Oleh: da2ngkusnandar | Agustus 5, 2009

Sejarah Tak Pernah Lurus

Oleh Dadang Kusnandar
Anggota Lingkaran Dialog Kebudayaan Cirebon

Resensi Buku

Judul                    : Pelurusan Sejarah Indonesia
Penulis                 : Asvi Warman Adam
Penyunting            : M. Nursam
Tata Letak            : Aep S
Sampul                : Dian Qamajaya
Pracetak              : Dian Andika Winda
Penerbit               : Ombak, Yogyakarta
Isi                        : xxxviii + 265
Cetakan, tahun     : I, 2009

TERLALU sering orang bicara meluruskan sejarah. Mengingat pentingnya sejarah yang tidak membohongi publik, tidak diputarbalik, tidak memihak kepada kepentingan siapa pun dan seterusnya menyebabkan sejarah tidak pernah selesai ditulis, digali, dan dijelaskan sebagai representasi sebuah kepentingan. Inilah sebabnya versi sejarah sangat beragam serta tak urung menimbulkan pertanyaan yang tak pernah selesai.

Sebagaimana diketahui bersama, setiap komunitas pasti memiliki ceritanya sendiri, begitu pun setiap komunitas mempunyai kepentingan terhadap cerita atau kisah atau perjalanan sejarahnya masing-masing. Dan apabila kisah atau sejarah sebuah komunitas ditulis oleh orang lain di luar komunitasnya, tidak urung menimbulkan keraguan atas buku sejarah yang ditulis itu. Begitulah terus menerus terjadi beragam versi sejarah yang menyesaki perjalanan kita sebagai bangsa.

Asvi Warman Adam, sejarawan muda, tergolong seorang yang ulet dan intens menggulati perkembangan sejarah Indonesia. Buku-bukunya serta tulisan-tulisannya di media cetak tak lepas dari pemahamannya tentang sejarah. Menarik memang ketika sejarah disusuri lantas diluruskan (kendati tak pernah lurus) dengan maksud menyajikan sesuatu yang lain ke hadapan publik, setidaknya agar sejarah tidak dipahami secara sepihak. Pentingnya pelurusan sejarah sempat mengundang keinginan mendiknas Malik Fajar di tahun 2004 yang hendak mengupas peristiwa kelam 1965 di Indonesia.

Mendiknas saat itu menunjuk sejarawan Taufik Abdullah. Hal ini berbeda dengan Prancis yang di tahun 1980-an menunjuk langsung ahli informatika untuk meneliti dampak komputerisasi, penunjukkan bahkan dilakukan oleh Presiden Miterand. Di Indonesia saat itu Presiden Megawati Soekarnoputri ingin agar permasalahan 1965 dapat diselesaikan, maka ditugaskanlah mendiknas untuk menulis sejarah 1965 di Indonesia dengan biaya pemerintah.

Soalnya kemudian setelah Megawati diganti maka bisa jadi buku tentang 1965 yang ditulis pada saat kepemimpinannya akan menebar keraguan serta ketidakpercayaan penguasa berikutnya. Begitulah maka pelurusan sejarah, dalam pandangan saya tidak pernah akan terjadi. Mengingat setiap rezim pasti mematok aturan-aturannya sendiri yang tidak ingin disamakan dengan aturan rezim lain. Namun demikian bukan berarti upaya pelurusan sejarah sebagaimana dilakukan Asvi menjadi tidak penting. Ia tetap penting, selain untuk menambah panjang versi sejarah (pinjam ujaran Mahbub Djunaidi), juga penting untuk mempertajam suasana dinamis pada iklim intelektual kita.

Mengapa sejarah perlu diluruskan? Mengapa sejarah banyak versi dan sarat kepentingan? Buku di tangan Anda ini mengantarkan kita pada pemahaman sejarah dengan titik tekan pada dua hal, yakni Pengembangan Historiografi Indonesia dan Rekonstruksi Sejarah. Keduanya penting karena selain bermuatan teoritis sejarah juga pemaparan peristiwa sejarah yang patut direkonstruksi. Rekonstruksi sejarah sekali lagi menjadi penting agar publik dapat mengetahui kajian sejarah yang merujuk kepada (setidaknya) objektifitas dan akurasi data.

Sejarah perlu diluruskan supaya kita tidak percaya begitu saja kepada sejarah yang telah ada. Meski bisa saja kita tidak sepaham dengan penulisan sejarah yang telah dibakukan sebagai kitab induk. Ini biasanya menyangkut soal peristiwa sejarah yang dahsyat dan menelan banyak korban, peristiwa 1965 misalnya. Terbanyak dan sering dirujuk adalah sejarah 1965 versi TNI AD, meskipun kini telah banyak buku yang mengkonter sejarah 1965 versi TNI AD itu. Namun apakah lantas masyarakat percaya tanpa reserve kepada kitab sejarah 1965 yang ditulis oleh bukan TNI?

Dengan demikian penulisan sejarah tidak pernah bisa lepas dari kepentingan penguasa saat itu. Dan berdasar itulah kritikus sastra HB Jassin menilai bahwa ciri sastra salah satunya adalah keberpihakan kepada penguasa (keraton sentis). Pada  masanya, raja tidak boleh disalahkan, ucapannya adalah titah, trahnya adalah dewa; sehingga penulisan biografi pun harus yang baik-baik saja, minimum yang menyenangkan raja. Tak peduli bagaimana dampak buku itu bagi keturunannya kelak. Begitulah terus bergulir  pemahaman sejarah yang beragam, yang di dalamnya terdiri muatan kepentingan masing-masing komunitas.

Namun Asvi mengulas Denys Lambard, guru besar Ecole Francaise d`Extreme Orient, Paris yang juga pendiri Archipel, jurnal ilmiah yang  mengkaji Indonesia  bersama Leiden dan Cornell. Tahun 1997 di Jakarta Lambard meluncurkan bukunya Nusa Jawa sebagai ensklopedi sejarah sosio budaya Jawa dalam konteks Asia dan dunia. Nusa Jawa dapat ditempatkan dalam deretan studi mendasar sepanjang hampir dua abad mengenai Pulau Jawa dan penduduknya. Buku ini setara dengan History of Java karya Thomas Raffles, Negara Kertagama karya Pigeaud, The Relligion of Java karya Clifford Geertz dan The Javanance Culture karya Kuntjaraningrat.

Jika orang Prancis saja demikian bagus menulis tentang Indonesia, kenapa sejarawan Indonesia tak tergerak melakukan hal yang sama sebagaimana dilakukan Asvi, meluruskan sejarah yang tak pernah lurus itu. Bersepakat dengan itu, buku di tangan Anda ini menjadi penting tidak sekadar untuk menambah hasanah kesejarahan kita, namun terlebih penting adalah untuk memahami dan mendudukan sejarah secara proporsional tanpa ditunggangi kepentingan apa pun.

Buku bagus sebagai edisi revisi dari cetakan tahun 2004 ini pun memuat beberapa tokoh sejarah yang tiada henti mengisi ruang berpikir kita. Sebut saja Bung Karno, Soeharto, Subchan ZE, Sudisman, Anak Agung Gde Agung, Karl Marx, Soemitro Djojohadikusumo, Prof George Mc T Kahin, dan sebagainya. Nama-nama ini saya yakin cukup lekat di keseharian kita karena kiprahnya yang menorehkan catatan sejarah.

Buku ini penting mengingat upaya serius Asvi meluruskan sejarah dengan membongkar puluhan referensi dalam dan luar negeri, agar pembaca dapat lebih memahami sejarah dengan pendekatan yang lebih objektif. Namun kelemahannya ialah buku ini terlalu banyak mengupas sekian peristiwa sejarah, padahal alangkah lebih baik jikalau Asvi menulis satu peristiwa sejarah yang heroik, menelan banyak korban, mengharubiru keindonesiaan kita — umpamanya peristiwa 1965.

Akan tetapi begitulah sejarah itu menarik karena penuh intrik, sebagaimana dikatakan Paul Veyne.***BUKU


Responses

  1. boleh saja sejarah harus diluruskan akan tetapi harus dilakukan dgn cermat jangan sampai malah secara tidak sadar terjadi pembelokan.. ketika PKI sedang menjadi kekuatan besar (sebelum peristiwa 65) ada upaya penghapusan keterlibatan mereka dalam pemberontakan 1948…dgn asumsi pemerintah salah menterjemahkan sikap perbedaan pandangan terhadap republik, tetapi di balik itu mengapa mereka harus membunuhi aparat pemerintah daerah dan rakyat? saya kira orang semacam rosihan anwar, des alwi yg memiliki nasionalisme tinggi patut dijadikan nara sumber. pelurusan sejarah juga tidak boleh sarat dgn kepentingan suatu golongan yang ingin muncul di panggung sejarah.

  2. sampai kapan pun sejarah tidak pernah akan lurus, setahu saya tiap orang punya persepsi sendiri2 tentang sejarah, jangankan yang telah berlangsung puluhan tahun silam, bahkan peristiwa nasional yang baru saja terjadi (kelak akan bernama sejarah) dipahami dengan berbagai makna dan persepsi. pemberitaan yang saling berbeda sudah menunjukkan betap sulitnya sejarah ditulis lurus, yang ada adalah sejarah yang kurus, bagai kurang gizi………….namun bagi saya itu merupakan kekayaan, dan akan terus tersimpan sebagai rona sejarah dengan silhuetnya sendiri


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: