Oleh: da2ngkusnandar | Juli 12, 2009

Kembali ke Ruh

JessicaCatatan Dadang Kusnandar

penulis lepas, tinggal di Cirebon Jawa Barat

TAK ada habisnya bicara sastra. Hingga kapan pun sastra tetap asik dikreasikan dengan musik atau dikolaborasikan dengan teater dan film. Sastra menjadi pergulatan kemanusiaan karena di dalamnya terkandung nilai estetika, kesungguhan bertasbih dan memuji yang mahakuasa, persentuhan dengan nilai kemanusiaan yang subtil, serta keterpaduan dengan pergulatan sosial. Tanpa henti sastra dikaji. Tanpa lelah sastra ditelisik, didalami maknanya, diapresiasikan di hadapan publik, dan ditularkan agar manusia dapat saling menghargai (bukan saling meniadakan).

Barangkali itulah yang dilakukan Jessica Kenney dan suaminya Eyvind Kang. Warga negara Amerika Serikat yang getol menekuni sastra klasik Persia berdasar puisi-puisi sufistik Iran. Nama-nama seperti Jalaluddin Rumi, puluhan (mungkin ratusan) darwish di Kurdistan dan beberapa kota di Persia.

(Berikut ini kutipan dari google menyoal kaum sufi di Iran, Azerbaijan, dan Kurdistan) :

Just another guy hung muda di mystic puisi.Aku pergi ke provinsi Kurdi Barat Iran sedang mencari-cari Sufis. Sufis yang merupakan pesanan mistik Islam yang sekali telah ditemukan di seluruh dunia Muslim. Mereka ada yg dikurangi dengan cepat dalam usia yang modern, bagaimanapun, dan itu hanya di daerah-daerah yang lebih jauh praktek-praktek mereka masih hidup.

Tetapi sedangkan Sufism I’d dihadapi melalui puisi yang lama tuan sekitar tengah ecstatic ketaatan kepada Allah, yang nampaknya lebih Kurdi Sufis set pada ajaib trik sirkus.

“Seperti yang saya lihat jelas Anda, Tom, saya melihat ada satu orang memotong kepalanya dengan pedang dan diganti dengan tidak membahayakan selesai!” J profesor di Esfahan kepada saya.

Bahkan di perjalanan ada bis, driver telah ditunjukkan dengan bangga saya parut dari mana ia akan memiliki pedang didorong melalui pinggang dalam upacara tahun sebelumnya.

Keluarga saya tinggal dengan saya dengan memberikan panduan kota dalam bentuk mereka keponakan, Fahrzad. Saya membuat dia dan kami jalan di kota bersama-sama dengan taksi. Kendaraan ini mengikuti satu set rute melalui jalan-jalan, tetapi tidak benar-benar melakukan upaya untuk memberitahu siapa saja yang tahu cara mereka pergi.

Akibatnya satu orang untuk berjalan di The Edge dari lalu lintas teriakan pertanyaan melalui driver ‘jendela dan pemerasan di kemudian cepat sebelum orang lain bisa mendapatkan ada terlebih dahulu. Bagian depan tempat duduk untuk perempuan itu supaya mereka naik tetapi mereka tetap menjaga kesederhanaan. Di pusat kota terdapat sebuah patung yang taat mukmin dengan senjata aloft dibangkitkan dalam kegairahan cinta bagi Allah. It mengatur mood untuk Sufi upacara kami karena yang hadir malam.

Kami tiba di salah satu lingkungan tertua di kota dan memasuki maze dari jalan-jalan dan gang sempit di shrouded mist. Kami weaved kami melalui jalan malam ke rumah nenek dari Fahrzad dan saya berhati-hati agar tidak kehilangan penglihatan saya panduan.

Beliau adalah seorang nenek darwis dan diakui kata dari cerita Sufi I’d dibaca. Biasanya disebut satu lanjutan dalam studi dan praktik Sufism. Tetapi Fahrzad berkata bahwa hal itu juga berarti ‘orang yang tidak memiliki’, yaitu orang yang hidup yang bersih dan hidup sederhana tidak valuing kecuali keberadaan Tuhan. Mungkin dua hal yang tidak begitu berbeda.

Kami berjalan hingga bangunan tempat upacara telah dilaksanakan. Meliputi lantai karpet dan bendera hijau dari Islam hung di sudut yang akan mencium oleh semua orang yang dimasukkan. Pengkhotbah di mata saya dengan rasa ingin tahu sebagai dimasukkan i tetapi dia terus wacana tentang keajaiban kehamilan untuk sekelompok kecil orang. Beberapa dari mereka sudah lama, yang mengalir rambut mereka kerukut di topi seperti Rastafarian.

Setelah putaran pertama teh telah melayani orang tua dijemput sebuah cincin kayu terikat dengan kulit disebut daf. Nya bertulang jari tapped out irama saat dia mulai bernyanyi sutras dari Alquran. Nya suara parau seperti itu yang jadi kambing namun penuh semangat. Setiap kali dia menyebutkan nama Mohammed semua hadir murmured, ‘Mei peace be upon him’.

Yang lama itu segera diikuti oleh dua orang mahasiswa dan mereka mulai memukul yang kuat yang setiap kepala di tempat ayunan. Kemudian pada ketinggian di setiap pertunjukan mengempas daf nya ke udara dan menangkap dengan bergemuruh bertepuk tangan yang nampaknya guncangkan dinding bangunan.

Setelah upacara saya bisa menemukan beberapa kata untuk mengekspresikan apa yang saya akan dilihat dan dirasakan. Lagu masih dalam resonated saya dan saya tidak perlu tahu apa kata-kata dimaksudkan untuk menghargai mereka kecantikan. Fahrzad berkata ia membuat dia merasa gembira untuk menangis.

Berikutnya pagi kita naik atas gunung saat itu masih gelap sehingga kita dapat melihat matahari bangkit. Ia Jumat, hari doa dan sebagainya semua orang adalah pada hari libur. Kaum muda yang merupakan swiftest dari kaki dan sebagainya telah mengumpulkan ada terlebih dahulu oleh air kecil. Ia merupakan satu dari sedikit kesempatan mereka untuk melepaskan diri dari waspada mata tua-tua mereka dan mereka reveled dalam merasakan kebebasan. Hell, bahkan ada anak laki-laki berbicara kepada perempuan.

Saya pertama asing banyak tetapi pernah bertemu dengan beberapa hari janggut di pipi Iran cukup aku melihat bahwa saya tidak menerima terlalu banyak perhatian. Tidak diharapkan untuk melihat orang asing di bagian baik sehingga i was answering disimpan dari dua puluh pertanyaan yang mengarahkan setiap jangka panjang traveller gila.

Fahrzad saya diberitahu bahwa Sufi upacara dengan pedang yang akan mendengar tentang hanya terjadi pada musim dingin. Tetapi dia bisa mencapai sebuah video amatir dari satu sesi yang terjadi tahun sebelumnya.

Kamera rolls. Ada dafs sedang diputar untuk mendorong pembukaan semangat dan laki-laki di kalangan roll kepala dan memuji Allah. Setelah semua orang mabuk adalah cukup dengan keberadaan Allah, ritual dimulai. Pedang yang digerakkan melalui waists, melalui jarum pipi dan satu laki-laki bahkan telah menjadi sepatu berduri hammered kepalanya. Semua darah yang tidak jelas dan tidak ada rasa sakit pada muka orang-orang biasa ini.

Okay, ada penyanyi di Barat yang juga dapat makan dan menerobos lampu bulbs bagian tubuh mereka tetapi protagonists disini yang sederhana bus driver, guru dan petani. None of them had any pengalaman semacam ini dan tidak ada satu hal yang mendapatkan dibayar untuk melakukannya.

Meski demikian, saya tidak benar-benar melihat sudut ini. Mungkin hal ini merupakan demonstrasi yang kuat kuasa Allah untuk memperkuat kepercayaan. Tapi itu semua nampaknya sedikit ekstrim kepada saya dan saya sangat tidak dipindahkan untuk menguji iman dengan pedang di pinggang.

Aku terjebak dengan cerita dan puisi.

Tom telah melakukan perjalanan non-stop sejak usia 18 tahun dan turut mendirikan Jalan bermutu rendah pada tahun 2004. Mengikuti Dia tomglaister @

He’s pengarang Tangan ke Mouth ke India, account dari hitchhiking dari Inggris ke Indonesia tanpa uang dan yang akan segera rereleased oleh Road Buku bermutu rendah.

Jalan cerita yang bermutu rendah dengan cerita orang-orang yang melanggar dari penjara di Jakarta, menjual Rolexes palsu di Jepang dan petualangan lainnya di Israel dan Brasil akan keluar nanti tahun ini.

Dia juga menulis fiksi bagi orang yang tidak pernah benar-benar tumbuh dan terbaru novel yang Bozo dan pendongeng – download audio buku gratis atau bahkan membeli salinan …

Jessica mempelajari puisi klasik dari kekayaan Persia lama yang tak lepas dari Byzantium. Kekayaan sastra pada masanya tidak saja mencengangkan kaum muslim akan tetapi jauh menembus batas keyakinan yang lain, keyakinan orang yang bukan beragama islam namun menyelami spiritualitas islam melalui syair dan puisi.

“Puisi Tak Terkuburkan”, kata Garin Nugroho sepertinya terinspirasi oleh kekuatan puisi menembus batas keyakinan dan melintasi waktu. Puisi tak pernah mati karena ia tak cuma kekayaan yang tak ada habisnya namun puisi juga merekatkan persaudaraan di tengah kemanusiaan yang tercabik. Dengan demikian puisi selalu mewartakan dirinya pada zaman apa pun lantaran selalu ada penggiat puisi yang menekuni sastra klasik.

Jessica Kenney (33) mungkin tergerak menghadirkan puisi-puisi klasik Persia dalam tembang yang ia lantunkan sambil mematut-matut agar mencapai ekstase. Diiringi petikan dawai shetar (alat musik tradisi Iran yang sering dimainkan ketika para sufi menembangkan syair/ puisi keagungan ilahi) yang dimainkan Eyvind Kang.

Malam itu, Kamis 9 Juli 2009 pukul 22.08 hingga 23.18 wib Jessica Kenney melantunkan puisi klasik Persia di teras Gedung Kesenian Nyi Mas Rarasantang Cirebon. Lagu bertitel Perahu yang menggambarkan sulitnya cinta berlabuh karena dua insan yang saling mencinta berada pada perahu berbeda kendati berlayar di sungai yang sama. Lembut, kadang melengking, Jessica larut dalam imaji tentang sejumlah darwish yang asik menyanyikan syair (puisi) pujian kepada tuhan. Jessica meski lelah namun tetap berupaya agar tampil prima.

Denting dawai shetar Eyvind di jeda puisi yang dilagukan Jessica menambah malam semakin larut dalam kehadiran cinta yang menggairahkan agar sisi kehidupan bersimbah kasih sayang, bukan saling meniadakan dan saling membunuh. Cinta dalam puisi klasik Iran yang dilantunkan Jessica sepertinya menerjang sisi penting yang mungkin kerap terabaikan dari keseharian kita. Sisi itu adalah kebersahajaan mencintai kehidupan.

Tak pelak ketika menembangkan puisi Sakitnya Rahasia, Jessica menerangkan dengan antusias tentang beratnya menjaga rahasia hingga merasa sakit lantaran beban menjaga rahasia. Kendati penonton tidak memahami bahasa Persia yang ditembangkan Jessica dalam puisi malam itu, namun hening penonton serta hanyutnya perasaan bagai mendentingkan dawai-dawai jiwa yang kadang kering.

Di tengah puisi yang dibawakan Jessica, ia menerangkan maknanya dalam bahasa indonesia yang patah-patah sehingga tampak lebih fasih menjelaskannya dalam bahasa inggris. Beruntung ada kang Maman yang menerjemahkan ujaran Jessica. Lantas lagu puisi Persia klasik  kembali melantun dari bibir Jessica di tengah desau angin di dedaunan. Meminjam Imam Al-Ghazali, seseorang yang hatinya tidak tergetar oleh indahnya desau angin di dedaunan, rembulan yang retak, semilir angin; maka ia mengidap penyakit jiwa.

Inilah pentingnya apresiasi sastra, wabil khusus puisi; ujar Ahmad Syubbanuddin Alwy Ketua Dewan Kesenian Cirebon. Melepas dari kepenatan politik, menghalau jauh-jauh  rasa benci yang mungkin sempat mengendap.

Kembali ke Ruh, kata kang Maman (sebutan KH Maman Imanulhaq Faqih) pengasuh pesantren Al-Mizan Majalengka, dalam epilog diskusi yang dipandunya mengandung arti kita harus kembali ke ruh (jiwa) menyoal cinta dan kasih sayang pada kehidupan. Jika tidak, kita akan tetap keruh.***


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: