Oleh: da2ngkusnandar | Juli 18, 2009

Bom

Catatan Dadang Kusnandar

Anggota Lingkaran Dialog Kebudayaan, tinggal di Cirebon

GETAR ledakan terasa di kantor saya. Sejarak 100-an meter dari Hotel JW Marriot, ia juga mendengar helikopter meraung di udara, jerit ambulance di jalanan, orang-orang panik, takut, tak tahu harus bagaimana memilih cara menghindar dari efek ledakan. Jakarta pagi itu bukan hanya diguncang 3 buah bom yang tiba-tiba meledak. Jakarta 17 Juli 2009 juga diguncang perasaan ratusan orang (mungkin ribuan) yang melintas atau mukim di dekat lokasi peledakan. Tiga tahun lalu di lokasi yang sama, hotel bertaraf internasional itu meledak. Perasaan terguncang sekaligus mempertanyakan lemahnya aspek pengamanan warga masyarakat, agaknya menyembulkan pertanyaan; seberapa baguskah pengamanan warga sipil yang diberikan aparat keamanan? Tidak bisakah deteksi keberadaan bom aktif diketahui sebelum meledak? Mungkinkah bom selalu menghantui indonesia tatkala sebagian kita menganggap betapa pesta politik kerap jadi alasan keengganan warga?

Seingat saya, pasukan gegana pasukan brimob dibekali pendidikan dan pelatihan melacak keberadaan bom dan atau alat peledak lain yang membahayakan masyarakat. Pasukan itu pula dapat memastikan letak persisnya sehingga peledakan tidak terjadi. Berbekal kepintaran mencium keberadaan bom, seharusnya peledakan bom di tempat yang sama lebih dari satu kali tidak boleh terjadi. Demikian juga kesiapan atas pengamanan lokasi strategis dengan tidak berkesan menakuti warga sipil perlu dipertimbangkan. Biasanya warga sipil jengah melihat wara-wiri tentara atau brimob dengan senapan laras panjang, berbaris, kondisi siaga mengintip dan berjaga-jaga di keramaian. Biasanya juga warga sipil merasa terganggu privasinya melihat kehadiran sepasukan militer di sekitarnya.

Bayangan seperti itu wajar adanya, karena militer seharusnya memberi pengamanan tanpa diam-diam menyisipkan rasa takut kepada warga sipil. Dan wajar pula sipil merasa terganggu lantaran kehadiran militer di tempat yang sama sering mengurangi ruang gerak orang sipil. Beberapa ruas jalan yang dikosongkan adalah penanda berkurangnya ruang terbuka itu. Sipil menghargai militer, demikian juga sebaliknya. Akan tetapi komunikasi ini belum terbangun lantaran beberapa perbedaan cara pandang sipil dan militer terhadap sebuah masalah. Sebut saja meledaknya dua bom di Marriot dan sebuah di Restoran Erlangga Ritz Carlton.

Militer dan kepolisian memandang peledakan ini sebagai ancaman serius yang mengganggu keamanan wilayah negara. Peledakan itu pun relevan dengan lemahnya pengawasan terhadap lalu lalang kustomer di hotel berbintang berkelas internasional. Pihak kepolisian paska peledakan baru mematok aturan agar petugas hotel memeriksa tas kustomer yang menginap.

Berbagai acara yang sudah dipersiapkan panitia menyambut Manchester United pun akhirnya berantakan. Kon kerugian ditaksir mencapai miliar rupiah. Akan tetapi yang paling penting adalah bagaimana kita menyediakan seperangkat pengamanan kepada masyarakat, terlebih lagi kepada tamu asing. Bayangkan jika seketika tersiar kabar menyoal lemahnya faktor keamanan di indonesia sehingga tidak layak disinggahi. Kenyataan ini tidak saja mengurangi jumlah kedatangan turis mancanegara ke indonesia melainkan juga terpatrinya stigma tentang bom yang masih bisa diledakkan di berbagai tempat ini. Lihat saja catatan peledakan bom sejak tahun 2000 yang mengoyak dan merobek republik tercinta ini. Berikut catatan itu :

1). 1 Agustus 2000 Bom meledak di Kedubes Filipina, Menteng, 2 orang tewas 21 luka-luka.
2). 13 September 2000 Bom meledak di lantai parkir Bursa Efek Jakarta.
3). 24 Desember 2000 Serangkaian bom meledak pada malam Natal di Jakarta, Bekasi, Sukabumi, Mataram, Pematangsiantar, Medan, Batam dn Pekanbaru.
4). 22 Juli 2001 Bom di Gereja Santa Anna dan Gereja Santa Huria Natak Protestan (HKBP) di Kalimalang Jakarta Timur, 5 orang tewas.
5). 31 Juli 2001 Bom meledak di Gereja Bethel Tabernakel Kristus Alfa Omega di Jalan Gajahmada Semarang.
6). 23 September 2001 Bom meledak di Plaza Atrium Senen Jakarta Pusat, merusak beberapa mobil di parkir dua gedung tersebut.
7). 6 Nopember 2001 Bom rakitan meledak di halaman Australian International School, Pejaten Jakarta Selatan.
8). 12 Oktober 2002 Paddy`s Pub dan Sari Club di Legian Kuta Bali diguncang bom. Dua bom meledak jam 23.05 WITA. Lebih dari 200 orang tewas, 200 orang lebih luka-luka. Pukul 23.15 WITA bom meledak di Renon dekat kantor Konsulat Amerika Serikat, tidak ada korban jiwa.
9). 3 Februari 2003 Bom meledak di bandara Soekarno Hatta, 2 orang luka berat.
10). 27 April 2003 Bom meledak di Hotel JW Marriott Mega Kuningan, 14 orang tewas.
11). 10 Januari 2004 Ledakan dahsyat terjadi di Kedubes Australia Jl HR Rasuna Said Kuningan Jakarta Selatan, gedung-gedung di dekatnya hancur, 6 orang tewas.
12). 12 Desember 2004 Bom meledak di Gereja Immanuel, Palu Sulawesi Tengah.
13). 28 Mei 2005 Bom meledak di Temena Poso Sulawesi Tengah, 22 orang tewas.
14). 8 Juni 2005 Bom meledak di halaman rumah Ahli Dewan Pemutus Kebijakan Majelis Mujahidin Indonesia, Abu Jibril di Pamulang Barat Bekasi.
15). 1 Oktober 2005 Bom meledak di Kuta Bali, 22 orang tewas.
16). 31 Desember 2005 Bom meledak di pasar Palu Sulawesi Tengah.
17). 10 Maret 2006 Bom meledak di rumah penjaga Kompleks Pura Agung Setana Narayana di Desa Toini Poso.
18). 22 Maret 2006 Bom meledk di pos kamling Dusun Landangan Desa Toini Kecamatan Poso Pesisir jam 19.00 WITA.
19). 1 Juli 2006 Bom meledak di Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) Eklesia jalan Pulau Seram Poso pukul 22.15 WITA, tidak ada korban jiwa.
20). 3 Agustus 2006 Bom meledak di Stadion Kasintuwu di samping RSU Poso Sulawesi Tengah.
21). 18 Agustus 2006 Bom meledak di Poso.
22). 6 September 2006 Bom meledak di Tangkura Kecamatan Pesisir Selatan, Poso.
23). 17092009 Bom meledak di Hotel JW Marriott dan Rirtz Carlton, 9 orang tewas.

Dua puluh tiga peristiwa ledakan bom di Indonesia sejak tahun 2000, sejak memasuki era reformasi yang bebas mengekspresikan diri, mungkin termasuk di dalamnya bebas meledakkan bom berkuatan tinggi hingga menewaskan orang yang tidak bersalah, orang yang bukan jadi target ledakan bom.

Dua puluh tiga kali bom meledak dan berlangsung di rumah ibadah, merenggut nyawa, melepas kaki tangan kepala tubuh ke tempat yang bukan sebenarnya. 23 kali peledakan bom setelah indonesia menyatakan diri memasuki ambang kebebasan dan menghirup udara segar demokrasi. 23 kali bom meluluhlantakkan keramahan orang indonesia, Jum`at pagi 17 Juli 2009 terjadi lagi di Jakarta, di ibu kota negara yang seharusnya amat terjaga dari segala ancaman. Ah, kita ingin menuduh siapa pun kecuali ada upaya serius mengetahui deteksi awal keberadaan bom yang bakal meledak sehingga tidak ada lagi korban sia-sia. Semoga.***


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: