Oleh: da2ngkusnandar | Juli 1, 2009

Museum Komik Indonesia

Satu

Catatan Dadang Kusnandar

Minggu` 28 Juni 2009 sesaat menunggu istri dan anak pulang dari pasar tradisional, saya mengirimkan pesan pendek (tapi cukup panjang) kepada Tomi Johan Agusta di Denpasar, Mas Adji Klewang di Malang, dr Ribka Tjiptaning di Jakarta, Mas Cahyo Suryanto di Surabaya, Mas Harjoko di Bandung, Mas Dahono di Jakarta. Saya mentransfer kegelisahan sekaligus impian yang cukup lama terpendam: Museum Komik.

Jika setiap selesai shalat Shubuh dan menyiapkan diri ke sekolah, anak saya menyalakan televisi 14 inchi terus memeloti film kartun luar, seketika terpikir betapa minimnya pengetahuan anak saya menyoal tokoh lokal. Meski anak saya yang baru saja naik kelas 8 di Cirebon itu tergolong rajin baca dan mengoleksi buku; tetap saja Naruto, dan sebagainya yang dikenal– mungkin jadi idola. Saya agak yakin anak-anak lain pun melakukan hal yang sama, mungkin di seluruh Indonesia.

Isi sms saya : Yang terpikir sekarang adalah, ingin ada yang mau bareng-bareng wujudkan mimpiku mendirikan Museum Komik Indonesia di Bali. Bukan cuma teringat masa kecil, tapi agar anak-anak Indonesia idolakan tokoh lokal, bukan tokoh imajinatif Jepang dan sebagainya. Pesan panjang itu, tak berapa lama dirspon teman di Denpasar, “Wah masih mikir mas, karena terhalang modal. Ha ha ha”. Teman di Bandung menjawab singkat, “Ayo kita buat.” Dari Malang ada jawaban, “Saya juga sedang merancang ide serupa meskipun caranya berbeda. Pengen bikin Sanggar Komik terus anak-anak itu kuajak memerdekakan diridari style Jepang. Tapi masih belum terwujud”. Dari Bandung sms pun berlanjut, “Bagusnya di Ubud atau di Negara, karena di sana Dikdasmennya bagus, bupatinya juga ok”. Lantas saya balas sms ke Bandung, “Tolong mas yang koordinir karena saya tidak kenal bupati itu”. Dia pun menyahut, “Insya Allah”.

Dari Denpasar ada pilihan alternatif, katanya, “Bagus di Ubud, kalau di Negara jauh”. Dokter Ning menjawab singkat, “Setuju, tapi kenapa harus di Bali”. “Bali lebih pas karena volume kunjungan wisatawan yang tinggi. Menurut saya Jakarta kurang tepat”, jawab saya.Mas Adji merespon lagi, “Benar-benar kabar bagus kang. Sampeyan sudah link up dengan Bli Dewa Demuhbening di MP?”. Saya balas, “Belum. Baru mas Tomi. Apa id MP nya atau kabari saja sms-an kita siang ini”. “Cari saja di daftar contact mas Tomi atau aku, id-nya demuhbening. Dia dan mas Tomi mengelola website Balicomic”. Dari Bandung, Dian Hartati merespon, “Siapa tahu komik yang diterbitkan Mizan bisa masuk museum tersebut”. Mas Dahono dari Jakarta membalas, “Kenapa Bali? Bukannya Cirebon juga membutuhkan lokal hero?”. “Bali sama saja kayak Jakarta. Kecuali pertimbangannya memang cuma dagang”.

Pesan pendek yang lebih pas disebut pesan panjang karena di hp lama batas maksimalnya 1000 karakter, siang itu menyenangkan sekaligus menantang. Bukan belaga melawan opini yang tercipta dari film-film kartun Jepang di benak anak, apalagi berdalih neolib; melainkan bagi kami sangat penting lantaran anak-anak Indonesia lebih hafal Naruto daripada Jaka Sembung. Lebih paham dan dekat Shunchi Kudo daripada Si Pitung atau Bang Jampang. Lebih akrab dengan Maria Edogawa, Hatake Kakashi dan masih banyak lainnya ketimbang I Gusti Ngurah Rai.

(Catatan pendek ini semoga menjadi sebuah tema diskusi dengan teman-teman yang namanya saya rujuk di atas, yang tergabung di situs ini. Terima kasih)

Dua

DUNIA kecil yang indah. Bukan karena teringat small is beautifull E.F Schumecer, tetapi memang dunia kecil harus indah, harus bisa memberi nuansa indah bagi anak-anak sehingga ketika memasuki dunia remaja, masa adolesen, akil baligh, masa dewasa — ia memiliki kecintaan pada keindahan. Terlebih hari ini 1 Juli merupakan Hari Anak Nasional, hari ketika anak-anak Indonesia merayakan hari besarnya, tidak hanya karena telah diberlakukannya UU Perlindungan Anak, Komnas Anak yang makin melejit, dan sebagainya — tetapi yang lebih penting adalah tersedianya ruang keindahan dalam ruang berpikir anak.

Salah satu cara yang dapat diberikan orang tua (kita) antara lain menyediakan ruang berpikir bagi terciptnya keindahan dalam konsep berpikir anak. Anak mau tidak mau, diharapkan tahu, mengenal, memahami, memberi penilaian, dan mengambil sisi positif dari tokoh imajinatif yang dikenalkan orang tuanya. Tidak ada rumusan selain, rumah yang kita huni sebisa mungkin memberikan rasa keindahan, cinta, juga rasa memiliki tokoh panutan. Tokoh panutan itu yang kelak akan menjadi referensi anak memasuki fase berikutnya dalam kehidupan. Tokoh “panutan” yang diam-diam dirangkai di benak anak kita, pada gilirannya memampilkan diri. Sosok imajinatif yang coba diadaptasi dalam permainan maupun pergaulan dengan sesama teman kecilnya.

Bayangkan jika anak kita mengadaptasi tokoh rekaan yang bernama asing di telinga atau nama asal-asalan, tanpa rekam jejak, tanpa identifikasi cerita rakyat, tanpa identifikasi sejarah, dan seterusnya tanpa melakukan reserve atas ketokohan yang diadaptasi.

Jangan heran jikalau banyak anak kita yang kering akan pengetahuan tokoh lokal. Kendati ketika sekolah, guru mengajarkan tentang Untung Surapati, Dewi Sartika, I Gusti Ngurah Rai, Ken Arok, Antasari, atau Bung Karno dan puluhan tokoh besar lainnya. Akan tetapi lantaran ruang keindahan pada dunia kecilnya lebih disesaki Dora Emon, Hatori, Naruto, Conan ; maka anak kita tidak begitu nyaman mendengar heroisme sederet nama tokoh Indonesia. Ruang berpikir dan ruang kreasi yang disediakan Tuhan itu akhirnya menyikapi serta mengadaptasi ketokohan Superman, Spyderman, Batman dan tokoh lain yang tidak berkaitan secara kultural dengan Indonesia. Anak kita lebih greget mendengar kisah cinta Harry Poter yang kini beranjak dewasa, ketimbang menyimak betapa beratnya Sultan Hasanudin dari Makassar bertempur melawan Kompeni (Belanda) hingga pasukannya melaut samoai ke Pulau Madagaskar di bagian tenggara Afrika.

Saya tidak ingin menyalahkan siapa pun. Tulisan kedua ini akan masuk kepada betapa pentingnya menghadirkan tokoh lokal Indonesia kepada anak-anak (dari ruang hunian kita di rumah), betapa pentingnya anak memiliki pengetahuan menyoal tokoh lokal yang gaungnya terdengar hingga manca negara.Salah satu media yang bisa memberi dan mencipta ruang berpikir anak, ialah komik. Komik yang luas beredar di berbagai toko buku seharusnya seselektif mungkin dipertimbangkan sebelum anak kita membeli dan membacanya. Dalam benak saya sekarang, terbayang seandainya komikus Indonesia menggambarkan heroisme Pangeran Antasari, perjuangan Ibu Dewi Sartika memerdekakan perempuan di Bandung melalui pendidikan, semangat I Gusti Ngurah Rai melawan Belanda sehingga Bali satu-satunya tanah yang tidak dijajah sebelum 1936.

Seandainya penerbit besar Indonesia menerbitkan komik berlatar sejarah sehingga dapat lebih mudah serta lebih enak dipahami anak-anak Indonesia. Komik sejarah itu lantas didistribusikan ke perpustakaan sekolah sebagai sebuah rujukan pelajaran sejarah nasional atau Ilmu Pengetahuan Sosial atau Pendidikan Kewarga Negaraan. Komik sejarah yang ditulis dan digambar seniman komik tentu saja akan menghidupkan seni lukis komik Indonesia. Kita masih ingat Teguh Esha yang apik dengan gambar-gambar surealisnya, Jair yang hebat mengantarkan tokoh lokal (semisal Jaka Sembung, Kinong, Mang Pi`i) dengan gambar naratifnya, Jan Mintaraga, Kus Bramiyana yang mengadaptasi Spiderman menjadi Laba-laba Merah versi Indonesia, juga cerita Godam – Gundala Putra Petir dsb (maaf saya lupa nama pengarang dan penggambar komiknya). Nama-nama hebat di atas, dalam dunia kecil kita kini tidak dikenal anak-anak kita. Jika saja penerbit buku menyebarluaskan tokoh lokal sebagai bagian penting pembelajaran sejarah bangsa, saya yakin Adji Prasetyo dari Malang Jawa Timur , Dewa Damuh Benin dari Bedugul Bali, Edwin dari Bali, Usman Yulianto karikaturis di Koran Sindo, Dwi Kundoro penggarap Panji Koming, dan sejumlah karikaturis akan berperan lebih prima menyeberluaskan ketokohan nasional Indonesia. Untuk anak-anak kita, untuk generasi yang diharapkan mampu mengantarkan negeri kaya raya ini diperhitungkan sebagai puser bumi, bukan cuma objek Amerika, Jepang dan Eropa.

Ketika anak (pelajar SD) membaca komik bertema Untung Surapati yang berpura-pura memihak Kompeni lantas mencuri senjata dan mengumpulkannya di sebuah gudang, dan pada timing yang tepat senjata itu diberikan kepada rakyat Jawa untuk berontak kepada Kompeni; saya yakin lebih merangsang keingintahuan. Dibanding halaman buku sejarah yang lebih banyak berisi kalimat (seperti tulisan ini), dan hanya menempelkan gambar ukuran pas foto tokoh yang diceritakan, komik sejarah jauh lebih mampu menarik keingintahuan anak. Keinginan untuk tahu bagaimana para peletak dasar republik berupaya keras melepaskan nusantara dari penjarahan dan penjajahan Belanda, Inggris, Portugis, dan Jepang. Komik yang mengantarkan anak kepada fantasi dan membuka ruang imajinatif sehingga ia berlarian mereka-reka serta mematut-matut dirinya seakan-akan sang tokoh ada/ menyatu dalam diri mereka.

Komik yang berangkat dari idiom : sebuah gambar lebih banyak berbicara daripada 1000 kata, ternyata memang menghadirkan banyak imajinasi. Tidak cuma itu, imajinasi anak akan semakin kaya, semakin tajam, semakin memiliki empati atas persoalan bangsa yang diam-diam dihadirkan pada komik yang dibaca dan berada di tangannya.

(mohon maaf belum selesai)

T i g a

DEWA, teman saya pengelola balicomics.com kembali mengundang untuk segera memetakan masalah komik Indonesia. Berat memang. Pertama, saya tidak punya latar belakang pemikiran sehebat teman-teman di Bali. Kedua, tergerak keinginan mengelaborasi gagasan ke dalam tulisan selalu mengganggu saya untuk memainkan key board PC. Ketiga, adanya komitmen perkawanan bahwa mewujudkan mimpi segera terealisasinya Museum Komik Indonesia di Ubud Bali. Keempat, saling berbagi dengan siapa pun dalam kerangka mengembalikan anak indonesia mengenal tokoh hero lokal. Kelima, seiring bergulirnya waktu setiap kita memang selalu dituntut untuk terus berkreasi sepanjang hidup.

Tak sengaja ternyata mempunyai mimpi itu memang indah. Seindah anak yang menunggu sebatang cokelat dari tantenya. Seindah anak menyongsong pagi untuk mengenakan baju baru di hari lebaran. Demikianlah yang terjadi ketika saya kembali seperti anak-anak yang mempunyai mimpi agar segera ada Museum Komik Indonesia di Ubud, Bali. Sambutan teman dan kerabat kian menggiatkan untuk merealisasikan mimpi (bahkan mimpi di dunia maya) menjadi nyata. Aha, mengubah fiksi ke dalam fakta.

Baru saja saya kirim ke sms kepada Dahono di Jakarta, menanyakan file tentang komik yang pernah ditulisnya di Kompas. Saya menanyakan komikus yang ditulisnya. Jawabannya mengejutkan, “Lha, bapakku aja komikus, kang. Tapi sudah meninggal tahun lalu, yang Pak Bei”. Komunikasi terhenti lantaran dia sedang wawancara melaksnaakan tugas tetapnya. Setidaknya saya dapat seorang komikus, meski telah wafat setahun lalu, pastilah anaknya paham perjalanan bapaknya dalam dunia perkomikan indonesia. (catatan s/d tanggal 6 Juli 2009)

Persentuhan saya dengan komik tak lepas dari hobby membaca sejak SD. Memasuki kelas 6 SD Sadagori I saya berkawan akrab dengan Eman Sulaeman Syahri. Kami mengumpulkan uang saku pemberian orang tua dan setelah satu minggu digabung untuk menyewa puluhan komik di peminjaman buku tetangga saya, keluarga ibu Sugeng yang kala itu (1975-1976) dikelola putrinya. Kami asik membaca komik silat, komik anak-anak, termasuk karya Hans Christian Andersen yang selalu berakhir dengan pernikahan. Buku yang kami pinjam itu (karena banyak) boleh kembali selama satu pekan. Begitu berulang-ulang hingga kami mengenal Asmaraman S Koo Pingho yang asik menuturkan cerita silat dari daratan Tionggoan.

Saya pun suka nebeng baca komik ketika saudara saya (saya memanggilnya ema Encu) menyewa komik silat dari tempat yang sama. Dan saya pasti mau jika disuruh menyewa komik oleh ema (ema = bahasa Sunda, artinya ibu yang dituakan). Sayang sekali peminjaman buku dan komik  tetangga saya sudah bubar sekira 1980-an. Entah ke mana buku-buku dan komik yang banyak itu.

Minggu, 12 Juli 2009 saya mengubungi mas Dewa Damuh Bening di Denpasar by phone. Tercetus keinginan para komikus membukukan karyanya, dicetak dan disebarluaskan kepada publik. Teman saya, Daryanto alumni FSRD ITB yang kini berkarya di perusahaan swasta do Tangerang. Saya ingat betul Daryanto sejak SMP (1976 – 1979) sudah bisa membuat komik jika oret-oret di sekolah dikumpulkan. Tetapi begitulah barangkali seperti kita yang tidak pandai menyimpan arsip, gambar-gambar lucu yang dituangkan tatkala kurang konsentrasi mengikuti mata pelajaran di sekolah maupun “pesanan” kawan-kawan — raib entah ke mana.

Daryanto saat menelpon saya mengatakan ada komunitas komikus di Jakarta yang menamakan dirinya underground (bawah tanah) yang menulis komik terus difotokopi dan dijual sendiri kepada orang yang dikenalnya. Siang tadi mas Dewa menambahkan underground juga ada di Yogyakarta. Saya belum tahu di kota lain, adakah underground juga menjajakan karya di sana?

Bisa dibayangkan ketiadaan penerbit yang mau mempublikasikan karya komikus lantas memperoleh honor yang layak, sangat terasa bagi lemahnya distribusi komik; terlebih dalam dunia kecil anak-anak kita. Memang memasuki 1990, komik banyak dicetak penerbit besar seperti Gramedia Jakarta dan Mizan Bandung. Namun kebanyakan komik tertiban Gramedia adalah cerita Jepang dan Amerika. Sedangkan Mizan mempublikasi komik berbasis cerita agama. Tidak salah untuk merangsang minat anak kepada komik.

Akan tetapi sebagaimana saya tulis di awal, akan lebih baik jikalau penerbit mau menerbitkan komik yang mengungkap tokoh hero lokal Indonesia. Disamping mempermudah pelajaran sejarah bangsa, juga untuk membangkitkan persetubuhan komikus dengan dunianya. Karya komikus yang berubah jadi buku dan dicetak terus didistribusikan oleh perusahaan & penerbit buku; akan memberi semangat komikus untuk terus berkarya dan tidak melulu menjajakan karyanya melalui fotocopian yang disalin terbatas kepada kerabat dan kolega.

Maka saat mas Dewa mengingatkan peran media cetak, saya tergelitik atas peran teman-teman di Bali Post juga Pak David yang interes atas hasrat mendirikan Museum Komik Indonesia. Bersama teman-teman di Bali, kabarnya Pak David siap membantu (sungguh ini menyejukkan hati) segala hal yang dia bisa menyoal museum komik.

Oya, belum sepekan juga saya bicara by phone dengan mas Harjoko (saat itu ada di Purwakarta) mengenai peluang memperoleh sepetak tanah berukuran 300 meter persegi di Ubud kabupaten Gianyar Bali. Katanya, ia sudah kontak teman-temannya di Bali termasuk pak bupati. Kabar menyenangkan ini langsung saya sebarkan kepada mas Tomi Johan, dan mas Dewa (karena sampai sekarang saya belum tahun no kontak mas Edwin dan teman lain di Bali). Dengan harapan komunikasi yang baik mas Harjoko cs mempercepat realisasi Museum Komik Indonesia di Ubud, kami kini tengah menyiapkan konsep out door dan indoor museum, juga manajemen museum, kearsipan menggunakan sistem digital, serta hal lain yang berhubungan dengan pengelolaan sebuah museum.

Tercetus juga obrolan mengenai ruang diskusi dalam museum komik yang dapat digunakan untuk kegiatan bedah komik, mengajar anak-anak menggambar komik, dan…………..(semoga bukan mimpi). Begitulah ketika bicara tentang bentuk museum, saya menyebut nama Faqih Syahrir, arsitek lulusan Universitas Krisna Dwipayana Jakarta yang minggu lalu singgah ke rumah saya di Cirebon. Karya arsitekturnya kini dipertimbangkan dinas kebudayaan dan pariwisata Kota Cirebon untuk memugar Gedung Kesenian Nyi Mas Rarasantang.

Lomba membuat komik bertema cerita wayang pun meluncur dari mas Dewa. Ahai, ini ide menarik pula dalam rangkaian mewujudkan mimpi bersama tersedianya Museum Komik Indonesia di Ubud. Anak-anak berbakat melukis itu pun memang semestinya mengenal budaya (dalam hal ini pewayangan) agar tidak tercerabut dari budaya yang mematri keindonesiaan.

Berbagai agenda yang kami siapkan, kami rekam dalam tulisan, dalam website balicomics.com atau di multiply masing-masing tidak lain adalah untuk mengusung keinginan bersama terwujudnya Museum Komik Indonesia.

(mohon maaf belum terekam insprirasi baru)


Responses

  1. kesadaran akan penghargaan pada karya bangsa memang mesti di gerakkan

  2. tulisan ini diupload di balicomics.com

  3. mari cintai Indonesia.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: