Oleh: da2ngkusnandar | Mei 26, 2010

Meluruskan Polemik Sejarah Tatar Majalengka

Polemik tentang sejarah Hari Jadi Majalengka seolah menjadi perdebatan panjang. Setiap menjelang perayaan hari jadi 7 Juni, diskusi dan seminar sejarah yang dipenuhi perbedaan pendapat selalu jadi perbincangan ramai masyarakat kota angin itu. Tak terkecuali menjelang 7 Juni 2010 ini. Di usia menjelang 520 tahun ini, tak sekadar polemik, tetapi ada langkah serius dari Pemerintah Kabupaten Majalengka sendiri.

Tahun ini, setelah mempertimbangkan polemik laten berkepenjangan, Bupati H. Sutrisno ingin menyudahinya dengan langkah ilmiah, membentuk Tim 22 dari para sejarawan. Tujuannya mencari kebenaran sejarah Majalengka secara faktual dan objektif. Tak kurang kesungguhan pemerhati sejarah Majalengka hendak memperjelas asal usul daerahnya. Seiring pemahaman dan pengetahuan masyarakat yang masih terdekap kuat oleh mitos dan legenda. Pemahaman itu diam-diam diwariskan melalui cerita lisan. Hingga tak ayal lagi, setiap menyibak tabir sejarah Majalengka, pasti akan sampai pada legenda Nyi Rambut Kasih dan Pangeran Muhammad.

Polemik pun mengemuka, antara pro dan kontra. Di satu sisi, sejarah Majalengka yang sejak tahun 1982 diformalkan, kini ditentang masyarakat. Ini karena selain tidak kuat konstruksinya, juga mengandung banyak kelemahan sesuai ilmu sejarah (historiografi). Sejarah Majalengka yang diformalkan dalam Peraturan Daerah Nomor 05/op/013/pd/1982 dianggap tidak objektif dan faktual. Tak lebih sebagai legenda atau mitos sejarah lisan, tanpa didukung data primer, sekunder, dan tersier sebagaimana seharusnya data masa lalu dalam perspektif ilmu sejarah. Hal itulah yang melatari pembentukan Tim 22, pimpinan Nina Lubis, sejarawan Universitas Padjajaran Bandung. Tim mencari pertautan masa lalu atas sejumlah nama yang menjejakkan kisah perjalanan Majalengka hingga kini. “Yang diinginkan ialah sejarah faktual, bukan mitos atau legenda lisan. Saya serahkan semua ke tim. Hasilnya yang sesuai kaidah kesejarahan, tentu itu yang jadi dasar,” tutur Bupati Sutrisno.

Projek masa lalu Bupati Sutrisno ini menarik. Tiba-tiba saja ada petinggi daerah merasa sejarah itu penting. Sutrisno memiliki alasan kuat. Menurut dia, sejarah adalah citra masa depan. “Keliru menganggap sejarah hanya persoalan masa lalu. Sejarah itu citra masa depan. Karena itu, saya menginginkan sejarah yang benar sehingga bisa jadi cermin masyarakat Majalengka memasuki masa depan,” tutur Bupati Sutrisno. Apa yang dilakukan Bupati Sutrisno termasuk berani. Jarang sekali ada kepala daerah memiliki perhatian terhadap sejarah. “Kalau demi kebenaran, kenapa segan. Bisa saja hasilnya berbeda dengan yang selama ini terlanjur dipahami. Atau malah sama, tetapi konstruksinya lebih kuat sehingga tidak menimbulkan polemik berkepanjangan,” katanya.

Tabir itu Buah Maja tiba-tiba langka. Dalam legenda disebutkan, Nyi Rambut Kasih dari Kerajaan Sindang Kasih (pusat pemerintahan Majalengka sekarang) jatuh cinta kepada Pangeran Muhammad yang keturunan Pangeran Panjunan, Cirebon. Syahdan, di Cirebon, dilanda wabah mematikan. Penyakit itu hanya bisa disembuhkan dengan buah pahit Maja. Lalu pergilah Pangeran Muhammad ke sebelah barat Cirebon. Namun, Pangeran Muhammad harus berperang melawan seorang wanita, Nyi Rambut Kasih. Dalam peperangan, Nyi Rambut Kasih menghilang bersama buah maja. Sejak itu, daerah itu bernama Majalengka, berasal dari kata ” maja e langka” (buah Majanya tidak ada). Kisah Pangeran Muhammad yang selain mencari buah maja, sekaligus menyebarkan Islam, dipercaya cikal bakal pemberian nama Majalengka. Ini terjadi pada 10 Muharam 1412 tahun Hijriah, yang bila dikonversikan ke tahun Masehi jatuhnya pada 7 Juni 1490.

Versi lain berasal dari masa lebih muda, pada zaman kolonialisme Belanda. Disebutkan, di sebuah tempat di depan alun-alun (sekarang gedung DPRD Majalengka), ada pabrik kina “Maja L & Co”. Pabrik itu menjadi tanda bagi masyarakat. Lalu terjadi keseleo lidah, hingga “Maja L & Co” dipercepat dengan “Maja elen ko”, dan menjadi “Majalengka”. Dari dua kisah di atas, sejak tahun 1980 dibentuk tim sejarah Majalengka untuk menentukan hari jadi, yang digunakan ialah versi pertama. Ketika itu, tim merujuk kisah Pangeran Muhammad, berkiblat pada Cirebon yang juga masih ada kaitan penyebaran Islam oleh Sunan Gunung Djati.

Tim saat itu terbagi dalam beberapa tim kecil. Mereka mencari kaitan dengan sejarah tetangganya, seperti Sumedang, Indramayu, Kuningan, dan Cirebon. Hasilnya, ditetapkan melalui Perda 5/1982. “Ketika itu, sejarah diminta memenuhi unsur Islam, patriotisme, dan heroisme. Kisah Pangeran Muhammad itu memenuhi ketiga unsur itu,” tutur Ibrahim (74), salah satu tim sejarah yang ketika itu bertugas menelusuri sejarah ke Cirebon. Polemik Tentang hari jadi itu, kekhawatiran Bupati Sutrisno beralasan. Polemik sejarah ini bersifat laten. Setiap menjelang 7 Juni, selalu muncul perbedaan pendapat. Perbedaan bukan antara legenda Pangeran Muhammad dengan pabrik kina “Maja L & Co”, tetapi dengan pandangan sejarawan yang ingin membumikan masa lalu dalam konteks sesungguhnya keberadaan Majalengka.

Pendapat terakhir minta konstruksi sejarah ditancapkan pada fakta Kerajaan Talaga Manggung. “Sejarawan ingin hari jadi dikaitkan fakta objektif masa lalu. Untuk Majalengka, kerajaan besar yang dulu benar ada ialah Talaga Manggung. Kenapa tidak berdasarkan pada Talaga yang juga menjadi induk dari cikal bakal Sumedang, Tasikmalaya, Cianjur, hingga Bekasi,” tutur Rahmat Iskandar (58), anggota Tim 22. Sejarah yang berubah sebenarnya hal lazim, bahkan untuk Majalengka sendiri. Sebelum versi resmi Perda 5/1982 yang menetapkan hari jadi pada 7 Juni dengan titi mangsa 1490, Majalengka juga punya hari jadi lain yang ditetapkan Pemkab 28 Oktober 1979, yakni 5 Januari dengan titi mangsa 1819, berdasarkan Staatsblad 23-1819. Hari jadi 5 Januari, oleh Bupati Majalengka Muhammad S. Paindra, dicabut pada 25 Maret 1981, lalu ditetapkan 7 Juni hingga sekarang lewat Perda 5/1982.

Kembali ke pertanyaan di awal tulisan, apabila benar Pemkab Majalengka serius dengan projek sejarahnya, bisa jadi hari jadi Majalengka di tahun berikutnya akan berubah lagi. Untuk tahun ini, hari jadi masih dirayakan 7 Juni, ke-520 tahun. Namun siapa menjamin hari jadi ke-521 pada tahun 2011 nanti dirayakan 7 Juni? Semua bergantung hasil Tim 22 yang sebelum 2011 sudah selesai kinerjanya. (Dakus/Edi)***

catatan : dakus = dadang kusnandar

dipublikasikan di suplemen koran Pikiran Rakyat Bandung, Rabu 26 Mei 2010, nama suplemen : Pikiran Rakyat Edisi Cirebon


Responses

  1. iya pa saya juga tidak percaya masa majalengka udan 500 lebih umurnya.. he..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: