Oleh: da2ngkusnandar | November 1, 2012

Kalianda: Cermin Buram Ksatria SBY


Dadang Kusnandar* – BeningPost

Sahabat dari Bandarlampung berkirim pesan pendek. Pedih membacanya. Ia kehilangan temannya yang tewas lantaran tawuran antarkampung. Kedekatan yang terjalin cukup lama itu akhirnya dipisahkan oleh peristiwa yang berawal dari masalah sederhana. Ia tidak menceritakan makna sederhana di pesan pendeknya. Ia menulis pendek sekali pada pesan keduanya: Sahabat saya sekarang mengungsi dan menginap di Mapolres. Desa Banuliraga Kecamatan Way Panji masih mencekam. Tewasnya 12 (dua belas) warga desa, pembakaran puluhan rumah, wajah-wajah beringas bersenjata, dan rasa takut yang mencekam warga desa adalah harga yang harus dibayar akibat kerusuhan massa itu. Belum lagi kesibukan warga dan aparat untuk mengakhiri tawuran ini. Masalah pun kian kompleks, penyelesaian damai belum juga terwujud.

Bentrok itu terjadi antar warga Desa Agom, Kecamatan Kalianda dengan warga Desa Balinuraga, Kecamatan Way Panji, Lampung Selatan. Peristiwa itu berawal dua remaja putri asal Desa Agom yang sedang mengendarai sepeda motor terjatuh setelah sebelumnya sempat cegat oleh pemuda asal Desa Balinuraga di Desa Waringin Harjo. Akibatnya kedua remaja putri asal Desa Agom terjatuh dari sepeda motornya dan mengalami luka-luka. Isu pun menyebar: pemuda asal Desa Balinuraga sempat melakukan tindak pelecehan saat melakukan pertolongan kepada kedua remaja putri asal Desa Agom yang terjatuh dari motor sehingga emosi massa pun tersulut. Menurut berita yang dilansir sejumlah media massa, sebelum terjadi bentrokan, antarkepala desa sudah mengadakan perjanjian damai. Namun, keluarga kedua gadis itu tak terima. Mereka mendatangi Desa Balinuraga untuk menemui pemuda yang mengganggu itu. Namun, saat tiba di Desa Balinuraga mereka langsung diserang dengan senjata api. Akibatnya satu orang tewas tertembak. Bentrokan lalu kembali terjadi, Minggu 28 Oktober 2012 pukul 10.00 WIB. yang menyebabkan tiga orang tewas. Hingga kini, suasana di perbatasan dan pintu masuk dua desa masih mencekam. Ribuan warga berjaga-jaga di perempatan pasar Patok yang merupakan jalur masuk ke Desa Balinuraga.

Sampai kapan kerusuhan antardesa berakhir? Apakah harus menunggu jatuh korban lagi? Tentu saja tidak. Kita tidak ingin kekerasan massa/vandalisme ini terus berlangsung. Desa sebagai bagian paling penting dari Indonesia harus memperlihatkan keteduhan, bukan keberingasan dan wajah sangar yang membakar. Desa merupakan prototipe yang mesti memberi nuasa sejuk dan pikiran bening dengan ciri kebersamaan/gotong royong. Ciri spesifik inilah yang kudu dipertahankan serta dikembangkan lebih baik lagi. Bukan vandalisme hingga menelan korban tewas, luka parah dan membakar desa.

Ketika kerusuhan Kalianda belum terselesaikan, Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono berkunjung ke Istana Buckingham London. Naik kereta kencana berlapis emas bareng Ratu Elizabeth II dengan iringan pasukan berkuda. Kamis, 1 November 2012 Presiden SBY dan Ibu Negara Ani Yudhoyono, serta kedua putra Presiden, Mayor Agus Harimurti Yudhoyono dan Edy Baskoro serta rombongan lainya, diterima Ratu Elizabeth II di lapangan Horse Guard, atau markas pasukan berkuda, tidak jauh dari Istana Buckingham, tempat tinggal ratu. SBY mendapatkan penghargaan dengan gelar ’Knight Grand Cross in the Order of the Bath’. Dengan kata lain, SBY adalah ksatria.

“Ada tiga kelas dari Order Bath dan Bapak Presiden yang tertinggi,” kata Staf Khusus Presiden Bidang Hubungan Internasional Teuku Faizasyah, seperti dikutip kantor berita Antara.

Bagi SBY kunjungan ke London lebih penting daripada Kalianda. Jabatan presiden yang tersisa dua tahun agaknya lebih asyik digunakan untuk melakukan politik mercusuar ketimbang upaya penyelesaian damai di Kalianda. Selasa 30 Oktober yang lalu, gabungan personel anggota 2.150 dari Polda Lampung dari Banten dan Jawa Tengah, menurut Kepala Biro Pelayanan Masyarakat (Karo Penmas) Mabes Polri Brigjen Boy Rafli Amar di Mabes Polri dikerahkan ke Kalianda. Kesibukan TNI Polri di daerah konflik tidak mengusik keasikan SBY dan rombongan menikmati Sungai Thames yang jernih airnya, atau sekadar berfoto di bawah Big Ben, meski memperpanjang frekuensi demonstrasi pada kunjungan luar negerinya. Kerjasama bilateral untuk peningkatan nilai perdagangan kedua negara menjadi dua kali lipat pada tahun 2015 dijadikan alasan kunjungan ini. Sebelum kunjungan SBY ke London, Menteri Perdagangan kedua negara telah melakukan annual trade talk. Pertemuan tersebut membahas upaya-upaya untuk merealisasikan target melipatgandakan volume perdagangan kedua negara. Rencananya pada tahun 2013, Inggris akan mengirimkan 6 misi dagang ke Indonesia untuk merealisasikan komitmen tersebut.

Pertanyaannya, mana yang lebih penting: Kalianda atau London? Bukankah perjanjian perdagangan serta rencana kerjasama apa pun dengan Inggris dapat dilakukan kapan saja? Bukankah warga Kalianda ingin segera kembali beraktivitas sebagaimana biasa, sebelum kerusuhan terjadi? Artinya jika SBY datang ke Kalianda, memberi saran kepada warga, ia bagaikan Resi yang baru turun gunung dari pertapaannya. Ucapannya sakti dan dapat memberi kesejukan warga, terutama anak-anak dan perempuan yang mengungsi ke Mapolres. Ketakutan warga desa atas kemungkinan serangan balik sedikitnya dapat dieliminir seandainya “Resi” SBY memberi wejangan hidup damai di Indonesia yang dibangun oleh perbedaan dan keberbagaian.

Pepatah “Resi” SBY besar kemungkinan akan diturut, meski bisa saja ada demonstrasi mahasiswa menyelip pada kunjungan ke Kalianda itu. Sayang sekali London lebih mempesona, lebih memikat daripada harus menyaksikan wajah-wajah tegang di sebuah desa yang dianggap penting pada saat dua kali pencalonan presidennya yang lalu. London lebih memberi harapan meski belum pernah ada perjanjian kerjasama perdagangan antara Indonesia dengan negara mana pun yang menguntungkan Indonesia. Kita sebagai bangsa selalu menjadi subordinasi negara lain saat meratifikasi perjanjian bilateral. Belum ada satu pun kontrak karya Indonesia dengan negara lain di bidang energi dan sumber daya mineral yang menguntungkan Indonesia. Dengan kata lain, Kalianda lebih penting daripada London. Kalianda merupakan cermin betapa nasionalisme kerap terkoyak oleh sesuatu yang tak terduga. Emosi warga gampang tersulut manakala hak privasinya merasa dilanggar.

Pada kesempatan lain, Obama memfokuskan Badai Sandy ketimbang Pemilu 4 November mendatang. Presiden Amerika Serikat Barack Obama menunda jadwal kampanyenya. Obama memilih untuk mengunjungi wilayah yang terkena dampak badai Sandy di New Jersey. Obama memerintahkan pimpinan agen Federal pengelolaan bencana, Craig Furgate, untuk mengirimkan bantuan bagi warga korban bencana. Ditemani Gubernur New Jersey Chris Christie, Obama naik helikopter menuju lokasi yang terkena bencana. Mereka lalu mengunjungi pusat komunitas “Brigantine” yang dipenuhi oleh para pengungsi badai Sandy.

Begitulah seharusnya pemimpin. Lebih mementingkan berbuat untuk rakyat yang sengsara ketimbang bertarung berebut jabatan. Jabatan yang disandang dimaksimalkan dulu untuk kiprah sosial kepada rakyat.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: