Oleh: da2ngkusnandar | Desember 27, 2010

Lawang Sanga Cirebon

Oleh Dadang Kusnandar

Penggerak Klub Kajian Gerbang Informasi, Cirebon

ABDUL  Azis Rahman bertutur, suatu sore 2010 di rumah saya tentang Lawang Sanga. Tentu saja saya terkejut manakala secara gamblang ia melukiskan Lawang Sanga dengan pendekatan filosofis. Katanya, Lawang Sanga yang berupa pintu gerbang masuk ke Keraton Kasepuhan Cirebon dari jalur Kali Krian itu ternyata memiliki makna filosofi yang dalam. Pintu Sembilan merupakan analagi sembilan lubang yang ada di diri kita. Dua mata, hidung, dua telinga, mulut, dubur, dan kelamin. Sembilan lubang ini pasti mengeluarkan sesuatu dan menerima sesuatu. Sembilan lubang itu memainkan peran masing-masing sesuai iradat-Nya. Namun lantaran keterbatasan manusia, mungkin sifat abai yang terus mengiringi langkah keseharian kita ~sembilan lubang itu menerima sesuatu yang kurang (tidak) baik sehingga berdampak pada perilaku.

Adalah Sunan Kalijaga yang memahami makna filosofis beberapa nama seperti : Dukuh Semar, Derajat, Krian, Lawang Sanga, dan Kesunean. Tamu saya, Abdul Azis Rahman lancar sekali menjelaskan nama-nama tersebut dengan pendekatan filosofi. Jika masa kecil kita pernah mengikuti tradisi NGIRAB yang artinya mengeluarkan kotoran, secara berperahu sampan lalu mandi di Kali Krian sepanjang pagi hingga sore: tamu saya itu menaut bebersih/ sesucen/ bersuci HARUS dilakukan pada sembilan lubang yang ada pada tiap manusia.

Tradisi Ngirab di Kali Krian tepatnya di DERAJAT  atau Dukuh Semar hanya dimaknakan sebagai sebuah pesta. Naik perahu, mandi atau jeburan di kali, dan jajan. Setelah itu pulang. Padahal, meminjam ujaran tamu saya, Ngirab tak seharusnya berkahir dengan tumpukan sampah di pinggir kali. Sugai atau Kali Krian sebagai aliran sungai terbesar di dekat Keraton Kasepuhan Cirebon itu mesti terjaga dari pencemaran. Mitos “buaya putih” yang diyakini sebagian masyarakat Cirebon berwujud (malah ada kisah di balik ini) lebih dapat dimaknai: Jangan kotori Kali Krian. Buaya putih akan marah. Singkatnya, sungai yang besih tentu saja sedap dipandang, terlebih sebagai lalu lalang tamu yang akan singgah ke keraton.

Ngirab yang dilaksanakan pada bulan Shafar, epsitemologinya diambil dari Bahasa Arab perjalanan. Perjalanan bersampan sepanjang hari dengan sesucen/ membersihkan diri dan jiwa seharusnyalah membersihkan sembilan lubang yang ada pada tiap kita. Inilah makna lawangsanga.

Akan tetapi pada perjalanan ada saatnya seseorang mencapai DERAJAT tinggi. Saat itu, sangat mungkin ia memperlakukan sembilan lubang serampangan, tak sesuai ajaran ilahi. Derajat dalam bentuk harta, ilmu, atau status sosial memungkinkan munculnya perilaku yang mengotori sembilan lubang tersebut. KRIAN dapat didekati dari kata keriaan atau riang, artinya kegembiraan yang menyebabkan kita abai. Inilah perlunya sesucen atau membersihkan diri. Derajat yang diberikan Tuhan kepada kita, apabila mengikuti titah Pemilik Bahrul Ulum, tidak lain ialah insan kamil. Manusia yang mulia, suci lahir batin dan menjelmakan kesucian itu dalam berbagai teks sosial.

Kali Krian yang bermuara di KESUNEAN itu mengandung makna sunyi/ sepi, sebuah fase setelah bebersih setelah sadar dari kekeliruan mendayagunakan derajat, setiap orang harus menyepi. Sendiri pasrah ke hadirat Ilahi Rabbi, bermunajat agar laku lampah berikutnya bermakna bagi kehidupan. Di sinilah pentingnya penghargaan atas desah npas yang diberikan secara gratis oleh Tuhan. Menghargai hidup berarti menempatkan diri di hadapan ilahi dengan mengedepankan keseucian lahir dan batin.

Rasulullah Muhammad saw menyepi di Gua Hira sebelum akhirnya diutus menjadi pembersih perilaku atau ahlak. Pengikut Nabi Muhammad saw pun diajarkan untuk memanfaatkan sunyi (tengah malam), bila perlu di sebuah tempat tersendiri untuk munajat dan pasrah, memohon ampun atas kesalahan. Nabi Yunus as menyepi di perut ikan lantas sadar beliau harus kembali ke tengah kehidupan manusia. Di dalam perut ikan itu, Nabi Yunus terus berdo`a agar diselematkan serta dapat kembali menjalankan perannya sebagai utusan ilahi.  Sidhrata Gautama pun menyepi di bawah Pohon Bodhisatwa sebelum memperoleh pencerahan? Nama-nama besar lain, bisa dirujjuk dalam teks KESUNEAN ini.

Tamu  yang akan singgah ke Keraton Kasepuhan itu juga simbol kekuasaan dan politik. Boleh jadi, tamu manca negara dari Cina, Campa (Kamboja), Gujarat (India), Thailand singgah ke keraron Kasepuhan melalui Kali Krian setelah melintasi Laut Jawa. Fungsi Lawang Sanga demikian berarti.  Tamu-tamu politik ini bersama sultan keraton merumuskan beberapa nota kesepakatan yang bertalian dengan masalah ekonomi, budaya, pendidikan, dan sebagainya.

Derajat tinggi bagi siapa saja yang menjadi kerabat, teman, tamu, keluarga keraton. Derajat tinggi (mulia) itu kadang menjungkirkan nilai kebersahajaan menjadi timpang. Untuk kembali suci, tiada jalan lagi kecuali membersihkan diri. Tautan antara KRIAN, DERAJAT, LAWANG SANGA, KERATON, KESUNEAN berdasar paparan tamu agung itu, Abdul Azis Rahman, semoga menjadi semacam renungan buat kita.

Menjaga kali agar tetap bersih, menjaga diri supaya tetap bersih, memfungsikan sembilan lubang pada diri kita menurut ketentuan dan kepatutan, menerapkan derajat secara mulia, menepi di kesunean (kesunyian, menjadi penguasa politik dan kekuasaan (keraton, kini pemerintahan di republik) bukan semata bagaikan status untuk meniadakan lawan.

PINTU Sembilan atau lawang sanga, sebuah situs yang terangkai dengan Keraton Kasepuhan. Tertelak di depan menghadap Kali Krian ke arah Timur, pada mulanya adalah pintu masuk dan persinggahan para tamu yang bertandang ke Keraton Kasepuhan. Zaman dahulu kala, ketika manusia tak sebanyak sekarang, lalu lintas kerap menggunakan jalur air. Kali/ sungai, juga laut bermakna pertumbuhan ekonomi, hubungan diplomatik antar kerajaan ~bahkan dengan luar negeri.

Lawang Sanga yang berusia ratusan tahun itu kini tak terawat dan menyesaKkan, cenderung tak sedap dipandang, meski ia menyimpan sejarah panjang. Padanya telah terpatri kisah yang sekarang makin lamat-lamat tak terdengar. Padahal di balik itu semua ada penyatuan dengan Bahrul Hayat (segaraning kauripan, samudra kehidupan) dengan rujukan utama Sang Maha Pemilik Kehidupan.  Allahu Akbar.

Lawang Sanga nan filosofis itu apabila kembali ditata serta dikembalikan ke fungsi semula, tak urung memberi nilai tambah secara ekonomi. Tulisan ini akan coba serba sedikit memaparkan Lawang Sanga dari pendekatan filosofi. Semoga dapat menjadi semacam renungan, minimal masukan bagi penghargaan kita atas kehidupan.***


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: