Oleh: da2ngkusnandar | Mei 26, 2010

Ke Talaga Manggung atau Sindang Kasih

Sesuatu yang disayangkan bila kekayaan masa lalu justru dilupakan dan dikubur dalam-dalam. Bahkan, peranannya terkesan dikecil-kecilkan, dikalahkan oleh setting sejarah yang bersifat politis, sekadar memenuhi pesanan (rekayasa), daripada mengungkap fakta objektif yang sejati.

Begitulah nasib Talaga Manggung. Kerajaan tua di lembah Gunung Ciremai. Pada masanya, Talaga Manggung cukup termasyhur. Orang-orang, dari Thailand, Campa (Kamboja) dan Malaysia, berdatangan.

Yang lebih membanggakan, Talaga Manggung dirintis dari padepokan pendidikan (peguron), bukan representasi politik. Pada masa keemasan, orang berdatangan ke kerajaan Hindu-Buddha ini untuk belajar atau memperdalam ilmu. Tedja Sukmana (72), tokoh Majalengka mantan anggota DPRD 1999-2004, mengemukakan kemasyhuran itu. Talaga Manggung berawal dari padepokan di Banjaran, di Gunung Bitung Talaga oleh Rakaian Sudayasa dengan penerusnya Dewa Niskala. Kitab Siksa Kandang Karsiyan (586 M) menuliskan keberadaan Talaga Manggung. Begitu pula kitab Waruga Jagat (Purwaka Caruban Nagari tahun 1720 M). “Sampai tahun 1692 masih ada kerajaan Titu,” ujar Tedja.

Talaga Manggung diambil dari nama Prabu Talaga Manggung, juga dikenal Mundingsae Ageng dengan penandaan tahun Masehi 1292. Menurut Teja , Prabu Talagamanggung menurunkan Putri Simbar Kencana dan Raden Panglurah. Raden Panglurah tidak berminat pada politik, ia memilih menjadi begawan, sedang Simbar Kencana tertarik pada pemerintahan. Keturunannya kelak Ratu Sunyalarang (Ratu Parung) menikah dengan Raden Ranggamantri dari Pajajaran. Pernikahan dengan mas kawin seperangkat gamelan, baju antipeluru, ukiran, uang blendong, keris dan tombak. Benda-benda itu kini tersimpan di museum yang dikelola keturunannya, Teten Wilman (45).

Hingga sekarang ada makam Rd. Arya Saringsingan di Banjaran, Rd. Ranggamantri di Sanghiang, Ratu Sunyalarang di Cikiray, juga Rd. Sacanata di Desa Argasari, termasuk pula makam Sunan Wanaperih di Kagok.

Sindangkasih

Ibrahim Sumadinata (78), mengemukakan konteks yang melatarbelakangi Majalengka. “Saya dan tim dulu menelusuri Kota Majalengka, bukan Majalengka kabupaten,” tutur dia.

Menurut Ibrahim yang ikut membidani Perda Nomor 5/1982 tentang Harijadi Majalengka yang jatuh pada 7 Juni 1490 masehi, Majalengka dulunya Sindangkasih yang kini menjadi pusat pemerintahan.

Oleh karena itu, penelusuran sejarah Majalengka lebih tepat bila merujuk pada Nyi Rambut Kasih di Sindang Kasih. Kalau Talaga Manggung, konteksnya kabupaten, bukan pusat pemerintahan Majalengka.

Hari Jadi Majalengka menurutnya, berkiblat ke Cirebon tempat pertama kali Sunan Gunung Djati menyebarkan Islam. Ini terkait dengan Pangeran Muhammad, keturunan Pangeran Panjunan, Cirebon yang datang ke Sindangkasih untuk mencari buah Maja dan menyebarkan agama Islam.

“Talaga itu kalah oleh Islam dari Cirebon, sedang Nyi Rambut Kasih tidak,” ujarnya.

Pensiunan Kepala SMEA Negeri Sindanglaut itu yakin pada homonim Sindangkasih dari kata Candrasengkala. Candrasengkala artinya 1412 (10 Muharram) dan bila diubah atau dikonversikan ke tahun Masehi menjadi 1490 (7 Juni). Tanggal 7 Juni tahun 1490 itulah tahun kelahiran Majalengka, ini diperkuat dengan Perda nomor 5/1982. Candrasengkala sendiri merupakah khazanah budaya di Kerajaan Mataram.

“Silakan cek di Mataram Yogyakarta. 1490 merupakan tahun kedatangan Pangeran Muhammad dari Cirebon bersama istrinya Siti Amrillah. Keduanya menyebarkan Islam. Majalengka menganut Islam lebih dulu sebelum Galuh,” tutur Ibrahim yang masuk tim penyusun harijadi pada 7 Juni dengan pancakaki (titi mangsa) 1490 masehi itu.

Sejarah yang kemudian menjadi Hari Jadi Majalengka, kata Ibrahim, sesuai arahan pemerintah, harus memuat unsur heroisme dan patriotisme. Sejarah yang heroik dan patriotis itu menjadi nilai-nilai penentu masa depan. “Dan itu ada pada kisah Pangeran Muhammad,” tutur Ibrahim. (Dakus


Responses

  1. dikutip dari PIKIRAN RAKYAT EDISI CIREBON, suplemen koran umum Pikiran Rakyat Bandung, Rabu 26 Mei 2010


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: