Oleh: da2ngkusnandar | Juli 15, 2009

Hegemoni Bahasa

Catatan Dadang Kusnandar

ALASAN teman-teman menyoal kurangnya penghargaan masyarakat Jawa Barat (yang berbahasa Sunda) terhadap masyarakat Cirebon dan Indramayu yang menggunakan bahasa berbeda, sampai sekarang masih tampak nyata. Berbagai event yang digelar pemerintah Propinsi Jawa Barat sering tidak mengindahkan Bahasa Cerbon, komunitas pantai Utara Jawa Barat dengan karakter dan asuhan budaya berbeda dengan Jawa Barat (Sunda, Priangan).

Masuknya Bahasa Sunda bagi anak-anak Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama di wilayah Propinsi Jawa Barat –termasuk Cirebon dan Indramayu– menunjukkan semacam pemaksaan mengenal dan memahami bahasa sunda. Tak peduli apakah anak-anak SD di Cirebon dan Indaramayu itu suka atau tidak. Kebijakan Dinas Pendidikan Nasional Jawa Barat yang mengharuskan masuknya bahasa sunda sebagai mata pelajaran yang harus diikuti seluruh siswa SD dan SMP tetap menimbulkan masalah. Bukan cuma ketakpahaman atau ketaktertarikan atas bahasa sunda dengan segala undak usuknya atau paramasastra dan sebagainya, melaikan siswa SD dan SMP tidak bisa berbuat banyak selain mengikuti aturan baku itu. Pelajaran bahasa sunda yang sulit itu pun diujikan secara reguler per semester menjelang pembagian catatan prestasi siswa (raport).

Dapat dibayangkan sulitnya siswa SD SMP di Cirebon dan Indramayu yang tidak memiliki pertautan dengan bahasa sunda. Bila ada pekerjaan rumah, banyak siswa dan orang tua dibuat pusing lantaran ketidakmengertian bahasa sunda. Begitu pula siswa yang akhirnya berpikir simpel, yang penting nilainya enam di raport. Ada pun nyontek saat ulangan sumatif (semester) bukan masalah karena untuk memperoleh nilai enam itu. Maka ketika pemerintah Kota Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Indramayu memasukkan mata pelajaran Bahasa Cerbon bagi siswa SD dan SMP, boleh jadi pada mulanya adalah upaya pelestarian bahasa ibu di lokus budayanya sendiri. Jadi tidak salah, bahkan benar dari sudut pandang kebudayaan. Mengingat kian sedikitnya penggunaan bahasa ibu (bahasa daerah) di rumah-rumah, terutama bagi keluarga muda yang lebih suka menggunakan bahasa indonesia dan mencangkok vocabulary bahasa inggris, bahasa daerah terus memperdalam masa surutnya.

Anak-anak di cirebon kini semakin asing dengan kata-kata semisal: dingklik (kursi kecil di dapur), wadasan (tempat wudlu dari gerabah), gudel (anak sapi), sawiya (anak cicak), dan masih banyak kosa kata lain yang hilang ; bisa jadi karena bahasa ibu tidak dibiasakan di rumah. Sementara di sekolah mata pelajaran bahasa daerah tidak segarang Matematika dan IPA. Akibatnya, anak semakin asing dari bahasa lokal dan dengan demikian bahasa lokal semakin terasing. Tulisan ini tidak berpretensi menyalahkan pihak mana pun menyangkkut lemahnya perhatian dan kesungguhan terhadap bahasa daerah. Tulisan berawal dari sebuah kegiatan yang dilaksanakan oleh Badan Pengembangan Bahasa Daerah Kantor Dinas Pendidikan Nasional Propinsi Jawa Barat di Cirebon 13 – 15 Juli 2009.

Berbagai lomba kategori wilayah III Cirebon digelar dan diikuti Kota/ Kabupaten Cirebon, Kuningan, Majalengka, dan Indramayu. Lomba tersebut meliputi: baca puisi (bahasa sunda dan bahasa cerbon), pidato, dan menulis. Sebanyak 30 juri dihadirkan (lima diantaranya mewakili bahasa cerbon), peserta yang antusias mengikuti lomba bahkan berlatih sebelumnya, guru dan aparat dinas pendidikan yang mengantar kontingen, pejabat yang membuka acara — tak cuma jadi keramaian tersendiri. Di balik itu menuai protes budayawan Nurdin M Noer dari Lembaga Basa dan Sastra Cirebon, serta Ahmad Syubbanuddin Alwy dari Dewan Kesenian Cirebon.

Acara bertajuk Pasanggiri dan Apresiasi Bahasa, Sastra dan Seni Daerah itu menampakkan diskriminasi dan pengingkaran keberadaan bahasa cerbon. Bahkan dinas pendidikan Kota Cirebon tidak mengirim utusan untuk berlomba menggunakan bahasa cerbon! Diskriminasi pun berlangsung tatkala “juri yang dituakan” menyatakan tidak ada pemenang bagi lomba maca berita padahal sebelumnya juri telah menandatangani dan menetapkan pemenangnya. Unik memang peserta lomba hanya seorang dari Kabupaten Indramayu. Ketika mc membacakan lomba itu tidak ada pemenangnya, kawan saya yang juga juri lomba (Supali Kasim dari Indramayu) langsung menanyakan soal ini. Agak berang katanya saat ia mengatakan, “Bukan masalah piala, piagam dan hadiah. Piala bisa dibeli di toko. Tapi tak adanya penghargaan kepada anak yang sebelum lomba sudah berlatih”. Sambil mengutip kebiasaan dalam lomba olah raga, adanya pemenang dengan istilah memenangkan pertandingan secara bye, kawan saya yang santun itu menyalahkan tidak adanya peserta lain sebagai rival bukan kesalahan peserta yang tampil tetapi kesalahan panitia yang lemah mempublikasi kegiatan

Malam itu ketika piagam penghargaan, piala dan hadiah diserahkan kepada pemenang lomba berbahasa sunda, kontingen Indramayu dan Cirebon hanya terdiam, tepuk tangan pun lesu. Lagi-lagi pemenangnya dari utusan Majalengka dan Kuningan. Peserta asal Indramayu dan yang mengikuti lomba basa cerbon menunggu ada kemenangan yang diraih, bukan sekadar penampilan tanpa memperoleh hasil. Tetapi apa nyana, panitia sepertinya abai dan tidak merasa bersalah meminggirkan basa cerbon pada kegiatan yang kelak akan diperlombakan di tingkat propinsi itu. Begitulah kami membahas masalah ini sampai larut malam namun tidak mengubah kepuusan juri yang dituakan yang (maaaf) anonim itu.

Hegemoni

Sejak lama sering berlangsung kurangnya penghargaan atas eksistensi bahasa cirebon di jawa barat. Hampir seluruh kantor bupati/ walikota di jawa barat riuh dengan percakapan bahasa sunda pada pegawainya. Bahasa Cirebon (plus indramayu) termarginalkan serta kurang terdengar, bahkan di kantor-kantor pemerintahan kota dan kabupaten cirebon. Diskriminasi berdasar ikatan primordialisme ini kabarnya juga berlangsung hingga ke tingkat lebih tinggi: Kurangnya apresiasi pemerintah Propinsi Jawa Barat terhadap prestasi yang diraih orang Cirebon.

Jangan heran jikalau orang cirebon yang tidak berbasis bahasa sunda hanya sehitungan jari yang menduduki jabatan strategis di gedung sate. Dan jangan heran jika jabatan tertinggi yang pernah ditempati orang cirebon di kantor gubernur masih di bawah jabatan wakil gubernur, paling tinggi hanya kepala bagian dan pembantu gubernur. Kecemburuan ini beberapa tahun lalu sempat menggelitik rasa primordialisme orang cirebon. Cirebon dan Sunda seakan tidak bisa bertaut serta selalu bersaing pada kompetisi tidak sehat yang berangkat dari perbedaan budaya.

Ironinya, Sunda merasa sebelum kehadiran Mbah Kuwu Cirebon (Pangeran Cakrabuana), Sunan Gunungjati, dan Kerajaan Cirebon berdiri — di tatar Sunda telah ada Bumi Siliwangi, Kerajaan Pajajaran, Kerajaan Galuh, Kerajaan Panjalu, Kerajaan Pakuan yang semuanya berbudaya Sunda. Otomatis bahasa sunda telah ada sebelum bahasa cirebon ada. Terlebih ada manuskrip yang menerangkan orang tua Sunan Gunungjati (Syekh Syarif Hidayatullah, satu dari wali sanga yang menyemaikan dan menyebarkan agama Islam di Jawa) bergaris keturunan Pajajaran.

Hegeomoni budaya yang meniadakan budaya lain sepertinya berangkat dari keinginan tak adanya peran orang (komunitas) lain yang berbeda. Konon Sunda Kalapa yang sempat menguasai Jawa Barat pun menggunakan bahasa sunda, sementara bahasa cerbon hanya ada di surau dan pesantren. Kitab kuning bertuliskan huruf hijaiyah (Arab) namun berbahasa cerbon sampai kini masih banyak dijupai di pesantren-pesantren. Artinya, basa sunda menempati singgasana politik dan kekuasaan sedangkan basa cerbon cukup menyibukkan diri dengan urusan ukhrawi. Adanya pemisahan negara dengan agama ternyata bukan diawali sekularisme ala Eropa.

Sejarah yang berlari ratusan tahun itu menampakkan pemisahan pengunaan bahasa lokal (Sunda dan Cirebon) pada posisi yang amat berbeda. Cukuplah basa cerbon terkunci rapat di surau dan pesantren, dan biarlah basa sunda berdiri ajeg di pusat-pusat kekuasaan. Sampai kapan? Tidak ada yang tahu. Tidak ada yang bisa memprediksi kapan perseteruan berdasar primordialisme ini berakhir.

Kita, sebagai anak bangsa sepatutnya kembali menempatkan keragaman budaya dalam persatuan. Dalam keindonesiaan yang padu. Bukan terus memperuncing kisah hegemoni sebuah bahasa lokal terhadap bahasa lokal lain (bahkan di propinsi yang sama) dengan alasan yang kurang dapat diterima. Begitulah heterogenitas pasti tidak terelakkan di belahan bumi mana pun. Akan tetapi perlakuan diskriminatif, kehendak menguasai (hegemoni) berdasar sentimen kedaerahan semestinya disudahi saja.***


Responses

  1. tulisan ini dimuat di kompas jawa barat sabtu 18 juli 2009

  2. ini komentar sahabat yang bekerja di tangerang tapi tinggal di bandung

    dar_bdg (7/20/09 11:29 PM):

    mungkin untuk yg freelance lbh luas mengendalikannya

    lebih luwes..

    dang pernah ngrungu pemlihan mojang jajaka jawa barat?

    peserta seng wilayah 3 mah bakal beli jadi juara..
    Me:

    ga juga ang, sbnrnya yg punya kuasa ya para penguasa, dlm hal ini misalnya walikota dan bupati cirebon menghapus pelajaran bahasa sunda di SD karena pertama membebani siswa dan kedua kurang akrab. pelajaran basa cerbon saja angel

    mojang jajaka wis digelar ning hotel prima crb 2 minggu yll, trus jare kanggo diadu ning tingkat propinsi
    dar_bdg :

    kita kadang keder…ya iya lah seng wilayah 3 mah kalah, wong bsa pengantare bae basa sunda.. tidak fair ngadu ayam karo bebek..biarpun sama2 unggas..
    Me:

    lbh tdk fair jika kadisdik kota crb bli ngirim utusan lomba basa cerbon tapi sing dikirim utusan berbahasa sunda!
    dar_bdg :

    weruh dewek wong cerbonan dikongkon ngomong sunda pasti mbledag mbledug..
    Me:

    begitulah adanya. tp ko bs chating si? lagi bli nggambar tah
    dar_bdg :

    istirahat dikitlah..saya pribadi sih : percuma kirim peserta ke bandung…apanya yg mau diambil?
    Me:

    jalan2 ke bdg, luru luwihan spj, sapa weruh bisa mprit bari peyempuan bdg
    dar_bdg :

    wilayah 3 bae sudah punya sub kultur dan bahasa.. wong sukra kongkon ngomong bari wong majalengka,,,pake bahasa apa?
    Me:

    hehe itulah keragaman budaya kita ang
    dar_bdg :

    wong majalengka ngomong kata ‘mencleng’..wong sukabumi bingung..kosakata sunda mana eta..
    Me:

    eta teh aya naon aa
    dar_bdg :

    apamaning baka ngomong istilah ‘teu kiyeng lah..’ kan wong sunda bingung..
    Me:

    kekayaan budaya spt ini menjadi kekayaan yang harus dipelihara sebagai kebhinekaan
    dar_bdg :

    kita lebih enjoy nyebut cerbonan kuh..BORDER LAND
    Me:

    borber artie apa
    dar_bdg :

    punya ciri khas sendiri…tidak ada duanya..walaupun ada sedikit model bahasa spt itu di daerah selatannya..banjar,cilacap..tapi tidak semeriah cirebon

    border kira2 artine perbatasan lah
    Me:

    iya ang, basa cerbon di plered dan di kota pun berbeda dialek dan kosa katanya
    dar_bdg :

    tapi kenapa ya perbatasan jawa tengah-jawa timur…biasa bae..

    saya jawab: krn masih kuatnya pengaruh mataram (yogya-solo)

    chating di yahoo dengan daryanto pun selesai.

  3. wah kondisinya mungkin sedikit mirip di daerah saya pak (malang, jatim). banyak yang ngomongnya kejakarta-jakartaan. sampe eneg dengernya. hehehe. lupa sama bahasa jawa sendiri, waktu saya tanya katanya karena teman2nya kebanyakan anak jakarta. jadi menyesuaikan. wah ndak kebalik tuh?

    saya rasa ini dampak dari kotak ajaib bernama televisi yang tayangan-tayangannya jakarta-sentris. akibatnya budaya daerah sendiri jadi terlupakan. saya sudah pernah bahas di tulisan saya🙂

  4. Hegemoni Bahasa dimuat di rubrik Forum Budaya Kompas Jabar Sabtu 18 Juli 2009, direspon oleh Dadang Bainur mantan wartawan Pikiran Rakyat Senin 27 Juli 2009 di Kompas Jabar, dan Sabtu 1 Agustus 2009 ditanggapi oleh Supali Kasim mantan Ketua Dewan Kesenian Indramayu dan Pengurus Lembaga Basa lan Sastra Cirebon di koran yang sama. Mudah2an ada yang menanggapi lagi supaya persoalan bahasa Cirebon jadi cair………

  5. sabtu 15 agustus 2009 “hegemoni bahasa” juga ditanggapi edeng samsul ma`arif dari lingkar studi sastra ditulis di kompas jabar

  6. jujur saja, sekitar 16 tahun yang lalu saya termasuk korban dari pemaksaan masuknya pelajaran bahasa sunda di smp. karena kedua orang tua saya tidak berbahasa sunda, dan lingkungan sekitar pun nyaris semuanya berbahasa cirebon, jadilah saya planga-plongo waktu pelajaran bahasa sunda di sekolah. dan di buku raport pun saya sukses mendapatkan nilai 5.

    dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada rekan-rekan yang berbahasa sunda, saya pikir alangkah lebih baiknya bahasa cirebon kembali menjadi tuan rumah di rumahnya sendiri.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: