Oleh: da2ngkusnandar | Mei 25, 2012

Negara Kerajaan Repulik Indonesia

Oleh Dadang Kusnandar
Penulis lepas, tinggal di Cirebon

ISTILAH yang kerap digunakan untuk sebuah Indonesia yang satu biasanya bernama NKRI alias Negara Kesatuan Republik Indonesia. Istilah ini merupakan harga mati, posisi yang tak bisa ditawar, khususnya bagi PDI Perjuangan. Tetapi perubahan terus terjadi. Puan Maharani binti Taufik Kiemas tengah dipersiapkan PDI Perjuangan sebagai bakal calon presiden partai merah ini. Demikian juga Ani Yudhoyono, istri presiden, first lady yang dnilai sejumlah petinggi Partai Demokrat (PD) dan kaum perempuan PD layak menggantikan kedudukan suaminya di kursi presiden. Fenomena ini melahirkan akronim baru tentang NKRI, yakni Negara Kerajaan Republik Indonesia.

Membangun dinasti keluarga bagi kesejahteraan keluarga dan kroni kembali menggejala. Warisan Orde Baru yang sangat disukai para petinggi partai politik, pejabat eksekutif dan para pemilik modal/ kapitalis. Gubernur Propinsi Banten adalah contoh nyata “NKRI” model ini. Tak ketinggalan Iriyanto alias Yance mantan Bupati Indramayu yang saat ini menjabat Ketua DPD Partai Golkar Propinsi Jawa Barat dengan sukses menempatkan istrinya Anna Sofiana sebagai bupati pengganti paska dua kali kepemimpinannya. Gubernur Kalimantan Barat yang menempatkan putrinya Karolin Margaret Natasa di parlemen Senayan, dan masih banyak contoh lainnya. Maka dirikanlah dinasti keluarga bagi kekuasaan, dan kembangkan itu untuk prestise keluarga. Jangan bicara prestasi.

Secara kebetulan saya bertemu Dewy Yull di kereta Api Argo Jati dalam perjalanan pulang ke Cirebon. Waktu itu, sekira akhir tahun 2007 Kota Cirebon tengah bersiap melaksanakan pemilihan kepala daerah langsung. Dari sejumlah nama yang dibicarakan, kabarnya Partai Golkar Kota Cirebon akan menggandeng artis dan penyanyi Dewy Yull untuk menjadi bakal calon wakil walikota. No kursi saya di kereta itu berhadapan dengan Dewy Yull bersama tim suksesnya, seorang pegiat musik di Cirebon. Saya bersama kawan dan sahabat yang berstatus Anggota DPR RI Komisi II dari PDI Perjuangan, Suryana. Politisi asal Cirebon yang membangun PDI Perjuangan sejak partai itu berlogo banteng kurus dalam bingkai segi lima.

Dewi Yull dengan busana muslimnya bercerita tentang teknik kampanye yang dilakukannya kepada konstituen ibu-ibu pengajian di Kota Cirebon. Kerudung, sumbangan berupa sejumlah uang untuk Majelis Taklim, pembagian Surat Yasin dan terjemahnya, orasi di tengah pengajian untuk mengajak ibu-ibu memilihnya pada pilkada. Sementara urusan birokrasi politik diserahkan kepada sepupunya, Yudi Krisnandi yang ketika itu menjabat Anggota DPR RI dari Partai Golkar. Dewy cukup duduk manis tidak memikirkan hiruk pikuk Partai Golkar Kota Cirebon yang kala itu dilanda masalah internal di tingkat pimpinan. Kehadiran Yudi dengan style politik top down-nya merupakan model politik masa Orde Baru. Kabar tersiar saat itu, Dewy akan dipasangkan dengan Ano Sutrisno yang secara formal diajukan Partai Golkar Kota Cirebon untuk pilkada 6 Januari 2008.

Kami pun berbincang. Dan sebagai bakal calon yang hendak bertarung di ajang pilkada, Dewi menuturkan apa yang seharusnya dilakukan menjelang pemilihan kepala daerah, termasuk apa yang akan dilakukannya apabila terpilih menjadi wakil walikota Cirebon. Saya terpana. Bukan karena hebatnya kiat kampanye Dewi dan tim sukses. Sebaliknya, saya melihat betapa ia tidak memiliki konsep yang representatif dalam meyakinkan pulblik Cirebon. Sambil mengepulkan asap rokoknya di bordes kereta api dan di kereta makan, Dewy yakin sekali bahwa ibu-ibu yang didatanginya saat kampanye kelak akan memberikan suara politik mereka untuk Dewy. Dewy Yull yang alumni SMA Negeri I Cirebon, dan ia yang dikenal sebagai Dokter Sartika dalam sebuah sinetron bersambung di TVRI tahun 1980-an lalu. Dewy yang dikenal dengan vokal khasnya ketika duet bareng Broery Pesolima. Dewy yang merasa over confidence bahwa ia bisa menjabat wakil walikota melalui arena pilkada langsung.

Saya mengenal Dewy Yull ketika masa pengenalan orientasi sekolah di SMA I Cirebon. Sebagai panitia Masa Orientasi Sekolah, Dewy saat itu sudah mengeluarkan satu album lagu bertitel Kisah Seorang Gadis. Dewy yang menyanyikan lagu Gugur Bunga pada upacara 10 November di SMA I Cirebon. Dewy yang artis, dan Dewy yang ramah dalam pergaulan dengan adik kelasnya. Maka obrolan di kereta itu pun mengalir tanpa hambatan. Saya mengkritik Dewy dan ia tidak marah. Saya katakan bahwa dunia politik berbeda secara diametral dengan dunia artis. Politik adalah kesiapan membuat kebijakan publik dengan segala persperktifnya, sementara dunia artis sangat individual dan bersikukuh pada karakter sang artis. Artinya ada dua sisi berseberangan, yakni politik sebagai ranah publik dan keartisan sebagai ranah privat.

Ranah publik sudah pasti merupakan ajang terbuka, penuh syak wasangka, intrik, bahkan relativitas kepentingan. Politik yang berada di ranah ini memungkinkan pelakunya untuk berada di dua kaki. Kaki kanan misalnya berada di tengah keramaian di tengah keluarga di tengah partai di tengah parlemen di tengah kerumunan wartawan saat pers realasse, sementara kaki kiri bersiap untuk ada di dalam penjara ketika secara hukum ia terbukti bersalah. Ranah publik bagi politik adalah kemampuan seseorang mereprsentasikan gagasan ke dalam fakta. Merealisasikan ide menjadi nyata, atau katakanlan makes the dreams come true. Meski menurut Plato, sangat sedikit prosentase fakta yang bermula dari gagasan, akan tetapi ranah politik merupakan cermin ideal untuk mengangkat kesejahteraan rakyat. Jabatan politik, baik di legislatif maupun eksekutif (kepala daerah) adalah kemestian pelakunya untuk senantiasa berpihak kepada publik.

Di sisi lain dunia keartisan justru dikenal sebagai dunia hura-hura, dunia glamor, penuh gosip pribadi, dunia yang tak mampu meretas kehidupan malam yang terkadang disibukkan oleh narkotika psikotropika dan zat adiktif lainnya (napza). Tanpa merinci jumlah artis yang terjerat napza lantas menghuni penjara, dunia keartisan (secara umum) belum mampu menghindar penggunaan napza. Artis dengan segala bentuk narsisismenya merupakan harga yang harus dibayar bagi sebuah pilihan. Menjadi artis dengan demikian setara dengan mendahulukan sikap individualnya. Dan ini bersintesa dengan dunia hiburan, show bizz yang giat menayangkan pemberitaan artis. Bayangkan, televisi swasta terbiasa menggunakan artis berparas antik yang tiba-tiba mengenakan busana muslim pada acara jelang buka puasa Ramadhan. Menjadi presenter acara agama Islam. Padahal pemirsa tahu bagaimana perannya di film/ sinetron.

Perbedaan tajam antara politik dengan dunia keartisan itulah yang akhirnya menjadi kendala manakala sang artis lulus dan didapuk menjadi tokoh politik. Anjelina Sondakh yang heboh dengan korupsi wisma atlet Palembang, Dicky Candra yang mundur dari jabatan Wakil Bupati Garut sambil menangis agar keinginannya mundur dari jabatan itu dikabulkan, Nurul Qomar yang tidak bisa berbuat banyak untuk daerah pemilihannya (Dapil Jabar VII) ~Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, dan Kabupaten Indramayu~ karena ia lebih pandai menjadi penceramah dan pelawak, Vena Melinda yang sempat menggulirkan ide senam aerobik di gedung parlemen Senayan, dan belum adanya gebrakan Rano Karno sebagai Wakil Gubernur Banten. Artis yang menggeluti politik hampir semuanya tidak menunjukkan prestasi.

Dedi Gumelar alias Mi`ing pun ketika Februari 2010 memaparkan masalah kebudayaan di aula Keraton Kasepuhan Cirebon, hanya bicara besaran APBN yang belum imbang untuk bidang tersebut. Politisi asal PDIP ini, mantan pelawak Bagito Grup, terbukti tidak memahami budaya lokal. Padahal kebudayaan merupakan bidang kerjanya di Komisi X DPR RI. Diskusi yang agak ramai di tengah anomali cuaca dengan iringan hujan lebat dan petir itu tidak menghasilkan apa-apa, selain fakta bahwa dunia keartisan berbeda tajam dengan dunia politik.

Itu sebabnya, Devie Rahmawati, Pakar komunikasi politik Universitas ketika diwawancarai BeningPost.com, via telepon (11/5) mengatakan perihal kader partai politik (baca: Partai Demokrat) yang menyalahkan opini publik, Devie mengatakan, “Mereka hidup dalam imajinasi politiknya. Ingat bahwa politik merupakan kehidupan realita, sebaiknya partai dalam hal ini, kadernya itu harus mulai terbiasa hidup dalam realita politik. Mereka boleh menciptakan imaji-imaji politik, tapi mereka juga harus sadar bahwa berbicara opini publik harusnya dijadikan warning.”

Partai politik harus melakukan konsolidasi di dalam untuk menentukan sikap partai. Apakah partai berani secara terbuka untuk menyatakan bahwa memang bermasalah, tapi berjanji untuk memperbaiki, atau tetap bersembunyi dan berpura-pura hidup dalam ilusi politik yang semu. “Ini penting karena masyarakat lagi-lagi akan menilai, kalau Partai Demokrat sampai hari ini masih berpura-pura, saya rasa akan menjadi jauh lebih rumit dimasa yang akan datang,” tuturnya.

Pemasalahan internal yang mengemuka di Partai Demokrat saat ini, perolehan suara artis yang tidak signifikan pada pemilu legislatif 2009, menurut Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, Saan Mustopa, partainya sama sekali tidak mengincar artis untuk diusung menjadi anggota legislatif pada pemilu 2014. Hal ini disampaikan di Cibubur Jawa Barat (18/5).

Pernyataan Saan boleh jadi merupakan upaya pengalihan perhatian masalah korupsi dan sebagainya yang melanda Partai Demokrat. Partai yang dilahirkan oleh Presiden Soesilo Bambang Yudhono. Partai yang kini sibuk menggadang-gadang Herawati Kristiani (Ani Yudhoyono) sebagai bakal calon presiden usulan Partai Demokrat. Meskipun SBY mengatakan tidak akan mencalonkan istrinya pada pilpres 2014. Namun karena kuatnya dukungan (yang direncakan itu) maka peluang Ani menjadi capres makin terbuka. Dan ini kecelakaan besar bagi Partai Demokrat.***


Responses

  1. mantap


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: