Oleh: da2ngkusnandar | Juni 26, 2009

Wayang Babad

Catatan Dadang Kusnandar

PAGELARAN wayang babad merupakan terobosan unik seorang dalang wayang kulit ternama asal Desa Cangkring Kabupaten Cirebon, Askadi Sastrasuganda. Merujuk ke sejarah Cirebon arahan Kartani (seminggu lalu saya telpon, beliau hampir sebulan penyakit jantungnya kumat), pertunjukkan wayang babad saka tatal yang berjudul “Tumancebing Payung Kropak Agung” di pendopo Kabupaten Cirebon, 2 September 2000 lalu memukau penonton yang umumnya ingin tahu bentuk baru wayang kulit cirebon.

Askadi yang juga dikenal dengan julukan Mamae Titin, malam itu bermain gemilang. Wayang babad yang mengisahkan pemisahan Kerajaan Cirebon dari Kerajaan Pajajaran yang ditandai dengan penancapan payung agung di Pakungwati (Kasepuhan) adalah kisah penegasan berdirinya Kerajaan Islam Cirebon.

Untuk mengembalikan posisi wayang sebagai sarana dakwah kepada masyarakat, nayaga mengenakan kostum ala santri, dan sinden mengenakan jilbab. Dalam pertunjukkan wayang kulit dan wayang golek biasanya sinden mengenakan kebaya, ber make up tebal dan sedikit genit serta memenuhi keinginan penonton yang me-request sebuah lagu. Singkatnya, sinden harus tampil cantik hingga banyak penonton yang betah duduk di bangku yang berderet sepanjang malam.

Disisipi syair shalawat nabi, bacaan ayat awal Surat Al-Alaq, do`a Nabi Adam yang menerangkan kesia-siaan jika kesalahannya tidak diampuni Allah swt, pertunjukkan wayang babad malam itu sukses menyedot antusiasme penonton. Di tengah acara ketika Susuhunan Jati (Syekh Syarif Hidayatullah) menancapkan payung kropak agung, ada episode tarian yang dibawakan prajurit kerajaan Cirebon setelah Susuhan Jati berjalan diiringi Sunan Kalijaga dan Sunan Kudus.

Layar pertunjukkan agak unik. Dua buah gunungan yang ditancapkan pada batang pisang berhias gambar dua bukit dengan sebuah huma dan seekor bangau hinggap di atas pohon. Bukan tanpa alasan Askasi menggambarkan ini. Agaknya ia bukan sekadar ingin berbeda melainkan ada penekanan pada konsep berpasangan dalam segala hal, sebagaimana dijelaskan ajaran moral.

Pagelaran malam itu dapat disiasati jika skenario babad cirebon yang ditampilkan tidak begitu panjang. Kisah sejak putri Ong Tien Nio dari Tiongkok, Susuhan Jati memilih Islam jadi anutan, pemisahan Cirebon terhadap Pajajaran, perlawanan Adipati Cakraningrat dari Kerajaan Galuh — jika dihitung memakan waktu ratusan tahun. Bayangkan Babad Cirebon ratusan tahun itu harus selesai dalam durasi tiga jam. Ini agak menyulitkan dalang berimprovisasi dan menghadirkan fase Goro-goro (guyon). Demi penyesuaian waktu, Goro-goro tidak ditampilkan.

Acara yang digelar Yayasan Bumi Caruban ini sukses, nampaknya wayang babad yang dinisbatkan sebagai inovasi seniman tradisi tersohor ini kurang mendapat tanggapan pejabat setempat. Untunglah wayang babad disiarkan langsung RRI Cirebon, diliput stasiun televisi swasta dan TVRI Bandung. Tetapi bagaimana pun kehadiran pejabat setempat (yang diundang panitia) bisa menambah spirit bagi ki dalang.

Wayang kulit yang menampilkan kisah sejarah dalam budaya cirebon ada pula yang bernama Wayang Papak. Dipimpin dalang Ki Martadinata, wayang ini juga mengisahkan babad cirebon khususnya siar agama Islam sejak abad ke-14. Bedanya dengan wayang babad, media wayang yang digunakan serta adanya penampilan penari prajurit kerajaan sambil membawa panji (bendera) kebesaran sebelum payung kropak agung ditancapkan Susuhan Jati. Sementara wayang papak menggunakan wayang golek, khas Jawa Barat (Sunda).

Kembali ke wayang babad, Askadi bertutur, “wong wadon ilang wirange, wong lanang ilang prawirane” (perempuan kehilangan rasa malu, laki-laki kehilangan keperwiraannya). Penggunaan busana serba ketat kini bukan hal baru lagi bagi perempuan, serta semakin banyak laki-laki yang mengenakan anting dan kalung. Sindiran ini diketengahkan untuk menyadarkan kembali kodrat kemanusiaan. Bahwa keindahan yang diberikan tuhan kepada perempuan bukan untuk dipamerkan secara terbuka kepada setiap orang. Begitu pula anting dan kalung bukan hiasan laki-laki.

Lakon yang sarat pesan moral ini juga menyisipkan pentingnya kehati-hatian omongan  orang tua kepada anaknya. Ketika Sunan Gunungjati melancong ke Tiongkok beliau dites kemampuannya untuk menebak apakah Putri Ong Tien Nio hamil atau tidak. Ong Tien saat itu disuruh raja tiongkok menyisipkan bokor ke balik pakaiannya. Susuhan Jati mejawab sang putri hamil. Karuan saja Susuhunan Jati diusir dari Tiongkok.

Tetapi begitulah babad bertutur. Bokor di balik pakaian putri mendadak hilang dan perutnya menggembung, hamil. Maka diutuslah empat armada Tiongkok ke tanah Jawa, Cirebon. Cerita ini merupakan babak bertemunya budaya Tiongkok dengan budaya Cirebon, meski bersifat mistis dan irasional. Fakta berikutnya memperlihatkan Putri Ong Tien Nio menikah dengan Susuhunan Jati dan para pengawalnya memeluk agama Islam. Kata Askadi, “wong tua gawa lantaran, wong nom darma nglakoni” (orang tua yang menyebabkan, anak muda yang menjalani). Pepatah cerbon ini berkaitan dengan isi sebuah hadis bahwa setiap anak yang dilakirkan itu suci.

Wayang babad ini dimaksud Askadi sebagai seni adiluhung untuk mengembalikan wayang sebagai media dakwah seperti dilakukan para wali pada masanya. Berbekal itu, Askadi dan Kartani melakukan proses kreatif agar karyanya dapat diterima publik. Upaya serius ini, meski menurut budayawan asal Desa Jemaras Kecamatan Klangenan Kabupaten Cirebon, Salana, istilah wayang babad kurang tepat lantaran sebelumnya telah ada Wayang Beling Banyumasan dan Wayang Papak Cirebonan. Akan tetapi upaya ini seperti memberi ruang bagi modifikasi seni tradisi: wayang digabung dengan seni tari.

Dengan demikian Askadi adalah pemula yang menampilkan wayang babad, kendati ada pihak yang keberatan seakan wayang sudah memiliki pakem yang baku dan tidak boleh dirombak. Bagi saya, kreativitas seni mana pun memang butuh keberanian inovasi walaupun harus “membias” dari pakem lama, sepanjang tidak mengganggu substansi cerita. Dan agaknya tanpa kreativitas baru, kesenian akan jalan di tempat. Selamat bagi Pak Askadi Sastrasuganda.

(ditulis kembali dari opini saya yang telah diterbitkan Rubrik Budaya Harian Umum Bandung Pos, Sabtu 9 Nopember 2002)

Catatan Tambahan:
Wayang lainnya yang ada di Cirebon bernama Wayang Suket yang sempat ditampilkan Dewan Kesenian Cirebon (DKC) pimpinan Ki Martadinata, tahun 2003.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: