Oleh: da2ngkusnandar | Juli 21, 2009

Pak Bei

Catatan Dadang Kusnandar

anggota Lingkaran Dialog Kebudayaan, Cirebon


KETIKA orang takut angka 666, Pak Bei punya cerita angka 9999. Tiba-tiba Pak Bei mengadakan syukuran di rumahnya padahal Nanang belum naik kelas dan Pak Bei tidak naik pangkat, tetapi syukuran diadakan karena tanggal 9 bulan 9 tahun 99 tidak terjadi apa-apa (halaman 44). Cerita karikatur ini mengejek sekaligus dakwah: Jangan takut tanggal (almanak). Buku komik Pak Bei karya Pak Masdi yang dicetak Penerbit Sileng Semarang berdasar beberapa karikatur Pak Bei di harian Suara Merdeka Semarang. Cerita kedua yang menurut saya asik, sebagai berikut: Dan jika kelak hidupmu enak, jangan lupa sama Pak Bei. Tentu tidak Pak Bei, aku akan senantiasa ingat nasehat Pak Bei, sebab…….akibat nasehat Pak Bei yang panjang lebar tadi, saya ditinggal kereta (halaman 48). Dialog ini sarat makna, juga ada unsur humor di dalamnya.

Dua cerita Pak Bei yang saya kirim kepada anaknya di Jakarta dan kepada teman di Cirebon memperlihatkan kesungguhan Pak Bei (tokoh utama karikatur karya Pak Masdi) melihat fenomena yang terjadi di masyarakat. Betapa sebuah ketakutan massa kepada angka 666 yang konon disandarkan betapa kuatnya hasrat setan dan potensi menguasai manusia, seperti juga angka 13 yang kabarnya menakutkan. Pak Bei kemudian memplesetkan angka 9999, tanggal 9 September 2009 (entah apa yang terjadi di Semarang saat itu) sebagai tanggal syukuran yang digelar di rumahnya di Semarang. Mengundang tetangga, hingga tetangga bertanya ada apa. Namun dengan enteng Pak Bei menjawab tanggal 9 bulan 9 tahun 99 tidak terjadi apa-apa.

Waktu itu, ada isu yang beredar di Semarang dan kota2 lain di Jawa Tengah lainnya (dan kalau tidak salah di seluruh dunia waktu itu, buktinya ada film The Sixth Day yg dibintangi Arnold Schwarzenegger), bahwa tepat pada tgl 9-9-99 dunia ini akan kiamat. Orang-orang, terutama orang desa, sudah pada heboh mempersiapkan terjadinya kiamat itu. Nah, begitu semua itu ternyata isapan jempol belaka, muncullah komik Pak Bei itu untuk mengolok-olok sekaligus mengingatkan kita agar tidak mudah termakan isu dan mempercayai hal-hal yg tidak ilmiah semacam numerologi almanak.

Cerita kedua adalah nasehat Pak Bei kepada seorang pemuda yang akan berangkat memenuhi panggilan kerja di kota besar. Nasihat diberikan di stasiun kereta api menjelang berangkat. Lantaran nasihat Pak Bei yang panjang lebar itu, pemuda tadi tertinggal kereta yang sudah melaju beberapa saat saja di depan matanya. Masalahnya bukan karena tidak tepatnya waktu pemberian nasihat melainkan masih banyak orang tua dengan kebiasaan menasihati anak muda panjang lebar, kendati bisa saja pemuda tidak mengindahkan nasihatnya. Di depan manggut-manggut, di belakang orang tua (Pak Bei), abaikan saja nasihat itu.

Seminggu lalu saya mendapat kiriman buku komik tipis berjudul Pak Bei dan telah dibaca anak saya hingga ia tersenyum dan tertawa menyimak isinya. Buku itu pada mulanya akan menjadi materi perpustakaan komik yang hingga sekarang masih terngiang dalam mimpi saya terwujudnya Museum Komik Indonesia di Ubud kabupaten Gianyar Bali. Soal buku Pak Bei pun sudah saya sampaikan kepada teman-teman di Bali.

Demikianlah dialog by phone dengan teman-teman di Bali terus berlanjut hingga berdirinya museum komik sebagai kekayaan bangsa Indonesia . Berbagai alasan yang ada antara lain agar anak-anak kita mau membaca, memahami dan menghayati tokoh hero lokal asal Indonesia. Barangkali jika cerita heroisme itulah ditulis dalam bentuk komik akan lebih mudahkan pemahaman dan disukai anak-anak. Benarkah?

Maksum Mukhtar di ruang kerjanya di STAIN Cirebon mengatakan, justru angkatan kitalah yang menyebabkan anak-anak kita seperti sekarang. Anak-anak seharusnya tidak dalam pemikiran (cara berpikir) kita, biarkan mereka mencari alternatif sendiri, ketika tokoh komik lokal telah tergeser oleh Sincan dan sebagainya. Saya tentu saja menolak, justru ketika kita masuk era global maka yang ada adalah kita kalah bersaing (dan tak sanggup memenangkan kompetisi dagang) dengan luar negeri, yang ada ialah kita terseok-seok di arena AFTA, kita jadi penadah utang kelompok G 7, kita jadi sasaran produk impor negara maju, bahkan kondom bekas pun satu kontainer pernah dikirim ke Indonesia dari Eropa.

Namun Pak Maksum tetap bersikukuh yen anak-anak kita sebenarnya tengah mencari alternatif dan berusaha masuk ke dunia yang disukainya. Jadi biarkan saja mereka begitu karena anak-anak melihat rusaknya Indonesia adalah karena ulah kita sendiri. Aha, tanpa menguutip Gibran menyoal anak, Pak Maksum sebenarnya mengajak kita memposisikan diri sebagai pembimbing bukan pengatur anak-anak.

Kendati saya tidak setuju pandangan dosen STAIN Cirebon itu, tetap saja di tangan saya kumpulan karikatur Pak Bei seperti mengingatkan: Pak Bei, ini karyawan baru, masih magang, beri dia pekerjaan, beri petunjuk dan pengarahan. “Baik Pak”, jawab Pak Bei. Jika ada yang penting hubungi aku atau bapak pemimpin kantor tadi; kata Pak Bei kepada karyawan baru. “Ya, pak”. Sementara kau kutugasi tunggu telepon di sini. Syaratnya kau harus sigap dan ramah tamah. “Ya, pak”. Ada telepon penting? Yang barusan tadi dari mana? Karyawan baru itu gelagapan menjawab, “Nggak ada pak…..cuma…….”Hallo, met siang….ya….oya…ya, makasih, met siang”. Seseorang bilang di kantor ini baru saja dipasangi bom. Cuma itu….. “Apa?!!”, kata Pak Bei ketakutan.

Cerita ini saya nukil dari halaman 57 buku Pak Bei karena ternyata anak muda sering tak nyambung dengan orang tua. Pendapat Pak Maksum menyoal pembiaran anak-anak pada dunia pilihannya saat ini, boleh jadi analog atas guyon yang disampaikan karyawan baru yang masih magang itu. Alhasill, kita dan anak-anak, Pak Bei dengan karyawan baru, atau mungkin saya dengan Pak Maksum — ternyata tidak atau nyambung menyoal sebuah wacana.

Jikalau wacana saja belum atau tidak match, apalagi untuk sebuah tindakan. Celakanya cerita di atas menjadi bagian paling akrab dengan keseharian kita. Diam-diam kita memelihara perbedaan dengan yang lain sehingga untuk menyatu membuat (dan atau) menciptakan sebuah pekerjaan bersama, kita sering kelimpungan. Tidak bisa selaras, tidak bisa melaksanakan pekerjaan bersama-sama. Kita sering berbeda dan memelihara perbedaan agar kita jalan masing-masing. Biarlah, setiap orang punya pilihan sendiri; lebih kurang begitu.

Demi dan atas nama perbedaan yang kata sahibul hikayat adalah hikmah, dalam hemat saya sebaliknya: sering kali perbedaan itu menjadi laknat, bukan berkah tetapi musibah. Perbedaan yang bisa disandingkan dalam heterogenitas sebuah wacana, seharusnya tidak melebar jadi perbedaan ketika dua orang yang berbeda pandang ada pada satu pekerjaan bersama. Kendati sulit mencari titik temu, sekali lagi saya ingat Pak Bei……….

Buu!!! Kabar gembira bu! Aku diminta pulang ke desa oleh pakde, untuk menerima warisan rumah pusaka. Apa? Rumah pusaka itu besar, Pak Bei? Pinggir jalan ya? (Tanya ibu dalam perjalanan ke desa dengan Pak Bei naik bus). Ya, mbuh aku juga belum tahu. Sampai di rumah pusaka, pak de berkata, “Terimalah! Siapa tahu tiba-tiba kau punya pusaka, bisa kau rumahkan di sini”. Pak Bei tertegun. Pak Bei jika pensiun kelak kita berhari tua di desa saja ya. Tentu! Rumah kita dijual buat modal, kan di sana kita sudah punya rumah! “Bei, di sini dulu pusaka-pusaka kita itu disimpan. Ada keris, pedang dan mata tombak. Sayang semuanya itu sudah laku terjual ketika parah-parahnya krismon…..” kata pakde. Lho kok merengut? tanya ibu. Pak Bei menjawab singkat, “Mbuh!”.

Saya tidak akan berkata mbuh (tidak tahu) kepada siapa pun jika saya tahu, tetapi saya harus berkata mbuh kalau saya tidak tahu. Ceplas ceplos, celetukan, dan guyon ala Pak Bei sepertinya merangkai saya kepada sosok sederhana yang kini telah tiada. Membaca Pak Bei sepertinya membaca kisah sejumlah orang dengan dramturginya masing-masing. Namun sayang sekali komik Pak Bei sampai sekarang belum dibukukan. Adapun yang kini di tangan saya, dicetak sendiri maka lupa menulskan sebagian biografinya.****


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: