sakti.

AGAKNYA  style penampilan sebagaimana dalam paragraf sebelum ini, penonton tidak akan menyangsikan pertunjukkan seni tradisi. Biarlah faktor mistis religius atau supranatural hanya menjadi kekayaan lama. Di tengah pergulatan tradisi, sudah saatnya seniman berani mencopot sebagian ciri tradisionalnya. Dengan menyempilkan pesan moral dalam dialog seni drama tari topeng cirebon; tak urung akan kembali memperoleh simpati penonton. Terlebih bagus lagi bila dialog dimodifikasi dengan situasi mutakhir, tetapi tetap mempertahankan ciri umum seni tradisional, misalnya dialek daerah, kostum para pemain atau seting cerita.

Bisa juga dengan menggelar saresehan topeng cirebon di lokus budaya lain atau di lingkungan akademisi, menyebarkan buletin secara rutin tentang topeng cirebon (dengan biaya pemda setempat) serta tidak segan manggung di acara keramaian semisal muludan di keraton-keraton cirebon. Usulan di atas hanya akan bunyi jika didukung oleh partisipasi berbagai kalangan. Agaknya seni tradisi cirebon dapat diangkat kembali jika iklim kesenian kondusif.

KETIKA  kecil saya dan teman-teman sering sengaja duduk di panggung seni tradisi cirebon, dekat dengan kotak wayang kulit. Alam anak-anak yang riang seolah mengajak pada suatu hasrat keingintahuan akan hal-hal baru dan unik. Padahal saat itu, anak-anak yang duduk di panggung adalah anak pesinden atau nayaga yang dibawa lantaran tidak ada yang mengasuh di rumah. Saya merindukan suasana itu lagi: anak-anak menonton seni tradisi tanpa terganggu dering hp atau sms, tanpa teringat mainan elektronik di rumah atau di tempat sewa.

Seni drama tari dalam topeng cirebon baru satu kasus dari sekian seni tradisi cirebon yang terus menerus dimakan zaman. Maka di tengah desakan budaya kini, kita dituntut untuk setia menggeluti (minimal mencoba tahu dan paham) atas keberadaan seni tradisi. Begitulah sesaat setelah kita tahu dan paham atas seni tradisi, semuanya kembali kepada minat kita sendiri: mau bagaimana dan diapakan kekayaan tradisi itu?***


Responses

  1. tulisan ini dimuat di harian pelita 1996


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: