Oleh: da2ngkusnandar | Mei 27, 2012

Nasionalisme Sejak Dini

demo pendukung suryana di kota cirebon

Oleh Dadang Kusnandar
Penulis lepas tinggal di Cirebon

DIANTARA sekian teman dekat, saya tergilik kepada seorang kawan yang sangat perhatian terhadap anak-anak. Bila melihat anak kecil terjatuh dari kursi, dia langsung menolong dan menghentikan aktivitas saat itu. Bila melihat anak berjalan agak ke tengah jalan raya, dia mengingatkan agar ke pinggir. Bertemu dengan anak teman-temannya, dia menyapa dan langsung akrab. Dan jika melihat seorang anak sendiri dalam keadaan sedih, ia mendekat menghiburnya. Ia bukan pengasuh anak profesional. Ia seorang bapak yang mencintai anak-anak. Kadang terucap, “Siapa sih orang tuanya yang membiarkan anak itu sendiri berjalan di tengah tanpa dituntun?” Pemandangan yang sangat kontras dengan keseharian jika melihat performance-nya. Keras dalam bicara, tegas bersikap dan konsisten.

Ketika perjalanan membawanya menjabat ketua sebuah partai politik di Kota Cirebon, ia meraih seorang anak lelaki untuk menjadi petugas sekretariat parpolnya. Meski pembayarannya tidak memenuhi upah minimal regional (UMR) dan tidak dibayar bulanan namun ia suka memberi uang kepada anak lelaki seumur SMP itu. Pertimbangannya, lebih baik ia tinggal di sekretariat dan berinteraksi di ranah politik daripada hidup sebagai anak jalanan.

Sebagai pengagum Bung Karno, tak keliru kalau ia menganut paham nasionalis. Perjalanan hidupnya yang berliku, dari kelas masyarakat awam, anak seorang sopir truk antarkota, ia tegar tak kenal menyerah. Masa mudanya dipenuhi pelbagai pekerjaan informal yang memerlukan kekuatan fisik, meski ia menyukai permainan sepak bola.

Ketika saya tanya mengapa suka kepada anak-anak, ia menjawab, “Mereka itulah calon pemimpin bangsa.” Saya terhenyak. Betapa jauh ia memandang, betapa ia seorang visioner. Atas jawaban itu saya merangkai dan kembali masa lampau. Siapa yang tahu nama ayah dan ibu Ken Arok,? Siapa yang menduga bahwa mantan perampok di tengah hutan dekat Tumapel Jawa Timur akan menjadi Raja Singasari dan menurunkan raja-raja besar di Majapahit? Siapa pula yang tahu jika bayi yang lahir di Blitar pada fajar 1 Juni 1901 akan menjadi proklamator Indonesia? Kusno alias Soekarno dengan segudang idenya untuk membawa bangsa Indonesia menuju kesejahteraan.

Kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok, termasuk nasib anak-anak yang tiap saat ada di depan kita. Kita harus memberi perhatian dan kasih sayang kepada anak-anak karena di tangan mereka gerak laju negara ini tergenggam. Mencintai anak-anak sama dan sebangun dengan mencintai kehidupan, mencintai masa depan bangsa. Berbekal perhatian dan kasih sayang kepada anak maka pengetahuan yang ditransfer kepada anak akan lebih mudah diterima. Dan dengan begitu nation caracter building telah kita manifestasikan.

Seperti kanjeng Rasulullah Muhammad saw yang mencintai anak-anak. Rasul pilihan Tuhan yang mengangkat anak-anak miskin dan telantar menjadi anak asuhnya dan tinggal di dalam kesederhanaan rumah tangganya. Bagai Khalifah Umar bin Khattab yang mencintai anak penggembala domba. Dan bagai Bung Karno yang kerap bernyanyi dengan anak-anak, mengajar baca tulis dan berhitung (calistung) kepada anak-anak.

Kawan dekat saya itu sering bercerita tentang anak lelakinya yang bungsu, sejak ia kecil dan kemampuan sang anak berbincang dengan dia dan ibunya. Kadang kawan berpura-pura tidur mendengar dialog anak bungsu itu dengan ibunya, padahal ia menyimak seksama. Dari obrolan tentang sekolah, iklan televisi yang masuk ke ruang privat, atau perbincangan langsung dengan si bungsu ketika dia berbincang dengan teman-temannya. Cerita yang disampaikan dengan bangga di tengah rapat-rapat politiknya di gedung parlemen DPR RI Senayan.

Anak dan Nasionalisme

Pelajaran nasionalisme yang paling dekat dan pertama kali dilakukan adalah di rumah. Jika selama ini kita terbiasa mengajarkan pendidikan agama sebagai basis kehidupan anak, sebenarnya kita telah mengajarkan nasionalisme secara bersamaan. Misalnya seorang ayah/ ibu mengajarkan baca tulis Al Qur’an kepada anaknya, diam-diam inklud pelajaran nasionalisme. Anak yang belajar baca tulis Al Qur’an sudah pasti diharapkan ayah ibunya agar menjadi anak yang berguna bagi nusa, bangsa, dan agama. Cita-cita mulia dengan ruh nasionalisme.

Saya tergolong anak SMP yang menuliskan cita-cita : menjadi orang yang berguna bagi nusa, bangsa dan agama. Saat itu bila beredar buku kenangan milik teman dan kita bebas menulis apa saja atau menggambar vignet atau puisi, pas ketika menulis biodata di kolom cita-cita banyak yang menulis menjadi orang yang berguna bagi nusa, bangsa dan agama. Berguna bagi nusa, bangsa dan agama. Menjadi insan kamil diam-diam telah disadari sejak kecil. Perjalanan dan waktu yang kelak mengaktifkan proses ke arah itu. Tetapkah ia pada cita-cita kecilnya atau terkendala sesuatu yang tidak terduga. Semua kembali kepada kesungguhan merealisasikan mimpi menjadi nyata.

Cinta kepada nusa, bangsa, dan agama inilah nasionalisme sejak dini. Nasionalisme yang patut ditanamkan dalam bilik rumah kita, dalam kebersahajaan dan dalam kesadaran nation caracter building. Jikalau kita mampu mengajarkan nasionalisme kepada anak sejak dini, besar kemungkinan memasuki masa remaja, anak-anak tidak seketika kehilangan identitas, kehilangan tokoh panutan, dan tidak tahu orientasi, serta kehilangan kemampuannya menempatkan diri. Alvin Tofler yang merumuskan kondisi manusia abad 21 sebagai komunitas yang mengalami dislokasi, disorientasi, dan disprivasi ~ tidak akan melanda seandainya sejak dini kita berhasil menanamkan kecintaan anak terhadap nusa dan bangsa.

Agama dengan demikian menjadi faktor penguat kecintaan pada nusa dan bangsa. Agama sebagai benteng moral sudah pasti mengajarkan konsep cinta kepada nusa dan bangsa. Tanpa mempertanyakan keabsahan dan kedudukan hadis Nabi Muhammad saw: Cinta tanah air sebagian dari iman ~agaknya ada kaidah positif di sini. Bahwa mencintai nusa dan bangsa (tanah air) adalah keharusan warga negara untuk memajukan negaranya. Hubul wathon minal iman, teks hadis tersebut seyogyanya kita ajarkan di rumah. Kepada anak-anak kita sendiri dan kepada siapa pun sejak ia masih kanak-kanak.

Dan kawan saya, pencinta anak-anak itu tidak pernah menyesal peristiwa politik yang menimpanya. Apa pun risikonya. Saya bangga kepada Anda, Bung Suryana!***


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: