Oleh: da2ngkusnandar | Juli 4, 2009

Buku di Tangan Anak

RENDAHNYA minat baca anak indonesia pada mulanya adalah gencarnya televisi menyajikan acara hburan  bertitel Untuk Segala Umur. Anak, ibu memfokuskan matanya ke kotak kaca sambil mengunyah makanan kecil, sembari bercerita tentang aktivitas sehari-hari, dan merencanakan hasrat ke depan secara santai. Rumah dengan satu televisi di ruang keluarga menyajikan banyak kisah lantaran kebersamaan dapat tercipta, kedekatan emosional antar anggota keluarga pun terbina dengan baik. Tetapi faktanya televisi begitu dahsyat masuk ke ruang privat, merasuk ke pikiran anak, mengurai anak untuk mengkonsumsi sekian tayangan televisi lantas merelakan diri dirasuki attitude atas tokoh idola yang diketahui dari televisi. Buku diabaikan, mungkin karena cepat lelah atau mata sering berair jika lama membaca, mata pedih hingga akhirnya  malas membaca. Rumah tidak mengajarkan anak cinta buku, tak ajarkan proses kreatif mengkaji buku.

Membaca buku menjadi `mahal` dan orang tua perlu energi tambahan untuk menyuruh anak membacanya. “Ayo nak, belajar. Baca buku cetak, besok kamu ulangan umum. Kamu harus bisa menjawab soal-soal yang diujikan seminggu ini”. Anak dan orang tua berdebat, tapi bukan mengulas isi buku melainkan agar anak mau membaca buku. Agar ulangan umum besok anaknya bisa mendapat nilai bagus. Jika membaca buku pelajaran saja harus disuruh, bagaimana dengan membaca buku pengetahuan umum (tambahan) di luar buku paket sekolah? Anak kita memang membaca. Membaca dan menulis sms menggunakan bahasa gaul. Membaca selintas kisah selebritis televisi dari majalah remaja, lantas diperbincangkan sesama kawan-kawannya. Selebritis muda, ganteng, cantik, kaya, pandai nyanyi, sering main sinetron, model sebuah (dan atau beberapa) produk iklan bisnis — jauh lebih akrab daripada tokoh hero lokal, bahkan lebih dipahami hidupnya daripada perjalanan hidup nabi dan orang-orang suci.

Begitu pentingkah membaca buku? Tidakkah kini sudah berganti oleh teknologi informasi yang mampu menjangkau dan menjelajah penjuru mana pun di dunia melalui website yang diakses di warnet? Bukankah laptop dan Personal Computer merupakan perpustakaan elektronik tanpa tanding? Lalu buat apa membaca buku jikalau amazone.com selalu mengabarkan buku-buku baru dari seantero bumi tanpa harus membeli buku ke toko. Tanpa beringsut dari depan layar monitor komputer portable atau komputer jinjing, anak dapat membaca. Bila lelah lantaran membaca buku di dunia maya, ia klik facebook atau friendster untuk saling berbagi dan menyapa teman-teman dunia maya. Ya, dunia virtual yang instan mengubah pola pikir kita menyoal buku; tidak mustahil mengubah penilaian kita tentang banyak hal. Dunia virtual seakan hadir nyata di depan mata dan kita tak berkutik melawannya. Bahkan kita masuk sebagai konsumen dunia virtual karena (mungkin) merasa hebat, tahu apa saja yang ingin kita ketahui. Alhasil buku tersingkir, tergadai.

Akan tetapi buku dapat disimpan, ditata secara apik, dibuka dan dibaca siapa saja untuk memperoleh informasi baru. Tidak ada istilah buku lama karena setiap buku yang baru kita baca (meski berangka tahun terbit 1980-an) apabila dibaca sekarang maka ia adalah buku baru. Kendati cover buku rusak lantaran usia buku atau dimamah rayap, namun jika kita ingin mendapatkan informasi atau output yang perlu saat itu, tetap saja lebh enak ditelaah ketimbang rangkaian kalimat di layar setelah kita klik amazone.com atau google atau wikipedia. Buku di tangan kita bisa dibawa ke mana saja, dibaca dalam keadaan apa pun, tidak seperti komputer yang mesti tersambung ke aliran listrik. Jadi akan berpalingkah kita dari buku?

Untuk kembali menggairahkan minat baca (terutama bagi anak-anak kita) ketersediaan Rumah Baca sangat diperlukan. Rumah Baca yang pada mulanya terinspirasi keinginan mengajak anak cinta buku, mengajak anak menempatkan buku sebagai penting kehidupan manusia. Kita dan buku merupakan pertalian erat yang sulit terpisah. Buku menyediakan ruang imajinasi yang terbuka lebar saat siapa pun membacanya, saat merenungkan kata demi kata yang terangkai dalam baris kalimat, paragraf dan seterusnya. Ruang imajinasi itu menjelajah masuk ke mana pun ia suka: menembus batas nisbi. Rumah Baca yang sudah banyak tumbuh di kota dan kampung sudah pasti membutuhkan partisipasi aktif semua kalangan. Terutama pencinta buku, orang tua yang ingin anaknya memahami persoalan yang dihadapi, kalangan pendidik, dinas terkait, donatur buku dan volunter yang menyediakan waktunya bagi kegiatan Rumah Baca.

Dapat dibayangkan seandainya sekumpulan anak muda terpanggil mendirikan Rumah Baca di pedesaan yang jauh dari keramaian, mungkin di kaki gunung atau di tepi pantai nan tak terawat. Komunitas yang mengelola Rumah Baca dengan pendidikan formal beragam. mau melayani masyarakat miskin (dan termarginalkan oleh sistem) tanpa berpikir memperoleh imbalan? Para humanis dan pekerja sosial yang tangguh itu merelakan diri menyatu dengan rakyat. Bukan untuk dipilih sebagai calon anggota legislatif, bukan agar dipilih menjadi calon kepala daerah dalam pilkada. Teman-teman yang mencintai kehidupan dan mencintai pentingnya buku bagi dinamika masyarakat; adalah mereka yang secara tulus jadi pendamping. Tidak sekadar untuk kesohor namun memang dilandasi pentingnya merealisasikan isi preambule UUD 1945, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa.

Barangkali inilah kesan saya terhadap kawan-kawan yang heroik itu. Di sudut Bandung, di kaki Gunung Merapi, di tengah masyarkat Dayak atau Anak Suku Dalam di hutan Jambi.

(tulisan ini belum selesai)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: