Oleh: da2ngkusnandar | Juli 21, 2009

Borderland

Catatan Dadang Kusnandar

Anggota Lingkaran Dialog Kebudayaan, Cirebon


PERBATASAN, penghubung dua wilayah geografis mengingatkan pada beberapa wilayah indonesia yang sampai sekarang mengundang dan mengandung potensi konflik, bahkan konflik antarnegara. Tetapi, perbatasan (borderland) juga dapat dilekatkan pada Cirebon. Perbatasan secara geografis yang berada di propinsi jawa barat berbatasan dengan propinsi jawa tengah. Meski terletak di propinsi jawa barat, bahasa daerah yang masih dianut masyarakatnya bukan bahasa Sunda, melainkan bahasa cerbon yang juga berbeda dengan bahasa jawa tengah dan jawa timur. Teman saya berkata, cirebon (border) ternyata berbeda dengan borderland  jawa tengah dan jawa timur. Boleh jadi, menurut saya kuatnya pengaruh Mataram (yogyakarta) masih sanggup mempertautkan borderland di dua propinsi itu. Maka wajar jika secara bahasa dan kultur borderland di jawa tengah dan jawa timur hampir memiliki banyak kesamaan.

Berbeda dengan Cirebon. Secara bahasa berbeda dengan jawa barat dan jawa tengah, meski terletak di antara kedua propinsi tersebut. Sepertinya peninggalan Mbah Kuwu Cirebon, Pangeran Cakrabuana, 600 tahun lebih itu, memang memiliki ciri sendiri yang “lepas” dari jawa barat dan jawa tengah.  Tetapi bahasa Sunda (jawa barat) juga ada di cirebon walaupun tidak sehalus wilayah priangan dan cianjur, begitu pula bahasa jawa (jawa tengah/ timur) juga ada meskipun tidak sehalus di kedua propinsi itu. Konon pengaruh kerajaan Sunda Kalapa dan Pajajaran menjadi satu alasan mengenai bahasa sunda di cirebon, misalnya Kuningan dan Majalengka selatan. Kabarnya bahasa sunda yang dianut Sunda Kalapa, Galuh, Pajajaran dan Pakuan berimbas ke cirebon.

Namun ketika Sultan Agung dari Kerajaan Mataram menyerbu Batavia 1528 dan 1529, pengaruh bahasa Jawa mulai masuk. Pasukan yang diutus melalui jalur darat melewati cirebon, bahkan pasukan Yogyakarta yang tidak memenangkan dua kali peperangan itu pun banyak yang akhirnya menetap di cirebon kemudian beranak pinak. Tak heran jikalau kesenian cirebon ada yang substansinya peperangan, misalnya tari jalasutra (panah), dan tari jala sena (pasukan katak, penyelam) dan tari kulun-kulun (pasukan badak dengan pedang dan perisainya). Begitu pula Ronggeng Bugis, ketika pemain kesenian ini memerankan diri sebagai perempuan (bencong) menari seadanya dan berpakaian perempuan (berkebaya) tetapi diam-diam bertugas sebagai telik sandi alias penggali informasi dari musuh. Dinamakan ronggeng bugis lantaran pasukan Makasar (Bugis) yang tidak mau tunduk kepada VOC lari ke Mataram dan bergabung menjadi pasukan kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Demikianlah bahasa sunda dan bahasa jawa masuk berkembang dan membentuk fase yang baru, yang mungkin saja menjadi bahasa cirebon. Bisa juga bahasa cirebon memang ada sebelum penyerbuan Sultan Agung ke Batavia. Usia kota cirebon yang menunjuk ke angka 600 tahun lebih dibanding 1528-1529 yang berjarak 480 tahun, sudah cukup menjelaskan usia bahasa cirebon. Maka jikalau kini masih terkesan ada perseteruan bahasa sunda dan bahasa cirebon, bagi saya itu jadi fenomena tersendiri. Betapa tidak! Jawa Barat yang sunda masih memaksakan diri agar bahasa sunda dikenal dan “menguasai” jawa barat, termasuk cirebon. Caranya ialah masuknya pelajaran bahasa sunda ke dalam kurikulum sekolah dasar dan sekolah menengah pertama.

Kawan saya yang lain menyebut Cirebon sebagai melting plot atau yang menganut budaya serapan. Dua budaya besar, Jawa dan Sunda, merembes dan berkembang membentuk budaya baru. Itulah Cirebon, katanya menganalogikan dengan Amerika Serikat (AS) . Saya tentu saja tidak begitu sepakat jika dikatakan melting plot lantaran AS memang dibentuk berbagai budaya besar dari Eropa. Jika merujuk film Far and Away yang dibintangi Tom Cruisse dan Nicolle Kidman, tampak bagaimana masa awal penataan benua amerika yang dikatakan sebagai glory land atau tanah impian. Film bagus yang saya tonton lebih sepuluh tahun lalu itu menceritakan sulitnya warga baru AS mendapatkan uang dan sepetak tanah pertanian.Tom Cruisse harus jadi pegulat bebas di arena judi, begitu pula harus ikut lomba balapan kereta kuda untuk memperebutkan sekavlling tanah pertanian. Adegan ini divisualkan dramatis karena setiap peserta lomba boleh saling mencelakakan rivalnya.

Saya menolak jika cirebon dianalogikan sebagai melting plot , karena bertemunya dua budaya besar (jawa dan sunda) justru pada gilirannya kelak menimbulkan efek konflik bahasa. Berbeda dengan AS yang didatangi kaum imigran dari Eropa yang telah menganut budaya khas masing-masing. Irlandia, Portugis, Spanyol, Inggris, Prancis dan semua bangsa lain yang masuk ke glory land AS di tahun 1776 atau beberapa tahun ke belakang, menandai adanya perbedaan budaya masing-masing sehingga sangat sulit mencari idealisasi nasionalisme Amerika Serikat.

Budayawan gaek,  Kartani, menyebut cirebon sebagai sarumban atau campuran, kata ini dikutip dari kitab tua Carita Purwaka Caruban Nagari karya lisan yang ditulis Pangeran Arya Carbon tahun 1720. Agak unik memang, kitab ini ditulis ratusan tahun berdasar ingatan massal dari cerita lisan yang turun temurun (leluri) antara pencatat dengan Pangeran Wangsakerta. Saya sempat bertanya, sekuat apakah ingat komunal ini direkam?   Sarumban berarti  cirebon memiliki tipikal kultur campuran Jawa dan Sunda, namun membentuk modifikasi baru sehingga berbeda dengan keduanya. Ironinya jikalau cirebon tidak diterima oleh sunda dan jawa. Maka jadilah ia sebagai alienasi, sebuah komunitas dengan ciri keterbukaan seperti diperlihatkan masyarakat pantura (Cirebon dan Indramyu) hingga dikenal istilah blakasuta atau blak-blakan.

Komunitas perbatasan biasanya memiliki ragam profesi, kendati untuk konteks cirebon karena letaknya di tepi laut jawa, maka saat itu profesi terbanyak didominasi nelayan. Kendati jika melaut tidak sejauh pelaut Bugis, namun menyisir tepi laut jawa dari cirebon ke pamanukan, karawang, tanjung priok dan banten sudah terbiasa dilakukan nelayan saat mencari ikan dan otomatis tidak pulang berhari-hari. Dengan perahu motor dan bekal yang sudah disiapkan para nelayan menyusur tepian laut jawa dan singgah di banyak Tempat Penjualan Ikan (TPI) untuk bertransaksi langsung dengan konsumen, walaupun ada juga yang membiarkan ikan tangkapannya diborong tengkulak.

Profesi lain yang banyak dipilih adalah sektor perdagangan. Sejak dulu pelabuhan Muara Jati (lantas berubah jadi Tanjung Mas dan kembali menjadi Muara Jati setelah nama Tanjung Mas ditempelkan untuk pelabuhan Semarang) menjadi tempat singgah saudagar. Bahkan perkembangan agama islam pun sebagaimana dipaparkan sejarawan banyak dilakukan sambil transaksi niaga di pelabuhan. Dari sinilah lantas muncul pabean (pajak) yang mengelola uang rakyat, termasuk juga perlayaran rakyat –sebuah perusahaan yang dikelola pedagang dan nelayan di pelabuhan Muara Jati Cirebon.

Setelah perkembangan dan kemajuan dunia tak dapat ditolak, ragam profesi menyesaki kawasan borderland. Dari sektor jasa [misalnya penjaga gudang, pengangkut barang yang dikenal sebagai TKBM (tenaga kerja bongkar muat),  pengamanan,  pedagang makanan minuman dan seterusnya. Demikianlah borderland yang bernama cirebon itu kendati pada  mulanya dikategorikan sebagai wilayah kerajaanPajajaran di Jawa baratatau kerajaan Mataram di Jawa tengah, terbukti menemukan ciri khasnya sendiri yang berbeda dengan dua kerajaan besar yang mengapitnya.

Agaknya persetruan Mataram dengan Portugis di Batavia, campur tangan Mataram (Sultan Agung) memutuskan eksekusi mati bagi Dipati Ukur, mencampuri urusan dalam kerajaan Cirebon setelah wafatnya Susuhunan Jati, memberikan nuansa terciptanya Cirebon yang tetap dengan ciri khas borderland. Tidak ke Pajajaran, juga tidak ke Mataram.

Dengan demikian bahasa yang tumbuh dan berkembang di borderland ini pun merupakan adpatasi dua bahasa, jawa dan sunda. Relatif komunitas yang mukim di borderland paham dua bahasa. Soal bahasa mana yang lebih intens dipraktekkan tergantung di lingkungan mana mereka tinggal. Artinya yang dekat ke Pajajaran relatif berbahasa Sunda, dan yang terletak di pantura (cukup jauh dari Pajajaran) menggunakan bahasa Cerbon.

Borderland dengan kata lain adalah komunitas unik, yang jika ditilik dari sejarahnya sudah merupakan sarumban (campuran) antara Arab, India, dan Cina. Lihat saja kereta kencana Paksi Nagaliman yang merupakan gabungan tiga ekor binatang dari arab, india dan cina. Ilustrasi fiktif dan makna filosofis kereta kencana ini  sunguh luar biasa!***


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: